Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan
rin_iffah

Hal yang paling tidak menyenangkan -jika tidak mau dianggap menyebalkan- dari jaga malam IGD yaitu ketika menemukan pasien yang datang dini hari dengan keluhan sepele ataukah pasien dan keluarga yang menunjukkan sikap kurang bersahabat. Keadaan semacam ini yang paling sering menguji keikhlasan juga kesabaran seorang tenaga medis untuk tetap bersikap santun dalam melayani. Seperti seorang ibu malam itu yang datang ke IGD di saat jarum jam tepat berada di angka satu dini hari. “Sakit giginya sejak kapan?” Tanya saya dengan setengah mengantuk “Dari tadi sore dok, sakitnya sih sudah berkurang karena sudah minum obat penahan nyeri tapi saya tidak bisa tidur di rumah. Jadi boleh malam ini saya tidur di sini dok?” You’ve got to be kidding me! Datang ke IGD jam segini hanya karena tidak bisa tidur di rumah dan pengen tidur di IGD? Padahal di sini jauh lebih berisik dibanding jika ibu ini memilih istirahat di rumahnya. Saya hanya bisa mengeluh dalam hati dengan tetap berusaha menunjukkan senyum yang sebenarnya sedikit dipaksakan. Terkadang, kita memutuskan merawat inapkan pasien bukan atas indikasi medis, tapi lebih karena permintaan pasien atau terlanjur tidak tegaan saat melihat pasien dan keluarganya datang jauh-jauh ke IGD membawa bantal, guling, kasur juga kipas angin dan peralatan makan seolah hendak kemping di rumah sakit. Padahal belum tentu juga setelah diperiksa, dokter akan menganjurkan pasien untuk rawat inap.

Setelah selesai menangani pasien ini, saya menuju kamar jaga bermaksud hendak beristirahat meluruskan punggung sejenak, namun tak berapa lama masuk pasien lainnya. Kali ini seorang bapak tua datang dengan meronta kesakitan memegang perutnya sambil berdiri memeluk tiang infus di samping tempat tidur. Saat saya bertanya keluhannya, si bapak malah mengomel “Dokter tidak lihat kalo saya kesakitan kayak gini?? Aduuuh dokter tolong dong pasang infus atau kasih obat apa kek. Saya ini sudah kesakitan dan tidak bisa istirahat sejak tadi pagi?” “Lah, gimana saya mau ngasih penanganan kalo saya sendiri tidak diijinkan untuk memeriksa bapak” saya menimpali dengan sedikit kesal. Bukan apa-apa, tapi sangat sulit menjaga fisik dan pikiran bisa tetap jernih saat harus melayani pasien baru di jam segini. Setelah dibujuk keluarganya beberapa saat, akhirnya bapak ini pun menyerah juga. Dia terpaksa berbaring sambil gelisah menahan sakit. Ternyata rasa sakitnya disebabkan kandung kemihnya yang penuh, biasanya dialami oleh pasien dengan hipertrofi prostat atau penyumbatan lain di saluran kemih…. “Bapak harus dipasangin kateter karena yang bikin sakit perut ini akibat kandung kemih yang penuh” saya mencoba menjelaskan. “terserah dokter saja yang penting saya bisa tidur….” Jawabnya pasrah masih dengan erangan kesakitan. Benar saja, urin yang keluar lebih dari satu liter setelah kateter terpasang. Dan tidak sampai lima menit setelahnya, pasien ini sudah mendengkur hebat. Ah, Ada-ada saja nih bapak…..

Dan ternyata, kejadian tidak menyenangkan ini tak berakhir sampai di pasien hipertrofi prostat yang sudah tertidur pulas ini. Belum sampai setengah jam saya merebahkan diri di tempat tidur, azan subuh pun berkumandang. Dengan mata yang dipaksa bertahan saya menuju kamar mandi untuk bersiap melaksanakan shalat subuh. Tiba-tiba pintu kamar jaga diketuk seseorang. Ketukannya begitu keras. Dari dalam saya berusaha menjawab dengan setengah berteriak “tunggu sebentar!” namun suara ketukan semakin keras. Lebih mirip ditendang dari luar. Cara mengetuk yang tidak biasanya. Jika perawat, mereka akan mengetuk dengan sangat hati-hati, dan kalaupun tidak ada jawaban mereka tidak akan mengetuk berulang kali. Dengan wajah yang masih mengantuk, saya terpaksa keluar dari kamar untuk membukakan pintu dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Saat pintu dibuka, di depan saya berdiri seorang bapak berusia pertengahan empat puluhan dengan postur tinggi besar, barambut acak-acakan membelalakkan mata menatap saya tajam dengan air muka yang merah padam seolah-olah ingin menelan saya hidup-hidup. Telunjukknya diarahkan tepat di wajah saya sambil berteriak keras “Dokter macam apa ini!!! Ada pasien gawat kok malah asik tidur!! Saya laporkan dokter ke direktur rumah sakit, bila perlu ke gubernur dan akan saya masukkan dokter di M***t Pos” suasana IGD yang sepi membuat suaranya menggema menghantam tiap sudut ruangan menambah tegang keadaan. Ditodong seperti itu rasa kantuk hebat yang menyerang seketika hilang entah kemana…. “Maaf pak, boleh bicaranya agak sopan? Saya ini dari semalam belum istirahat, dan barusan juga saya mau sholat subuh. Kenapa tiba2 bapak datang, gedor2 pintu dan membentak saya seperti ini” saya menjawab dengan setenang mungkin. Berusaha menjaga intonasi suara agak tidak terbawa emosi. Nyali juga sebenarnya… terlintas dipikiran hal-hal menakutkan seperti di film-film thriller. Bagaimana jika tiba-tiba bapak ini melakukan tindak kekerasan. Mana suasana sepi “Halaaaaah sholat subuh…. Tidak penting itu yang namanya hablum minallaah…. Yang penting hablum minannaaas… Tuhan juga tahu. Masak ada pasien gawat dokternya malah tidur di kamar. Anak saya di depan sudah berdarah-darah dan belum dapat obat. Saya akan laporkan dokter. Saya ini kerja di pemerintahan!” ia masih membentak dengan intonasi suara yang semakin meninggi sambil kembali mengancam “Silahkan pak, laporkan saja saya ke atasan bapak atau siapapun. Bila perlu pasang nama saya di headline semua surat kabar yang ada di kota ini, Saya tidak takut!” Saya menantang tatapan matanya kemudian berlalu menuju ruang tindakan tempat pasien yang dimaksud berada. Pikirnya mungkin saya hanya seorang perempuan, bertubuh mungil pula sehingga dengan seenaknya dibentak dan diperlakukan kasar. Duuh, sekiranya tadi tangannya sempat menyentuh saya…. 

Di ruang tindakan sudah ada dua orang perawat yang sibuk melakukan penanganan awal kepada pasien ini. “Maaf dok, kami sudah hecting situasi untuk mengurangi perdarahan, sepertinya arteri radialisnya mengalami rupture” seorang perawat menjelaskan apa yang sedang dilakukan begitu melihat saya sudah berdiri di depan mereka. Saya pandangi anak remaja laki-laki yang terbaring dengan luka robek di pergelangan tangannya. Usianya sekitar tujuh belas tahun. “Kenapa tangannya bisa robek kayak gini?” Tanya saya “Saya pukul kaca dok” jawabnya sambil terisak “Kok bisa?” “Saya berkelahi…. sama bapak” “Kamu habis minum yah?” pertanyaan saya malah dijawab dengan tangisannya yang semakin kencang. Hadeuh, ternyata masalah rumah dibawa-bawa sampai ke IGD, pake adegan ‘sinetron’ pula bapak sama anak ini. Sayapun keluar dari ruang tindakan bermaksud menuliskan resep. Sementara si bapak aneh ini masih terus mengejar saya sambil meracau tidak jelas. Kok ada yah orang seperti ini. Sudah datang meminta pertolongan malah dianya yang ngamuk-ngamuk. Ngakunya intelek, kerja di pemerintahan tapi bersikap seperti preman. Jadi teringat sama orang-orang berdasi dengan penampilan rapi di ibu kota negara sana yang konon adalah wakil rakyat tapi bermental preman yang hobinya gontok-gontokkan, banting meja-lempar kursi dan dipertontonkan di hadapan rakyat. Seketika terlintas ide ‘jahil’  untuk bikin ‘kapok’ bapak ini, yang tindakan ini saya sesalkan kemudian. Yah, masih dengan perasaan emosi, saya meresepkan obat-obatan ber’merek’ yang ditebusnya dengan harga hampir mencapai satu juta rupiah padahal obat-obatan dalam sediaan generik harganya tak seberapa. Sejak saat itu, bapak ini tidak lagi menunjukkan batang hidungnya di IGD hingga anaknya dipindahkan ke kamar operasi untuk dilakukan tindakan lebih lanjut terhadap pembuluh darah di pergelangan tangannya yang nyaris putus. 

Pagi itu, sebelum keluar dari IGD menuju tempat parkir, seorang ibu datang menghampiri saya yang ternyata adalah ibu dari pasien ‘tragedi’ subuh tadi. Ia meminta maaf atas tindakan suaminya yang tidak beretika dan berterima kasih karena bersedia menangani anaknya sehingga nyawanya bisa diselamatkan. Saya hanya bisa tersenyum, yang terlintas di pikiran saya saat itu hanya kasur empuk dan si ngengemon; bantal doraemon kesayangan yang siap menemani saya menghabiskan sisa hari di kamar sepulang nanti. Sambil mengangguk pelan sayapun berlalu meninggalkan IGD juga semua rasa sesal yang sempat menyelimuti hati. Ah, bukankah melupakan hal-hal yang menyakitkan jauh lebih menenangkan…..
Selengkapnya...

rin_iffah

Ketika seseorang memilih untuk menginjakkan kaki di dunia kesehatan, maka dia telah menyerahkan sebagian besar hidupnya kepada masyarakat. Hanya sebagian kecil darinya yang dia tinggalkan untuk keluarga, bahkan untuk dirinya sendiri.

Waktunya akan lebih banyak dihabiskan untuk orang lain dari pada untukmu sebagai suaminya atau anak-anak. Pikiran dan tenaganya akan tercurah kepada orang-orang asing yang mungkin tidak akan mengingatnya dalam setiap doa, tidak sepertimu atau orang tuanya. Kamu tahu? Dia akan lebih sering di rumah sakit daripada di rumahmu sendiri. Itu bukan karena dia menyukai rumah sakit. Rumahmu tetaplah tempat yang membayang di pelupuk matanya setiap detik dia di rumah sakit. Karena rumah sakit adalah tempat yang penuh tekanan. Jika kamu bukan tenaga kesehatan, maka tidak akan terbayangkan seperti apa rasanya hidup di sana. Jangan heran jika seringkali mereka menyebutnya “rimba raya”.

Maka ketika dia terlihat dingin dan lelah, peluklah. Peluk sampai ke dalam lubuk hatinya. Karena kamu mungkin tidak tahu bahwa pasiennya baru saja meninggal dunia, atau seniornya baru saja memarahi dan menghukumnya, atau ada pasien yang menyalahkan terapi yang dia berikan, atau rekan kerjanya yang tidak bisa diajak bekerja sama. Dengarkan ceritanya dengan sabar. Jangan lupa ceritakan juga harimu padanya. Tawarkanlah untuk berdiskusi, karena kamu lebih dia percaya daripada siapapun di dunia.

Jika kamu menikahi seorang dokter, jangan memiliki persepsi yang sama seperti kebanyakan orang, bahwa dokter pasti kaya secara materi. Sama seperti yang lain, dia akan mendaki dari bawah. Bahkan jam kerjanya di awal pendakian itu lebih banyak daripada profesi lain dengan imbalan yang pas-pasan.

Tetaplah di sisinya, sama seperti dia yang selalu berusaha ada di sisimu. Tetapi, sebanyak apapun pasiennya, kamu dan keluarga tetap menjadi prioritasnya. Dia akan menganggap dirinya sendiri sebagai dokter pribadimu. Dia akan sangat kritis terhadap apapun mengenai dirimu yang terkait dengan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Mungkin akan terdengar bawel, tapi itu adalah bentuk perhatiannya. Seorang dokter akan sangat perhatian kepada orang lain, tetapi tidak kepada dirinya sendiri. Maka tidak jarang kamu mendengar ironi tentang seorang dokter meninggal dunia karena penyakit yang sebetulnya sering ditanganinya. Dia akan mendengarkan keluhan orang lain tapi mengabaikan keluhannya sendiri. Siklus makannya akan berantakan, begitu juga dengan waktu tidur yang jumlahnya dalam jam bisa dihitung dengan satu tangan saja. Maka jadilah satu-satunya yang memperhatikan dia. Ingatkan untuk makan dan shalat, atau jika tidak sama sibuknya, bawakan makanan saat dia jaga malam. Kehadiranmu akan lebih menyenangkannya daripada makanan itu sendiri.

Jika istrimu seorang dokter, siapkah kau membaginya dengan orang lain?

Malang, 20 Oktober 2013
submitted : Nydya Parahita
Fakultas Kedokteran - Universitas Brawijaya Malang

http://kurniawangunadi.
tumblr.com/post/64847159513/ceritajika-1-jika-istrimu-seorang-dokter
Selengkapnya...

rin_iffah


Sebuah sms masuk ke inbox ku : “dok bisa minta obat flu yang ‘maut’ ?” aku hanya tersenyum, beberapa saat kemudian membalas sms tersebut : “obat flu yg paling maut; banyak minum air putih n istirahat yang cukup” dugaanku tidak meleset, selang beberapa detik sms balasan masuk : “sudah dok, tapi masih belum sembuh nih” tanpa berpikir lama aku membalas sms nya: “tunggu sampe seminggu, kalo belum sembuh baru ta kasih obat”.


Beberapa bulan sebelumnya, di tempat praktek : “masak anak saya cuma dikasih obat penurun panas dok, kalo bisa resepkan antibiotik yang paling bagus. Biasanya kalo berobat ke dokter _____________ dikasih antibiotik plus 3 macam obat lain, dan begitu diminum besoknya langsung sembuh” protes seorang ibu ketika mengetahui anaknya yang semalaman panas tinggi hanya ku resepkan satu macam obat yang itupun kalau mau bisa dibeli bebas di apotek.

Di sebuah tempat praktek, sebut saja dr. G, ketika menggantikan praktek salah seorang dokter senior yang tiap malam rata-rata kunjungan pasiennya di atas 30 orang dengan jam praktek berkisar 3-4 jam mengeluhkan rewelnya pasien yang ia periksa disaat ia tidak memberikan obat, ataupun obat tertentu yang dirasa tidak perlu diberikan, bahkan ketika obat tersebut adalah obat generik yang relatif murah ia justru diprotes sama pasien “maaf dok, biasanya saya dikasih obat harganya di atas seratus ribu, saya jadi ragu apakah saya bisa sembuh dengan dua macam obat generik ini”. Nih pasien entah semakin cerdas atau justru semakin tersesat... keluh dokter G dalam hati. Ingin sekali ia menjelaskan panjang lebar kepada pasien alasan ia memberikan obat murah meriah tersebut, tetapi begitu ia melihat arlojinya sudah menunjukkan pukul 9 malam sedang di luar pasien masih berjubel terpaksa diurungkan niatnya, mengalah.... dan kemudian menulis kembali resep sejumlah obat ‘bermerk’. Pasien pun keluar dengan senyum lebar dan perasaan puas.

Kejadian-kejadian seperti di atas bukanlah hal baru yang dialami oleh dokter ketika berhadapan dengan pasien. Ada hal menarik yang patut dicermati terkait hubungan dokter-pasien ini. Asumsi hampir sebagian besar masyarakat khususnya di Indonesia, begitu sakit segera ke dokter dan wajib hukumnya pulang dengan sekantong obat-obatan. Semakin mahal suatu obat maka semakin manjur pula obat tersebut. Itulah mengapa ketika kutegaskan kepada para mahasiswa untuk tidak ke dokter dan tidak perlu mengkonsumsi obat-obatan jika panas atau batuk baru 3 hari, mereka hanya melongo bingung setengah terheran bahkan sempat ada mahasiswa yang bertanya “kok bisa-bisanya dokter tidak menganjurkan pasien minum obat??”

Saat ini telah merebak pemahaman yang keliru pada kebanyakan masyarakat kita tentang konsep sehat-sakit serta perlunya berobat ke dokter. Hal ini biasa muncul karena kondisi panik serta tidak tega ketika melihat anak sakit, atau tidak sabar dengan sedikit penderitaan yang dialami saat terserang penyakit atau juga kuatnya keyakinan bahwa semua penyakit membutuhkan obat. Oleh karenanya menurut WHO ‘faktor pasien’ juga menjadi salah satu penyebab terjadinya Irrational Use of Medicine (IRUM). Menurut WHO, lebih dari 50% obat yang beredar di dunia (baik melalui peresepan maupun yang dijual bebas) telah digunakan dengan tidak semestinya. Nah, ketika kesalahan berpikir pasien dengan ‘memaksa’ dokter untuk meresepkan obat yang tidak perlu, justru kita akan semakin menambah presentase di atas.

Pertanyaannya apakah wajib hukumnya ketika ke dokter harus mendapatkan obat? Dalam bukunya Smart Patient, dokter Agnes menyebutkan bahwa ada dua alasan utama mengapa paradigma ‘ke dokter= dapat obat’ dikatakan tidak tepat.

Alasan pertama, obat sejatinya seperti pisau bermata dua. Bila digunakan dengan tepat dan baik, obat tersebut bisa menjadi kawan. Tapi bila tidak, ia bisa menjadi lawan atau racun dalam tubuh kita. Misalnya saja ketika kita membeli obat anti-nyeri yang bebas di jual di apotek, di kemasan obat tersebut telah tertera efek samping, jika diminum terlalu sering bisa menyebabkan perdarahan lambung dan gangguan liver. Artinya, setiap obat, sesederhana apapun ia; memiliki efek samping yang bisa berbahaya bagi tubuh kita. Namun tidak serta merta berarti kita tidak perlu minum obat ketika sakit. Ada penyakit tertentu seperti TBC yang justru tertolong penyebarannya yang sangat menular dengan mengkonsumsi antibiotik, obat-obat anestesi sangat dibutuhkan untuk menghilangkan nyeri pada saat operasi, ataukah penyakit kronis tertentu yang membutuhkan terapi obat-obatan.

Alasan kedua mengapa paradigma ‘ke dokter = dapat obat’ tidak tepat. Mungkin kita sudah sering mendengar bahwa tidak semua penyakit membutuhkan obat. Tidak ada istilah ‘a pill for every ill’ (sebutir pil untuk setiap penyakit). Kenapa? Karena dari beragam jenis penyakit, ada penyakit yang memang bisa sembuh sendiri melalui sistem pertahanan tubuh kita tanpa perlu obat. Penyakit yang disebabkan oleh virus salah satunya. Penyakit pada otot dan sendi, kegemukan, stres serta beberapa penyakit lain juga tidak memerlukan obat-obatan. Dokter biasanya hanya menyarankan untuk olahraga, membiasakan pola hidup dan makan sehat. Pemberian obat-obatan semestinya mempertimbangkan untung dan rugi. Jadi kalau memang tidak perlu dan hanya menimbulkan efek samping, buat apa minum obat???

Selain faktor pasien yang menyebabkan timbulnya penggunaan obat yang irasional, sistem praktik kedokteran di negara kita juga menjadi faktor lain. Dokter Nadesul dalam artikelnya pernah menulis bahwa di dunia ini tidak ada dokter yang dalam seharinya memeriksa ratusan pasien seperti di Indonesia. “meski dengan undang-undang kedokteran baru, jumlah klinik tempat praktik sudah mulai dibatasi, tapi kalau jumlah pasien yang diperbolehkan diperiksa masih melebihi kemampuan fisik, mental, maupun rasa sosial sang dokter, tetap saja bakal berdampak buruk pada pasien,” tulis dokter Nadesul.

Mari kita bandingkan praktik kedokteran kita dengan negara luar. Tak perlu jauh-jauh, di Singapura seorang dokter praktik dibatasi jumlah pasien nya dengan jam konsultasi rata-rata 30 menit sampai 1 jam dan hebatnya para dokter ini digaji oleh pemerintah dengan sangat layak. Dokter tidak terburu-buru melakukan pemeriksaan sehingga kemungkinan pemberian obat yang tidak rasional jauh lebih rendah, pasien pun merasa dihargai, serta puas berkonsultasi tentang penyakit yang diderita.

Di negeri tercinta ini, saking membludaknya pasien di tempat praktik, seorang dokter bahkan sudah tidak sempat memeriksa pasien dengan teliti, diagnosa penyakit yang sering tidak sempat disampaikan ke pasien, bahkan sampai penggunaan obat yang irasional sangat rentan terjadi. Masih dalam tulisan yang sama dokter Nadesul juga menyebutkan kemungkinan dokter yang melakukan tindakan seperti itu. “Di semua negara, jumlah pasien yang boleh diperiksa dalam sehari dibatasi oleh undang-undang. Itu dimungkinkan karena sistem kesehatan di negara maju dokter digaji penuh oleh pemerintah untuk bisa hidup memadai hanya dengan berpraktik di satu institusi. Dokter kita harus cari tambahan sendiri dan praktik sore hari, sebab gajinya tak memadai untuk standar profesinya. Dokter kita rela menjadi kutu loncat dari klinik ke klinik lain agar banyak meraih sabetan tambahan.”

Rasa khawatir kehilangan pasien juga menjadi faktor lain seorang dokter rela mengkombinasikan berbagai jenis obat yang tidak perlu. Akhirnya dokter meresepkan sejumlah obat yang dikenal dengan ‘obat dewa’. Beberapa jenis antibiotik, ditambah antihistamin, kortikosteroid dan vitamin menjadi senjata terampuh dari dokter yang seperti ini. Yang justru hanya akan semakin melemahkan sistem pertahanan tubuh seseorang.

Sudah saatnya kita merubah paradigma yang salah selama ini tentang dokter, pasien dan obat. Seharusnya, ketika ke dokter yang perlu kita ketahui adalah sebetulnya kita sakit apa serta cara penanganan terbaik seperti apa. Tidak mengapa kita menjadi pasien yang ‘cerewet’ karena sudah menjadi hak seorang pasien untuk bertanya sejelas mungkin tentang penyakitnya dan menjadi kewajiban seorang dokter untuk menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya. Maka ketika ke Dokter tak selamanya harus pulang membawa setumpuk obat. Dan tak perlu kecewa jika kita tidak diberikan obat saat ke dokter. Bukankah ketika kita bisa berdiskusi dengan dokter dan membawa pulang ilmu, sesungguhnya hal itupun sangat berharga???

Mari menjadi pasien cerdas. Pasien cerdas adalah pasien yang proaktif, mengetahui hak dan kewajibannya, berani bicara, bertanya, berkomunikasi efektif, mau belajar, memahami bahwa dokter bukanlah dewa yang tahu segalanya dan harus memberikan obat, mau membangun kemitraan secara aktif dengan dokter, berperan aktif dalam urusan kesehatan, berhati-hati serta teliti sebelum membeli dan meminum obat-obatan, serta bersedia menerima keputusan dan konsekuensi yang telah diputuskan.

Pasien cerdas justru sangat dibutuhkan oleh seorang dokter. Karena pasien yang cerdas dapat membuat para dokter bekerja dengan lebih baik dan profesional. Pasien cerdas dapat menjadi pengingat dan pengontrol kerja dokter, sehingga terjalin kerja sama dengan pasien untuk memutuskan terapi terbaik serta mengurangi kesalahan yang tak perlu. Bagaimanapun, dokter juga manusia yang tak luput dari salah dan lupa. Wallaahul musta’an.
Selengkapnya...

rin_iffah

“Kalo bukan anestesi, insyaAllah aku mau ngambil spesialis jantung pas ada kesempatan lanjut belajar....” ujarku kepada beberapa teman sejawat yang saat itu nimbrung dalam obrolan ringan tentang keinginan melanjutkan pendidikan spesialis. “ hmmp... dek, saat ini kamu mungkin masih berpikir idealis dengan beberapa mimpi yang ingin kamu capai. Usia mu juga masih muda.... tapi ada satu hal yang harus kamu sadari bahwa kita yang ada di sini adalah seorang perempuan yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Artinya bahwa kelak ada tanggung jawab lain yang harus kita penuhi selain tanggung jawab profesi... bukankah nanti kita akan mempunyai suami serta anak-anak yang manis dan lucu?!!...” timpal dokter yuli tanpa menoleh ke arahku. Sejak tadi ia serius membuat kreasi sulaman bunga-bunga kecil di atas sebuah jilbab mungil berwarna kuning gading. Aku hanya terdiam, sesekali mengiringi ucapannya dengan senyuman yang agak kupaksakan, dalam hati aku berujar “skak mat”.

“Makanya kenapa aku ga mau ngambil bagian besar. Aku udah pernah ngerasain, gimana anakku manggil baby sitternya dengan sebutan ‘mama’. Sedang aku dipanggil ‘tante’. Sakit banget...” dokter berambut pendek dengan kaca mata minus yang berada di samping ku mencoba menguatkan apa yang disampaikan dokter yuli barusan. “tuh kan, lagian apa sih yang sebenarnya kita cari sebagai seorang dokter?? Menjalani hidup sederhana di tengah keluarga yang harmonis, melalui hari-hari dengan melihat anak-anak tumbuh di tengah kasih sayang kedua orang tuanya adalah hal yang sangat membanggakan. Meskipun hanya dengan aktivitas pagi di rumah sakit kemudian siangnya sudah kembali ke rumah, berkumpul bersama keluarga kecil, membersihkan serta sesekali mengatur ulang perabotan di rumah sendiri menjadi hal yang tampaknya sangat menyenangkan. Kalo saya dikasih kesempatan buat lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, saya justru lebih memilih sekolah hanya sekedar untuk gelar perbaikan status yang belajarnya hanya sekali sebulan, bukan untuk mencari uang karena itu bukan tanggung jawab saya, dan memang karena saya bukan kepala keluarga...” kali ini dokter yuli begitu antusias menyampaikan pendapatnya. “tapi kan, ga semua orang ngambil spesialis karena tujuan prestise semata, ada sebagian orang yang justru mendapatkan kepuasan batin ketika dihadapkan dengan begitu banyak kesulitan dalam menyelesaikan sebuah kasus rumit, atau misalnya ketika ia mampu menyembuhkan pasien karena ilmunya yang mumpuni... atau karena memang senang memiliki liku hidup yang penuh warna” sela ku tak kalah bersemangat, tak ingin mimpiku di anggap tak ada artinya oleh mereka. “iya dek, wajar-wajar aja kamu punya mimpi seperti itu, dan semua terserah pada pilihanmu, karena tiap orang punya hak untuk memilih dan siap menerima konsekuensi dari tiap pilihan yang dibuatnya. Tapi coba bayangkan, disaat kamu lagi istirahat bersama suami tercinta tiba-tiba ada panggilan dari rumah sakit karena mendadak ada operasi. Gimana perasaan suami mu saat itu, dan gimana seharusnya kamu memposisikan diri sebagai seorang dokter anestesi tapi di sisi lain sebagai seorang isteri dari suami mu yang saat itu berbaring tepat di sampingmu...., katanya siih, agak susah lho seorang isteri melepaskan pelukan suaminya.... menurut dokter yang udah nikah nih, gimana???” kali ini dokter yuli mencoba mencari pembenaran dari seorang dokter yang jauh lebih senior sambil sesekali melempar senyum ke arahku yang jelas kelihatan salah tingkah.

“satu hal yang membuat kita menjadi dokter yang berbeda adalah karena kita seorang perempuan. Sulit dipungkiri, ketika sudah berkeluarga tiap detil mimpi, cita-cita, harapan tentang perjalanan panjang karir kedokteran kita berubah seiring dengan makin dewasanya kita menghadapi kenyataan hidup berumah tangga. Belum lagi, kita harus mengantongi izin suami untuk tiap keputusan yang akan kita ambi meskipun keputusan sepenuhnya ada di tangan kita...” dokter yang saat ini menjabat sebagai kepala IGD ini bertutur dengan bahasanya yang lembut, mencoba menyentuh sisi terdalam hatiku. Aku hanya bisa tertunduk dalam seolah-olah menjadi pesakit di antara mereka.
“waah, kayaknya rin udah mulai berubah nih, ga mau ngambil anestesi atau jantung lagi ya....” canda dokter yet yang dari tadi menyimak pembicaraan kami. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang entah ditafsirkan sebagai apa????

Subuh ini, ketika membuka inbox, aku mendapat sebuah pesan dari seorang teman (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang lebih banyak)... isi pesannya :
Kutipan dibawah ini adalah catatan Ainun Habibie pada buku Setengah Abad B J Habibie, yg dikutip ulang dari buku Habibie&Ainun :

“ Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir ; buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan kepada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orangtua kehilangan anak, dengan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan hidup pas-pasan."

(Dan ini menjadi bukti bahwa sebagian besar perempuan, berprofesi dokter sekalipun tetap menganggap dirinya punya kelemahan dan kelebihan sekaligus menjadikannya beda dengan laki-laki, bukan untuk dibeda-bedakan apatah lagi disejajarkan dalam semua aspek sebagaimana isu gender yang begitu keras berhembus dan menampar wajah perempuan-perempuan Indonesia yang perlahan mulai kehilangan jati dirinya). Wallaahul musta’an....

@ IGD di sela obrolan ringan sembari membunuh waktu yang mulai merangkak menapaki angka jam 2 siang (20/05/11).... thanks all untuk inspirasi siang-nya.

Selengkapnya...

rin_iffah


Di keping mata uang perjuangan Islam, Muhajirin dan Anshar mencetak peran agung di masing-masing sisinya. Masing-masing sisi mata uang itu ditempa dengan palu godam kesulitan, kenestapaan, rasa sakit dan air mata, lalu dikilapkan dengan kerelaan dan cinta.

Terperangah kota Qadisiyah menyaksikan pasukan Muhajirin dan Anshar menyebrangi sungai yang membatasi mereka dengan kamp pasukan Persia. Bangsa Arab yang tak mengenal air ini menjadi begitu berani, saling bergandeng tangan, berangkulan membelah Eufrat yang deras.
Cerita belum usai, ada yang lebih membuat terperangah. Rombongan besar itu tiba-tiba berhenti di tengah arus yang ganas dan semuanya membungkuk meraba-raba dalam riak. “Kantong airku! Kantong airku jatuh!”, seru salah satu anggota pasukan kaum muslimin yang kantong airnya jatuh. Hal itu membuat puluhan ribu tangan seketika mengaduk-aduk Eufrat untuk mencarinya.

Panglima Persia dan pasukannya yang sedang dag dig dug menanti di seberang dengan pedang terhunus tercekat tenggorokannya. “Hanya karena sebuah kantong air semua pasukan mengaduk-aduk sungai raksasa? Lalu bagaiman kalau salah satu dari mereka terbunuh oleh kita?”, serunya.

Ya, mereka tak pernah akan mengerti tentang ukhuwwah sebelum merasainya. Jika pedang menebas salah satu dari pasukan muslimin, yang kena pedang tak akan berteriak karena ia hanya merasakan cubitan yang mengantarnya menuju keridhaan Rabbnya. Yang justru akan berteriak adalah saudara seiman yang ada di sampingnya! “aaah!”, melengking teriakannya, “....saudaraku, engkau mendahuluiku ke surga! Engkau mendahuluiku ke surga!”

Subhanallaah!!! Persaudaraan macam apa ini, yang membagi dua apa yang dimilikinya untuk saudara seimannya sebagaimana yang ditunjukkan Sa’d ibn Ar Rabi’ kepada saudara muhajirinnya Abdurrahman bin Auf “Saudaraku, sesungguhnya aku termasuk orang berharta di Madinah ini. Aku memiliki dua buah kebun yang luas. Di antara keduanya pilihlah yang kau suka, dan ambillah untukmu. Aku juga memiliki dua rumah yang nyaman, pilihlah mana yang kau suka, tinggallah di sana. Dan aku memiliki dua orang isteri yang cantik-cantik. Lihatlah dan pilihlah salah satu diantaranya, pasti akan kuceraikan lalu kunikahkan denganmu.”
Apa gerangan yang terjadi dengan persaudaraan ini, yang mengantarkan tiga mujahid menemui Robbnya di akhir kisah Yarmuk dalam keadaan tidak meminum seteguk pun air karena mengutamakan saudaranya yang lain.

Persaudaraan itu begitu indah, namun tentu tak lepas dari ujian. Salah satu kronik menegangkan antara Muhajirin dan Anshar adalah ketika tiba masa pengangkatan khalifah setelah Rasulullah. Orang-orang Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah menyepakati pengangkatan Sa’ad ibn ‘Ubadah, pemimpin anshar yang sedang terbaring demam menggigil di pojok balai.

Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah kemudian datang ke Saqifah. Dengan fasih Abu Bakar menenangkan Anshar yang sedang di bakar ghirah. “Kami (Muhajirin) adalah para amir, dan kalian (Anshar) adalah para Wazir... maka bai’atlah Umar atau orang kepercayaan ummat ini, Abu Ubaidah!”
Umar mengepalkan tangan dan gemeretak giginya karena malu, sedang Abu Ubaidah menunduk berkeringat dingin tak mampu mengangkat kepalanya. “justru engkau yang akan kami bai’at...” kata Umar kemudian sambil menggenggam sangan sahabatnya itu.

Satu saja yang melatari kronik bersejarah ini, motif tanggung jawab kelangsungan dakwah dan kepemimpinan kaum muslimin. Anshar, penghuni kota sebelum kedatangan Muhajirin layak untuk menanggung amanah itu, tapi keutamaan Muhajirin dalam tempaan dan manajemen lebih diperlukan bagi kemashlahatan. Subhanallaah, orang-orang mulia yang bersaudara ini bisa berselisih, tapi motifnya mulia, dan berakhir juga dengan kemuliaan.

“Orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam di antara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka jannah yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.” (at Taubah 100)

(Disadur dari Buku Saksikan bahwa aku seorang muslim; Dua Bendera, Salim A Fillah dengan beberapa tambahan dan perubahan)
Selengkapnya...

rin_iffah

New lesson today: that's everyoNe _whoever they are_ they could teach us something that we never think before.

Belajar bisa saja dilakukan kapanpun dimanapun dan kepada siapapun. Itulah yang aku alami hari ini. aku belajar tentang ketulusan menerima dari para mahasiswa yang dengan polosnya memanggilku ‘ibu’ (hiks... i’m not yet too old to called me ‘ibu’) padahal kepada mereka aku pastikan bahwa proses degenerasi adalah kondisi normal yang terjadi suatu saat nanti ketika Allah menakdirkan usia kita memasuki senja. Berubannya helai demi helai rambut, mengeriputnya wajah serta mulai membungkuknya punggung. Hanya ada dua pilihan, menerima kondisi tua atau silahkan mati muda. Bukan... bukan karena aku tak siap menjadi tua, tapi hanya ingin berbagi pinta untuk bisa lebih dekat dengan mereka tanpa ada pemisah, sehingga keikhlasan itu bisa mereka dapatkan dengan aliran ilmu yang semakin menancap kuat di pikiran dan tiap detail ruang hati mereka. (i hope they will know that, one day... may be)

Aku juga belajar kepada para mutarobbiyahku (they are my students also @ Poltekkes). Yang di penghujung dhuha tadi meneror-ku untuk segera mengisi tarbiyah di tengah kesibukan mengurus pasien di ruang perawatan (subhanallaah, semangat mereka tlah menyulutku untuk semakin berbuat untuk dien ini). Mutarobbiyahku yang selalu siap dengan serbuan pertanyaan di awal, pertengahan dan akhir jumpa. Dan hari ini, ketika aku sedang memberikan taujih, terdengar suara lain di luar majelis yang mengagetkanku dan tentunya mutarobbiyahku. Pertanyaan itu muncul dari seorang jama’ah sholat zuhur yang tanpa sengaja mencuri dengar perbincangan kami. “maaf, bagaimana kalo saya mengucapkan selamat siang kepada orang non muslim apakah dibolehkan, karena hampir separuh keluarga saya adalah non-muslim....” tanpa berdosa dan penuh antusias ia memotong penjelasanku tentang hadis 9 dalam kitabul Jamii. Diskusi pun mengalir begitu indah. Seorang wanita yang belum menutup auratnya dengan sempurna, yang tak sempat kutanyakan namanya ini telah mengajarkanku untuk tak sekedar menshalihkan diri. Karena di luar sana bahkan di lingkungan terdekat denganku, lingkungan kerjaku, masih banyak yang belum paham akan dien ini.

Dan baginya kudoakan agar ia mendapatkan kebaikan majelis sebagaimana yang telah diterangkan oleh Rasulullah
shallallaahu alaihi wa sallaam: “.... seorang malaikat berkata, “Robbi, di majelis itu ada orang yang bukan dari golongan mereka, hanya bertepatan ada keperluan maka ia datang ke majelis itu”. Allah berfirman, “Mereka adalah ahli majelis yang tidak akan kecewa siapapun yang duduk membersamainya!” (Muttafaaqun alaih, dari Abu Hurairah)

Akupun belajar kepada pasien-pasienku dan keluarganya. Belajar untuk tak mengeluh dengan berbagai rintihan penderitaan yang mereka alami. Dengan serbuan pertanyaan dari keluarga pasien tentang kondisi ayah, saudara, atau anak mereka yang terbaring lemah tak berdaya. Mereka adalah ujian kesabaran terbesar yang kumiliki. karena mereka dengan segenap ketidak tahuannya hanya mencoba mencari bantuan di saat rasa sakit itu tak mampu lagi mereka kendalikan.

Dan hari ini aku pun belajar sesuatu yang tak kuduga sebelumnya. Belajar untuk tak lagi mengakrabi sesuatu yang tak pantas untuk diakrabi. Belajar untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya.... kata-kata dari seorang bapak berbadan tegap yang meminta rujukan untuk keluarganya yang sementara dirawat di rumah sakit begitu mengejutkanku “senyumnya dokter manis ya.....” astaghfirullaah, maafkan aku calon suamiku (ups, jangan-jangan dia yang akan Allah takdirkan untuk ku_dimanapun ia berada saat ini_ juga sedang menikmati sesuatu yang bukan haknya)....... sampai di sini i’m speechless. Really....

Maka sudah sepantasnya kita selalu belajar, di tiap tarikan dan hembusan nafas, di sisa usia yang semakin menua.......

Selengkapnya...

rin_iffah


Apa jadinya jika para penggerak dakwah menjalankan kereta dakwah ini dengan keterpaksaan. Berat hatinya, lemah langkahnya. Amalan dipandangnya sebagai beban padahal diwaktu yang sama ia masih mengaku sebagai aktivis dakwah. Kepada mereka kita katakan, “bukankah dakwah tidak pernah memaksa anda untuk bergabung.”

Satu catatan besar penyebab dakwah tidak berkah, karena para pengususngnya beramal dengan terpaksa. Ini adalah perkara yang tidak pernah ada pembenarannya dalam usia panjang dakwah. Dahulu, bahkan seorang Abu Dzar al-Ghifari radhiyallaahu anhu memaksakan diri untuk beramal, meskipun ia tahu kelemahannya. Dengan segenap keberanian, dihampirinya pembesar Quraisy, diserukannya pernyataan keimanan. Satu pernyataan, satu amal, yang bahkan oleh orang-orang yang lebih kuat darinya tidak terfikir untuk dilakukan. Tidak cukup sampai disitu, ketika ia menderita akibat dampak amalnya, ia kembali melakukan hal yang sama. Meskipun untuk itu, ia kembali harus pingsan dan sekujur tubuhnya lebam berdarah. Dari situlah kita belajar tentang totalitas amal dan perjuangan, bahkan kemampuan yang terbatas tetap mampu menyumbang produktivitas dalam dakwah ketika amal tersebut dihampiri dengan segenap keikhlasan dan kebanggaan. Siar abu Dzar menanamkan kekhawatiran dalam hati pembesar musyrik, bahwa Islam semakin kuat dan mereka akan semakin tidak berdaya menghadapinya.

Realita dakwah masih menggambarkan kenyataan keterpaksaan aktivis dalam mengusung amal. Masih sering terdengar ungkapan-ungkapannya dalam interaksi dakwah. “afwan deh.... ada yang lain ga”, “yah... kok saya sih, terus yang lain ngapain dong”, “ ya udah deh... tapi ga jamin optimal ya....”

Banyak hal yang perlu dievaluasi dari sikap dan karakter aktivis seperti ini. Secara umum adalah kelemahan dalam memahami dakwah. Ini secara langsung menjadi indikator orientasi, ittijah yang belum benar. Ketika dakwah diusung masih untuk tujuan lain, maka sangat mungkin komitmen yang mengiringinya parsial. Komitmen amal masih sangat bergantung kepentingan dan tujuan lain. Semakin kecil kepentingan lain yang diharapkannya, semakin kecil komitmen amalnya.

Kader dakwah yang lemah akan mudah terjerat dan merasa wajar memiliki standar ganda dalam hal tujuan. “Bukankah hidup kita di dunia, maka wajarlah kiranya mencukupkan kehidupan dunia kita selain dakwah”. Demikian mereka berargumentasi. Mereka kemudian menimbang dan menakar amal untuk kepentingan baru tersebut. Semakin jauh dari pemenuhan kepentingannya, semakin sedikitlah semangatnya dalam beramal.

Rusaknya orientasi berdampak pada rusaknya amal yang lain. Hal pertama yang paling mendasar adalah rusaknya niat. Amal jadi berpamrih. Akibatnya pengorbanan yang banyak dalam beramal dibayar Allah dengan sia-sia. Seperti indahnya warna-warni balon, namun kosong dan tak berisi apa-apa.

Sisi lain dari keterpaksaan beramal adalah mengebiri potensi diri. Kader produktif menilai setiap amal baru yang dahadapinya adalah peluang meningkatkan kualitas dan standar profesionalitas dirinya. Untuk itu ia masuk ke dalam sebuah amal dengan segenap potensi yang dimilikinya. Cara berfikirnya adalah merancang target terbaik yang mungkin dihasilkannya. Ia segera merancang ragam alternatif yang dikuasainya untuk menyelesaikan amanah amal dakwah. Lalu kita melihat hasilnya sangat produktif.

Bandingkanlah dengan kader dakwah yang masuk ke dalam amal dengan keterpaksaan. Ia langsung membangun tembok penghalang antara kreatifitas dirinya dengan amal yang ditawarkan. Ia memandang amal sebagai beban. Terhadap beban, tentu saja setiap kita berfikir untuk menghindarinya. Jika cara seperti ini yang dimiliki, maka akankah amal tersebut diselesaikan dengan maksimal.

Bertahan dengan keterpaksaan dalam menyelesaikan amal, hanyalah mengijinkan erosi produktifitas berlangsung dalam diri kita. Jika hal tersebut terus berlangsung, maka secara sadar kita mengijinkan diri kita menjadi tidak produktif.

Lebih jauh, Allah tidak akan memandang keluh kesahnya, Allah tidak akan memandang pengorbanannya, Allah juga tidak mengganjar prestasi amalnya. Kesat hatinya laksana api yang membakar tumpukan amal. Habis tak bersisa kecuali debu yang tak bernilai. Aktivis seperti ini dalam amal jama’i, adalah aktivis yang mengurangi bobot keberkahan dakwah. Ia datang dengan kelemahannya, kemudian menjalankan amal dengan keluh kesahnya serta menjadi sebab lemahnya barisan dakwah.

Perlulah kiranya kita serukan, jika kita termasuk bagian dari aktivis lemah ini, segeralah tetapkan pilihan. Hidup dan bahagialah dengan dakwah, atau silahkan menjauh dari dakwah. Karena, dakwah ini tidak akan pernah kekurangan pengusungnya.

Sesungguhnya kenikmatan bersama dakwah adalah karena kepastian jalannya dan kejelasan tujuannya. Dua hal inilah yang dikejar oleh manusia dengan membanting tulang dan menghabiskan usianya. Banyak orang yang tahu tujuan hidup tapi ragu dengan jalannya. Banyak orang yang berhadapan dengan jalan yang menurut mereka jalan kebaikan, tapi ragu dengan kebenaran tujuannya.

Lalu kita hari ini, insyaAllah berhadapan dengan jalan dan tujuan hidup yang baik. Lalu apakah yang membuat kita lemah dan menjadi tidak optimal. Ingatlah, sesungguhnya jalan dakwah juga merupakan bagian dari nikmat Allah. Terhadap nikmat kita hanya punya dua sikap; bahagia dan bersyukur atasnya, maka Allah limpahkan tambahannya. Atau kita kufur dengan nikmat tersebut, maka Allah cabut ia dari diri kita. Yang jelas bagi kita, para pengusung dakwah, cukuplah dakwah dan berkahnya sebagai kebahagiaan hidup ini. Tidak perlu lagi yang lainnya. Wallaahu a’lam.
Selengkapnya...

rin_iffah

Sejarah peradaban telah mencatat bahwa Islam hadir dengan mengangkat tinggi derajat wanita di tengah kabut yang menutupi keterbelakangan dan kebodohan perlakuan para filsuf dan masyarakat Yunani, peradaban barbar Romawi, Persia, bangsa Arab, bahkan Yahudi dan Nasrani terhadap wanita. Dalam pandangan Bangsa Yunani, wanita tak lebih dari kotoran syaitan yang tidak memiliki hak sama sekali. sedang Romawi merendahkan wanita dengan menganggap bahwa wanita hanyalah seonggok benda mati tanpa ruh. Begitupula dengan bangsa Arab yang sampai mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup ketika masih kecil. “Dan apabila salah seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuannya, hitam padamlah mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan, ataukah ia harus menguburkannya di dalam tanah hidup-hidup? Ketahuilah...! alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu!” (An Nahl 58-59)

Dan hari ini, pemikiran jahiliyah itu kembali mencuat. Pemikiran jahiliyah tidak lagi terdefinisikan sebagai keterbelakangan dan kebodohan karena lemahnya pengetahuan. Jahiliyah hari ini, hadir dengan wajah yang lebih tertata dengan baik, bersembunyi di balik wajah buram para intelektual yang mengusung nilai feminisme, liberalisme serta pluralisme. Di negeri ini para pejuang feminisme sebagian berwujud intelektual muslim berjilbab, para ilmuwan di kampus-kampus Islami yang hadir bak pahlawan kesiangan. Dengan alasan membela tokoh yang dianggap sebagai penggagas emansipasi, RA Kartini. Mereka berkicau dengan lantangnya mencoba untuk memangkas nilai-nilai kesantunan dan kelembutan seorang wanita. Padahal kartini sendiri membantah pengakuan mereka dalam surat yang beliau tulis jelang akhir hayatnya
“sudah lewat masanya.. tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, yang tiada taranya. Maafkan kami. tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang baik dan indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”(surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902)

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."

Bahkan kartini terinspirasi firman Allah " ... mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)...” (QS Al Baqarah [2]: 257) yang kelak dikenal dalam kumpulan surat-suratnya berjudul habis gelap terbitlah terang.

Kartini, diakhir hayatnya sadar bahwa Eropa bukanlah negara yang patut ditiru oleh kaumnya. Eropa sebagai kiblat kebebasan berekspresi telah menggiring para wanita pada distrorsi perilaku yang bermartabat serta keluhuran budi. Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah pembenaran perilaku tak berbudaya atas nama emansipasi? Alhasil, lahirlah ide-ide ‘merusak’ dari para penggaggas serta orang-orang yang menyebut mereka sebagai pejuang emansipasi. Mereka mencoba merancukan pemikiran serta mengotori pemuliaan Islam terhadap wanita. Mereka menganggap agama adalah doktrin kaku yang memasung hak-hak wanita. Dengan ‘kelancangan’-nya kepada Allah, mereka berani membuat-buat aturan sendiri, menyamakan pembagian waris, membolehkan wanita menjadi imam sholat jama’ah dengan makmum laki-laki, melucuti jilbab para muslimah dengan alasan tak relevan dengan globalitas masa.
Mereka bahkan pernah menggugat sebuah hadis dari Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam : “tiada yang aku lihat kekurangan dalam akal dan agama yang meruntuhkan kekokohan akal orang yang cerdik, seperti kekurangan yang dimiliki salah seorang di antara kalian”. Lalu seorang wanita yang beliau ajak bicara bertanya, ‘apa maksudnya kurang dalam akal dan agama?’ beliaupun bersabda, ‘kekurangan dalam akal adalah bahwa persaksian dua orang wanita setara dengan persaksian seorang laki-laki. Adapun kekurangan agamanya adalah, salah seorang dari kalian tidak berpuasa di beberapa hari dalam bulan Ramadhan, dan dia tidak mendirikan sholat pada beberapa waktu sholat.” (HR. Abu Dawud)

Padahal kekurangan agama dimaksud adalah kekurangan dari segi kuantitas. Dimana wanita setiap bulan mengalami haid yang jelas menyebabkannya kurangnya kuantitas puasa dan sholat. Bukan dari segi kualitas. Karena bisa kita temukan para wanita muslimah dengan kualitas ibadah yang tak kalah dengan laki-laki. Dan bagi mereka ada janji kesetaraan oleh Allah dalam kalamNya :
“Sungguh, laki-laki dan perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Alla, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab:35)

Kepada mereka yang sibuk menggugat hadis rasulullah di atas, cukuplah kita katakan bahwa hadis tersebut ditujukan kepada para mukminah seperti Aisyah radhiyallaahu anha yang menghafal ribuan hadis dari Rasulullah serta menjadi rujukan ilmu para sahabat Radhiyallaahu anhuma. Ah, untuk hal ini pun mereka tak masuk kategori.

Inilah kondisi jahiliah yang merasuki pemikiran mereka. Padahal Islam hadir menemui para wanita di bilik-bilik mereka. Mengajarkan mereka nilai sebuah kesetaraan sejati. Laki-laki dan perempuan memang berbeda dalam beberapa aspek. Tapi mereka justru setara dalam berbagai aspek. Porsi berbeda dalam beberapa aspek bukanlah menunjukan sebuah ketakadilan. Bukankah pengertian adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan bukan membagi rata sesuatu untuk dua hal yang berbeda. Maka kita dapatkan wanita adalah makhluk yang dibekali dengan kelembutan. Karena ia dipersiapkan untuk membelai anak-anaknya, menjaga dengan anugrah kasih sayang yang tersemat pada sosok lembutnya. Sedangkan laki-laki dikaruniai karakter keras dan kuat karena ia dipersiapkan menjadi pelindung bagi rumah tangganya. Mereka hadir dengan karakteristik yang berbeda bukan untuk disetarakan, tetapi untuk saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan hadir bukan untuk saling merendahkan posisi, justru mereka hadir sebagai belahan yang tak terpisahkan.
kesetaraan yang sebenarnya sudah berabad-abad silam dijelaskan dengan begitu gamblangnya oleh Allah dan Rosulnya.
Bahkan wanita adalah pemimpin di dalam rumah suaminya :
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya... seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah tangga suaminya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya....” (HR al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An Nasa’i)

Masing-masing, laki-laki dan perempuan adalah pemimpin yang pada tiap kepemimpinannya Allah takar kemampuan. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.

Dan bagi wanita beriman, terhadap ketetapan Allah atas mereka, kita ikrarkan dengan sepenuh kesadaran, Kami ridho dengan pembagian ini. Karena semua adalah kemuliaan di sisi Allah. Semulia pesan yang terukir indah dalam al-qur’an

“Dan janganlah kalian merasa iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian di antara kalian atas sebagian yang lain. Bagi para laki-laki terdapat bahagian dari apa yang mereka kerjakan, dan bagi para wanita pun terdapat bahagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” (an Nisaa’ 32)
Selengkapnya...

rin_iffah

Cara perhitungan masa subur dengan menggunakan siklus haid dikenal dengan istilah pantang berkala yang biasanya digunakan sebagai salah satu metode kontrasepsi. Prinsip dari pantang berkala ialah tidak melakukan persetubuhan pada masa subur isteri. Penentuan masa subur ini digunakan tiga patokan yaitu :

1. Masa ovulasi, terjadi 14 ± 2 hari sebelum haid yang akan datang
2. Sperma dapat membuahi dalam 48 jam setelah ejakulasi
3. Ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi.
Jadi, jika kita ingin mencegah terjadinya kehamilan maka tidak boleh melakukan hubungan intim sekurang-kurangnya 3 hari (27 jam), yaitu 48 jam sebelum ovulasi dan 24 jam sesudah ovulasi terjadi.

Cara ini kelihatannya mudah, namun pada kenyataannya sulit untuk menentukan masa ovulasi yang tepat oleh karena hanya sebagian kecil wanita yang memiliki siklus haid teratur. Banyak diantaranya yang memiliki variasi dalam siklus haid terutama pada wanita pasca melahirkan dan mejelang menopause.

Adapun cara menentukan masa aman ini yaitu pertama dengan mengetahui lama siklus haid minimal 6 bulan (6 siklus) namun ada yang mengatakan boleh 3 bulan (3 siklus). Tentukan lama siklus haid terpendek dan terpanjang. Kemudian siklus haid terpendek dikurangi 18 hari, dan siklus haid terpanjang dikurangi 11 hari. Dua angka yang diperoleh merupakan range masa subur. Dalam jangka waktu subur tersebut harus pantang berhubungan intim, sedang diluarnya merupakan masa aman. Atau bisa dilihat dengan rumus berikut :

Hari pertama masa subur = Jumlah hari terpendek – 18

Hari terakhir masa subur = Jumlah hari terpanjang - 11

Sebagai contoh, jika seorang wanita mempunyai siklus haid yang bervariasi dari 28 sampai 36 hari, maka perhitungannya ialah 28-18 = 10, dan 36-11 = 25. Pada contoh ini, kehamilan dapat terjadi pada hari ke-10 hingga hari ke- 25 dari siklus haid. Sedang masa aman ialah pada hari ke- 1-9 siklus haid, dan hari ke 26 sampai hari 9 sesudah haid yang akan datang. Umumnya, makin teratur daur haid seorang wanita, makin kecil tingkat kegagalan cara ini.

Adapun cara lain untuk menentukan masa aman ialah dengan suhu basal badan. Menjelang ovulasi suhu basal badan akan turun. Kurang lebih 24 jam sesudah ovulasi suhu basal badan akan naik lagi sampai lebih tinggi daripada suhu sebelum ovulasi. Fenomena ini dapat digunakan untuk menentukan saat ovulasi. Suhu basal badan dicatat dengan teliti setiap hari. Suhu basal badan ini adalah suhu yang diukur di waktu pagi segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas apa-apa.

Penggunaan suhu basal badan dapat meninggikan daya guna pantang berkala. Hanya saja pada beberapa keadaan seperti infeksi, ketegangan, dan waktu tidur tidak teratur dapat pula meninggikan suhu basal badan. Karena itu dianjurkan agar jangan melakukan hubungan intim sampai terlihat suhu tetap tinggi 3 pagi berturut-turut.

Menggunakan sistem kalender perlu kerjasama yang baik antara suami istri karena metode ini butuh kemauan dan disiplin pasangan dalam menjalankannya. Masa berpantang yang cukup lama akan mengakibatkan pasangan tidak bisa menanti sehingga melakukan hubungan pada waktu masih berpantang.

Sumber : Buku Teks Ilmu Kebidanan YBP-SP Jakarta, 2002
Selengkapnya...

rin_iffah


Bismillah... risalah ini terluapkan di tengah kerinduan mengenang sosok-sosok yang dahulu pernah membersamai diri di tiap derap perbaikan, di saat kuat maupun lemah.
Ketika anda bersua dengan mereka dalam lingkaran di sudut-sudut masjid, penuh kekhusyu’an, ketundukan, terhanyut dalam tiap lantunan ayat yang mengalun lembut menggetarkan serta melembabkan hati-hati mereka. Maka Janganlah dulu terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah jelmaan malaikat berjasad manusia, selalu suci dan tak pernah terjatuh dalam dosa.

Perhatikanlah mereka lebih dekat. Di sana ada akhwat berkaca mata yang ternyata agak perfeksionis. Mudah tersulut emosi ketika membiarkannya sedikit menunggu. Kemarahannya bisa terlampiaskan dengan kata-kata, memukul tembok atau justru diam seribu basa. Dan aku pernah merasakan luapan emosinya yang begitu lama. Yah, aku pernah didiamkan ber hari-hari dengan alasan yang aku tak pernah tahu. Tapi sungguh, dibalik sosok ‘keras’nya, ia pernah menangis di saat melihat dakwah di fakultasnya berjalan di tempat. Tangan kreatifnya pernah menghasilkan sebuah majalah mungil yang tak pernah terlupa sepanjang sejarah perjuangan dakwah di kampusnya. Bahkan dibalik sifatnya itu tersimpan sisi kelembutan seorang murobbiyah.... melihatnya, aku terbayang sosok sahabat Rasulullah yang mulia, Umar bin Khattab radhiyallaahu anhu.


Anda tak akan pernah membayangkan bagaimana ia mampu mengakrabi sosok lemah lembut yang ada di sampingnya. Akhwat berjilbab coklat berkulit sawo matang yang tengah tertunduk khusyuk menilai kedalaman dirinya. Ia lebih banyak diam, berbicara seperlunya. Sering sakit-sakitan menjadikan fisiknya begitu lemah, tapi tidak dengan semangat juangnya. Kadang ia bisa jauh lebih kuat menahan kantuk dalam musyawarah yang menyita waktu tidurnya di malam hari. Ia begitu menikmati tiap detik begadang syar’i yang dijalaninya. Sosok lemah itu begitu panjang ketika sujud, suaranya yang merdu menjadikannya selalu diminta menjadi imam ketika sholat berjama’ah.

Sekarang, lemparkan pandangan anda lebih jauh lagi. Apakah anda melihat akhwat berjilbab hitam berkacamata dengan frame hitam agak tebal yang perawakannya jauh lebih besar dibanding akhwat yang lain??? Suaranya agak besar, terkadang menggelegar, sebesar harapannya mengembangkan dakwah di fakultasnya. Sosok tangguh yang tergambar lewat fisiknya ternyata dikarunia kepolosan di tiap harapan dan keinginannya.

Di sana ada juga sosok yang tak bisa diam, keras kepala, ada yang begitu jujur mengekspresikan tiap rasa yang dialaminya yang tanpa sengaja rasa itu mampu melukai sesosok makhluk yang hatinya begitu rapuh, mudah terbawa perasaan ketika tersakiti dalam sebuah musyawarah pun dalam interaksi amal jama’i. Ada sosok pemalu yang di tiap kali jumpa tak ada kata yang bisa dinikmati dari lisannya, ia justru lebih banyak bergerak, berbuat di saat yang lain mulai terkulai lemah. Anda juga akan menjumpai sosok yang penuh semangat sepanjang hari, yang dengan mudahnya ia tularkan semangat itu kepada orang-orang disekitarnya.

Sosok-sosok yang secara inderawi terlihat begitu anggun, begitu tangguh, adalah juga manusia biasa yang tetap berbalut karakter khusus. Hijrahnya tak serta merta menjadikan mereka memiliki karakter yang sama yang sering tergambarkan oleh mata awam sebagai seorang akhwat dengan kesempurnaan ke’akhwatan’nya. Maka jangan pula anda melempar vonis bahwa mereka hanyalah sosok penuh dosa yang tak pantas diqudwah. Justru karakter ini terbingkai indah setelah hijrah dibawah naungan al-qur’an dan sunnah, dalam wujud yang lebih mulia, dalam dakwah dan tarbiyah.

Mereka, manusia-manusia biasa yang istiqomah dengan potensi kebaikan yang dimilikinya. Karakter khas masing-masing tak menjadikan mereka semakin terjarakkan, tetapi kecenderungan-kecenderungan yang berbeda itu menjadikan dakwah mereka penuh warna. Ada kalanya mereka lepas dalam canda, saling berbagi dalam tawa, bebas tanpa beban. Terkadang mereka bisa begitu serius dalam tiap majelis syuro. Mereka pun sering menangis bersama, mengingatkan tentang beratnya amanah, dosa, dan neraka. Di majelis kebersamaan mereka, atau di sela rehat sesaat, pun dalam lintasan perjumpaan yang singkat, mereka tetap saling mengingatkan, selalu berucap kepada sesama : “saudariku... mari sejenak kita beriman”.

Mereka, sosok-sosok tak sempurna yang tlah menjadi penggerak keshalihan, penyulut cahaya perbaikan. Mereka, yang dengan ketaksempurnaan serta segala sifat kemanusiaannya mencoba berbuat untuk diin ini. Ada sederet kata yang tak pernah mereka ucapkan kepada penerus setelahnya, tapi ketahuilah mereka tetap bersuara dalam diam, ingin berpesan dalam tiap gerak amal bahwa sungguh saat ini dan kapanpun tetaplah melihat sisi kemanusiaan mereka tanpa harus menghinakan, telusuri tiap semangat mereka tanpa sanjungan berlebihan. Merekapun kadang mengalami titik jenuh di saat berjuang, ada fragmen dimana mereka sedikit menjauh... dan ketika saat itu tiba mendekatlah, rangkul mereka dalam indahnya kebersamaan. Karena ketika anda memutuskan untuk berjuang bersama mereka, maka andapun telah siap untuk menelisik dan menikmati detail ketidaksempurnaan mereka setiap waktu.

Ketahuilah, islam memuliakan semua posisi, semua potensi.... Jikalau tak memungkinkan menjadi karang yang kokoh di tengah lautan, menjadi rumput nan lembut di tengah padang yang tak tergoyahkan dihempas angin pun tetap agung nilainya. Maka demi Allah, tidak ada halangan menjadi mulia dengan alasan tak sempurna serta potensi yang tak tersalurkan. Karena ketaksempurnaan-mu adalah penggerak keshalihan diriku, dirinya dan tiap jiwa yang merindukan cahaya surga. Wallaahul musta’an...

Selengkapnya...