rin_iffah

Jum’at, pukul 16.30 WIT, hampir semua stasiun TV mengabarkan bencana tsunami yang menyapu negeri matahari terbit, Jepang. Breaking news dengan durasi yang lumayan panjang sejenak mengalihkan perhatianku. Negara yang konon memiliki sistem penanggulangan gempa tercanggih ini dalam hitungan menit diluluh lantakan oleh hempasan gelombang setinggi 4 meter.

Tiga puluh menit kemudian ada kabar lain yang tak kalah mengejutkan. Alarm sign yang dikeluarkan oleh BMKG terhadap 3 wilayah di Indonesia yang akan mendapatkan kiriman tsunami dari Jepang, salah satunya MALUKU UTARA yang saat itu aku berada tepat di atas tanahnya. Tidak tanggung-tanggung pengumuman itu disertai prediksi waktu gelombang tsunami yang akan menghampiri. Pukul 18.00 WIB yang berarti pukul 20.00 WIT.

Dan jelang pukul 20.00 WIT. Setiap ruas jalan yang aku lalui dipenuhi oleh kendaraan yang berusaha saling mendahului mencari dataran tinggi hanya untuk menyelamatkan jiwa. Bayangan hari kiamat seketika memenuhi alam pikiranku. Subhanallaah, sedikit ancaman telah menjadikan manusia kehilangan kendali. Bagaimana dengan ancaman yang jauh lebih dahsyat dari itu???

Pada saat tulisan ini dibuat, di daerahku diguyur hujan deras disertai angin kencang beberapa hari terakhir. Pepohonan tumbang dan menutupi beberapa ruas jalan. Di belahan bumi yang lain, ancaman angin puting beliung, banjir bandang, letusan gunung berapi, serta gempa silih berganti. Bencana tak pernah kunjung berlalu dari tiap episode kehidupan manusia. Lantas apakah kita harus lari ketika bencana mendekat dan semakin mengakrabi tiap derap langkah hidup kita???

Bagi orang beriman, dimanapun berada, mereka tidak akan pernah merasa aman dari siksa Allah, bahkan di tempat ter-aman sekalipun. Ketika siang menyapa atau gelap malam mulai menghampiri, di saat terlelap ataupun terjaga, ketika dekat atau pun jauh dari musibah. Mereka senantiasa teringat firman Allah dalam Surat Al-a’raf ayat 97-99 :
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”

Kita belajar dari gempa Aceh dan Jogja beberapa tahun lalu, Letusan gunung merapi di Jawa Tengah, dan yang terakhir gempa dan tsunami yang melumpuhkan negara Jepang. Ia datang ketika pagi mulai menghangatkan bumi, di saat sebagian orang sementara menyiapkan hari, atau ketika yang lain sibuk mengais rezki, tak tanggung bencana pun menghampiri ketika gelap mulai menyelimuti malam dan manusia terlelap dalam mimpi. Dan semuanya terjadi secara tiba-tiba tanpa ada yang menduga.

Maka bagi orang beriman, setiap musibah yang menimpa menjadikan mereka senantiasa awas dan tak pernah merasa aman. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh baginda nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah riwayat, dari aisyah radhiyallaahu anha, adalah nabi ketika melihat cuaca berubah disertai angin kencang maka jiwanya tak pernah tenang. Beliau senantiasa keluar masuk kamarnya . semua itu dilakukan karena takut akan siksa Allah. Yah, seorang nabi sekalipun senantiasa terjaga dari rasa aman akan siksaNya. Nabi yang terpelihara dari melakukan perbuatan dosa (ma’shum) pun merasa takut, apatah lagi kita yang berlumur lumpur dosa, jauh lebih pantas untuk takut dan tidak merasa aman dari siksaNya.

Ketika rasa takut itu semakin membelenggu hati seorang mukmin, mereka akan berlari dengan sekuat daya. Mereka berlari mendekat kepada RobbNya. Mendekat dengan ta’at yang semakin berlipat. Sebagaimana perkataan Abul Qosim : “barang siapa takut kepada sesuatu, maka ia akan lari darinya. Dan siapa yang takut kepada Allah, maka ia akan lari kepadaNya”
Inilah kelemahan yang menjadi kekuatan seorang mu’min. Musibah bertubi-tubi semakin menambah kualitas takwa mereka di sisi Allah. Mereka yakin dengan firman Allah : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman, dan bertakwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (al-a’raf : 96)

Mereka yakin, keta’atan akan merubah bencana menjadi rahmat. Hujan yang mengguyur bumi tak akan menenggelamkan dan membanjiri, justru akan menyuburkan tetanam dan menjadi minuman menyegarkan bagi ternak. Di saat ta’at, angin tak akan meruntuhkan tetapi menyejukkan dengan hembusannya. Ta’at pula yang menjadikan bumi tak merengek dengan gempa, lautan tak menangis dengan tsunami, dan gunung pun tak akan meraung murka dengan letusan dan muntahan laharnya. Semuanya tunduk di atas perintah Sang Pencipta yang kita pun tunduk dalam ta’at kepadaNya. Wallaahu a’lam bishowaab......
Selengkapnya...

rin_iffah

Ada mitos di kalangan sebagian kaum Hawa bahwa datangnya menstruasi bisa ”menular”. Sesama perempuan yang tinggal di sebuah rumah biasanya memiliki siklus haid yang hampir bersamaan. Memang tidak sama persis, tapi siklus ini hanya terpaut beberapa hari saja. Bahkan di daerah tertentu, ada pantangan seorang perempuan yang sedang haid tidak boleh melewati perempuan lain yang belum haid, karena bisa menulari temannya. Lucu memang, tapi secara ilmiah kesamaan siklus haid di sebuah wilayah bisa dijelaskan dengan rinci.

Adalah Tevik Dorak, ahli medis dari Departemen Mikrobiologi, Toronto Medical Laboratories (TML) yang mengamati ikhwal kesamaan siklus menstruasi pada perempuan yang tinggal berdekatan di suatu tempat. ”Hal ini biasa terjadi pada teman sekamar, sahabat dekat, pasangan lesbian atau juga hubungan ibu dan anak,” ujar Dorak seperti dilansir Newscientist beberapa waktu lalu. Uniknya, kesamaan ini tidak hanya terjadi pada manusia, tapi juga pada hewan seperti tikus serta hewan pengerat lain, juga bangsa primata.

Riset paling mendalam berkaitan dengan siklus menstruasi yang seragam ini pernah dilakukan juga oleh Martha McClintock dari Jurusan Psikologi, University of Chicago. Perempuan inilah yang pertama kali melaporkan observasinya dalam jurnal Nature pada tahun 1971 dan terkenal dengan teori ”Efek McClintock”. Dalam studi ini dikatakan bahwa ada sinyal kemosensor yang terlibat dalam dua feromon dan organ vomeronasal (VMO) yang dikenal sebagai organ Jacobson yang bertanggung jawab terhadap efek keseragaman siklus haid.

Feromon merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan oleh VMO di dalam hidung. Sinyal ini dihasilkan oleh jaringan kulit khusus yang terkonsentrasi di dalam lengan. Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis.
Studi yang dilakukan McClintock ini sudah terbukti pada sejumlah hewan pengerat yang dijadikan objek analisisnya. Hewan-hewan pengerat yang tinggal dalam kandang yang sama cenderung memiliki siklus haid serupa. Bukan itu saja, hewan yang tinggal dan menghirup udara sama juga mengalami kesamaan siklus haid. Namun studi ini dibantah oleh ilmuwan lain yang berpendapat bahwa kendati manusia memiliki VMO juga bukan berarti memiliki fungsi yang sama dengan hewan.

Pada 1998 McClintock bersama rekannya Kathleen Stern mempublikasikan kembali hasil penelitiannya di jurnal Nature. Kali ini mereka menyatakan ada dua jenis feromon yang secara spesifik berpengaruh pada kesamaan siklus haid.

Siklus menstruasi terdiri atas tiga fase, yakni menses, pra-ovulasi dan luteal alias pasca ovulasi. Salah satu dari feromon dihasilkan oleh perempuan pada fase pra-ovulasi dari siklusnya dan mempercepat ovulasi di fase berikut. Feromon lain dipancarkan pada saat ovulasi berlangsung. Sinyal ini memiliki efek memperlambat siklus. Hasil akhirnya adalah berupa siklus sejumlah perempuan yang tinggal saling berdekatan.

Yang unik, studi penelitian ini mempunyai banyak kesamaan dengan fenomena siklus menstruasi perempuan di usia 20-an, tapi tidak pada perempuan berusia lebih tua dengan siklus tetap. Dan yang jelas, sinyal feromon ini masih bersifat dugaan serta masih diperselisihkan. Hingga saat ini, belum bisa didefinisikan secara kimiawi.

Selengkapnya...

rin_iffah

Adalah kebiasaan para bangsawan jahiliyah Madinah dengan membuat serta menempatkan patung di bagian tertentu di dalam rumah mereka agar setiap saat mereka dapat menyembah dan mengambil berkah darinya. Itupula yang diperbuat Amr bin Jamuh, salah seorang pemimpin sepuh Madinah, kepala suku Bani Salamah yang sangat dihormati.

Sebuah patung indah, terukir dari kayu khusus dan berbalut sutera lembut nan mahal terpajang di sudut rumah orang tua ini. Amr bin Jamuh begitu menghormati tuhannya yang diberi nama manat. Jelang pagi dan sore, ia melakukan perawatan khusus untuk manat. Dibersihkan dan diminyaki dengan wangi-wangian mahal yang hanya sanggup dibeli oleh golongan bangsawan.

Ketika fajar Islam memasuki Madinah, usianya sudah mencapai 60 tahun. Namun saat itu hatinya belum tergerak untuk memeluk islam. Bahkan ia sangat mencemaskan kalau-kalau keluarganya pun terpengaruh dengan ajakan duta Islam di Madinah, Mushab bin Umair. Ia tidak mengetahui jika kedua anak remajanya telah mengikuti langkah sahabat mereka Mu’adz bin Jabal dalam menyeru panggilan Allah dan Rasulnya.

Pemuda Mu’adz bin Jabal resah melihat kebiasaan Amr bin Jamuh yang berlebihan terhadap patungnya manat. Akhirnya ia mengajak kedua anak Amr untuk meruntuhkan keyakinan ayah mereka terhadap sembahannya yang tidak memberi manfaat apa-apa. Bentuk da’wah yang lain yang kelak terukir indah dalam lembaran sejarah. Bukan dengan kata-kata apalagi dengan mengangkat senjata, tapi cukup dengan perbuatan yang menyentuh sisi kemanusiaan seorang makhluk Allah.

Setelah berunding, ketiga pemuda ini pun melakukan misinya. Ketika malam semakin larut dan orang-orang mulai terlelap dalam mimpi, mereka mengendap-endap dan menyusup ke dalam rumah amr untuk mengambil patung manat dan membuangnya ke dalam lubang kotoran manusia. Begitu hati-hatinya aksi mereka sehingga tak ada seorangpun yang mengetahuinya. Keesokan harinya, seperti kebiasaannya pada hari-hari sebelumnya, amr bin jamuh ingin melakukan ritual ibadahnya kepada manat, namun betapa terkejutnya ia melihat berhala yang begitu dicintainya tak berada di tempat. Ia pun bergegas mencari berhalanya itu dan akhirnya ia temukan di tempat pembuangan kotoran. Kemarahan pun melingkupinya ketika melihat kondisi tuhannya yang tergeletak tak berdaya "celakalah orang yang menganiaya tuhan kami," kata 'Amr bin Jamuh mengutuk.. Diambilnya patung manat dan dibersihkan serta diberikan wangi-wangian dan ditempatkan kembali seperti sedia kala. Ia kemudian berujar ”Hai Manat! Demi Allah! Kalau aku tahu orang yang menganiayamu, sungguh akan aku hukum dia"

Melihat sikap amr yang tetap memuja patungnya, Mu’adz bin Jabal beserta ke dua putra amr semakin bersemangat untuk mencari cara agar ia mendapat hidayah. Mereka pun terus melakukan aksi yang sama. Dan setiap pagi amr bin jamuh dengan kesabarannya selalu memandikan dan membersihkan patungnya setiap kali ia jumpai di lubang kotoran. Akhirnya, pada suatu pagi hilanglah kesabarannya. Ia pun membekali tuhannya itu dengan sebilah pedang yang disematkan di leher patung Manat seraya berkata, “ Wahai Manat, jika kamu memang hebat tentu bisa menjaga dirimu dari aniaya orang lain!”

Melihat apa yang dilakukan amr, mu’adz dan kawan-kawannya merasa mendapat celah dari seorang amr bin jamuh. Mereka semakin yakin akan mampu menyadarkan amr dari kekeliruannya selama ini. Maka malam itu, ketika orang tua itu sudah tidur, Mu'adz dan kawan-kawan segera pula beraksi. Pedang yang tergantung di leher Manat mereka ambil. Patung Manat mereka ikat menjadi satu dengan bangkai anjing, kemudian mereka lemparkan ke lubang kotoran, pagi-pagi 'Amr bin Jamuh mencari-cari patung pujaanya. Didapatinya patung itu tengkurap, bersatu dengan bangkai anjing dalam comberan bergelimang kotoran. Kata 'Amr bin Jamuh, "Seandainya engkau benar-benar tuhan, tentu engkau tidak sudi diikat bersama bangkai anjing di dalam comberan bergelimang kotoran seperti itu..."

Akhirnya ia pun tersadar. Bergegas membersihkan diri, memakai wangi-wangian kemudian menemui rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Tak lama ia mencicipi manisnya iman dilingkup perjuangannya bersama rasulullah. Di saat perang uhud, sahabat Amr bin Jamuh meraih syahidnya. Ia penuhi seruan Allah dan RosulNya meskipun di usia senja dengan raga yang tak lagi sempurna. Yah, beliau saat itu pincang sebelah kakinya. Namun semangat juangnya tak padam tak kalah dengan semangat Mu’adz bin Jabal dan kedua putranya ketika membantunya meraih cahaya hidayah. Ia jemput surga dengan semua pengorbanan terbaiknya. Di uhud, ia raih keridhoan Robbul izzati.
Selengkapnya...

rin_iffah

Jelang usia remaja, seorang wanita akan mengalami proses yang dikenal dengan menstruasi atau haid. Meskipun ini merupakan kondisi normal, namun masih banyak anak-anak gadis yang belum mengerti dengan pasti apa itu menstruasi sehingga ketika mereka pertama kali mengalami menstruasi akan timbul keadaan panik, bingung bahkan jijik. Bahkan ada sebagian yang merasa ketakutan dan menyangka bahwa dirinya sudah tidak perawan. Nah disini pentingnya peran orang tua untuk menanamkan pendidikan seks kepada anak gadisnya sehingga para gadis kecil ini akan merasa siap menjalani setiap perubahan normal yang terjadi pada tubuhnya.

Menstruasi menurut pengertian medis adalah suatu perubahan fisiologis pada wanita yang ditandai oleh pengeluaran darah melalui vagina yang berasal dari rahim, berlangsung secara teratur serta dipengaruhi oleh hormon-hormon tertentu. Menstruasi ini dimulai sejak seorang wanita memasuki masa pubertas atau sekitar 9 tahun. Meskipun demikian usia awal seorang wanita mengalami menstruasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kesehatan wanita itu sendiri, status nutrisi serta berat badan terhadap tinggi badan, bahkan pada beberapa ras tertentu ditemukan adanya percepatan terjadinya menstruasi. Biasanya menstruasi terjadi sekali selama sebulan dan berlangsung sampai seorang wanita mengalami menopause atau berhentinya menstruasi sekitar usia 45-50 tahun. Panjang siklus menstruasi berkisar antara 21-40 hari, namun rata-rata berada pada siklus 28 hari yang dikenal dengan siklus haid klasik. Keadaan siklus ini bisa berubah tiap bulan dan tergantung pada kondisi kesehatan fisik dan mental wanita tersebut. Siklus haid sering digunakan untuk menghitung masa subur seorang wanita dan bisa digunakan sebagai kontrasepsi alami.

Pada siklus menstruasi di kenal tiga masa utama, yakni masa haid, masa proliferasi dan diikuti dengan masa sekresi. Pada tiap siklus haid, FSH (follicle stimulating hormone)_ hormon yang berhubungan dengan pematangan sel telur_dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis (di daerah otak) yang menimbulkan beberapa folikel primer dapat berkembang dalam ovarium (indung telur). Folikel ini akan berkembang menjadi folikel de Graaf yang membuat esterogen. Hormon esterogen ini akan menekan produksi FSH, sehingga lobus anterior hipofisis dapat mengeluarkan hormone gonadotropin yang kedua yaitu LH (Leuteinising hormone). Pengeluaran hormone FSH dan LH dipengaruhi oleh RH (releasing hormone) yang disalurkan dari hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH ini sangat dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik esterogen terhadap hipotalamus. Juga oleh pengaruh dari luar seperti cahaya, bau-bauan melalui bulbus olfaktorius, dan hal-hal psikologik. Sebagai contoh, di Negara dengan empat musim, kehamilan lebih banyak terjadi pada musim semi (mulai ada cahaya) dan musim cahaya (adanya banyak cahaya). Masih diteliti efek bau-bauan terhadap manusia. Namun pada percobaan yang dilakukan terhadap kera dengan feromon (bau-bauan yang merangsang hasrat seks) diduga bahwa bulbus olfaktorius mempunyai peranan untuk mengeluarkan releasing hormon. Faktor psikologis juga mempunyai peranan dimana ditemukan pada wanita dengan pseudocyesis (Kehamilan palsu).

Bila penyaluran releasing hormone normal, maka gonadotropin juga akan diproduksi dengan baik sehingga folikel de Graaf akan matang dan berisi cairan folikuli yang mengandung esterogen. Esterogen mempunyai pengaruh terhadap endometrium (dinding rahim) yaitu menyebabkan endometrium tumbuh dan berpoliferasi. Masa ini dikenal dengan masa proliferasi.
Dibawah pengaruh LH, folikel de Graaf akan semakin matang kemudian bergerak mendekati permukaan indung telur dan kemudian terjadilah ovulasi (sel telur dilepas dari indung). Pada masa ovulasi ini kadang dijumpai sedikit perdarahan yang akan merangsang rongga panggul sehingga timbul rasa sakit yang disebut intermenstrual pain. Bisa juga ditemukan adanya perdarahan sedikit melalui vagina. Setelah ovulasi terjadi, dibentuklah korpus rubrum (berwarna merah oleh karena perdarahan tadi) yang akan menjadi korpus luteum (warnanya menjadi kuning) di bawah pengaruh hormone LH dan LTH (luteotropic hormone), hormone gonadotropin yang lain. Korpus luteum ini menghasilkan progesterone yang berpengaruh terhadap endometrium yang telah berpoliferasi dan menyebabkan kelenjar berkeluk-keluk dan bersekresi serta mengalami penebalan. Masa ini dikenal dengan masa sekresi. Pada masa ini rahim telah disiapkan untuk menerima sel telur yang telah dibuahi. Dan jika terjadi pembuahan maka korpus luteum akan dipertahankan dan berkembang menjadi korpus luteum graviditas.

Bila tidak ada pembuahan, korpus luteum berdegenerasi menyebabkan kadar esterogen dan progesterone menurun. Menurunnya kadar esterogen dan progesterone ini berakibat pada arteri yang berkeluk-keluk pada endometrium. Arteri-arteri ini akan mengalami dilatasi dan kemudian menjadi spasme dan iskemia. Setelah itu terjadi degenerasi serta perdarahan dan pelepasan endometrium yang telah mengalami nekrosis (penciutan). Proses ini dikenal dengan menstruasi atau haid.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, nyeri menjelang menstruasi (dismenore) merupakan suatu proses yang normal yang terjadi pada masa ovulasi. Pada beberapa wanita nyeri ini menimbulkan perasaan tidak nyaman bahkan sampai menganggu aktivitas sehari-hari. . Gejala-gejala dari gangguan menstruasi dapat berupa payudara yang melunak, puting susu yang nyeri, bengkak, dan mudah tersinggung. Beberapa wanita mengalami gangguan yang cukup berat seperti kram yang disebabkan oleh kontraksi otot-otot halus rahim, sakit kepala, sakit pada bagian tengah perut, gelisah, letih, hidung tersumbat, dan ingin menangis. Dalam bentuk yang paling berat, sering melibatkan depresi dan kemarahan, kondisi ini dikenal sebagai gejala datang bulan atau PMS (Pre Menstrual Syndrome), dan mungkin membutuhkan penanganan medis.

Selengkapnya...

rin_iffah

Sudah hampir sepuluh tahun saya bermukim dan melewatkan suasana bulan Ramadhan di Jepang. Sudah kurang lebih sepuluh kali bulan Ramadhan saya lalui sebagai bagian dari 100 ribu muslim di tengah 120 juta penduduk Jepang. Itu berarti sudah selama itu pula saya menjalani kehidupan sebagai seorang muslim minoritas. Pengalaman beribadah dan berdakwah, khususnya suasana bulan Ramadhan sungguh berbeda dengan yang sebelumnya saya alami di negeri sendiri dimana Islam merupakan agama mayoritas.

Perbedaan itu untungnya justru memberikan banyak pelajaran berharga untuk direfleksikan bagi kehidupan beragama di tanah air. Ramadhan di Jepang adalah Ramadhan yang hening. Di malam hari kita tak mendengar peningkatan volume keriuhan suara karena ada tambahan suara dari masjid-masjid. Pun tak ada suara dari ritual membangunkan orang untuk sahur. Setiap orang mengatur sendiri waktu sholat, sahur, atau berbuka puasa berdasarkan jadwal sholat yang informasinya dengan mudah diperoleh di Internet.

Kaum muslimin juga tidak mendapat perlindungan khusus dari pemerintah Jepang yang sekuler itu. Tidak ada anjuran untuk menghormati orang yang berpuasa, karena sebagian besar masyarakat Jepang bahkan tidak tahu bahwa kita sedang berpuasa.
Sake (minuman keras) memiliki tempat yang penting dalam budaya dan dunia bisnis Jepang. Karenanya dimanapun kita akan dengan mudah menemukan kedai sake atau bar yang bergaya barat. Di kawasan tertentu tempat-tempat minum hadir dengan wanita/pria penghibur. Jenis hiburan yang disediakan beragam, dari yang sekedar teman minum hingga teman tidur.

Semua tempat minum dan hiburan itu tentu saja tetap berbisnis seperti biasa sepanjang bulan Ramadhan. Tidak ada peraturan yang membuat mereka harus menghentikan bisnis dalam rangka menghormati bulan Ramadhan atau orang-orang yang sedang berpuasa.
Demikianlah, minoritas muslim di Jepang tetap khusyuk menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan meski tidak dibuat kondisi khusus untuk itu. Tempat-tempat ibadah berupa masjid dan Islamic centre di beberapa kota tertentu, ruangan kedutaan, kampus, atau ruangan apa saja yang disulap menjadi tempat ibadah sementara dipenuhi hadirin untuk shalat berjamaah, tadarus, atau pengajian. Tidak diperlukan suara hiruk-pikuk untuk membuat orang hadir di tempat ibadah.

Kaum muslimin yang sedang berpuasa tidak merasa terganggu oleh aktivitas makan-minum orang-orang Jpeang di tempat umum. Mereka bahkan tidak merasa terganggu dengan tetap beroperasinya tempat-tempat hiburan malam. Alasannya sederhana, karena keseharian mereka memang tidak pernah bersinggungan dengan aktivitas di tempat-tempat tersebut.
Singkat kata, kaum muslimin dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk tanpa memerlukan pengkondisian secara khusus menjelang dan selama bulan Ramadhan. Karenanya berbagai pengkondisian menjelang Ramadhan di tanah air patut dipertanyakan urgensinya.

Seperti kita ketahui, banyak peraturan khusus yang dikeluarkan pemerintah daerah dalam rangka menghormati bulan Ramadhan dan orang yang berpuasa. Tempat-tempat hiburan malam harus ditutup selama bulan Ramadhan. Di beberapa daerah ada Perda yang melarang orang berjualan makanan atau makan di tempat umum di siang hari. Tujuannya adalah agar orang-orang tak terganggu puasanya.

Saya masih sulit memahami kalau aktivitas makan-minum orang lain bisa mengganggu puasa kita. Demikian lemahkah iman kita sehingga kita bisa tergoda hanya dengan melihat orang lain makan?
Demikian pula, mungkinkah kekhusyukan ibadah kita terganggu dengan aktivitas di tempat hiburan malam kalau kita sama sekali tidak pernah mengunjungi tempat-tempat itu?

Puasa adalah ekspresi hubungan khusus antara hamba dengan Khaliknya. Puasa semestinya dilakukan dalam kesunyian relung pribadi. Tapi yang kita lakukan justru sebaliknya. Kita mengumumkan puasa kita. Bahkan kita menuntut orang untuk menghormati kita. Lalu, ibadah malam kita tak jarang riuh rendah, hampir semuanya kita lakukan dengan loud speaker bertenaga besar. Mulai dari azan, shalat, ceramah, zikir, tadarrus, hingga aktivitas membangunkan orang sahur. Ramadhan, bagi sebagian non-muslim adalah bulan dengan peningkatan intensitas kebisingan. Masihkah tersisa ekspresi ketundukan dalam puasa yang demikian itu?

Disadur dari majalah islam al-Bashirah ed 04 tahun II 1428 H


Selengkapnya...