Tampilkan postingan dengan label 30harikotakubercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30harikotakubercerita. Tampilkan semua postingan
rin_iffah



Danau Tolire dengan Latar Gunung Gamalama
Foto oleh : mexes_screamo

Alkisah, tersebutlah sebuah kampung bernama Tolire yang dipimpin oleh seorang mahimo atau fanyira (Ketua Adat). Mahimo ini mempunyai seorang anak gadis yang konon tersohor kecantikannya di seantero kampung. Bunga desa yang mulai terlihat kuncup keindahannya ini menjadi bahan perbincangan para pemuda kampung. Tak sedikit orang tua yang berharap bisa meminang si gadis untuk dijadikan menantu. Penduduk Tolire hidup damai berdampingan, saling bergotong royong dalam kerukunan. Berkah langit dan bumi tercurah siang dan malam. Hasil bumi di tempat ini terberkahi. Perkebunan pala, cengkeh dan kelapa silih berganti menghasilkan buah dengan panen yang melimpah. Hingga suatu ketika, mendung menggantung di langit Tolire. Tanpa sebab yang jelas, beberapa penduduk menderita penyakit aneh yang menakutkan, menular dan menjadi wabah yang sangat mematikan. Tolire kian mencekam. Para pemangku adat kebingungan. Penyakit yang tak pernah mereka derita sebelumnya ini bagaimanapun caranya harus disingkirkan. Maka bersepakatlah mereka untuk menyingkirkan penyakit yang dianggap berasal dari roh-roh jahat. Gangguan roh jahat tersebut sudah sepantasnya dihalau dengan ritual Salai Jin (Ritual memanggil Jin) dan tarian Cakalele.

Tibalah waktunya menjalankan ritual mengusir marabahaya dari kampung Tolire. Semua penduduk dikumpulkan di tanah lapang. Anak-anak, perempuan, hingga manula memenuhi undangan. Sedang para lelaki dipersiapkan untuk menjalani ritual salai jin dan tarian cakalele. Alunan musik yang berasal dari tabuhan tifa menggema memecah malam mengantarkan para penari beraksi. Dua malam berturut-turut ritual tersebut dijalankan. Tibalah pada malam ketiga. Setiap lelaki dewasa telah bersiap memulai ritual sebagaimana yang telah mereka lakukan pada malam-malam sebelumnya. Jelang ritual, terlebih dahulu mereka meminum saguer; minuman tradisional yang membuat siapapun yang meminumnya akan mabuk dan tak terkontrol setiap perilakunya. Tujuan minum saguer tak lain untuk menambah semangat dalam membawakan salai jin dan tarian cakalele. Malam semakin larut. Para penari semakin liar tariannya tersebab reaksi saguer yang mulai menguasai badan. Tak terkecuali sang pemimpin adat yang ikut dalam ritual tersebut. Ritual yang awalnya bertujuan menghilangkan musibah justru berbuah petaka. Masih di bawah pengaruh minuman saguer, pemimpin adat Tolire melakukan perbuatan yang mendatangkan kutukan semesta. Anak gadis satu-satunya yang ia miliki, yang ia jaga mahkotanya agar tak gugur sebelum waktunya justru menjadi ‘mangsa’nya. Minuman keras membuatnya menzinahi putrinya sendiri nyaris hingga subuh menghampiri. Sementara penduduk lainnya tak menyadari peristiwa tersebut.

Menjelang fajar, seorang perempuan yang tak turut dalam ritual malam itu karena sedang menyapih anaknya mendengar kokok ayam menyerupai suara seorang manusia yang berteriak menyebut kata-kata tertentu. Dirapatkan pendengarannya, mencoba menangkap kalimat apa yang tertangkap indera pendengarnya dari kokok ayam jantan tersebut. Lamat-lamat ia mendengar seruan “Tolire Gam Jaha” (Kampung Tolire akan tenggelam). Kalimat itu berulang diserukan hingga si perempuan pun menyadari bahwa ini adalah petanda alam yang mengabarkan kampungnya dalam ancaman besar. Ia pun berlari mendekati kerumunan penduduk yang sebagian besar sudah tak sadarkan diri. Disampaikannya kabar yang baru saja dia dengarkan kepada mahimo sebagai petanda buruk. Awalnya mahimo menafsirkan hal itu sebagai bagian dari terkabulnya permintaan mereka lewat ritual yang telah diadakan selama tiga malam berturut-turut. Namun kemudian ia tersadar ketika mengetahui ia baru saja melakukan perbuatan terlarang dengan anaknya sendiri. Belum juga pulih kesadarannya, Terdengar suara gemuruh dari arah barat. Entah darimana datangnya, tiba-tiba angin kencang mengepung kampung Tolire. Tanah di sekitar mereka bergetar hebat kemudian amblas bersama sebagian penduduk yang masih tak sadarkan diri karena pengaruh minuman keras. Penduduk lainnya yang sudah terjaga berusaha menyelamatkan diri dari bencana yang datang tanpa disangka-sangka. Pemimpin adat juga berada dalam kerumunan penduduk yang berhamburan mencari pertolongan. Sayangnya, nyawa mahimo tak terselamatkan. Ia ikut tenggelam bersama kampung Tolire beserta isinya. Anak gadis mahimo berhasil menyelamatkan diri dari kampungnya. Namun ketika ia hampir mencapai bibir pantai tanah di sekitarnya ambruk. Sang gadispun tenggelam. 

Danau Tolire dengan latar pulau Hiri
Foto oleh : mexes_screamo

Konon kampung Tolire yang hilang pada peristiwa tersebut berwujud sebuah danau besar yang sangat dalam yang dikenal sebagai danau Tolire. Sedangkan tanah tempat tenggelamnya anak gadis mahimo berubah menjadi sebuah danau yang lebih kecil dan berbatasan dengan pantai membentuk muara. Danau ini kemudian oleh penduduk Ternate disebut sebagai ‘Tolire Kecil’.

Danau Tolire vie dari pesawat


Danau Tolire Kecil
Foto oleh : mexes_screamo


*Catatan : Danau Tolire menurut data sejarah terbentuk akibat gempa tektonik yang disertai letusan hebat Gunung Gamalama pada tahun 1775 dan menelan korban hingga 2000an orang dari 3000an penduduk Ternate kala itu.

Selengkapnya...

rin_iffah


Pernahkah anda berhadapan dengan seseorang yg di sepuluh menit sebelumnya masih tersenyum ramah, bercanda seolah tak ada apa-apa tapi di detik berikutnya terbujur kaku tak bernyawa? Ataukah tetiba ada yg datang mengarahkan telunjuk tepat di depan wajah anda sambil menuduh anda adalah penyebab kematian anggota keluarganya? Pernahkah anda menyaksikan duka dan bahagia berlangsung di waktu bersamaan? Ketika ada seorang ayah yang sulit mengapresiasikan perasaannya antara sedih kehilangan isteri tercinta yang telah berdarah-darah, berjuang menyelamatkan sang buah hati penyejuk mata ataukah harus bergembira menyambut kehadiran malaikat kecil yang tangis pertamanya mengiringi kepergian sang bunda selama-lamanya. Kami pernah, bahkan telah menjadi bagian dari warna-warni hidup kami.

Di sini, di Rumah Sakit Umum Daerah Chasan Boesoirie Ternate, semua peristiwa itu terpampang jelas di hadapan kami. Meskipun pekerjaan sebagai tenaga medis bukanlah pekerjaan utama penduduk Ternate, namun Rumah Sakit Umum Daerah Chasan Boesoirie menjadi tempat yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Tidak saja di Ternate, tapi juga di Provinsi Maluku Utara. Sudah banyak drama kehidupan, suka pun duka yang kami lewati di sini. Detik-detik kematian yang senantiasa mengintip dari balik pintu Instalasi Gawat Darurat dan berjalan menyusuri lorong-lorong yang ada di bangsal perawatan membuat kami tak lagi merasa takut menyaksikan momen-momen yang bagi kebanyakan orang adalah peristiwa yang sangat menakutan. Kamipun harus merelakan sebagian waktu berkumpul bersama keluarga untuk dihabiskan menemani pasien. Lantas apakah semua itu membuat kami menyesal karena memilih bekerja di sini? Tidak sama sekali... Pekerjaan ini justru membuat kami lebih banyak bersyukur atas nikmat kesehatan yang masih teranugerahi di saat ada sebagian orang terbujur tak berdaya di atas tempat tidur karena penyakit yang mereka derita. Seiring bergulir waktu, kami semakin mencintai profesi ini meski tak ada alasan yang tepat untuk itu. Ketika banyak mata awam melihat hal-hal yang terkesan tidak menyenangkan yang kami alami sebagai resiko profesi, seorang sahabat justru menganggap semua resiko tersebut adalah bagian dari amal profesi. Maka apapun pekerjaan yang kita jalani saat ini, Niatkan semuanya untuk beribadah agar setiap tatapan, sentuhan, senyuman, kata-kata yang terlisankan bisa bernilai ibadah di sisiNya...
Selengkapnya...

rin_iffah

Tiba juga saatnya berbicara tentang makanan. Tema paling ‘menakutkan’ di antara sepuluh tema lainnya yang ada di 30 Hari Kotaku Bercerita. Bukan karena di kota saya tidak tersedia makanan yang menggoda selera, akan tetapi menulis tentang kuliner bisa membuat perut saya ikut-ikutan meronta minta diisi. Pada kesempatan kali ini saya cukup memperkenalkan dua jenis makanan khas Ternate yang jika berkunjung ke sini wajib hukumnya untuk dicicipi. Yang pertama kami menyebutnya Makanan Kobong dan yang kedua Makanan Adat.


Entah sejak kapan kami mulai menggunakan istilah makanan kobong. Mungkin dulunya jenis makanan ini sering dibawa saat berkebun atau makanan hasil kebun penduduk Ternate. Makanan kobong menjadi makanan yang paling digemari di kota kami. Sudah menjadi kebiasaan di sini, setiap hari Jum'at hampir setiap rumah penduduk disiapkan makanan kobong sebagai hidangan makan siang. Bagi kami, hari Jumat adalah hari yang istimewa sehingga makanan yang disiapkan di tiap rumahpun harus yang istimewa salah satunya makanan kobong. Namun anda tidak perlu khawatir jika hanya punya kesempatan berada di Ternate selain pada hari Jum'at karena saat ini, makanan kobong sudah tersedia di banyak rumah makan dan bisa didapatkan setiap hari. Beberapa rumah makan sederhana yang berjejer sepanjang pasar Gamalama (salah satu pasar tradisional di Ternate) menyediakan makanan kobong sebagai menu andalannya. Di sini, kita bisa menikmati makanan kobong sambil memandang ke arah laut lepas dan pulau Halmahera. Harganya lumayan murah, cukup dengan 25 sampai 50 ribu rupiah kita bisa makan sepuasnya. Makanan Kobong sepaketnya terdiri dari Popeda/Pupeda; Sagu yang dimasak dengan cara disiram air mendidih sampai mengental dan kenyal. Disajikan di atas piring yang telah dituang kuah asam pidis (kuah ikan yang ditumis dengan berbagai rempah) atau kuah soru (kuah bening berisi ikan tore atau ikan yang sudah dikeringkan). Popeda juga menjadi kuliner khas beberapa daerah di Timur Indonesia seperti Ambon dan Papua. Yang membedakannya adalah cara penyajian dan cara makan. Selain popeda, di atas meja juga tersaji beberapa macam olahan ikan diantaranya; ikan bakar, ikan fufu (ikan tuna yang diasap) dan Gohu (Olahan ikan mentah yang dibuat dari ikan tuna segar dipadukan dengan perasan air lemon, bawang merah, cabe rawit, disiram minyak panas dan ulekan kacang goreng). Beraneka sayur; sayur garu (tumisan daun singkong dan jantung pisang atau bunga pepaya), kohu-kohu (sayuran mentah yang biasanya dijadikan lalap seperti kacang panjang, terong, timun, kecipir dan lainnya), berbagai jenis dabu-dabu (sambal); Dabu-dabu tumis, Dabu-dabu manta/mentah, dabu-dabu kacang, Dabu-dabu kelapa. Dan tidak ketinggalan pisang dan kasbi/singkong yang direbus menggunakan santan. Cara menikmati makanan kobong yaitu dengan menggunakan tangan. Boleh juga memakai sendok dan garpu tapi cara makan demikian tidak lazim bagi kami. Kata orang Ternate makanan ini rasanya ‘Saki Foloi’ (Enak pake banget)

Salah satu rumah makan yang menyediakan makanan kobong.
Foto: http://ternateheritage.com
Paket makanan kobong.
Terdiri dari popeda, beberapa jenis ikan dan sayuran serta dabu-dabu (sambal)

Jenis makanan berikutnya yang patut dicoba adalah Makanan Adat. Untuk makanan yang satu ini anda harus menunggu waktu yang tepat agar bisa menikmatinya karena tidak disajikan setiap hari dan belum ada rumah makan di Ternate yang menyediakan menu makanan adat. Sesuai namanya, makanan adat hanya disajikan pada acara-acara adat seperti acara pernikahan adat Ternate, Acara Syukuran ataupun Tahlilan. Makanan adat pada umumnya disajikan di atas meja panjang yang sudah dialasi kain putih dan baru bisa dinikmati setelah dibacakan zikir dan doa. Bagi masyarakat Ternate, makanan adat memiliki simbol atau nilai filosofis tertentu. Makanan adat terdiri dari* :

1. Jaha (Pali-Pali); Nasi yang dimasak di bambu atau dibungkus dengan daun sagu yang panjangnya empat puluh sentimeter dan garis tengah tiga sentimeter sebanyak sepuluh potong. Dirakit dan diletakkan di atas piring yang dibuat menyerupai perahu bermakna Armada Laut Kerajaan Ternate yang siap tempur

2. Dada (Kukusan); Nasi kuning yang dibuat mengerucut melambangkan Gunung (Kerajaan) Ternate dengan kekuasaan yang tegak dan berwibawa

3. Ikan dan Terong goreng melambangkan kehidupan lelaki dan wanita atau laut dan darat (Heku dan Cim)

4. Gulai Ikan melambangkan kekayaan laut yang melimpah

5. Bubur Kacang melambangkan hasil pertanian yang melimpah

6. Serikaya; terbuat dari telur ayam, gula, santan kelapa, dan satu daun pandan melambangkan budi pekerti masyarakat adat Ternate beserta pemimpinnya

7. Boboto; Ikan dalam adonan santan dan telur dibungkus daun pisang berbentuk segi enam dengan panjang kurang lebih empat sentimeter sebanyak empat buah yang melambangkan empat penunjang (Fala Raha). Satu piring boboto disajikan untuk empat orang tidak boleh lebih atau kurang dengan pengertian kekuasaan tertinggi berada pada empat kekuatan besar atau Gam Raha.

Makanan Adat disajikan pada Acara Adat Ternate.
Foto dari http://ternateheritage.com

Demikian makanan adat dalam filosofis masyarakat Ternate. Sebentuk pemikiran yang dituangkan dalam beraneka jenis makanan hasil bumi yang ada di Ternate. Jika ke Ternate, sayang jika anda melewatkan kedua jenis makanan ini. Selamat makan.....


Selengkapnya...

rin_iffah

Fort Oranje tampak depan

Sebagai kota kecil yang kelilingnya hanya sekitar 42 kilometer, Ternate memiliki jumlah Benteng peninggalan Portugis maupun Belanda yang cukup banyak. Tercatat ada delapan benteng yang masih bertahan, yaitu Tolukko, Kalamata, Kastela, Oranje, Kota Janji, Bebe, Kota Naka, dan Takome. Sebagian hanya tersisa puing-puing yang tak lagi berbentuk layaknya benteng pada umumnya. Namun dalam catatan Belanda setidaknya ada 12 benteng di Ternate, termasuk sebuah benteng dari kayu, yaitu Benteng Kalafusa meski jejaknya tak lagi ditemukan. Pemerintah setempat, dalam upaya menjaga kelestarian benteng-benteng yang memiliki nilai sejarah, dibuatlah revitalisasi benteng yang ada di kota Ternate, salah satunya adalah Fort Oranje. Benteng yang empat abad lalu sempat menjadi titik tersibuk di pulau Ternate ini telah ditata kembali menjadi ruang terbuka publik di pusat kota dengan sebuah taman luas di depan benteng yang di cat berwarna jingga terang, kontras dengan bangunan yang berada di sekelilingnya. Fort Oranje awalnya dikenal sebagai benteng Malayo/Melayu peninggalan Portugis yang berada diperkampungan melayu. Saat Belanda datang  ke Ternate, Sultan Ternate menghadiahkan tanah di kawasan reruntuhan  Benteng Malayo kepada Belanda untuk didirikan benteng yang kemudian dijadikan markas besar VOC di Hindia Belanda sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia
Kanal buatan di taman Fort Oranje

Salah satu bastion fort oranje dengan meriam dan view lanskap kota Ternate

Saat ini, fort Oranje menjadi tempat nongkrong baru bagi penduduk Ternate yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga atau kerabat. Setiap pagi maupun petang, tempat ini tak pernah sepi pengunjung. Sayangnya, sejak diresmikan pada Mei 2015 kemarin taman beserta benteng Oranje belum sepenuhnya dikelola dengan baik oleh pemerintah kota. Museum rempah yang diharapkan menjadi tempat belajar sejarah keemasan Ternate sebagai pusat perdagangan rempah-rempah di masa lalu masih berupa bangunan tak berpenghuni yang terkesan baru . Tak ada aktivitas berarti yang ada di museum ini. Bahkan mungkin pengunjung yang datang ke fort Oranje pun tak mengenali bangunan museum rempah tersebut karena tak ada peta atau petunjuk arah yang jelas. Kebanyakan warga lebih memilih duduk di taman depan benteng atau naik ke atas bastion hanya sekedar berfoto dengan latar pemandangan sekitar.

Suasana taman Fort Oranje di suatu sore

Anak muda yang sedang bermain sepak bola di depan museum rempah dalam area benteng

Fort Oranje masih terus dalam pembenahan. Selaku warga Ternate, kami berharap Fort Oranje tak sekedar menjadi perabot tua yang dihias ala kadarnya hanya untuk menyegarkan mata tapi lebih dari itu ada nilai-nilai sejarah maupun budaya yang bisa kami dapatkan setiap kali berkunjung ke tempat ini. Mungkin akan segera tiba waktu itu. Semoga saja.
Selengkapnya...

rin_iffah


Refleksi Gunung Gamalama

Siapapun yang pernah berkunjung ke Ternate akan sepakat bahwa kota di pulau kecil ini menyimpan begitu banyak pesona bahkan sudah terasa ketika masih berada di angkasa. Cobalah untuk melepas pandang sejenak ke luar jendela pesawat di saat pramugari mengumumkan bahwa tak lama lagi pesawat akan mendarat di bandara Sultan Babullah Ternate. Sebuah gunung berdiri  kokoh dengan ketinggian 1715 meter di atas permukaan laut beserta beberapa pulau berjejer rapi di sekitarnya akan menyambut kedatangan anda. Gamalama, gunung yang namanya tersemat pada salah seorang artis ibu kota ini adalah sebuah gunung vulkanik aktif yang di kakinya terdapat kehidupan yang sudah berlangsung sejak awal abad ke 13. Sebuah kota pesisir yang dulunya bernama Pulau Gapi dan kini lebih dikenal sebagai kota Ternate.

Kota-Pulau Ternate dibingkai Pulau Tidore, Maitara dan Hiri
Gamalama dilihat dari jendela pesawat


Tak banyak yang mengenal Ternate, pun di peta Indonesia ia hanya berupa noktah kecil di wilayah Maluku Utara. Lewat project 30 hari kotaku bercerita yang diadakan oleh akun twitter @poscinta , saya akan mengajak anda untuk mengenal lebih dekat salah satu kota pusaka yang ada di Indonesia ini. Maka bersiaplah untuk jatuh hati sebagaimana teman saya yang ketika pertama kali menginjakkan kakinya di sini ia menyebut Ternate sebagai surga tersembunyi di Timur Indonesia. Pantaslah jika keindahan Ternate dan pulau sekitarnya terekam dalam lembar uang seribu rupiah. 

Pemandangan dari Ternate dalam lembar uang seribu rupiah

Selamat datang di Ternate, Selamat menikmati pesona kota tua di kaki gunung Gamalama…
Selengkapnya...