Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
rin_iffah

"Dan apabila bayi-bayi yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah ia dibunuh" (Qs. at-Takwiir [81]: 8-9) 

Tiba-tiba saya merasa familiar dengan wajah pasien yang satu ini. Mungkinkah karena pasien post SC yang pernah dirawat di bangsal? Ataukah saya pernah bertemu dengannya sebelumnya? senyumnya... tatapannya... siapa dia?

Saya baru tersentak begitu pasien ini berjalan meninggalkan poliklinik obgin. Subhanallah.... ibu ini pernah datang konsultasi ke saya sekitar sepuluh bulan yang lalu mengeluh mual muntah dan pusing. Saat saya menganjurkannya untuk diperiksa urin untuk mengetahui apakah keluhannya tersebut dikarenakan sedang hamil atau karena penyebab lain "Saya tidak mungkin hamil dok, saya kan lagi ikut KB spiral" ujarnya kala itu. Ketika selesai pemeriksaan dan saya sampaikan bahwa hasilnya positif ia pun menangis. Bukan karena perasaan haru akan memiliki anak lagi tapi karena ketakutannya yang lain. Kejadian hamil pada akseptor KB memang sangat mungkin, karena sampai saat ini belum ada satupun jenis KB yang tingkat pencegah kehamilannya mencapai 100%. "Saya malu dok dengan usia yang sudah kepala empat, mana anak saya yang terakhir sudah berusia 13 tahun. Apa kata orang-orang nanti?" tuturnya pelan "Dok, tolong saya dibikin mens lagi. Dikeluarkan saja dok" Pintanya dengan wajah memelas. Saya hanya bisa menarik napas panjang kemudian berujar "Saya minta maaf bu, tapi saya tidak bisa penuhi permintaan ibu. Saya sudah disumpah saat menyandang gelar sebagai dokter bahwa saya akan menjaga hidup seseorang mulai dari masa pembuahan. Selain itu bukankah anak adalah amanah yang Allah titipkan bagi siapa saja yang menurutNya sanggup untuk memikul amanah tersebut? " "Aduh dok kalau amanah yang lain saya mungkin masih bisa pikul, tapi amanah yang ini saya tidak sanggup dok, saya sudah capek hamil, belum lagi harus mengurus anak bayi. saya mohon bantu saya dok kali ini saja. Saya tidak siap hamil lagi" tangisnya mulai pecah. Duh, saya kasihan melihat ibu ini. Saya memang belum pernah merasakan sulitnya mengandung, sakitnya melahirkan ataupun repotnya mengurus anak, tapi saya juga tidak ingin melakukan tindakan yang mencederai profesi saya terlebih tanggung jawab saya di hadapan Allah. Satu hal yang terpikirkan saat itu, saya harus mampu meyakinkan ibu ini agar mau mempertahankan kehamilannya. "Bu, di luar sana banyak ibu-ibu lain yang sangat menginginkan untuk bisa hamil, berbagai cara mereka lakukan, tak sedikit uang mereka keluarkan tapi toh Allah tidak juga mengaruniakan mereka anak. Sedangkan ibu, dititipkan janin di rahim ibu dengan begitu mudahnya tapi ibu malah ingin mengeluarkannya. Sekiranya boleh, mungkin ibu-ibu yang kurang beruntung itu akan meminta agar janin yg ada di rahim ibu saat ini dipindahkan saja ke kandungan mereka. Apa ibu tidak takut sama Allah? Apa ibu tidak takut jika kelak di akhirat janin ini mempertanyakan atas alasan apa dia harus dibunuh?" Saya mencoba menjelaskan keinginan saya tanpa bermaksud memaksa. Semuanya kembali ke ibu ini karena dialah yang akan menjalani. "Tapi dok, saya dan suami tidak punya pekerjaan tetap. Dari mana kami akan memberikan makanan dan kebutuhan lainnya bagi anak ini nantinya" kilahnya lagi. "Setiap anak dilahirkan dengan rezekinya masing-masing. Asalkan ibu yakin akan hal itu. Siapa tahu anak ini nantinya yang akan menjadi jalan dimudahkannya rezeki bagi kedua orang tuanya. Boleh jadi anak ini kelak akan menjadi kebanggaan bagi kedua orang tuanya" saya tersenyum meyakinkan "Jadi dokter tidak mau bantu saya?" Tanyanya masih dengan wajah memelas. "Saya bisa bantu bu, saya akan bantu ibu untuk menjaga dan memastikan kalau janin yang ada di dalam kandungan ibu ini baik-baik saja. Saya akan resepkan vitamin untuk ibu. Saya harap kelak kita akan bertemu saat saya memeriksa ibu di ruang kebidanan setelah melahirkan. Satu hal lagi, jangan pernah lakukan tindakan-tindakan yang bisa mengancam nyawa ibu juga janin. Jika itu terjadi dan ibu sampe harus dirawat di rumah sakit, mudah-mudahan tidak ketemu saya karena pasti saya akan laporkan ibu ke polisi" saya menutup konsultasi sore itu dengan sedikit ancaman yang kemudian saya sesalkan kenapa saya harus mengeluarkan kata-kata seperti itu.

Dan hari ini, sepuluh bulan kemudian ibu itu benar-benar hadir di depan saya setelah operasi melahirkan anaknya yang sempat ingin digugurkannya. Saya berlari keluar dari ruangan periksa berusaha mengejar pasien saya ini berharap saya masih menjumpainya. Ingin rasanya saya memeluknya dan menyampaikan selamat atas keberanian serta kekuatan hatinya untuk tetap mempertahankan kehamilannya. Wajah itu... tatapan itu pernah mampir diingatan saya dengan sekelumit kesedihan dan kecemasan. Tapi tidak dengan apa yang saya lihat tadi.... wajah yang lebih bersinar, wajah kebahagiaan juga keikhlasan yang terpancar dari senyuman saat ia meminta saya untuk didoakan agar  selalu diberikan kesehatan. "Lukanya sudah kering dok, sudah 20 hari yang lalu. Tapi nyerinya masih tertinggal. Doakan supaya semuanya baik-baik saja yah dok" Ah, kenapa saya semudah itu melupakan wajah seseorang padahal bisa jadi ibu ini berharap saya bersikap lebih dari sekedar memberikan terapi dan nasihat seputar keadaan luka pasca operasinya. Maafkan saya bu, tapi saya tetap berharap bisa dipertemukan dengannya suatu hari nanti dalam kondisi yang lebih baik, Di acara pernikahan saya misalnya.... Upss, lupakan yang terakhir ini.....
Selengkapnya...

rin_iffah

“Dok pasien Tn S. yang di bed 4 tiba-tiba drop” lapor seorang perawat terburu-buru. Segera saya hentikan menulis beberapa status pasien baru dan menghampiri pasien dimaksud. Sudah banyak orang yang berkerumun. Hanya sebagian kecil anggota keluarga pasien sisanya pembesuk pasien lain yang masih tertahan di UGD. Saya coba memanggil nama pasien sambil memberikan sedikit rangsang nyeri, namun tak ada reaksi. Nadinya teraba lemah dan dalam, Tekanan darah sulit dievaluasi kecuali dengan perabaan. Sementara Infus belum berhasil terpasang. Saya langsung menginstruksikan kepada salah seorang perawat senior untuk mencoba mencari jalur intravena agar akses cairan bisa segera masuk. Dengan cekatan perawat tersebut menusukkan jarum infus ke lengan bawah pasien dan sruuut, kurang dari 30 detik infus berhasil terpasang. “Guyur dulu cairannya, sementara pasang monitor EKG, siapkan alat bagging dan adrenalin” “baik dok” ujar beberapa perawat yang membantu saya melakukan penangan pada pasien ini. Sementara di bed 3 seorang pasien yang lain berteriak-teriak kesakitan. “Dok, pasien di bed 3 sesak” teriak perawat yang sementara mengobservasi pasien yang lain. “Pasang dulu oksigen 3 liter” instruksi saya tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian dari pasien bed 4 “Maaf dok ada pasien baru dengan luka tusuk di bahu, pasien inpartu dan pasien anak dok” beruntun yang lainnya melapor. Saya melirik sejenak ke jam dinding. Jam 20.45. lima menit lagi harusnya saya sudah bersiap untuk pulang. Tapi dokter jaga untuk shift malam belum tiba. Kenapa rame-nya pas di saat jelang pergantian jaga. Saya tersadar dari lamunan dan buru-buru berujar “Kalo pasiennya stabil pasang infus dulu. Bentar saya liat.” 

Di bed 4 kesibukan masih berlangsung. Lima menit berlalu, namun belum ada respon dari pasien yang tiba-tiba kehilangan kesadaran. Layar monitor EKG menunjukkan garis lurus asistole, pasien mengalami henti jantung. “Siap RJP!” saya berbisik pelan kepada perawat yang berada tepat di samping. Dengan sigap seorang perawat wanita mengambil tempat di sisi kiri pasien dan langsung melakukan pijat jantung luar. Sementara yang lainnya memberikan napas buatan lewat bagging. Bergantian kami melakukan pijat jantung. Sepuluh menit, limabelas menit belum ada respon. Dan tiba-tiba layar monitor berubah menjadi Ventrikel Fibrilasi. “Siapkan DC Shock!” Di sekeliling semakin banyak orang yang menyaksikan apa yang sedang berlangsung, antara debar penasaran dan cemas akan keselamatan pasien ini. “Maaf pak, ibu tolong di luar dulu, biarkan kami bekerja dengan leluasa menangani pasien ini” ujar seorang perawat membuyarkan kerumunan orang-orang yang ada. Hampir saja saya lupa untuk menjelaskan ke keluarga pasien tentang apa yang terjadi. Sementara perawat melanjutkan tindakan saya mencoba untuk menjelaskan secara singkat dan jelas tentang kondisi pasien serta tindakan yang sedang kami lakukan. Keluarga pun telah pasrah dan menyerahkan semuanya sama Allah dan juga ikhtiar kami. Saya kembali untuk melakukan DC shock. Namun tak ada perkembangan yang berarti. Layar monitor kembali menunjukkan garis lurus asistole. Tanpa patah semangat pijat jantung tetap dilakukan. Melihat petugas yang sudah kehabisan tenaga, saya pun bertanya. “Sudah berapa lama sejak RJP dilakukan?” “kira-kira 45 menit dok” “Stop dulu dan evaluasi Nadi carotis." Perintah saya untuk mengehentikan tindakan “Negatif dok” saya pun memastikan dengan meraba arteri carotis pasien serta memeriksa pupil. Midriasis total, refleks cahaya negatif. Bagian tersulit dari hidup saya salah satunya adalah saat ini. Saat dimana saya harus menyampaikan kabar buruk seperti ini pada keluarga pasien. “Innalillaahi wa innailaihi raajiuun, waktu kematian pukul 21.35 WIT” Lirih saya pelan tak berharap yang lain mendengar apa yang saya ucapkan. Semua tertunduk lemas, saya melempar pandangan sejenak kepada keluarga pasien yang berdiri tak jauh dari tempat kami, hanya terdengar desahan. Tampak jelas isak yang tertahan. Pasien kedua yang harus saya saksikan meninggal di depan mata hari ini.

Satu jam sebelumnya. Seorang bapak datang mencari dokter jaga “ Maaf dok, saya mau konsultasi, bapak saya di rumah sudah terpasang kateter selama sepekan karena susah kencing, dan hari ini harusnya sudah dilepas tapi karena hari libur jadi saya ke UGD sekalian bertanya apakah bisa dilepas di UGD karena beliau merasa kesakitan. Biar nanti dikasih obat buat rawat jalan saja. Kontrolnya sekalian besok di poliklinik” Bapak itu mencoba menjelaskan dengan hati-hati “Ya udah, dibawa dulu pasiennya ke sini biar saya liat kondisinya yah” jelas saya singkat “Baik dok, terimakasih” bapak itu kemudian pamit pulang untuk menjemput pasien yang dimaksud. Setengah jam kemudian seorang bapak tua berusia sekitar 60 tahun dengan kateter yang masih terpasang datang ke UGD di antar keluarganya yang sebelumnya sudah konsultasi ke saya. Sepintas pasien ini kelihatan biasa-biasa saja. Tidak ada indikasi untuk rawat inap. Saya mendekat dan mulai bertanya “Maaf pak, gimana kabarnya” “baik dok” ujar bapak paruh baya ini dengan senyum lebar. “Ada keluhan lain selain sakit di tempat yang terpasang kateter?” lanjut saya bertanya “Tidak dok, Cuma tadi sempat menggigil kedinginan” jawabnya masih dengan senyuman. Tapi ada yang aneh yang sempat saya tangkap dari pasien ini (insting seorang dokter). Bicaranya sedikit terbata dengan nafas yang agak cepat. “Bapak ada riwayat Darah tinggi atau sakit gula?” sambil melakukan pemeriksaan fisik saya lanjut bertanya. “Hanya Hipertensi ringan, tapi pernah sebelumnya diperiksa dan kata dokter ada sedikit gangguan di jantung” Nah ini dia, pandangan saya terhenti pada kedua tungkai pasien; bengkak. Keluarga yang melihat mata saya tertuju kea rah tungkai buru-buru menyela. “kakinya bengkak semenjak di pasang kateter dok, mungkin karena pengaruh kateter” “Sepertinya tidak ada hubungan bu antara pasang kateter dengan bengkak di kaki” ujar saya meyakinkan. “Kemungkinan ini karena pengaruh gangguan jantung yang sempat diceritakan bapak tadi. Kondisi bapak juga kurang stabil karena agak sesak. Saran saya sebaiknya jangan dulu buru-buru dibawa pulang. Di opname saja dulu satu dua hari sambil melihat perkembangannya. Ada obat yang akan saya kasih untuk menurunkan tekanan darah sekaligus bengkak di kaki tapi efek sampingnya akan bikin bapak sering kencing. Jadi sebaiknya kateter ini jangan dulu dilepas. Kasihan juga bapak jika harus bolak balik kamar mandi dengan kondisi seperti ini. Kami juga akan melakukan pemeriksaan rekam jantung untuk memastikan kalo jantungnya baik-baik saja, jika bapak merasa sesaknya bertambah kami akan kasih bantuan oksigen” jelas saya panjang lebar. Dari raut wajahnya keluarga ni pasien keliatannya kurang setuju jika harus dirawat inap. Pikirnya mungkin keluhannnya hanya nyeri karena terpasang kateter tapi kok malah harus dirawat inap. Kesannya tidak nyambung. “Kalo bisa dikasih obat buat di rumah saja dok, biar dilepas saja kateternya. Bapak kelihatan baik-baik saja kok” Seorang keluarga pasien mencoba meyakinkan. “Saya tidak masalah pak, tapi saya sangat anjurkan untuk dirawat dulu. Karena keluhan sebenarnya bukan pada kateternya tapi sesaknya. Apalagi tadi bapak sudah mengeluh merasa kedinginan walopun hanya sesaat. Semua terserah pada keluarga.” Beberapa saat mereka terdiam dan saling berbisik pelan “Kami terserah dokter saja, kalo menurut dokter harus dirawat saya setuju.” Ujar seorang ibu yang ternyata anak kandung dari pasien. “Baik bu, kalo gitu saya buatkan resep dulu buat dipasang infus sambil menunggu hasil rekam jantungnya.” Saya pun mengakhiri debat kecil dengan keluarga pasien ini.

Dua jam kemudian, saya dan beberapa perawat yang baru saja mencoba memberikan pertolongan pada pasien di bed 4 terduduk lemas. Kami hanya bisa saling memandang dengan berbagai pertanyaan di benak yang sulit terlisankan. “Kok bisa ya dok, padahal bapaknya tadi kelihatan sehat dan kuat. Datang ke sini juga bukan karena keluhan apa-apa hanya mo lepas kateter” ujar seorang perawat wanita memecah kebisuan sesaat di ruang jaga. “Iya dok, saya khawatir jangan sampe keluarga pasien menyalahkan kita karena ngotot mau merawat pasien itu. Bisa-bisa gagal pasang infus dianggap sebagai penyebab kematian” imbuh yang lain. “Ini yang dinamakan Sudden Death, kematian tiba-tiba akibat serangan jantung pada pasien dengan riwayat keluhan jantung sebelumnya. Andaikan kita sempat merekam jantungnya sebelum berhenti mungkin kita bisa tahu detil penyebab kematiannya. Apa yang sudah kita lakukan tadi tidak ada yang keliru. Semuanya sudah sesuai prosedur penanganan pasien emergensi” Saya mencoba menghibur mereka, yang sebenarnya ditujukan buat diri sendiri. Bagaimanapun kematian tiba-tiba seperti ini selalu menyisakan tanya dan sesal di dada atas ketidakmampuan menyelamtkan nyawa pasien. “Hmmp.. sebenarnya Kateter yang mau dilepas hanya salah satu sebab pasien ini masuk ke UGD biar kita bisa mengambil pelajaran dari kematiannya. Seseorang yang awalnya kelihatan sehat tak ada yang menduga pada detik, menit atau jam berikutnya terbujur kaku tak bernyawa. Persis kayak pasien pertama yang meninggal tadi. Usianya terbilang masih belia, baru 20 tahun. Usia yang bagi kita masih punya banyak waktu untuk hidup. Bisa jadi kemarin dia masih tertawa bahagia bersama keluarga merayakan Idul adha, tapi siapa sangka hari ini dengan sebab kecelakaan motor, Ia harus mendahului orang-orang yang usianya jauh lebih tua darinya. Kematian senantiasa mengintai tiap yang bernyawa, siap atau tidak” Lanjut saya. “Oke, sudah waktunya untuk pulang. Nanti kalo dipersoalkan di pihak berwajib kita ke persidangan rame-rame ya!” Tutup saya setengah bercanda memecah keheningan yang sempat timbul. Belum lagi saya mengangkat kaki beranjak, tiba-tiba seorang perempuan paruh baya menghampiri kami dengan raut wajah yang kurang bersahabat “kenapa tidak ada dokter yang melihat anak saya, dari tadi kami menunggu tapi tidak diberikan penanganan apa-apa” teriak ibu ini sambil menatap tajam ke arah kami. Wah pasien yang mana lagi ini?? Sambil mengingat-ngingat pasien yang telah saya tangani. Bakalan panjang urusannya nih kalo diladenin. Belum lagi saya bersuara, tiba-tiba ada suara lain yang memotong “Maaf bu, pasiennya udah saya periksa dan saya juga udah buatin resep, tapi dari tadi saya mencari-cari keluarga pasien yang bertanggung jawab buat menebus obat tapi tidak ada siapa-siapa, ibu ga bisa donk langsung marah-marah kayak gitu, apalagi ibu bisa lihat sendiri gimana kondisi UGD sekarang. Ada beberapa pasien gawat yang harus kami tangani, jadi tolong pengertiannya.” Syukurlah, saya terselamatkan. Ternyata dokter opie (yang terkenal super cuek dan blak-blakan) yang malam itu bertugas jaga sudah ada dari tadi dan sudah menangani beberapa pasien baru yang masuknya berbarengan dengan pasien gawat yang sementara saya tangani. Ada pelajaran penting juga dari kejadian barusan, bahwa pasien beserta keluarganya selalu ingin dipahami, mereka tak pernah mau tahu, tak pernah peduli seberapa sibuknya seorang dokter atau perawat, seberapa cape’nya, sebanyak apa masalah pribadinya. Maka memberikan pelayanan sebaik dan semaksimal mungkin harus diprioritaskan.

Di perjalanan pulang ke rumah, wajah dua pasien yang meninggal tadi kembali terlintas. Bagaimana mereka melewati detik-detik sekarat di depan mata. Berbagai gejolak rasa menyesak dada. Rabb, Ampuni mereka, Rahmati dan Maafkan khilaf yang pernah mereka perbuat. Sungguh kami pun sedang berjalan menuju ke sana, berjalan menuju detik-detik kami harus mengehentikan semua ambisi dunia. Semoga saat tiba di detik itu, kami pun siap menghadapinya.
Selengkapnya...

rin_iffah

“Tiga perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya.” [Silsilah Shahihah, no. 1802] 

IGD siang itu cukup lengang. Tak banyak pasien yang datang meminta pertolongan atas rasa sakit yang mereka derita. Saya hari itu mendapat ‘jatah’ jaga IGD mulai dari jam dua siang hingga jam sembilan malam. Karena keterbatasan jumlah dokter umum di rumah sakit, tiap shift jaga hanya digawangi oleh satu dokter dan tiga perawat, termasuk seorang bidan untuk menangani kasus persalinan normal yang tidak memungkinkan jika harus dipindahkan ke ruangan kebidanan. Untuk sebuah rumah sakit daerah yang menjadi pusat rujukan dengan jumlah kunjungan rata-rata per-hari 50-60 pasien, tentu jumlah petugas kesehatan tidaklah mencukupi. Meskipun demikian, kami tetap berusaha berbuat semampu daya demi kesembuhan pasien yang kami rawat. Namun ada hal yang perlu dicatat, bahwa seberapapun hebatnya kita dalam menangani pasien, seberapa banyaknya pengalaman kita dalam memberikan pengobatan. Yang menyembuhkan, yang memegang kendali nyawa seseorang hanyalah Allah. Sebagaimana yang saya alami hari itu.

Jelang sore, dua pasien beruntun masuk ke IGD. Setelah dianamnesis oleh perawat, saya kemudian mencoba menggali informasi tentang kedua pasien baru ini. Keduanya datang dalam kondisi tidak sadar. Yang satunya dengan tekanan darah yang sangat tinggi yang saya simpulkan sementara mengalami penurunan kesadaran akibat stroke hemorargik (tidak sadar akibat pecahnya pembuluh darah di otak). Sedang yang lainnya, setelah melakukan pemeriksaan kadar Gula Darah , didapati kadar GDSnya hanya 62 gr/dl jauh di bawah batas normal untuk seorang penderita diabetes. Maka penurunan kesadarannya itu bisa jadi karena intake gula yang minim dan kami sebut sebagai kondisi hipoglikemia. Saya pun mencoba memberikan penanganan sesuai prosedur standar kasus-kasus dimaksud. Pada keluarga pasien saya pastikan bahwa pada kebanyakan kasus pasien diabetes dengan kadar gula yang rendah, pemberian terapi Dekstrose 40% melalui intravena akan segera memperbaiki keadaan pasien dan biasanya kadar gula darahnya bisa segera kembali normal dalam waktu 15 menit sampai 30 menit, dan pasien akan kembali sadar. Mendengar penjelasan saya tersebut, keluarga si pasien akhirnya tenang. Setengah jam kemudian, saya meminta perawat jaga untuk kembali memeriksa kadar gula darah pasien tadi. Dan betapa kagetnya saya ketika mendapati hasil kadar gula darahnya meningkat tajam. Hasil yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya yaitu 483 gr/dl. Jauh dari prediksi yang seharusnya terjadi. Keadaan yang membuat pasien ini justru ‘tertidur’ semakin dalam. Padahal saya sangat yakin dengan terapi yang saya berikan. Tidak mungkin saya sampai bisa melakukan kesalahan pada kasus seperti ini. Saya kemudian  mencari penyebab lainnya, mungkinkah terjadi sepsis (infeksi sistemik melalui pembuluh darah) pada pasien ini, atau adakah penyakit lain yang memperberat kondisinya. Hasil laboratorium, pemeriksaan rekam jantung serta pemeriksaan penunjang lainnya coba saya teliti dan saya tidak mendapatkan penyebab lain selain penurunan kesadaran akibat kadar gula darah yang rendah (koma hipoglikemik) yang berubah statusnya menjadi penurunan kesadaran akibat kadar gula darah yang meningkat tinggi (koma hiperglikemik) karena terapi yang saya berikan??

Setelah kondisi agak tenang, saya mencoba kembali menilai kesalahan apa yang telah saya perbuat sehingga pasien ini tak mampu saya tolong. Ah Itu dia.... saya tersentak. Tersadar bahwa ada sebuah kesalahan (yang menurut saya cukup) fatal yang tanpa sengaja telah saya lakukan kepada pasien. Ini tentang sebuah rasa. Rasa yang membengkakkan hati tersebab merasa mampu dan mumpuni menolong pasien ini dengan mudah. Saya dengan begitu percaya diri (berpijak pada pengalaman menangani puluhan kasus serupa yang telah berhasil) memastikan kepada keluarga pasien bahwa setelah mendapatkan obat yang saya resepkan, maka pasien akan segera sadar kembali. Yang ada dibenak maupun hati saya saat itu bukan lagi mengandalkan pertolongan Allah sebagai satu-satunya penyembuh, tapi mengandalkan kemampuan saya sebagai seorang dokter (Astaghfirullah). Rasa itu, meskipun sepintas ternyata telah ‘mencederai’ pasien yang saya tangani.

Maka hari itu, saya merasa seperti di’tampar’ oleh pasien. Tamparan yang tak sekedar meninggalkan bekas memerah di pipi, tapi menusuk tajam, melukai hati. Duuh, saya telah menyandarkan hidup-mati yang merupakan hak Allah ke atas pundak saya selaku makhluk yang lemah. Saya pandangi lekat-lekat pasien yang masih terbaring tak sadarkan diri, kemudian saya alihkan pandangan kepada keluarga pasien ini yang dengan wajah cemas menanti orang yang mereka sayangi memberikan sinyal perbaikan walau hanya melalui erangan. Tapi ia masih saja tertidur... ada rasa sesal di hati atas kelalaian ini. Semoga saja, sesal ini bisa meninggalkan jejak perbaikan niat di tiap amal. Agar tak terselip ujub, agar kian tawadhu, agar amal tak menjadi debu... habis tak bersisa.

Kamar Jaga IGD, 5 Syawwal 1433 H *Kembali meraba hati*
Selengkapnya...

rin_iffah


Ternate, 04 Desember 2011 M
Pukul 11.00 a.m
Terik memanggang kota Ternate. Panas yang kian menyengat ini tak kunjung beranjak. Pemandangan yang kontras tampak di bagian barat. Kabut tebal menutupi hampir seluruh permukaan gunung Gamalama. Pagi menjelang siang itu, saya, sebagaimana penduduk yang lain melakukan aktivitas seperti biasa. Setiap ahad, jika tak ada jadwal jaga UGD, maka saya akan menghabiskan sisa hari di mushalla rumah sakit. Menghadiri ta’lim kemudian dilanjutkan dengan tarbiyah dan musyawarah.

Pukul 08.00 p.m
Ba’da shalat isya, penat mulai menjalar setelah seharian tenaga terkuras. Ingin rasanya bersegera merebahkan tubuh di atas kasur yang siap mengantar ke alam mimpi. Tapi rasa itu harus ditepis sejenak mengingat tumpukan tugas yang harus diselesaikan malam itu juga. Status resume pasien, tugas hafalan tarbiyah, proposal kegiatan daurah akhir tahun semuanya harus dituntaskan sebelum beranjak tidur. Sementara di luar kamar, hujan yang dinantikan sejak siang tadi pun turun. Rintiknya menyebar aroma khas kehidupan. Semoga hujan ini menjadi rahmat bagi semesta........ terselip doa di tengah gerimis yang mulai menderas.

Pukul 11.00 p.m
Mata ini sudah tak bisa dipaksa lagi bertahan.... saya pun tertidur hingga terlupa akan janji kepada seorang teman nun jauh di sana untuk menunggu telpon darinya... hujan kian lebat, dingin pun ikut merayap mendukung suasana untuk semakin lelap. Kami tak sadar bahwa hujan di malam itu turut menyertai petaka yang datang tiba-tiba tanpa tanda atau peringatan sebelumnya....
Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang di malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang merugi” (al a’raf 97-99)

Senin 5 Desember 2011 M
Pukul 03.00 a.m
Saya terjaga, masih ada tugas tersisa untuk membangunkan seisi rumah buat sahur. Di luar, hujan masih turun meski tak sederas semalam. Ada yang aneh subuh itu... bau belerang terhidu sangat menyengat.... saya mencoba membuka pintu dan beranjak ke teras belakang. Ah, ini dia sumbernya... seluruh lantai teras tertutup debu setebal lima senti. Saya belum menyadari jika semalam telah terjadi peristiwa yang membangunkan seisi kota Ternate. Saya bersegera ke teras depan, beberapa motor yang terparkir di depan rumah telah tertutup debu hingga tak berbentuk. Saya beranjak ke kamar, menghidupkan gadget mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Dari situs nya metro tv terpajang berita: “Gunung gamalama ternate meletus...” di kabar yang lain: “2000 penduduk ternate mengungsi”. Subhanallaah, saya bahkan tidak menyadari jika semalam tiap jiwa dicekam ketakutan, semalam jalanan tersesak penduduk yang mencari pertolongan. Suara berisik dari dalam rumah semalam pun tak mengganggu tidur saya.

Pukul 03.30
Di sujud panjang malam itu, saya meminta sebentuk kekuatan untuk semua penduduk Ternate. Betapapun musibah adalah bentuk kasih sayang Allah. Kadang ianya terasa ketika berwujud tamparan yang mendarat tepat di pipi kita. Tak setiap kebaikan harus semanis madu, kadang ia harus berwujud empedu, terkadang pahit tapi menyembuhkan. Tiba-tiba, bayangan akhwat memenuhi ruang pikir saya. Bergegas saya mengambil hp dan mencoba menghubungi mereka terutama yang tinggal di bagian utara. Tapi tak ada jawaban. “Rabb, lindungi mereka.........”

Pukul 09.00 a.m
Di luar hujan debu mulai mengganas, namun tak lama berselang, rintik hujan mendinginkan panasnya hawa. Bau belerang semakin menyengat, jalanan sepi dan kian mencekam. Tak ada seorang pun yang berani keluar rumah. Semua memilih menutup rapat pintu dan jendela menghindari kemungkinan terburuk dari erupsi gunung gamalama ini.

Pukul 10.00 a.m
Beberapa pesan masuk di inbox, sebagian dari teman-teman di sekitaran yang sempat tak membalas pesan semalam dan beberapa lainnya dari mereka yang berada di luar Ternate, menanyakan kabar saudara-saudaranya yang mengalami musibah di sini, tak lupa memberikan kekuatan dengan doa. Mereka, meskipun jauh tetap terasa begitu dekat. Ah, indahnya ukhuwah fillaah.

Pukul 14.00
Siang ini bertepatan dengan giliran saya untuk stand by di UGD. Baru saja tiba di UGD saya disambut oleh seorang pasien yang mengalami trauma listrik akibat lampu yang bergilir dipadamkan sejak dini hari sampai siang tadi. Syukurlah tak ada luka bakar meskipun kondisinya agak lemah. Selang tak berapa lama seorang pasien, laki-laki muda berusia dua puluhan tahun masuk UGD dengan mengamuk dan bicara meracau. Kejadian baru dialaminya semalam setelah mendengar kabar letusan gunung merapi. Trauma itu begitu mengguncang jiwanya sehingga psikisnya pun menjadi tak stabil. Disusul seorang gadis kecil ditemani ibunya, muntah-muntah hebat dari semalam setelah dibangunkan dengan paksa oleh kedua orang tuanya berlari menuju daerah kota untuk menyelamatkan diri dari ancaman keganasan gamalama. Mereka tinggal di perkampungan dekat kaki gunung gamalama, daerah yang paling mengalami dampak dari letusan semalam. Raut ketakutan tergambar jelas di wajahnya, dengan setengah berbisik dan hati-hati saya bertanya “dek, kenapa??” “saya takuut dok!!” gemetar sekujur tubuhnya menjawab. Melihat gadis ini tiba-tiba terlintas berbagai musibah yang terjadi di negeri ini beberapa tahun terakhir, apa yang dialami kami tak sebanding dengan trauma kehilangan yang dialami para bocah korban tsunami di Aceh ataupun Gempa bumi di Jogja. Bagaimanapun, bencana selalu menyisakan luka.....
“Rabb, kuatkan kami dan mereka...”


Pukul 04.00 p.m
Sebuah mobil sedan berplat merah berhenti tepat di depan UGD. Beberapa laki-laki berbadan tegap berpakaian safari rapi bergegas turun disusul seorang bapak tua berusia sekitar 50 an tahun menggenggam sebuah kantong plastik besar berwarna merah berisi setumpuk baju. Di sampingnya seorang laki-laki lain berpenampilan sederhana dengan celana jingkraknya yang basah hingga setinggi betis dan menggunakan sendal jepit, berusaha menenangkan bapak tua tadi. Beliau adalah wakil gubernur kami, bersama bapak yang menjadi korban letusan gunung gamalama. Mereka datang mencari seorang gadis kecil yang adalah anak dari bapak tua tadi. Mereka terpisah sejak semalam. Syukurlah anak perempuan itu tak lain adalah gadis yang sebelumnya masuk dengan muntah-muntah dan trauma akut pasca bencana.

Malamnya, ibu negara kami (isteri dari pak walikota) datang berkunjung ke UGD mencari tahu apakah masih ada korban yang kami rawat. Ada yang menarik dari kejadian tadi. Kami jarang bertemu dengan pemimpin kami jika tak ada momen-momen khusus, salah satunya hari ini. Meskipun demikian, tetap ada rasa kagum atas kesediaan mereka menghampiri kami. Saya Jadi teringat dengan kepemimpinan sahabat mulia Umar bin Khattab yang setiap malam meronda memeriksa kondisi rakyatnya. Yang memikul sendiri gandum untuk seorang ibu yang kesulitan mendiamkan tangis lapar anaknya. Atau seperti Ummu Kultsum binti Ali yang di tengah malam bekerja keras menolong kelahiran salah seorang warganya, sementara suami tercinta Umar Radiyallaahu anhu memasak roti dan menghangatkan susu sambil menghibur gelisah seorang calon ayah. Betapapun, mereka bukanlah sahabat nabi tapi kami tetap merindu sosok teladan itu.

Pukul 09.00 p.m
Saatnya pulang... Jalanan masih sepi, hujan tak lagi mengguyur tapi debu masih menghalangi jarak pandang. Berkendaraan seorang diri di situasi seperti ini tak mengurangi rasa khawatir. Setiba di rumah saya baru menyadari bahwa kondisi tubuh saya seperti pekerja galian pasir yang bermandikan debu galiannya sendiri.

09.45 p.m
Beberapa sms memenuhi inbox, pesan dengan isi yang sama cukup mengganggu hati, isinya tentang ramalan angka keramat 26 yang dikait-kaitkan dengan beberapa peristiwa bencana di waktu lampau yang terjadi di angka 26, yang ujung-ujungnya dihubungkan dengan QS ke 26 dan diminta dikirimkan ke 10 orang agar selamat. Duuh, Di saat ujian datang bukannya kita semakin mendekatkan diri kepadaNya dengan menguatkan keimanan, meneguhkan keyakinan kita akan kehendak Allah, tapi justru dikeruhkan dengan pesan yang justru mengandung kesyirikan. Beginikah cara kita saling mengingatkan di tengah musibah yang menimpa?
“setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam lauhul mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah” (QS Al Hadiid:22)
“Rabb, ampuni kebodohan kami....”


Selasa, 6 Desember 2011 M
Pukul 11.00 a.m
Di luar UGD debu berterbangan di tiup angin disertai hawa panas menyengat. Sementara di dalam ruang dokter terdengar diskusi hangat tentang kemungkinan terburuk jika cuaca panas bertahan beberapa hari ke depan. Infeksi saluran pernapasan akut kemungkinan akan menjadi langganan rumah sakit belum lagi persediaan masker yang menipis. Tapi yang menarik dari perbincangan siang itu adalah ketika ada yang mengatakan bahwa cuaca panas seperti ini bisa disiasati agar turun hujan dengan meminta bantuan ‘pawang hujan’. Ah, lagi-lagi musibah ini belum mampu menarik kita untuk kembali sepenuhnya kepadaNya. Padahal orang-orang musyrik terdahulu meskipun tetap dalam kemusyrikan mereka, ketika musibah menghampiri mereka kembali kepada fitrahnya, mentauhidkan Allah.
“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepadaNya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut:65)

Pukul 09.00 p.m
Sebuah pesan singkat lagi-lagi menghias layar Hp. Semenjak kejadian ini banyak pesan yang tak putus-putusnya. “Rin, dapet ga broadcast kalo akan terjadi ledakan gunung jam 22.00 nanti..?” tak tanggung-tanggung isi broadcastnya memakai kata yang terkesan sangat menakutkan ‘meledak’!!!. Sayangnya sumber broadcast tersebut tidak jelas dari mana sehingga hanya menimbulkan prasangka, menambah kekhawatiran berkepanjangan meskipun intinya mengajak kita untuk lebih waspada.

Rabu, 7 desember 2011 M
Pukul 06.30 a.m
Saat saya membuat tulisan ini, Ternate mulai pulih. Tak ada letusan, tidak pula kabut tebal yang menutup pandangan ke arah gunung Gamalama sebagaimana Senin dini hari kemarin. Pagi ini, dari balik jendela kamar, saya menatap keindahan gunung yang berdiri kokoh 1700 meter di atas permukaan laut itu dengan takjub. Meskipun diselimuti kabut tipis di puncaknya, namun tetap indah seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Gamalama, dengan sejuta pesonanya, juga adalah makhluk Allah. Dan hari ini, gamalama mengajarkan kepada kami lewat 'kejutan' kecilnya, bahwa ia pun tunduk di atas perintah Sang Maha Pencipta.
“Tidaklah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorangpun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.” (Al hajj:18)

“Robb... izinkan kami mengambil ibrah atas tiap kehendakMu....”


*Teruntuk saudari-saudariku yang tak henti mendoakan kami di sini, Jazaakunallaahu khairan
Selengkapnya...

rin_iffah


Beberapa hari yang lalu ba’da menulis status terakhir di facebook dan bbm (blackberry massenger) sebelum memutuskan untuk rehat sesaat, banyak sms yang masuk ke Hp saya hanya sekedar bertanya mau kemana, ada masalah apa, dst... ada yang menduga jika saya lagi mempersiapkan diri buat nikah jadi harus 'off,' ada yang ngasih selamat karena pikirnya saya mau ke Jepang, bahkan ada yang nelpon sambil nangis khawatir sesuatu terjadi pada saya. Maka atas setiap rasa khawatir dan prasangka baik, saya hanya bisa mendoakan kebaikan untuk kalian semua dan semoga terijabah tiap pinta kebaikan...

Menghentikan sejenak aktivitas tak bermakna berpisah atau pergi jauh. Ada saatnya di mana kita butuh rehat, seperti rehatnya Rasulullah dan para sahabatnya dalam shalat. Ada masa di mana kita perlu untuk memulihkan raga, mengumpulkan kembali tenaga setelah seharian berlarian agar langkah serta lompatan berikut bisa lebih jauh ke depan, lebih tinggi. Dan yang pasti ada saatnya di mana perjalanan ini terhenti. Terminal perhentian pertama adalah kehidupan, berikutnya adalah kematian dan sesudah itu adalah perhitungan amal. Di terminal perhentian pertama, kita diberikan kesempatan untuk memilih jalan yang akan kita tempuh. Kita diberikan pilihan untuk mempersiapkan bekal sebanyak mungkin dalam menempuh perjalanan panjang.

Layak kiranya jika di awal bulan Muharram serta penghujung tahun 2011 menjadi momentum untuk meneropong kembali kehidupan di satu tahun yang lalu. Meskipun muhasabah itu tetap berlaku di awal, pertengahan atau di saat mengakhiri hari, atau suatu amalan. Maka di jenak-jenak letih yang menghampiri, sebelum kita rebahkan diri berlabuh ke alam mimpi, cobalah kita bertanya, sejenak saja. Di usia yang beranjak menua, adakah kebaikan yang telah menghiasi lembaran amal kita, ataukah justru tumpukan dosa yang memburamkan tiap pergantian hari di sisa hidup kita.

Ada saatnya kita berhenti sejenak, memangkas mimpi-mimpi dunia kita yang kadang berlari cepat bahwa akan ada ajal yang memenggal tiap mimpi kita, ada kematian yang akan menghentikan tiap ambisi keduniaan kita. Karenanya Rasulullah mengistilahkan kematian dengan ‘pemupus kenikmatan’. “perbanyaklah kalian mengingat-ingat pemupus kenikmatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi)

Wallaahul musta’an.
Selengkapnya...

rin_iffah

Sudah hampir sebulan saya berada dalam lingkungan kerja baru setelah sebelumnya berada di ruang perawatan interna wanita dan ruang anak. Peraturan baru rumah sakit lah yang membuat kami _dokter umum_ harus mengecap rasa yang berbeda di tiap SMF (Staf Medis Fungsional) di rumah sakit daerah ini tiap tiga bulan. Tidak sekedar berkutat dengan pasien kegawat daruratan yang sering dijumpai di IGD, tidak sekedar mendiagnosa awal pasien-pasien di IGD tapi kami juga dituntut untuk turut melewati hari bersama para pesakit di ruang perawatan, mengikuti perjalanan penyembuhan penyakit yang mereka derita bahkan turut menjadi saksi ketakberdayaan kami melawan takdir yang Kuasa dimana kami harus terbiasa menyaksikan mereka meregang nyawa di depan mata sementara kami tak kuasa berkata.


Berada di SMF neurologi atau lebih dikenal dengan ruang perawatan saraf, ada sentuhan lain yang saya rasakan. Di sini, saya tak sekedar berperan sebagai seorang dokter umum yang membantu tugas dokter spesialis saraf; visite bersama perawat, visite ke dua kalinya bersama dokter spesialis saraf, visite lagi bersama dokter spesialis lain jika ada pasien rawat sama, nulis resep, menerima keluhan dan pulang begitu semua pekerjaan tuntas sebagaimana halnya ketika bertugas di beberapa SMF sebelumnya. Tetapi di sini, ada amanah baru yang kini saya jalani sebagai bentuk tanggung jawab yang lain, bukan sebagai seorang dokter tetapi sebagai seorang muslimah yang telah berislam semenjak lahir, muslimah yang telah diberikan kesempatan mengecap ilmu syar’i yang saya yakini kebenarannya. Dan inilah jawaban atas do’a saya, mewarnai mereka yang berada di sekitar saya (terutama di lingkungan rumah sakit ini) dengan ilmu ad dien sesuai pemahaman yang benar.

Rasa syukur tak hentinya saya panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menitipkan amanah ini lewat lisan kepala SMF yang juga seorang dokter spesialis saraf. Amanah untuk membimbing belajar baca tulis al-qur’an kepada beberapa pegawai rumah sakit yang muallaf. Belajar dilakukan setelah visite pasien dan menyelesaikan tugas-tugas lainnya di ruangan. Awalnya saya berpikir bukanlah hal yang sulit untuk membimbing mereka membaca al-qur’an karena usia mereka yang jauh lebih matang dibanding usia saya dahulu ketika pertama kali belajar membaca al-qur’an. Tapi ternyata saya keliru, Meskipun Di antara mereka ada yang sudah 5 tahun ber islam, ada yang hampir 10 tahun, bahkan ada yang sudah lebih dari 20 tahun mengikrarkan syahadatain, namun ternyata tak satupun dari mereka kuasa melafalkan a ba ta tsa.... subhanallaah... maka bersyukurlah atas ni’mat Islam yang Allah anugerahkan kepada kita. Ni’mat bisa membaca al-qur’an dengan baik dan benar meskipun harus diiringi pukulan dari kedua orang tua kita di saat kecil dulu. Dekap ni’mat itu sekuat kita berusaha mendekap cita tertinggi kita.

Hampir Sebulan berlalu, dan penantian dalam sabar perlahan mulai menampakkan hasilnya. mereka akhirnya mampu menaklukkan huruf-huruf yang awalnya asing, merangkainya dengan lisan yang tertatih tentunya Atas izin Allah kemudian usaha dan azzam mereka yang begitu kuat, walhamdulillah. Saya mencoba menyemangati mereka dengan hadis Rasulullah tentang pahala berlipat atas usaha mereka di atas bacaan terbata-bata, satu pahala untuk bacaan alqur’annya dan 1 pahala lagi untuk kerja keras mereka, insya Allah. Saya tak kuasa menahan haru ketika salah seorang di antara mereka berujar bahwa ia akan dengan bangga menunjukkan bacaannya kepada anaknya, menunjukkan bahwa ia selaku orang tua meskipun adalah seorang muallaf juga mampu membaca al-qur’an dengan baik dan benar.

Berita tentang majelis baca tulis al-qur’an kami menjalar begitu cepat. Kepala perawat di ruangan VIP meminta kesediaan saya untuk membimbing mereka belajar membaca al-qur’an dengan benar. Mereka tanpa malu mengungkapkan betapa mereka meskipun sudah ber-islam semenjak lahir, membaca al-qur’an pun masih terbata. Bahkan ada seorang perawat yang dengan semangat menyampaikan mimpinya; “dok, siapa tau setelah kami bisa membaca al-qur’an dengan baik kami juga bisa mengajarkan ke perawat yang lain sampai nantinya kita bisa bikin majelis ta’lim Rumah Sakit, biar nanit kalo pas ada acara aqiqah anak-anak kita, kita semua yang nanti datang buat ngaji, baca yasin.....” subhanallaah, meskipun ada muatan yang keliru dari mimpi sederhananya, tetapi saya begitu terkesan.... belum tentu kami yang telah lama mengkaji begitu banyak kitab-kitab para ulama, yang telah menghabiskan waktu duduk berjam-jam bersama para thalabul ‘ilm, yang secara sulukiyah maupun fikriyah dikenal sebagai orang yang paham akan ilmu addiin, terpikir untuk memiliki mimpi ini. Mimpi untuk berbagi kebaikan bersama orang-orang di sekitar kita, mimpi untuk merangkul saudari-saudari kita bersama ke jannahNya. Ah, jangan sampai justru langkah kita terhalang ke pintu surga karena tertahan oleh aduan mereka kepada Allah, mengadu atas ketakpedulian kita terhadap ketidakpahaman mereka akan agama ini yang membuat mereka ingin di seret bersama kita ke neraka. Wal yaudzu billah...
Maka gemuruhlah ruang perawatan saraf dengan lantunan ayat-ayat Allah... walau tertatih, walau berpayah... kalimat-kalimat itu menggema ke sudut-sudut ruangan menyusupi hati tiap perindu hidayah... dan semoga hidayah ini kan terus menjalar menyentuh tiap hati yang masih tertutupi kabut kejahilan....

-di penghujung kebersamaan with neurology crew-
Selengkapnya...

rin_iffah

“Kalo bukan anestesi, insyaAllah aku mau ngambil spesialis jantung pas ada kesempatan lanjut belajar....” ujarku kepada beberapa teman sejawat yang saat itu nimbrung dalam obrolan ringan tentang keinginan melanjutkan pendidikan spesialis. “ hmmp... dek, saat ini kamu mungkin masih berpikir idealis dengan beberapa mimpi yang ingin kamu capai. Usia mu juga masih muda.... tapi ada satu hal yang harus kamu sadari bahwa kita yang ada di sini adalah seorang perempuan yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Artinya bahwa kelak ada tanggung jawab lain yang harus kita penuhi selain tanggung jawab profesi... bukankah nanti kita akan mempunyai suami serta anak-anak yang manis dan lucu?!!...” timpal dokter yuli tanpa menoleh ke arahku. Sejak tadi ia serius membuat kreasi sulaman bunga-bunga kecil di atas sebuah jilbab mungil berwarna kuning gading. Aku hanya terdiam, sesekali mengiringi ucapannya dengan senyuman yang agak kupaksakan, dalam hati aku berujar “skak mat”.

“Makanya kenapa aku ga mau ngambil bagian besar. Aku udah pernah ngerasain, gimana anakku manggil baby sitternya dengan sebutan ‘mama’. Sedang aku dipanggil ‘tante’. Sakit banget...” dokter berambut pendek dengan kaca mata minus yang berada di samping ku mencoba menguatkan apa yang disampaikan dokter yuli barusan. “tuh kan, lagian apa sih yang sebenarnya kita cari sebagai seorang dokter?? Menjalani hidup sederhana di tengah keluarga yang harmonis, melalui hari-hari dengan melihat anak-anak tumbuh di tengah kasih sayang kedua orang tuanya adalah hal yang sangat membanggakan. Meskipun hanya dengan aktivitas pagi di rumah sakit kemudian siangnya sudah kembali ke rumah, berkumpul bersama keluarga kecil, membersihkan serta sesekali mengatur ulang perabotan di rumah sendiri menjadi hal yang tampaknya sangat menyenangkan. Kalo saya dikasih kesempatan buat lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, saya justru lebih memilih sekolah hanya sekedar untuk gelar perbaikan status yang belajarnya hanya sekali sebulan, bukan untuk mencari uang karena itu bukan tanggung jawab saya, dan memang karena saya bukan kepala keluarga...” kali ini dokter yuli begitu antusias menyampaikan pendapatnya. “tapi kan, ga semua orang ngambil spesialis karena tujuan prestise semata, ada sebagian orang yang justru mendapatkan kepuasan batin ketika dihadapkan dengan begitu banyak kesulitan dalam menyelesaikan sebuah kasus rumit, atau misalnya ketika ia mampu menyembuhkan pasien karena ilmunya yang mumpuni... atau karena memang senang memiliki liku hidup yang penuh warna” sela ku tak kalah bersemangat, tak ingin mimpiku di anggap tak ada artinya oleh mereka. “iya dek, wajar-wajar aja kamu punya mimpi seperti itu, dan semua terserah pada pilihanmu, karena tiap orang punya hak untuk memilih dan siap menerima konsekuensi dari tiap pilihan yang dibuatnya. Tapi coba bayangkan, disaat kamu lagi istirahat bersama suami tercinta tiba-tiba ada panggilan dari rumah sakit karena mendadak ada operasi. Gimana perasaan suami mu saat itu, dan gimana seharusnya kamu memposisikan diri sebagai seorang dokter anestesi tapi di sisi lain sebagai seorang isteri dari suami mu yang saat itu berbaring tepat di sampingmu...., katanya siih, agak susah lho seorang isteri melepaskan pelukan suaminya.... menurut dokter yang udah nikah nih, gimana???” kali ini dokter yuli mencoba mencari pembenaran dari seorang dokter yang jauh lebih senior sambil sesekali melempar senyum ke arahku yang jelas kelihatan salah tingkah.

“satu hal yang membuat kita menjadi dokter yang berbeda adalah karena kita seorang perempuan. Sulit dipungkiri, ketika sudah berkeluarga tiap detil mimpi, cita-cita, harapan tentang perjalanan panjang karir kedokteran kita berubah seiring dengan makin dewasanya kita menghadapi kenyataan hidup berumah tangga. Belum lagi, kita harus mengantongi izin suami untuk tiap keputusan yang akan kita ambi meskipun keputusan sepenuhnya ada di tangan kita...” dokter yang saat ini menjabat sebagai kepala IGD ini bertutur dengan bahasanya yang lembut, mencoba menyentuh sisi terdalam hatiku. Aku hanya bisa tertunduk dalam seolah-olah menjadi pesakit di antara mereka.
“waah, kayaknya rin udah mulai berubah nih, ga mau ngambil anestesi atau jantung lagi ya....” canda dokter yet yang dari tadi menyimak pembicaraan kami. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang entah ditafsirkan sebagai apa????

Subuh ini, ketika membuka inbox, aku mendapat sebuah pesan dari seorang teman (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang lebih banyak)... isi pesannya :
Kutipan dibawah ini adalah catatan Ainun Habibie pada buku Setengah Abad B J Habibie, yg dikutip ulang dari buku Habibie&Ainun :

“ Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir ; buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan kepada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orangtua kehilangan anak, dengan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan hidup pas-pasan."

(Dan ini menjadi bukti bahwa sebagian besar perempuan, berprofesi dokter sekalipun tetap menganggap dirinya punya kelemahan dan kelebihan sekaligus menjadikannya beda dengan laki-laki, bukan untuk dibeda-bedakan apatah lagi disejajarkan dalam semua aspek sebagaimana isu gender yang begitu keras berhembus dan menampar wajah perempuan-perempuan Indonesia yang perlahan mulai kehilangan jati dirinya). Wallaahul musta’an....

@ IGD di sela obrolan ringan sembari membunuh waktu yang mulai merangkak menapaki angka jam 2 siang (20/05/11).... thanks all untuk inspirasi siang-nya.

Selengkapnya...

rin_iffah

New lesson today: that's everyoNe _whoever they are_ they could teach us something that we never think before.

Belajar bisa saja dilakukan kapanpun dimanapun dan kepada siapapun. Itulah yang aku alami hari ini. aku belajar tentang ketulusan menerima dari para mahasiswa yang dengan polosnya memanggilku ‘ibu’ (hiks... i’m not yet too old to called me ‘ibu’) padahal kepada mereka aku pastikan bahwa proses degenerasi adalah kondisi normal yang terjadi suatu saat nanti ketika Allah menakdirkan usia kita memasuki senja. Berubannya helai demi helai rambut, mengeriputnya wajah serta mulai membungkuknya punggung. Hanya ada dua pilihan, menerima kondisi tua atau silahkan mati muda. Bukan... bukan karena aku tak siap menjadi tua, tapi hanya ingin berbagi pinta untuk bisa lebih dekat dengan mereka tanpa ada pemisah, sehingga keikhlasan itu bisa mereka dapatkan dengan aliran ilmu yang semakin menancap kuat di pikiran dan tiap detail ruang hati mereka. (i hope they will know that, one day... may be)

Aku juga belajar kepada para mutarobbiyahku (they are my students also @ Poltekkes). Yang di penghujung dhuha tadi meneror-ku untuk segera mengisi tarbiyah di tengah kesibukan mengurus pasien di ruang perawatan (subhanallaah, semangat mereka tlah menyulutku untuk semakin berbuat untuk dien ini). Mutarobbiyahku yang selalu siap dengan serbuan pertanyaan di awal, pertengahan dan akhir jumpa. Dan hari ini, ketika aku sedang memberikan taujih, terdengar suara lain di luar majelis yang mengagetkanku dan tentunya mutarobbiyahku. Pertanyaan itu muncul dari seorang jama’ah sholat zuhur yang tanpa sengaja mencuri dengar perbincangan kami. “maaf, bagaimana kalo saya mengucapkan selamat siang kepada orang non muslim apakah dibolehkan, karena hampir separuh keluarga saya adalah non-muslim....” tanpa berdosa dan penuh antusias ia memotong penjelasanku tentang hadis 9 dalam kitabul Jamii. Diskusi pun mengalir begitu indah. Seorang wanita yang belum menutup auratnya dengan sempurna, yang tak sempat kutanyakan namanya ini telah mengajarkanku untuk tak sekedar menshalihkan diri. Karena di luar sana bahkan di lingkungan terdekat denganku, lingkungan kerjaku, masih banyak yang belum paham akan dien ini.

Dan baginya kudoakan agar ia mendapatkan kebaikan majelis sebagaimana yang telah diterangkan oleh Rasulullah
shallallaahu alaihi wa sallaam: “.... seorang malaikat berkata, “Robbi, di majelis itu ada orang yang bukan dari golongan mereka, hanya bertepatan ada keperluan maka ia datang ke majelis itu”. Allah berfirman, “Mereka adalah ahli majelis yang tidak akan kecewa siapapun yang duduk membersamainya!” (Muttafaaqun alaih, dari Abu Hurairah)

Akupun belajar kepada pasien-pasienku dan keluarganya. Belajar untuk tak mengeluh dengan berbagai rintihan penderitaan yang mereka alami. Dengan serbuan pertanyaan dari keluarga pasien tentang kondisi ayah, saudara, atau anak mereka yang terbaring lemah tak berdaya. Mereka adalah ujian kesabaran terbesar yang kumiliki. karena mereka dengan segenap ketidak tahuannya hanya mencoba mencari bantuan di saat rasa sakit itu tak mampu lagi mereka kendalikan.

Dan hari ini aku pun belajar sesuatu yang tak kuduga sebelumnya. Belajar untuk tak lagi mengakrabi sesuatu yang tak pantas untuk diakrabi. Belajar untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya.... kata-kata dari seorang bapak berbadan tegap yang meminta rujukan untuk keluarganya yang sementara dirawat di rumah sakit begitu mengejutkanku “senyumnya dokter manis ya.....” astaghfirullaah, maafkan aku calon suamiku (ups, jangan-jangan dia yang akan Allah takdirkan untuk ku_dimanapun ia berada saat ini_ juga sedang menikmati sesuatu yang bukan haknya)....... sampai di sini i’m speechless. Really....

Maka sudah sepantasnya kita selalu belajar, di tiap tarikan dan hembusan nafas, di sisa usia yang semakin menua.......

Selengkapnya...

rin_iffah


Bismillah... risalah ini terluapkan di tengah kerinduan mengenang sosok-sosok yang dahulu pernah membersamai diri di tiap derap perbaikan, di saat kuat maupun lemah.
Ketika anda bersua dengan mereka dalam lingkaran di sudut-sudut masjid, penuh kekhusyu’an, ketundukan, terhanyut dalam tiap lantunan ayat yang mengalun lembut menggetarkan serta melembabkan hati-hati mereka. Maka Janganlah dulu terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah jelmaan malaikat berjasad manusia, selalu suci dan tak pernah terjatuh dalam dosa.

Perhatikanlah mereka lebih dekat. Di sana ada akhwat berkaca mata yang ternyata agak perfeksionis. Mudah tersulut emosi ketika membiarkannya sedikit menunggu. Kemarahannya bisa terlampiaskan dengan kata-kata, memukul tembok atau justru diam seribu basa. Dan aku pernah merasakan luapan emosinya yang begitu lama. Yah, aku pernah didiamkan ber hari-hari dengan alasan yang aku tak pernah tahu. Tapi sungguh, dibalik sosok ‘keras’nya, ia pernah menangis di saat melihat dakwah di fakultasnya berjalan di tempat. Tangan kreatifnya pernah menghasilkan sebuah majalah mungil yang tak pernah terlupa sepanjang sejarah perjuangan dakwah di kampusnya. Bahkan dibalik sifatnya itu tersimpan sisi kelembutan seorang murobbiyah.... melihatnya, aku terbayang sosok sahabat Rasulullah yang mulia, Umar bin Khattab radhiyallaahu anhu.


Anda tak akan pernah membayangkan bagaimana ia mampu mengakrabi sosok lemah lembut yang ada di sampingnya. Akhwat berjilbab coklat berkulit sawo matang yang tengah tertunduk khusyuk menilai kedalaman dirinya. Ia lebih banyak diam, berbicara seperlunya. Sering sakit-sakitan menjadikan fisiknya begitu lemah, tapi tidak dengan semangat juangnya. Kadang ia bisa jauh lebih kuat menahan kantuk dalam musyawarah yang menyita waktu tidurnya di malam hari. Ia begitu menikmati tiap detik begadang syar’i yang dijalaninya. Sosok lemah itu begitu panjang ketika sujud, suaranya yang merdu menjadikannya selalu diminta menjadi imam ketika sholat berjama’ah.

Sekarang, lemparkan pandangan anda lebih jauh lagi. Apakah anda melihat akhwat berjilbab hitam berkacamata dengan frame hitam agak tebal yang perawakannya jauh lebih besar dibanding akhwat yang lain??? Suaranya agak besar, terkadang menggelegar, sebesar harapannya mengembangkan dakwah di fakultasnya. Sosok tangguh yang tergambar lewat fisiknya ternyata dikarunia kepolosan di tiap harapan dan keinginannya.

Di sana ada juga sosok yang tak bisa diam, keras kepala, ada yang begitu jujur mengekspresikan tiap rasa yang dialaminya yang tanpa sengaja rasa itu mampu melukai sesosok makhluk yang hatinya begitu rapuh, mudah terbawa perasaan ketika tersakiti dalam sebuah musyawarah pun dalam interaksi amal jama’i. Ada sosok pemalu yang di tiap kali jumpa tak ada kata yang bisa dinikmati dari lisannya, ia justru lebih banyak bergerak, berbuat di saat yang lain mulai terkulai lemah. Anda juga akan menjumpai sosok yang penuh semangat sepanjang hari, yang dengan mudahnya ia tularkan semangat itu kepada orang-orang disekitarnya.

Sosok-sosok yang secara inderawi terlihat begitu anggun, begitu tangguh, adalah juga manusia biasa yang tetap berbalut karakter khusus. Hijrahnya tak serta merta menjadikan mereka memiliki karakter yang sama yang sering tergambarkan oleh mata awam sebagai seorang akhwat dengan kesempurnaan ke’akhwatan’nya. Maka jangan pula anda melempar vonis bahwa mereka hanyalah sosok penuh dosa yang tak pantas diqudwah. Justru karakter ini terbingkai indah setelah hijrah dibawah naungan al-qur’an dan sunnah, dalam wujud yang lebih mulia, dalam dakwah dan tarbiyah.

Mereka, manusia-manusia biasa yang istiqomah dengan potensi kebaikan yang dimilikinya. Karakter khas masing-masing tak menjadikan mereka semakin terjarakkan, tetapi kecenderungan-kecenderungan yang berbeda itu menjadikan dakwah mereka penuh warna. Ada kalanya mereka lepas dalam canda, saling berbagi dalam tawa, bebas tanpa beban. Terkadang mereka bisa begitu serius dalam tiap majelis syuro. Mereka pun sering menangis bersama, mengingatkan tentang beratnya amanah, dosa, dan neraka. Di majelis kebersamaan mereka, atau di sela rehat sesaat, pun dalam lintasan perjumpaan yang singkat, mereka tetap saling mengingatkan, selalu berucap kepada sesama : “saudariku... mari sejenak kita beriman”.

Mereka, sosok-sosok tak sempurna yang tlah menjadi penggerak keshalihan, penyulut cahaya perbaikan. Mereka, yang dengan ketaksempurnaan serta segala sifat kemanusiaannya mencoba berbuat untuk diin ini. Ada sederet kata yang tak pernah mereka ucapkan kepada penerus setelahnya, tapi ketahuilah mereka tetap bersuara dalam diam, ingin berpesan dalam tiap gerak amal bahwa sungguh saat ini dan kapanpun tetaplah melihat sisi kemanusiaan mereka tanpa harus menghinakan, telusuri tiap semangat mereka tanpa sanjungan berlebihan. Merekapun kadang mengalami titik jenuh di saat berjuang, ada fragmen dimana mereka sedikit menjauh... dan ketika saat itu tiba mendekatlah, rangkul mereka dalam indahnya kebersamaan. Karena ketika anda memutuskan untuk berjuang bersama mereka, maka andapun telah siap untuk menelisik dan menikmati detail ketidaksempurnaan mereka setiap waktu.

Ketahuilah, islam memuliakan semua posisi, semua potensi.... Jikalau tak memungkinkan menjadi karang yang kokoh di tengah lautan, menjadi rumput nan lembut di tengah padang yang tak tergoyahkan dihempas angin pun tetap agung nilainya. Maka demi Allah, tidak ada halangan menjadi mulia dengan alasan tak sempurna serta potensi yang tak tersalurkan. Karena ketaksempurnaan-mu adalah penggerak keshalihan diriku, dirinya dan tiap jiwa yang merindukan cahaya surga. Wallaahul musta’an...

Selengkapnya...

rin_iffah

Teruntuk mbak P dan mbak2 P lainnya, ini adalah sepenggal kisah kami yang mungkin lebih kalian kenal sebagai manusia-manusia tak berperasaan yang menjadikan nyawa sebagai bahan uji coba. Ah, bukankah selama ini kalian mengenal kami hanya lewat kotak elektronik atau media massa lainnya, yang pendongengnya adalah mereka di luar golongan kami?!! Sebagaimana kata pepatah; tak kenal maka tak sayang, kebencian kalian kepada kami bisa jadi tumbuh dari benih keasingan terhadap diri kami. Maka kemarilah, mendekat.... akan kubagikan sepenggal kisah kami, agar kalian mudah mencintai kami.

Sebagian dari kami ketika memutuskan untuk kuliah di Fakultas Kedokteran adalah karena ingin memenuhi keinginan orang tua. Atau karena dianggap sebagai profesi turun temurun dari orang tua yang berprofesi sama. Masa-masa perkuliahan yang tiap pergantian semester berat terasa coba kami jalani. Ah, betapa tiap hari kami harus berkutat dengan buku-buku berbahasa latin yang masih sulit kami pahami artinya. Semua kami jalani awalnya karena ingin membanggakan orang tua. Seiring silih berganti waktu ketika kami memasuki dunia klinik atau yang lebih dikenal dengan internship dan menyandang gelar awal yang dengannya kami begitu bangga, sarjana kedokteran. Kamipun mulai mencintai profesi kami. Status kami berubah, dari mahasiswa yang dulunya menghabiskan waktu di kampus dengan berbagai aktivitas, menjadi seorang dokter muda yang harus terbiasa menggunakan jas putih dan siap dipanggil dokter. Tapi tahukah anda, saat itu sungguh kebanyakan dari kami ketika mulai melangkahkan kaki di rumah sakit, terbersit rasa khawatir. Langkahpun nyaris terhenti. Khawatir jika tak mampu menjawab pertanyaan pasien atau keluarga pasien tentang penyakitnya, ataupun khawatir tidak mampu melakukan tindakan yang menjadi kompetensi kami. Kekhawatiran seorang manusia biasa yang sadar akan kekurangan dirinya.

Dua tahun internship, kamipun mengalami seleksi alam. Sebagian dari kami terpaksa mundur perlahan tak tahan ditempa berbagai beban berat. Ada juga yang tertatih namun ada yang melaju dengan pesat. Tak ada yang salah, semuanya terpulang pada motivasi diri. Bagaimana tidak, di rumah sakit kami terpaksa harus merubah pola hidup kami. Dulunya kami bisa tidur 8 jam sehari di atas kasur empuk ditemani suasana nyaman kamar be-AC, harus tergantikan dengan jadwal tidur yang tak menentu di tempat dan kondisi apapun. Ah, bahkan terkadang kami tak dapat memicingkan mata sedikitpun karena cemas menanti pasien inpartu* yang menjerit kesakitan, pasien ICU yang harus di follow up per 15 menit, atau bahkan karena kalah bersaing mendapatkan sedikit ruang buat meluruskan raga dengan perawat atau residen jaga. Itupun keesokan harinya kami harus tetap bersemangat memulai hari yang panjang dan melelahkan ditemani setumpuk tugas yang entah kapan terselesaikan. Belum lagi tekanan mental yang kami dapatkan dari dosen, pegawai rumah sakit sampai pasien dan keluarganya.

Apakah semua kepedihan yang kami alami selama 6 tahun bahkan 10 tahun akan berakhir setelah kami berdiri di depan dekan mengikrarkan sumpah Hipocrates yang menjadi simbol status baru kami bukan lagi sebagai dokter muda tapi dokter yang sebenarnya???? Oho,,ooo. Ternyata gelar ini adalah langkah awal kami meniti perjuangan yang panjang dan melelahkan, dengan harapan perjuangan panjang ini bisa berakhir dengan istirahat kami di surgaNya.

Atas nama peningkatan standar seorang dokter. Kami harus mengikuti tes kompetensi demi sebuah STR. Tak pernah kami sesali, tapi muncul pertanyaan kenapa hanya kami??? Bukankah mereka yang dari fakultas lain juga butuh peningkatan standar??? Mereka yang (maaf....) tiap tahun lulusannya kebanyakan menjadi sarjana ‘pengangguran’ (sekali lagi maaf, tapi ada juga beberapa dari kami yang secara tidak sadar juga menjadi dokter pengangguran). Bukankah mereka lebih butuh akan itu dibanding kami??? Entahlah....

Pun ketika kami telah dinyatakan lulus tak semua orang bisa menerima bahwa kami telah dianggap kompeten sebagai seorang dokter. Sebagai bukti, banyak dari sejawat kami yang terpaksa mondar-mandir persidangan karena tertuduh melakukan tindakan malpraktik. Lucunya, mereka yang sering menuduh kami melakukan malpraktik adalah orang-orang yang sedikitpun tak pernah mengetahui tentang ilmu kedokteran, minimal tentang perjalanan sebuah penyakit, komplikasi tindakan bahkan tentang hirarki rumah sakit. Jangan-jangan suatu saat bayi yang diberi imunisasi BCG* kemudian timbul bisul ditempat suntikan menjadi lahan basah para LSM miskin ilmu untuk menuduh kami melakukan malpraktik. Istilah yang ternyata tak pernah tercantumkan dalam kitab perundang-undangan negeri ini. Teringat sindiran provokatif yang memerahkan kuping dan menyayat hati dari mereka yang anti-imunisasi. Program imunisasi dianggap sebagai program memperkaya dokter dan perusahan farmasi... sungguh, tuduhan tanpa bukti ilmiah yang menoreh luka. Kamipun tak dapat menuntut balik. Siapalah kami, manusia-manusia biasa yang kekuatannya hanya hati dan do’a.

Tak ada niat membela sejawat kami. Kami akan tetap mendukung pemerintah jika sebagian kecil dari kami yang telah terpedaya oleh nilai nominal sebuah mata uang terpaksa melakukan tindakan yang bertentangan dengan sumpahnya. Kami punya wadah buat menegur di komite medik, bukan media massa yang lebih sering memojokkan kami. Sering tuntutan yang kami peroleh sungguh diluar batas kemampuan kami, ganti rugi milyaran rupiah. Duuh, darimana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu??? Padahal sebagian dari kami rela menyebrangi samudera, membelah lautan, menyusuri bukit dan lembah, dihantam ombak bahkan sampai meninggal di tempat tugas demi misi kemanusiaan dan kamipun ikhlas ketika bayarannya hanya dengan seikat bayam, sekilo beras, ataupun sekedar ucapan terimakasih. Dan kami tidak menuntut lebih.... karena kami sadar balasan kami jauh lebih besar oleh Allah ketika kami ikhlas melakukan semua itu. Semuanya berawal dari kecintaan kami yang mendalam terhadap profesi kami, (meminjam kata-katanya mbak Meta;) bukankah mencintai kadang tak membutuhkan sebuah alasan? Kami mencintai profesi kami tanpa butuh sebuah alasan.

Bagi anda yang tak pernah mengenal kami langsung, tolong... jangan acungkan telunjuk di depan wajah kami ketika dengan terpaksa kami harus memberikan kabar buruk tentang keluarga anda yang tak mampu kami tolong. Kami hanyalah manusia biasa yang dengan niat berbuat semampu kami. Kami jauh lebih sedih ketika harus menyaksikan pasien kami meregang nyawa di depan mata. Kalau anda berani, acungkan telunjuk dihadapan Sang Penentu hidup dan mati. Karena kuasanya mendahului kemampuan kami.

Ah, ini sekedar penggalan kisah kami yang tlah terlupakan. Tak ada yang dilebih-lebihkan. Tak ada untungnya bagi kami. Sudah saatnya kami akhiri penat hari ini, mencoba bermimpi akan indahnya masa depan kami, meskipun itu hanya terjadi di negeri mimpi. Dengan harapan kalianlah yang membuat mimpi kami bersanding dengan mimpi indah kalian. Semoga.....
Ket :
Pasien Inpartu : Pasien hamil jelang melahirkan
BCG : jenis imunisasi untuk pencegahan penyakit TBC. tanda berhasilnya imunisasi ini jika terdapat bisul di tempat suntik yg setelah 4-minggu menjadi koreng
Selengkapnya...

rin_iffah

Subuh.... di antara bekas dinginnya malam yang merayap dan merayu tubuh untuk tetap berpelukan dengan hangatnya mimpi. Perlahan coba kutepis naluri kemalasan dengan menyebut namaNya sebagai bentuk syukur tlah hidup kembali setelah semalam dimatikan olehNya. “Alhamdulillaahillazii ahyaana ba’da ma amaatana wailayhinnusyuur”. Satu ikatan syetan tlah lepas. Ikatan kedua kulepaskan dengan sentuhan air wudhu. Grrrhhh.... kesejukan tiba-tiba merasuk, tidak saja pada anggota tubuh yang terbasuh, tapi juga melingkupi seluruh pori-pori kulit membangkitkan rasa dan raga tuk segera bersujud di hadapanNya. Satu ikatan terakhir tertebus dengan 2 rakaat sholat..... terijabah kah sholatku??? Tetap berharap!!!

Masih ada 1 jam lebih sebelum memulai aktivitas. Kunikmati pagi ini dengan mengukir kenangan di jalan sekitar rumah. Sepi... sesekali terlihat beberapa orang bapak2 paruh baya pulang ke rumah setelah sholat subuh di masjid sebelah diikuti bayangan panjang yang tersoroti lampu jalanan yang remang-remang. Langit di sebelah barat masih gelap berhiaskan bintang ,menanti kehadiran sang surya tuk gantikan tugasnya setelah semalaman begadang. Rintihan panjang jangkrik diiringi kokok ayam dan lolongan anjing bersahut-sahutan mencoba membangunkan jiwa-jiwa yang masih berselimut kemalasan. Di jalanan aspal yang mulai berlubang di sana-sini tergenang air kecoklatan, tampak satu dua orang yang berlari-lari kecil. Tanah yang semalaman terbilas oleh curahan air dari balik awan yang sekian lama dinanti serta embun dari rerumputan sepanjang jalanan memberikan aroma yang begitu menusuk menghadirkan simfoni pagi yang menyejukkan jiwa.


Sekitar lima ratus meter perjalanan, setelah melewati Pilla Mart yang menjadi shopping centre warga sekitar, kucoba nikmati alunan zikir alam yang begitu memikat. Di sisi kiri kanan terhampar sawah dengan hijaunya di antara tanaman enceng gondok liar yang mulai mengusik, kicauan burung pipit, perbukitan hijau yang perlahan tertutupi oleh bangunan-bangunan baru seakan mencoba bersaing dengan maha karya teragung Sang Pencipta, serta siluet jingga di ufuk timur petanda terbangunnya sang surya dari tidur panjang. Toh, Semuanya tlah dikalahkan oleh pemandangan yang jauh lebih menarik pagi ini. Di seberang jalanan, dibalik gundukan sampah yang hampir setinggi perbukitan di belakangnya, dua orang bocah sedang mengais-ngais gundukan itu seperti ada yang dicari. Di atas gundukan itu tertancap sebuah papan pengumuman yang jelas terbaca DILARANG BUANG SAMPAH DI SINI. Keduanya sibuk memilah-milah sesuatu, sebagian dikumpulkan menjadi gundukan yang lebih kecil disamping gundukan yang besar, sebagian lagi dibuang sambil sesekali terdengar suara ribut dua bocah ini memperebutkan apa yang ada di tangannya seolah enggan kehilangan barang berharga. Ah, barang yang mereka anggap berharga tak lebih dari sebuah panci peot dengan lubang besar di tengahnya dan sebuah sapu ijuk yang kusam dan rontok. Setelah mereka merasa puas bermain-main dengan sesuatu yang menurutku menjijikan, saatnya barang2 hasil pencariannya dipindahkan ke sebuah gerobak. Gerobak besar bercat putih kecoklatan yang mulai memudar warnanya dengan sepeda tua sebagai pengayuh itu jauh lebih besar dari tubuh kedua bocah ini. Gerobak besar itu nyaris menenggelamkan keduanya. Salah seorang dari mereka naik ke atas gerobak, dan dengan gaya bak kenek angkot ia berteriak ke temannya yang lain. ‘Ayo jalan.... ‘ dan gerobak pun mulai meninggalkan tempat dimana mereka mencari harta karun. Kulirik sejenak jam tanganku, baru pukul 05.45.... hmmm, mereka berpagi-pagi ke tempat ini untuk berebutan barang-barang bekas penduduk sekitar yang lebih dikenal dengan sebutan SAMPAH. Sesuatu yang identik dengan kotor, menjijikkan dan tempat bersarangnya penyakit justru bagi kedua bocah ini adalah barang berharga sumber kehidupan mereka sehari-hari. Mengais sampah bagi mereka adalah mengais rezki mereka di hari itu. Ikhtiar sederhana menjemput rezki dariNya. Padahal anak seumuran mereka lebih pantas berada di dalam ruang kelas menikmati lezatnya hidangan ilmu untuk masa depan.


Belum sempat kulepaskan pandangan, terdengar suara ribut dari sebuah mobil yang perlahan mendekat. Di dalam mobil ada beberapa anak berseragam putih merah yang riang gembira. Tiba-tiba ada sesuatu yang dibuang dari dalam mobil, spontan bocah pengayuh gerobak menghentikan gerobaknya dan berlari kencang berlomba bersama temannya ke arah benda yang dibuang. Tak berapa lama bocah pengayuh gerobak berteriak keras menyebutkan kata-kata yang tak jelas terdengar, melompat-lompat kegirangan sambil mengacungkan benda yang baru dipungutnya. Hoo..oh... benda itu hanyalah dua buah kaleng bekas minuman yang dibuang oleh anak-anak yang berada di dalam mobil tadi.


Begitu asyiknya kuperhatikan adegan di depanku, tak terasa semburat sinar mentari dari balik bukit mulai menghangatkan wajah, itu berarti saatnya aku kembali tuk mulai aktivitas. Kulangkahkan kaki, pulang mengikuti irama langkah kedua bocah pemungut sampah. Ingin rasanya cepat menyusul mereka dan mencoba menikmati kebahagiaan yang terlihat jelas di mata mereka. Tapi, ah... aku didahului oleh seorang wanita tua yang berjalan cepat meninggalkanku di belakangnya. Aku tersentak, terdiam sejenak menyaksikan pemandangan yang barusan kulihat. Lagi-lagi aku dibuat terpaku di tempatku.... Seorang wanita tua berusia hampir 60 tahun yang dipundaknya bertengger sepotong bambu berdiameter dua kepalan orang dewasa dan kira-kira 5 meter panjangnya, melaju meninggalkanku yang kebingungan hanya mengucap masyaAllah berulang kali. Begitu wanita ‘perkasa’itu melewati kedua bocah di depannya, dengan sigap sang bocah yang berada di atas gerobak yang sementara di dorong oleh temannya melompat dari dalam gerobak, dan tanpa dikomando ataupun menawarkan bantuan ia sudah berdiri di belakang wanita tua itu membantu memikul bambu yang lebih pantas dipikul oleh orang dewasa laki-laki yang bertenaga.


Aku baru tersadar setelah mereka jauh meninggalkanku, punggung-punggung yang tersisa dalam pandanganku itu begitu kokohnya. Kokoh menopang jasad agar bertahan terhadap kerasnya hidup. Kokoh menopang orang-orang di sekitar mereka dengan ikhtiar menjemput rezki yang halal. (aku kalaaaah jauuuh dari mereka... bahkan ikhtiarku pun tak nampak, ikhtiar menjemput rezki yang kulakukan selama ini adalah dengan menengadahkan kedua tangan sambil mengemis di depan kedua orang tua.... bahkan pengemispun masih punya ikhtiar. Yah.... ikhtiar dengan sebuah kaleng bekas dan baju compang-campingnya).


” Ya Allah, Engkau hidupkan kembali HambaMu hari ini tuk belajar dari mereka. Belajar ‘malu’ untuk selalu bergantung pada makhlukMu”.
Selengkapnya...

rin_iffah

Biarlah ceRita ini kubagi coz tak ada yang bersedia beRbagi cerita, tenTang haRi ini………….

Adakah yang istimewa di hari ini ????

Aku tak akan bercerita tentang ‘beliau’ yang kemarin tlah memberikan DC shock sama seorang temanku, hanya kerena hari ini menjadi ‘milik’nya. Meskipun agak sedikit salut dengan kemampuan beliau yang bisa membuat knees goes weak n stomach flip-floap, dan salut buat hari ini. Karena selama aku berada di sini, baru hari ini ruangan yang saat ini aku tempati begitu sepi, tak terdengar suara tawa lepas teman-teman yang terpantul sampai ke ruang pertemuan residen, yang tinggal hanya bisik2 tak jelas yang menyakitkan, tak ada lagi sepatu yang berhamburan di depan pintu kamar, tak ada pula baju yang tak tergantung di dalam lemari serta kertas dan buku-buku yang berhamburan di atas meja coass di ruang icu. Dan istimewanya, karena semua itu hanya terjadi di hari ini……


Whateverlah, yang pasti hari ini aku kembali menjadi penghuni icu. Memulai aktivitas yang sampai tadi pagi masih kuanggap aneh dan membosankan. Membagi jatah pasien kepada 4 temanku yang lain, memelototi monitor yang ada di samping tempat tidur tiap pasien, mengisi lembar status pasien dengan vital sign, membukakan pintu bagi pengantar konsul dengan senyum yang dipaksakan semanis mungkin setiap kali bunyi tin…ton…. Yang ditelingaku dipersepsikan sebagai bunyi nada yang mengeluarkan kata kon…..sul….. terdengar, balans cairan yang lebih sering tidak balans-nya setiap selesai dinas dan yang tak ketinggalan mengukur CVP pasien. Ah,CVP…. Yang ternyata ketika suatu saat aku berada di tempat yang tak ada icu-nya jauh di belahan dunia yang lain aku tak akan melakukannya coz its not my competition. Untunglah aku dapat tambahan ilmu tentang fluid challenge test yang bisa jadi penghibur sebagai pengganti CVP. CVP yang 6 dari 8 tujuan pengukurannya belum kudapatkan jawabannya sampai sekarang. Ada sedikit perasaan lega ketika pak chief coass membawakan kabar baik thats measurement of CVP its not our job again. Dalam hatiku berteriak SETUJUUUUU…………..

Jelang siang, Ada yang menarik di sini…….. saat aku mencoba memperhatikan mereka (pasien) satu persatu. Tidak lagi memperhatikan dari tempat dudukku sambil online tak jeLas. Tapi lebih dekat lagi. Dan lebih dekat lagi….. Pasien VIP Utama yang setiap kali aku masuk selalu diborongi dengan satu pertanyaan yang sama darinya ‘dok, sudah beRapa tahun Indonesia merdeka?’ hari ini mengucap terimakasih padaku sambil berlinang. Jantungku terasa berhenti berdetak, ah itu kan hal biasa yang sering kuterima dari pasien dan keluarganya, pikirku. Tapi hari ini, ada yang lain, terasa ucapannya begitu tulus. Tiba-tiba muncul rasa malu ‘ duuh…. Betapa sedikitnya yang aku lakukan di sini dibanding perawat2 itu’ lebih banyak ‘main’ dibanding do something for them tapi toh tetap rasa trimakasih itu masih tertuju padaku. Teringat…. Sering rasa terima kasihku kulontarkan hanya ketika kuperoleh kebaikan yang banyak.

Lain lagi dengan pasien bed 10 yang terbaring lemah dengan SNNT susp malignancy dan saat ini juga mengalami ARDS yang entah karena memang perjalanan penyakitnya ataukah didapat setelah resusitasi di icu (alasan yang terakhir ini belum kudapat evidence basenya). Aku mencoba mendekat…. Dengan suaranya yang tidak jelas dan parau post trakheostomi, aku mendengar keluhan itu; ‘dok, cabut saja semua yang ada di tubuh, saya sudah tidak kuat.’ Dezigh…..Menanggapi keluhannya aku hanya bisa berujar pelan ‘sabar ya bu….’. SABAR…. Senjata pamungkas yang aku punya untuk mereka. Ketika tak ada lagi penjelasan ilmiah yang bisa kuberikan untuk membesarkan hati. Padahal bisa jadi ketika aku mengalami hal yang sama aku tak akan mungkin sekuat ibu ini. Yah, Allah memang memberikan cobaan kepada hambaNya tidak melebihi batas kemampuan hambaNya. Dan itu pasti.

Di sampingnya, terbaring seorang pemuda yang hanya bisa bercerita tentang penderitaannya lewat hentakan-hentakan kaki serta batuknya yang keras. Yang awalnya kuanggap paling ‘merepotkan’ karena harus selalu disuction. Pasien bed 9 post trepanasi ini masih terlalu muda untuk menjadi pasien kriteria rawat ICU. Ups… ternyata usia tidak menjadi kriteria seseorang dirawat di ICU.
Ada cerita lain di bed 8. Pasien ini termasuk yang paling baik perkembangan klinisnya dibanding pasien yang lain yang telah lama di rawat di icu. Sudah tak terpasang lagi CVP line di tangannya, kesadarannya sudah mulai membaik, vital sign-nya sudah mulai stabil meskipun saturasinya masih dikacaukan oleh batuknya yang masih begitu keras (jadi teringat teguran dokter td kRn kelalaianku ^_^). Mudah-mudahan besok aku bisa melihatnya di HCU.

Dan jelang sore….. suara-suara monitor, suction, suara2 ribut perawat icu, dering telepon bahkan bunyi bel pintu pengantar konsul terdengar begitu meRdu….. setelah mereka yang selama ini sering menjadi bahan keluhan-keluhanku menampar wajahku hari ini…. Tamparan yang tak sekedar berbekas di pipi tapi begitu dalam meberikan tanda di hati. Mereka yang kelihatannya lemah, ternyata adalah orang-orang kuat. Kuat berjuang agar bisa sembuh bahkan kuat melawan maut yang siap menjemput setiap saat.

Mereka yang dengan keluarganya di luar sana berharap banyak terhadap kami yang ada di sini. Berharap kami dapat mengembalikan senyuman mereka yang tlah lama hilang, berharap kami dapat membuat orang yang mereka cintai bisa membuka mata atau sekedar mengeluarkan suara erangan yang dapat membesarkan hati mereka bahwa masih ada nafas kehidupan yang dihembuskan oleh orang yang mereka kasihi. Pantaskah harapan-harapan itu harus kami buyarkan dengan keluhan kami yang jauuuuh lebih banyak. Mengeluh mendapat jatah tidur sedikit ketika harus jaga malam di icu, mengeluh ketika dikasih jatah pasien yang banyak CVPnya. Ataukah mengeluhkan hal-hal sepele seperti dokter jaga yang ‘kurang bersahabat’.

Duuuh, selalu, kesadaran itu baru berawal ketika aku harus mengakhiri hari di bagian ini. Jelang besok, hari terakhir aku menjadi penghuni icu, aku berharap cerita tentang hari ini tak sekedar menjadi penghibur hati dan penghias mimpiku sebentar. Moga ada hal lebih yang bisa kuberikan esok, jelang detik2 take off dari dunia clerkship. Paling tidak aku telah berbagi cerita tentang hari ini,
yah….. cerita tentang hari ini.
Selengkapnya...

rin_iffah


First time memulai hari di obgyn, in d first week at Labuang Baji Hospital kesan yang tertinggal di benak adalah “i’ve got my nice day n good experience with obgyn” meskipun agak capek dengan PasBar n Observasi pasien inpartu (Syukurnya saat itu aku bukan stase di RS Pelamonia yang dengar-dengar sih coAss minggu 1 tidak dikasih kesempatan buat ‘megang’ pasBar inpartu, palingan TeEnPeEs doaNk…). Sayangnya… may be… just may be…. terlalu terlena dengan semua kesibukan, aku baru tersentak “Oh Allah, i’m in the 9th weeks Now” Aku coba merunut-runut anything i did selama malang melintang (Bukan posisi Occiput Posterior alias UUK lho yang biasa ditemukan pas PDV) di beberapa RS. LB-WS-WS-APN-Fatimah-Bhayangkara_Salewangang-Back to Fatimah Again…….. ternyata……. masih secuil ilmu about ObGyn yang bisa terserap. belum lagi mampu kukuasai ilmu APN empat minggu lalu tentang Pertolongan persalinan Normal, sekarang aku sudah harus beralih untuk mempelajari kasus kegawatdaruratan obstetri coz Tomorrow i will take my POED. Hiks…hiks….

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan itu yang selalu terjadi pada manusia, padahal ada lagi pepatah yang menyingung sifat buruk manusia ini: Keledai saja tidak Mau jatuh dalam lobang yang sama untuk kedua kalinya. Malu…… pastinya, tapi its not make me hurt trus nangis sehari semalam. oleh karena this week i MusT… Must Read My Referat, Help Me… Pembimbingku supaya cepat selesai nyusun dan bisa baca tepat waktu dan tidak terlalu lama menjadi artis di Obgyn (maksudnya???).

Satu hal yang bikin gelisah, jika sudah sampai waktunya i have to leave my life from oBgYn, masih adakah sesuatu yang berbekas sebagai bekal untuk memulai hariku nanti sebagai a new medical Doctor. jangan-jangan yang tinggal hanya kejengkelan terhadap pasien yang sering mencuri menit-menit terindah saat bermimpi di malam hari, kekesalan terhadap residen yang kadangkala sulit memaHami kondisi coAss ataukah kesibukan ‘Menggosipkan’ para calon spesialis ObgYn ini yang kadangkala bikin qt lupa kalo gosip itupun pada akhirnya sampai ke tuannya…. aduh, bikin tambah malu……..

Jika boleh make a wish, i hope i can save from oBgYn, end my day with smile, dapat penguji baik dengan nilai yang memuaskan dan yang terpenting bisa menambah kemampuan to save many people who needs my Help suatu hari nanti.

Selengkapnya...