Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
rin_iffah

Ketika seseorang memilih untuk menginjakkan kaki di dunia kesehatan, maka dia telah menyerahkan sebagian besar hidupnya kepada masyarakat. Hanya sebagian kecil darinya yang dia tinggalkan untuk keluarga, bahkan untuk dirinya sendiri.

Waktunya akan lebih banyak dihabiskan untuk orang lain dari pada untukmu sebagai suaminya atau anak-anak. Pikiran dan tenaganya akan tercurah kepada orang-orang asing yang mungkin tidak akan mengingatnya dalam setiap doa, tidak sepertimu atau orang tuanya. Kamu tahu? Dia akan lebih sering di rumah sakit daripada di rumahmu sendiri. Itu bukan karena dia menyukai rumah sakit. Rumahmu tetaplah tempat yang membayang di pelupuk matanya setiap detik dia di rumah sakit. Karena rumah sakit adalah tempat yang penuh tekanan. Jika kamu bukan tenaga kesehatan, maka tidak akan terbayangkan seperti apa rasanya hidup di sana. Jangan heran jika seringkali mereka menyebutnya “rimba raya”.

Maka ketika dia terlihat dingin dan lelah, peluklah. Peluk sampai ke dalam lubuk hatinya. Karena kamu mungkin tidak tahu bahwa pasiennya baru saja meninggal dunia, atau seniornya baru saja memarahi dan menghukumnya, atau ada pasien yang menyalahkan terapi yang dia berikan, atau rekan kerjanya yang tidak bisa diajak bekerja sama. Dengarkan ceritanya dengan sabar. Jangan lupa ceritakan juga harimu padanya. Tawarkanlah untuk berdiskusi, karena kamu lebih dia percaya daripada siapapun di dunia.

Jika kamu menikahi seorang dokter, jangan memiliki persepsi yang sama seperti kebanyakan orang, bahwa dokter pasti kaya secara materi. Sama seperti yang lain, dia akan mendaki dari bawah. Bahkan jam kerjanya di awal pendakian itu lebih banyak daripada profesi lain dengan imbalan yang pas-pasan.

Tetaplah di sisinya, sama seperti dia yang selalu berusaha ada di sisimu. Tetapi, sebanyak apapun pasiennya, kamu dan keluarga tetap menjadi prioritasnya. Dia akan menganggap dirinya sendiri sebagai dokter pribadimu. Dia akan sangat kritis terhadap apapun mengenai dirimu yang terkait dengan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Mungkin akan terdengar bawel, tapi itu adalah bentuk perhatiannya. Seorang dokter akan sangat perhatian kepada orang lain, tetapi tidak kepada dirinya sendiri. Maka tidak jarang kamu mendengar ironi tentang seorang dokter meninggal dunia karena penyakit yang sebetulnya sering ditanganinya. Dia akan mendengarkan keluhan orang lain tapi mengabaikan keluhannya sendiri. Siklus makannya akan berantakan, begitu juga dengan waktu tidur yang jumlahnya dalam jam bisa dihitung dengan satu tangan saja. Maka jadilah satu-satunya yang memperhatikan dia. Ingatkan untuk makan dan shalat, atau jika tidak sama sibuknya, bawakan makanan saat dia jaga malam. Kehadiranmu akan lebih menyenangkannya daripada makanan itu sendiri.

Jika istrimu seorang dokter, siapkah kau membaginya dengan orang lain?

Malang, 20 Oktober 2013
submitted : Nydya Parahita
Fakultas Kedokteran - Universitas Brawijaya Malang

http://kurniawangunadi.
tumblr.com/post/64847159513/ceritajika-1-jika-istrimu-seorang-dokter
Selengkapnya...

rin_iffah

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...” (At Tahriim 6) 

Ayat ini begitu berkesan di hati sejak pertama kali mendengarnya dengan seksama. Kesan pertama muncul saat tabligh akbar yang dibawakan oleh seorang Syaikh dari Arab Saudi yang saat itu berkunjung ke kampus kami sekitar tujuh tahun yang lalu, beliau terugugu, kehilangan kata ketika membacakan ayat ini yang diikuti dengan tangis serempak oleh peserta. Kesan yang lain saat ayat ini atau lebih tepatnya surat at Tahrim ini menjadi wasilah doa dari sang murabbiyah di majelis tarbiyah kala itu, agar saya bisa menjadi seorang thabiibah yang juga hafidzah, sebuah titik awal keinginan besar untuk menjaga ayat-ayat Al-qur’an. Bahkan saking berkesannya, sempat terpikirkan meminta kepada calon suami (suatu saat nanti) untuk mencukupkan maharnya dengan surah ini. 

Lupakan sejenak dan mari kita beranjak kepada topik yang ingin saya bahas. Da’wah keluarga terkadang menjadi prioritas yang kita letakkan pada nomor sekian di antara prioritas da’wah kita. Maka tidak heran banyak aktivis da’wah yang terkenal tangguh dan memiliki kontribusi besar di luar rumah namun tak mampu berbuat banyak atas pelanggaran syari’at yang terjadi di dalam rumahnya. Ia bisa berteriak lantang atas masalah yang menimpa kaum muslimin di negerinya bahkan di seluruh penjuru dunia, namun hanya bisa menangis perih tak mampu bersuara ketika mendapati adiknya masih belum menutup aurat dengan sempurna, kakaknya masih disibukkan dengan pacaran, dan orang tuanya masih tebelenggu oleh adat mistik yang kian menggerogoti akidah. Bahkan ia tak mampu berbuat banyak ketika pernikahan yang ia impikan justru disesaki oleh nilai-nilai jahili. Idealisme-nya terpasung hanya karena ia lupa untuk memprioritaskan berda’wah pada orang-orang terdekatnya, pada keluarganya.

Ada yang juga menarik disimak pada sebuah keluarga kecil yang suami isterinya adalah aktivis da’wah. Mereka bersatu karena niat mulia mendirikan keluarga yang tersemai benih-benih kebaikan, yang setiap nafas dalam kehidupan rumah tangganya dipenuhi ruh da’wah Ilallaah. Tapi apa yang didapati anak-anaknya dengan kondisi mereka, bisa jadi si kecil yang setiap hari membersamai abi-nya saat mengisi ta’lim, mendampingi ummi-nya dalam berbagai majelis syuraa, melakukan aktivitas sosial dan lain sebagainya justru mengeluh kepada teman sebayanya “Nanti kalau sudah besar, ga mau ah jadi kayak Abi sama Ummi. Sibuk terus... capek, ngurusin orang melulu...” Kalimat polos itu mengalir dengan ringan karena seringnya mereka menyeksamai aktivitas orang tuanya. Mereka melihat betapa orang tuanya kehabisan energi bahkan uring-uringan terhadap aktivitas da’wah yang mereka jalani. Mungkin abi dan umminya selalu menyemangati mereka dengan surga, tentang kecintaan kepada da’wah. Tapi mereka jauh lebih percaya terhadap tatapan orang tuanya, tutur kata, sorot mata dan sinar wajahnya yang seolah berkata “Nak, ummi tuh capek seharian, jangan bikin ummi marah ya..”

Tidak mudah memang menjadi orang tua. Tak semudah menyusun kalimat dalam visi pernikahan “Menjadikan rumah tangga sebagai lahan tumbuhnya generasi yang akan menegakkan panji Islam” atau tidakkah kita mendengar teguran Allah dalam KalamNya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisaa 9)

Persepsi kita tentang aktivitas da’wah yang kita jalani juga akan mempengaruhi ruh dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Maka tak heran jika seorang akhwat di’boikot’ oleh orang tuanya dari aktivitas da’wah dan tarbiyah karena nilai ujiannya yang anjlok atau tak bisa menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya, bertahun-tahun menjadi penghuni kampus dengan alasan sibuk dengan aktivitas da’wahnya. Ataukah seorang suami yang tidak mengizinkan isterinya menghadiri tarbiyah, mengikuti kegiatan da’wah karena tak mampu membereskan rumah dan anak-anaknya. Yang ketika bidadarinya itu terlalu sibuk di luar rumah justru membuat segalanya terbengkalai.

Saya begitu terkesan kepada sebagian akhwat semasa kuliah dulu yang walaupun amanahnya menggunung; pagi kuliah, siang tarbiyah, sore mengisi tarbiyah, malamnya harus mabit bermusyawarah tapi nilai-nya tak pernah di bawah A atau B dan wisuda pada waktu yang semestinya. Orang tua merekapun begitu mendukung, tak sungkan ketika diajak melihat secara langsung aktivitas da’wah anaknya dengan ikut menghadiri ta’lim, tabligh akbar dan kegiatan sejenisnya. Juga sebagian ummahat yang walaupun memiliki banyak anak, banyak amanah da’wah tetapi tetap mendapat izin dari suami-suami mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan syuraa. Suami mereka pun dengan setianya mengantar jemput tanpa merasa terbebani. Bahkan anak-anak mereka dengan bangganya berujar dengan lantang dan begitu tegasnya “Pokoknya pengen jadi kayak abi dan ummi kalo udah gede nanti!” Semua itu setelah mereka melihat semangat positif yang terpancar dari wajah abi dan umminya. Anak-anak itu benar-benar melihat ruh jihad yang menyala dan ghirah perjuangan yang terpancar dahsyat dari sorot mata abi dan umminya. Cahaya yang sebegitu kuatnya hingga merekapun melepas abi dan umminya dengan tatapan yang menyejukkan. Dan tatapan sang putra semakin menyalakan semangat di dada abi dan umminya. Semangat untuk menyelesaikan amanah-amanahnya dengan puncak ihsan. Semangat untuk semakin banyak berkontribusi bagi ummat. Semangat untuk segera kembali dan menemukan kembali penguat nyalanya di sorot mata dan mimik wajah sang mujahid kecil. Maka disitulah da’wahnya.....

Barometer keberhasilan da’wah kita tak sekedar terukur dari banyaknya kader da’wah yang mengikuti seruan kita, suksesnya kegiatan-kegiatan akbar dengan banyak peserta dan bertabur pujian. Tapi lebih dari itu, ketika rumah kita menjadi tempat yang paling nyaman di saat letih menyapa di sela-sela aktivitas da’wah yang menguras energi, yang ketika berada di luar kita selalu rindu akan suasananya yang dipenuhi lantunan ayat-ayat Allah bukan suara musik dan ribut televisi yang menyesakkan dada atau cacian serta umpatan yang menghiasi hari para penghuninya. Rumah yang kian mensurgakan peran kita sebagai mu’min sejati bukan yang menjerumuskan kita bersama penghuni lainnya ke dasar neraka. Juga (mengutip tulisan-nya ustad Salim A. Fillah) agar semangat memperbaiki negeri tidak berubah menjadi nafsu yang mengharuskan diri berkuasa, hingga lupa bahwa dari kamar tidur anak-anak, pemimpin sejati negeri ini 30 tahun mendatang sedang menanti bimbingan seorang ayah dan seorang ibunda.

Yah, karena sudah seharusnya da’wah kita berawal dari rumah. Meski tak mudah, tapi tak ada salahnya mencoba. Mari benahi. Allaahul muwaffiq.
Selengkapnya...

rin_iffah

Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga. 

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaknya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulang kali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu. 

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itupun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama. Maka ditulisnyalah surat itu memohon bertemu. Dan ia mendapat jawaban “Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya. “Maha suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, “Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.” Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. “Andai saja kau lihat aku”, katanya, “Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.” “Betapa inginnya aku”, kata si gadis, “Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.” Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. “Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. Dan penyesalan yang tak berkesudahan. Si gadis ikut tertunduk. “Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, “Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.” “Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. “Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertakwa.”

Kita cukupkan sampai di sini kisahnya. Mari kita dengar komentar Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan tentangnya. “Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. “Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketakwaan kepada Allah.” “Tapi”, kata beliau memberi catatan. “Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampur adukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syariat Allah.”

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu? “Kesalahan itu”, kata Syaikh Abdullah Nashih Ulwan memungkasi, “Telah terjadi sejak awal.” Apa itu? “Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.” Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi ini adalah da’wah dusta!

Maka berhati-hatilah terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.

Sumber : Buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A Fillah
Selengkapnya...

rin_iffah


Betapa seringnya, kita para penempuh jalan dakwah yang mulia ini menjadi resah sendiri. Di banyak tempat, kita sering menyaksikan fenomena ketidaksabaran dalam menjalani dan melewati aral, onak dan duri dalam kisah kemuliaan dakwah ini. Suatu saat, kita mendengar dan menyaksikan para pemuda Islam melakukan penghancuran dan pengrusakan atas nama jihad. Di kali yang lain, kita melihat ketidaksabaran itu mewujud dalam berbagai vonis kesesatan dan pengkafiran yang begitu mudah terucapkan atau tertuliskan. Dan di waktu yang lain, ketergesaan itu diwujudkan dalam bentuk kepercayaan diri yang berlebihan untuk memasuki dunia politik praktis; seolah itu menjadi sebuah jaminan (satu-satunya jalan) untuk mewujudkan Islam dengan seluruh perangkat komprehensifnya.

...Sekadar mengingatkan, jalan dakwah ini adalah jalan yang sangat panjang. Para penempuhnya harus memiliki persediaan kesabaran yang berlimpah untuk melewati jejak-jejaknya. Harus ada azzam yang teguh layaknya para ulul azmi dari kalangan rasul. Kelak di ujung jalan usia kita menempuh jalan dakwah itu, mungkin kita berpulang pada Allah dengan 100 pengikut, 50, 20, 5, 1, atau tanpa pengikut sama sekali. Tidak masalah. Sebab di jalan ini, yang terpenting adalah sudahkah kita menyampaikannya. Ada yang ikut atau tidak semua itu di Tangan Allah Ta'ala.

Sebaliknya, seorang penempuh jalan dakwah harus terus menjaga keikhlasan hatinya, terutama dari penyakit ghurur. Jangan tertipu dengan ramainya khalayak pengikut yang terpesona dengan dakwah anda. Jika kelak Allah menakdirkan ada puluhan ribu, bahkan jutaan kaum Muslimin hadir dalam tabligh akbar anda, maka itu adalah saat yang tepat untuk beristighfar dan berlindung dari penyakit ghurur. Yah, karena itu akan mengekang hasrat ketergesaan anda untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya belum saatnya untuk dilakukan.

... Maka lagi-lagi, kita harus berhenti sejenak untuk merenungkan skala prioritas dakwah kita. Teringatlah kita pada ungkapan hikmah yang mengatakan: "Tegakkan Negara Islam dalam dirimu, niscaya ia akan tertegak di tanah airmu." Maka seluruh upaya dakwah saat ini berpusar pada penegakan 'negara Islam' dalam pribadi-pribadi muslimin. Melahirkan pribadi yang memiliki tauhid yang murni, tanpa noda syirik dan bid'ah, sesuai jejak as-Salaf as-Shalih. Melahirkan jiwa-jiwa yang merindukan perjumpaan dengan Allah. Dan perjalanan untuk itu, sungguh masih terlalu panjang untuk sebuah negeri berpenduduk lebih dari 200 jiwa ini...

Maka sekali lagi, jangan pernah tergesa-gesa....

sumber: Majalah al bashirah

Selengkapnya...

rin_iffah

Ada kala kita terlupa
Di saat sakit mendera raga, kecewa menyelimuti hati
Mendung yang terus menggelayut hari
Tak ada lisan yang memuji asmaNya
Yang ada hanyalah keluhan, rutukan,
Ocehan menantang takdir
“Allah melupakanku!!!” Allah tak adil padaku......
Duuh,,,, inilah kita
Bersyukur hanya di saat suka,
Dan kufur tatkala duka menghampiri.......
Ataupun sebaliknya....

Ah, mungkin aku dan kau tak jua tersadar,
Secuil ujian yang menyapa hari
Segores luka yang menyayat hati
Bahkan jika seluruh hidup kita dihujani kesedihan,
Diselimuti kenestapaan, dan terbalut kemelaratan
Demi Allah....
Tak sebanding dengan timbangan nikmat yang Allah titipkan ke atas diri kita
Tak sebanding dengan lautan kasih sayangNya yang tak bertepi....
Tak seujung kuku pun............

Andaikan Allah berkehendak
Mencabut satu di antara berjuta nikmatNya
Apalah daya kita.....
Akankah kita bisa menatap indahnya warna warni pelangi,
Mengagumi hamparan langit biru dengan arakan awan putih
Tanpa nikmat pandangan

Olehnya, Bahagia pun derita
Hanya bisa dinikmati oleh hambaNya yang mu’min
Bagi seorang mu’min
Sakitnya adalah obat....
Sehatnya adalah penguat
Ia yakin akan janji Allah
Dalam sabar menantang ujian
Ada dua kemudahan dibalik sebuah kesulitan
Begitulah Allah berpesan kepada mu’min

Berlipat syukurnya di saat bahagia,
Lisannya tak tanggung berucap :
“Alhamdulillaahilladzi bi ni’mati tathimu shaalihat...”

Ujian nestapa disikapi dengan penuh rasa syukur
dan kalimat itu tetap mengalun lembut.....
“Alhamdulillah, ala kulli hal...”

Karena mu’min jualah yang mampu merubah
mendung hati menjadi pelangi hari



Selengkapnya...

rin_iffah


Ternate, 04 Desember 2011 M
Pukul 11.00 a.m
Terik memanggang kota Ternate. Panas yang kian menyengat ini tak kunjung beranjak. Pemandangan yang kontras tampak di bagian barat. Kabut tebal menutupi hampir seluruh permukaan gunung Gamalama. Pagi menjelang siang itu, saya, sebagaimana penduduk yang lain melakukan aktivitas seperti biasa. Setiap ahad, jika tak ada jadwal jaga UGD, maka saya akan menghabiskan sisa hari di mushalla rumah sakit. Menghadiri ta’lim kemudian dilanjutkan dengan tarbiyah dan musyawarah.

Pukul 08.00 p.m
Ba’da shalat isya, penat mulai menjalar setelah seharian tenaga terkuras. Ingin rasanya bersegera merebahkan tubuh di atas kasur yang siap mengantar ke alam mimpi. Tapi rasa itu harus ditepis sejenak mengingat tumpukan tugas yang harus diselesaikan malam itu juga. Status resume pasien, tugas hafalan tarbiyah, proposal kegiatan daurah akhir tahun semuanya harus dituntaskan sebelum beranjak tidur. Sementara di luar kamar, hujan yang dinantikan sejak siang tadi pun turun. Rintiknya menyebar aroma khas kehidupan. Semoga hujan ini menjadi rahmat bagi semesta........ terselip doa di tengah gerimis yang mulai menderas.

Pukul 11.00 p.m
Mata ini sudah tak bisa dipaksa lagi bertahan.... saya pun tertidur hingga terlupa akan janji kepada seorang teman nun jauh di sana untuk menunggu telpon darinya... hujan kian lebat, dingin pun ikut merayap mendukung suasana untuk semakin lelap. Kami tak sadar bahwa hujan di malam itu turut menyertai petaka yang datang tiba-tiba tanpa tanda atau peringatan sebelumnya....
Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang di malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang merugi” (al a’raf 97-99)

Senin 5 Desember 2011 M
Pukul 03.00 a.m
Saya terjaga, masih ada tugas tersisa untuk membangunkan seisi rumah buat sahur. Di luar, hujan masih turun meski tak sederas semalam. Ada yang aneh subuh itu... bau belerang terhidu sangat menyengat.... saya mencoba membuka pintu dan beranjak ke teras belakang. Ah, ini dia sumbernya... seluruh lantai teras tertutup debu setebal lima senti. Saya belum menyadari jika semalam telah terjadi peristiwa yang membangunkan seisi kota Ternate. Saya bersegera ke teras depan, beberapa motor yang terparkir di depan rumah telah tertutup debu hingga tak berbentuk. Saya beranjak ke kamar, menghidupkan gadget mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Dari situs nya metro tv terpajang berita: “Gunung gamalama ternate meletus...” di kabar yang lain: “2000 penduduk ternate mengungsi”. Subhanallaah, saya bahkan tidak menyadari jika semalam tiap jiwa dicekam ketakutan, semalam jalanan tersesak penduduk yang mencari pertolongan. Suara berisik dari dalam rumah semalam pun tak mengganggu tidur saya.

Pukul 03.30
Di sujud panjang malam itu, saya meminta sebentuk kekuatan untuk semua penduduk Ternate. Betapapun musibah adalah bentuk kasih sayang Allah. Kadang ianya terasa ketika berwujud tamparan yang mendarat tepat di pipi kita. Tak setiap kebaikan harus semanis madu, kadang ia harus berwujud empedu, terkadang pahit tapi menyembuhkan. Tiba-tiba, bayangan akhwat memenuhi ruang pikir saya. Bergegas saya mengambil hp dan mencoba menghubungi mereka terutama yang tinggal di bagian utara. Tapi tak ada jawaban. “Rabb, lindungi mereka.........”

Pukul 09.00 a.m
Di luar hujan debu mulai mengganas, namun tak lama berselang, rintik hujan mendinginkan panasnya hawa. Bau belerang semakin menyengat, jalanan sepi dan kian mencekam. Tak ada seorang pun yang berani keluar rumah. Semua memilih menutup rapat pintu dan jendela menghindari kemungkinan terburuk dari erupsi gunung gamalama ini.

Pukul 10.00 a.m
Beberapa pesan masuk di inbox, sebagian dari teman-teman di sekitaran yang sempat tak membalas pesan semalam dan beberapa lainnya dari mereka yang berada di luar Ternate, menanyakan kabar saudara-saudaranya yang mengalami musibah di sini, tak lupa memberikan kekuatan dengan doa. Mereka, meskipun jauh tetap terasa begitu dekat. Ah, indahnya ukhuwah fillaah.

Pukul 14.00
Siang ini bertepatan dengan giliran saya untuk stand by di UGD. Baru saja tiba di UGD saya disambut oleh seorang pasien yang mengalami trauma listrik akibat lampu yang bergilir dipadamkan sejak dini hari sampai siang tadi. Syukurlah tak ada luka bakar meskipun kondisinya agak lemah. Selang tak berapa lama seorang pasien, laki-laki muda berusia dua puluhan tahun masuk UGD dengan mengamuk dan bicara meracau. Kejadian baru dialaminya semalam setelah mendengar kabar letusan gunung merapi. Trauma itu begitu mengguncang jiwanya sehingga psikisnya pun menjadi tak stabil. Disusul seorang gadis kecil ditemani ibunya, muntah-muntah hebat dari semalam setelah dibangunkan dengan paksa oleh kedua orang tuanya berlari menuju daerah kota untuk menyelamatkan diri dari ancaman keganasan gamalama. Mereka tinggal di perkampungan dekat kaki gunung gamalama, daerah yang paling mengalami dampak dari letusan semalam. Raut ketakutan tergambar jelas di wajahnya, dengan setengah berbisik dan hati-hati saya bertanya “dek, kenapa??” “saya takuut dok!!” gemetar sekujur tubuhnya menjawab. Melihat gadis ini tiba-tiba terlintas berbagai musibah yang terjadi di negeri ini beberapa tahun terakhir, apa yang dialami kami tak sebanding dengan trauma kehilangan yang dialami para bocah korban tsunami di Aceh ataupun Gempa bumi di Jogja. Bagaimanapun, bencana selalu menyisakan luka.....
“Rabb, kuatkan kami dan mereka...”


Pukul 04.00 p.m
Sebuah mobil sedan berplat merah berhenti tepat di depan UGD. Beberapa laki-laki berbadan tegap berpakaian safari rapi bergegas turun disusul seorang bapak tua berusia sekitar 50 an tahun menggenggam sebuah kantong plastik besar berwarna merah berisi setumpuk baju. Di sampingnya seorang laki-laki lain berpenampilan sederhana dengan celana jingkraknya yang basah hingga setinggi betis dan menggunakan sendal jepit, berusaha menenangkan bapak tua tadi. Beliau adalah wakil gubernur kami, bersama bapak yang menjadi korban letusan gunung gamalama. Mereka datang mencari seorang gadis kecil yang adalah anak dari bapak tua tadi. Mereka terpisah sejak semalam. Syukurlah anak perempuan itu tak lain adalah gadis yang sebelumnya masuk dengan muntah-muntah dan trauma akut pasca bencana.

Malamnya, ibu negara kami (isteri dari pak walikota) datang berkunjung ke UGD mencari tahu apakah masih ada korban yang kami rawat. Ada yang menarik dari kejadian tadi. Kami jarang bertemu dengan pemimpin kami jika tak ada momen-momen khusus, salah satunya hari ini. Meskipun demikian, tetap ada rasa kagum atas kesediaan mereka menghampiri kami. Saya Jadi teringat dengan kepemimpinan sahabat mulia Umar bin Khattab yang setiap malam meronda memeriksa kondisi rakyatnya. Yang memikul sendiri gandum untuk seorang ibu yang kesulitan mendiamkan tangis lapar anaknya. Atau seperti Ummu Kultsum binti Ali yang di tengah malam bekerja keras menolong kelahiran salah seorang warganya, sementara suami tercinta Umar Radiyallaahu anhu memasak roti dan menghangatkan susu sambil menghibur gelisah seorang calon ayah. Betapapun, mereka bukanlah sahabat nabi tapi kami tetap merindu sosok teladan itu.

Pukul 09.00 p.m
Saatnya pulang... Jalanan masih sepi, hujan tak lagi mengguyur tapi debu masih menghalangi jarak pandang. Berkendaraan seorang diri di situasi seperti ini tak mengurangi rasa khawatir. Setiba di rumah saya baru menyadari bahwa kondisi tubuh saya seperti pekerja galian pasir yang bermandikan debu galiannya sendiri.

09.45 p.m
Beberapa sms memenuhi inbox, pesan dengan isi yang sama cukup mengganggu hati, isinya tentang ramalan angka keramat 26 yang dikait-kaitkan dengan beberapa peristiwa bencana di waktu lampau yang terjadi di angka 26, yang ujung-ujungnya dihubungkan dengan QS ke 26 dan diminta dikirimkan ke 10 orang agar selamat. Duuh, Di saat ujian datang bukannya kita semakin mendekatkan diri kepadaNya dengan menguatkan keimanan, meneguhkan keyakinan kita akan kehendak Allah, tapi justru dikeruhkan dengan pesan yang justru mengandung kesyirikan. Beginikah cara kita saling mengingatkan di tengah musibah yang menimpa?
“setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam lauhul mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah” (QS Al Hadiid:22)
“Rabb, ampuni kebodohan kami....”


Selasa, 6 Desember 2011 M
Pukul 11.00 a.m
Di luar UGD debu berterbangan di tiup angin disertai hawa panas menyengat. Sementara di dalam ruang dokter terdengar diskusi hangat tentang kemungkinan terburuk jika cuaca panas bertahan beberapa hari ke depan. Infeksi saluran pernapasan akut kemungkinan akan menjadi langganan rumah sakit belum lagi persediaan masker yang menipis. Tapi yang menarik dari perbincangan siang itu adalah ketika ada yang mengatakan bahwa cuaca panas seperti ini bisa disiasati agar turun hujan dengan meminta bantuan ‘pawang hujan’. Ah, lagi-lagi musibah ini belum mampu menarik kita untuk kembali sepenuhnya kepadaNya. Padahal orang-orang musyrik terdahulu meskipun tetap dalam kemusyrikan mereka, ketika musibah menghampiri mereka kembali kepada fitrahnya, mentauhidkan Allah.
“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepadaNya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut:65)

Pukul 09.00 p.m
Sebuah pesan singkat lagi-lagi menghias layar Hp. Semenjak kejadian ini banyak pesan yang tak putus-putusnya. “Rin, dapet ga broadcast kalo akan terjadi ledakan gunung jam 22.00 nanti..?” tak tanggung-tanggung isi broadcastnya memakai kata yang terkesan sangat menakutkan ‘meledak’!!!. Sayangnya sumber broadcast tersebut tidak jelas dari mana sehingga hanya menimbulkan prasangka, menambah kekhawatiran berkepanjangan meskipun intinya mengajak kita untuk lebih waspada.

Rabu, 7 desember 2011 M
Pukul 06.30 a.m
Saat saya membuat tulisan ini, Ternate mulai pulih. Tak ada letusan, tidak pula kabut tebal yang menutup pandangan ke arah gunung Gamalama sebagaimana Senin dini hari kemarin. Pagi ini, dari balik jendela kamar, saya menatap keindahan gunung yang berdiri kokoh 1700 meter di atas permukaan laut itu dengan takjub. Meskipun diselimuti kabut tipis di puncaknya, namun tetap indah seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Gamalama, dengan sejuta pesonanya, juga adalah makhluk Allah. Dan hari ini, gamalama mengajarkan kepada kami lewat 'kejutan' kecilnya, bahwa ia pun tunduk di atas perintah Sang Maha Pencipta.
“Tidaklah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorangpun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.” (Al hajj:18)

“Robb... izinkan kami mengambil ibrah atas tiap kehendakMu....”


*Teruntuk saudari-saudariku yang tak henti mendoakan kami di sini, Jazaakunallaahu khairan
Selengkapnya...

rin_iffah


Sesaat ingin rasanya berbagi kisah
dalam safar di tiga hari berkesan.........

Tentang gugusan pulau berbaris rapi,
Tersusun atas bongkahan karang terjal
Sebagian lainnya berwujud kumpulan bakau
Terapung di atas kedalaman laut membiru

Tentang hamparan pasir putih
Membentang di sepanjang mata memandang
Bak kilau permata berhamburan


Tentang riuh gelombang di luas samudera
Berlarian, susul menyusul ke tepian
Menyentuh daratan kemudian kembali menyatu
Setelah pecah menghempas karang

Tentang barisan nyiur
Menjulang tinggi, kokoh menopang angkasa
Meliuk Melambai di sepanjang bibir pantai

Tentang kegaduhan gerombolan camar
Kembali ke sarang dengan perut tersesak makanan
Di senja yang merajai cakrawala barat

Tentang cara tersenyum tulus, tertawa penuh canda
Seperti para bocah berambut pirang alami terpanggang mentari
Yang berlari di terik membakar,
Bertelanjang kaki,
Bebas, lepas tanpa beban

Tentang arti sebuah kesetiaan hidup
Yang ditunjukkan oleh separuh populasi negeri
Mereka para janda jompo
Berusia seratusan tahun
Yang tetap menoreh karya di usia senja

Tentang cara mengakhiri hari
Melukis mimpi
Di gelapnya malam dan dinginnya hawa
Ditemani kilauan bintang gemintang dan potongan rembulan
Dari atas sampan di tengah lautan luas
Teduh..... menenangkan

Segala isyarat alam, bahasa tubuh, ketersambungan hati ini
Hanya mampu terangkai dalam satu kalimat penegas tanya
Kalimat yang terukir di lembar kalamNya yang mulia............

“Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang kau dustakan”


Negeri seribu pulau, di penghujung syawwal 1432 H
Selengkapnya...

rin_iffah


Bismillaah...
Jangan terburu menyimpul prasangka
Di kala pintamu dalam tiap sujud panjang,
Harapmu dalam isak memilu,
Tak jua termakbulkan di sisiNya
Boleh jadi, Allah masih ingin membanggakanmu
Di hadapan penduduk langit
Akan penghambaanmu yang teramat tulus.
Ataukah Allah masih ingin bermesra denganmu, di sepi malam
Di saat sebagian yang lain terlelap di tidur panjang.

Tetaplah begitu,
Merasakan bersepi, berdua, bermesra, bersamaNya
Karena Ia dekat
Lebih dari tarikan dan hembusan nafasmu
Lebih dari urat lehermu, yang detaknya mengalirkan hidup
Ia mengabulkan tiap pinta
Dengan caraNya yang teramat indah

Karena tak setiap doa harus berwujud sesuai ingin mu
Allah menjawabnya..... sekali lagi,
Selalu dengan caraNya.... yang teramat indah
Dengan sehatmu, dengan jauhnya bala,
Dengan iman dan hidayah yang kian teguh
Atau bahkan disimpannya untuk kau nikmati kelak
Di persinggahan terakhirmu

Maka tetaplah merajuk, merayu dalam doa-doa mu
Hanya padaNya..... Tanpa lelah
Hingga kau bisa rasakan
Betapa Ia tak pernah sedetikpun meninggalkanmu



Bumi Al-Mulk, Syawwal 1432 H
~ Di titik terlemah dalam asa yang kian menanjak~
Selengkapnya...

rin_iffah

Jum’at, pukul 16.30 WIT, hampir semua stasiun TV mengabarkan bencana tsunami yang menyapu negeri matahari terbit, Jepang. Breaking news dengan durasi yang lumayan panjang sejenak mengalihkan perhatianku. Negara yang konon memiliki sistem penanggulangan gempa tercanggih ini dalam hitungan menit diluluh lantakan oleh hempasan gelombang setinggi 4 meter.

Tiga puluh menit kemudian ada kabar lain yang tak kalah mengejutkan. Alarm sign yang dikeluarkan oleh BMKG terhadap 3 wilayah di Indonesia yang akan mendapatkan kiriman tsunami dari Jepang, salah satunya MALUKU UTARA yang saat itu aku berada tepat di atas tanahnya. Tidak tanggung-tanggung pengumuman itu disertai prediksi waktu gelombang tsunami yang akan menghampiri. Pukul 18.00 WIB yang berarti pukul 20.00 WIT.

Dan jelang pukul 20.00 WIT. Setiap ruas jalan yang aku lalui dipenuhi oleh kendaraan yang berusaha saling mendahului mencari dataran tinggi hanya untuk menyelamatkan jiwa. Bayangan hari kiamat seketika memenuhi alam pikiranku. Subhanallaah, sedikit ancaman telah menjadikan manusia kehilangan kendali. Bagaimana dengan ancaman yang jauh lebih dahsyat dari itu???

Pada saat tulisan ini dibuat, di daerahku diguyur hujan deras disertai angin kencang beberapa hari terakhir. Pepohonan tumbang dan menutupi beberapa ruas jalan. Di belahan bumi yang lain, ancaman angin puting beliung, banjir bandang, letusan gunung berapi, serta gempa silih berganti. Bencana tak pernah kunjung berlalu dari tiap episode kehidupan manusia. Lantas apakah kita harus lari ketika bencana mendekat dan semakin mengakrabi tiap derap langkah hidup kita???

Bagi orang beriman, dimanapun berada, mereka tidak akan pernah merasa aman dari siksa Allah, bahkan di tempat ter-aman sekalipun. Ketika siang menyapa atau gelap malam mulai menghampiri, di saat terlelap ataupun terjaga, ketika dekat atau pun jauh dari musibah. Mereka senantiasa teringat firman Allah dalam Surat Al-a’raf ayat 97-99 :
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”

Kita belajar dari gempa Aceh dan Jogja beberapa tahun lalu, Letusan gunung merapi di Jawa Tengah, dan yang terakhir gempa dan tsunami yang melumpuhkan negara Jepang. Ia datang ketika pagi mulai menghangatkan bumi, di saat sebagian orang sementara menyiapkan hari, atau ketika yang lain sibuk mengais rezki, tak tanggung bencana pun menghampiri ketika gelap mulai menyelimuti malam dan manusia terlelap dalam mimpi. Dan semuanya terjadi secara tiba-tiba tanpa ada yang menduga.

Maka bagi orang beriman, setiap musibah yang menimpa menjadikan mereka senantiasa awas dan tak pernah merasa aman. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh baginda nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah riwayat, dari aisyah radhiyallaahu anha, adalah nabi ketika melihat cuaca berubah disertai angin kencang maka jiwanya tak pernah tenang. Beliau senantiasa keluar masuk kamarnya . semua itu dilakukan karena takut akan siksa Allah. Yah, seorang nabi sekalipun senantiasa terjaga dari rasa aman akan siksaNya. Nabi yang terpelihara dari melakukan perbuatan dosa (ma’shum) pun merasa takut, apatah lagi kita yang berlumur lumpur dosa, jauh lebih pantas untuk takut dan tidak merasa aman dari siksaNya.

Ketika rasa takut itu semakin membelenggu hati seorang mukmin, mereka akan berlari dengan sekuat daya. Mereka berlari mendekat kepada RobbNya. Mendekat dengan ta’at yang semakin berlipat. Sebagaimana perkataan Abul Qosim : “barang siapa takut kepada sesuatu, maka ia akan lari darinya. Dan siapa yang takut kepada Allah, maka ia akan lari kepadaNya”
Inilah kelemahan yang menjadi kekuatan seorang mu’min. Musibah bertubi-tubi semakin menambah kualitas takwa mereka di sisi Allah. Mereka yakin dengan firman Allah : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman, dan bertakwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (al-a’raf : 96)

Mereka yakin, keta’atan akan merubah bencana menjadi rahmat. Hujan yang mengguyur bumi tak akan menenggelamkan dan membanjiri, justru akan menyuburkan tetanam dan menjadi minuman menyegarkan bagi ternak. Di saat ta’at, angin tak akan meruntuhkan tetapi menyejukkan dengan hembusannya. Ta’at pula yang menjadikan bumi tak merengek dengan gempa, lautan tak menangis dengan tsunami, dan gunung pun tak akan meraung murka dengan letusan dan muntahan laharnya. Semuanya tunduk di atas perintah Sang Pencipta yang kita pun tunduk dalam ta’at kepadaNya. Wallaahu a’lam bishowaab......
Selengkapnya...

rin_iffah


Waktu adalah pedang yang terus terayun. Ia tidak menunggu sampai orang-orang yang terlena dan berpaling kembali tersadar. Bahkan lebih dari itu, setiap hembusan nafas yang keluar dari paru-paru manusia dalam hidupnya adalah permata yang sangat mahal harganya. Satu hari saja kita menutup diri dari pancaran matahari, maka kita tidak akan pernah lagi dapat menikmati pancaran itu ke kehidupan dunia untuk kedua kalinya esok.
Ketahuilah, setiap detak nafas yang terhembus tertulis dalam catatan amal, setiap untaian kata-kata yang keluar dari lisan terekam, seluruh niat diketahui, serta seluruh gerak-gerik terhitung.
Kita tahu bahwa kematian itu benar, tetapi kita masih sempat bersenang-senang. Kita sudah tahu bahwa neraka itu pasti adanya, tetapi kita masih sempat melepas tawa. Kita juga tahu bahwa ketentuan Allah itu benar tetapi kita masih pula menolaknya….

Sudah saatnya, kita untuk berhenti sejenak. Melihat kembali apa yang telah kita kerjakan hari ini, sebagai motivasi berbenah diri. Jangan sampai penyesalan itu datang ketika timbangan sudah ditegakkan dan amalan-amalan dibentangkan.
Tentukan langkah kita di dunia ini dengan selalu mengikuti perintah Allah dan menjauhi laranganNYa. Di dunia inilah tempat kita menyemai benih pahala, bekal kita di hari esok, AKHIRAT…!
Selengkapnya...

rin_iffah

13 tahun memasuki usia baligh……..
Memori yang terserak baru mampu kukumpulkan
Catatan kelam masa lalu penuh dosa baru mampu ku singkap
Entah sebagai bentuk penyesalan yang tak bertepi
Ataukah hanya sebagai nostalgia tanpa arti
Entahlah……..
Yang pasti saat ini aku baru tersentak
Dosa yang selama ini aku lakukan
Kuanggap sebagai perbuatan yang dapat dimaafkan
Suatu hari nanti….

Dan, 13 tahun memasuki usia baligh
Tiba-tiba Aku jadi teringat sama ibu
Sudah berapa banyak kata-kataku yang menyayat,
oh bukan…. merobek-robek hatinya
Sudah berapa sering air matanya menetes hanya untuk menahan pedih dari tingkah durhakaku…..
kata-kata dusta penghias hari
Janji-janji yang teringkari
Amanah yang terabaikan
Beribu hati yang tersakiti

Kini… 13 tahun memasuki usia baligh
Di tengah lara aku berharap
Masih ada kesempatan itu…
Kesempatan yang meskipun hanya sekali tersedia bagiku
Di kesempatan yang ingin ku tuntut lisan dan hati ini
Tuk ungkapkan betapa diri ini
Begitu menyesal
Karena telah pernah tidak mentaati perintahMu

Selengkapnya...