Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
rin_iffah

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...” (At Tahriim 6) 

Ayat ini begitu berkesan di hati sejak pertama kali mendengarnya dengan seksama. Kesan pertama muncul saat tabligh akbar yang dibawakan oleh seorang Syaikh dari Arab Saudi yang saat itu berkunjung ke kampus kami sekitar tujuh tahun yang lalu, beliau terugugu, kehilangan kata ketika membacakan ayat ini yang diikuti dengan tangis serempak oleh peserta. Kesan yang lain saat ayat ini atau lebih tepatnya surat at Tahrim ini menjadi wasilah doa dari sang murabbiyah di majelis tarbiyah kala itu, agar saya bisa menjadi seorang thabiibah yang juga hafidzah, sebuah titik awal keinginan besar untuk menjaga ayat-ayat Al-qur’an. Bahkan saking berkesannya, sempat terpikirkan meminta kepada calon suami (suatu saat nanti) untuk mencukupkan maharnya dengan surah ini. 

Lupakan sejenak dan mari kita beranjak kepada topik yang ingin saya bahas. Da’wah keluarga terkadang menjadi prioritas yang kita letakkan pada nomor sekian di antara prioritas da’wah kita. Maka tidak heran banyak aktivis da’wah yang terkenal tangguh dan memiliki kontribusi besar di luar rumah namun tak mampu berbuat banyak atas pelanggaran syari’at yang terjadi di dalam rumahnya. Ia bisa berteriak lantang atas masalah yang menimpa kaum muslimin di negerinya bahkan di seluruh penjuru dunia, namun hanya bisa menangis perih tak mampu bersuara ketika mendapati adiknya masih belum menutup aurat dengan sempurna, kakaknya masih disibukkan dengan pacaran, dan orang tuanya masih tebelenggu oleh adat mistik yang kian menggerogoti akidah. Bahkan ia tak mampu berbuat banyak ketika pernikahan yang ia impikan justru disesaki oleh nilai-nilai jahili. Idealisme-nya terpasung hanya karena ia lupa untuk memprioritaskan berda’wah pada orang-orang terdekatnya, pada keluarganya.

Ada yang juga menarik disimak pada sebuah keluarga kecil yang suami isterinya adalah aktivis da’wah. Mereka bersatu karena niat mulia mendirikan keluarga yang tersemai benih-benih kebaikan, yang setiap nafas dalam kehidupan rumah tangganya dipenuhi ruh da’wah Ilallaah. Tapi apa yang didapati anak-anaknya dengan kondisi mereka, bisa jadi si kecil yang setiap hari membersamai abi-nya saat mengisi ta’lim, mendampingi ummi-nya dalam berbagai majelis syuraa, melakukan aktivitas sosial dan lain sebagainya justru mengeluh kepada teman sebayanya “Nanti kalau sudah besar, ga mau ah jadi kayak Abi sama Ummi. Sibuk terus... capek, ngurusin orang melulu...” Kalimat polos itu mengalir dengan ringan karena seringnya mereka menyeksamai aktivitas orang tuanya. Mereka melihat betapa orang tuanya kehabisan energi bahkan uring-uringan terhadap aktivitas da’wah yang mereka jalani. Mungkin abi dan umminya selalu menyemangati mereka dengan surga, tentang kecintaan kepada da’wah. Tapi mereka jauh lebih percaya terhadap tatapan orang tuanya, tutur kata, sorot mata dan sinar wajahnya yang seolah berkata “Nak, ummi tuh capek seharian, jangan bikin ummi marah ya..”

Tidak mudah memang menjadi orang tua. Tak semudah menyusun kalimat dalam visi pernikahan “Menjadikan rumah tangga sebagai lahan tumbuhnya generasi yang akan menegakkan panji Islam” atau tidakkah kita mendengar teguran Allah dalam KalamNya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisaa 9)

Persepsi kita tentang aktivitas da’wah yang kita jalani juga akan mempengaruhi ruh dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Maka tak heran jika seorang akhwat di’boikot’ oleh orang tuanya dari aktivitas da’wah dan tarbiyah karena nilai ujiannya yang anjlok atau tak bisa menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya, bertahun-tahun menjadi penghuni kampus dengan alasan sibuk dengan aktivitas da’wahnya. Ataukah seorang suami yang tidak mengizinkan isterinya menghadiri tarbiyah, mengikuti kegiatan da’wah karena tak mampu membereskan rumah dan anak-anaknya. Yang ketika bidadarinya itu terlalu sibuk di luar rumah justru membuat segalanya terbengkalai.

Saya begitu terkesan kepada sebagian akhwat semasa kuliah dulu yang walaupun amanahnya menggunung; pagi kuliah, siang tarbiyah, sore mengisi tarbiyah, malamnya harus mabit bermusyawarah tapi nilai-nya tak pernah di bawah A atau B dan wisuda pada waktu yang semestinya. Orang tua merekapun begitu mendukung, tak sungkan ketika diajak melihat secara langsung aktivitas da’wah anaknya dengan ikut menghadiri ta’lim, tabligh akbar dan kegiatan sejenisnya. Juga sebagian ummahat yang walaupun memiliki banyak anak, banyak amanah da’wah tetapi tetap mendapat izin dari suami-suami mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan syuraa. Suami mereka pun dengan setianya mengantar jemput tanpa merasa terbebani. Bahkan anak-anak mereka dengan bangganya berujar dengan lantang dan begitu tegasnya “Pokoknya pengen jadi kayak abi dan ummi kalo udah gede nanti!” Semua itu setelah mereka melihat semangat positif yang terpancar dari wajah abi dan umminya. Anak-anak itu benar-benar melihat ruh jihad yang menyala dan ghirah perjuangan yang terpancar dahsyat dari sorot mata abi dan umminya. Cahaya yang sebegitu kuatnya hingga merekapun melepas abi dan umminya dengan tatapan yang menyejukkan. Dan tatapan sang putra semakin menyalakan semangat di dada abi dan umminya. Semangat untuk menyelesaikan amanah-amanahnya dengan puncak ihsan. Semangat untuk semakin banyak berkontribusi bagi ummat. Semangat untuk segera kembali dan menemukan kembali penguat nyalanya di sorot mata dan mimik wajah sang mujahid kecil. Maka disitulah da’wahnya.....

Barometer keberhasilan da’wah kita tak sekedar terukur dari banyaknya kader da’wah yang mengikuti seruan kita, suksesnya kegiatan-kegiatan akbar dengan banyak peserta dan bertabur pujian. Tapi lebih dari itu, ketika rumah kita menjadi tempat yang paling nyaman di saat letih menyapa di sela-sela aktivitas da’wah yang menguras energi, yang ketika berada di luar kita selalu rindu akan suasananya yang dipenuhi lantunan ayat-ayat Allah bukan suara musik dan ribut televisi yang menyesakkan dada atau cacian serta umpatan yang menghiasi hari para penghuninya. Rumah yang kian mensurgakan peran kita sebagai mu’min sejati bukan yang menjerumuskan kita bersama penghuni lainnya ke dasar neraka. Juga (mengutip tulisan-nya ustad Salim A. Fillah) agar semangat memperbaiki negeri tidak berubah menjadi nafsu yang mengharuskan diri berkuasa, hingga lupa bahwa dari kamar tidur anak-anak, pemimpin sejati negeri ini 30 tahun mendatang sedang menanti bimbingan seorang ayah dan seorang ibunda.

Yah, karena sudah seharusnya da’wah kita berawal dari rumah. Meski tak mudah, tapi tak ada salahnya mencoba. Mari benahi. Allaahul muwaffiq.
Selengkapnya...

rin_iffah

Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga. 

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaknya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulang kali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu. 

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itupun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama. Maka ditulisnyalah surat itu memohon bertemu. Dan ia mendapat jawaban “Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya. “Maha suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, “Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.” Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. “Andai saja kau lihat aku”, katanya, “Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.” “Betapa inginnya aku”, kata si gadis, “Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.” Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. “Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. Dan penyesalan yang tak berkesudahan. Si gadis ikut tertunduk. “Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, “Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.” “Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. “Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertakwa.”

Kita cukupkan sampai di sini kisahnya. Mari kita dengar komentar Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan tentangnya. “Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. “Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketakwaan kepada Allah.” “Tapi”, kata beliau memberi catatan. “Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampur adukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syariat Allah.”

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu? “Kesalahan itu”, kata Syaikh Abdullah Nashih Ulwan memungkasi, “Telah terjadi sejak awal.” Apa itu? “Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.” Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi ini adalah da’wah dusta!

Maka berhati-hatilah terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.

Sumber : Buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A Fillah
Selengkapnya...

rin_iffah


Betapa seringnya, kita para penempuh jalan dakwah yang mulia ini menjadi resah sendiri. Di banyak tempat, kita sering menyaksikan fenomena ketidaksabaran dalam menjalani dan melewati aral, onak dan duri dalam kisah kemuliaan dakwah ini. Suatu saat, kita mendengar dan menyaksikan para pemuda Islam melakukan penghancuran dan pengrusakan atas nama jihad. Di kali yang lain, kita melihat ketidaksabaran itu mewujud dalam berbagai vonis kesesatan dan pengkafiran yang begitu mudah terucapkan atau tertuliskan. Dan di waktu yang lain, ketergesaan itu diwujudkan dalam bentuk kepercayaan diri yang berlebihan untuk memasuki dunia politik praktis; seolah itu menjadi sebuah jaminan (satu-satunya jalan) untuk mewujudkan Islam dengan seluruh perangkat komprehensifnya.

...Sekadar mengingatkan, jalan dakwah ini adalah jalan yang sangat panjang. Para penempuhnya harus memiliki persediaan kesabaran yang berlimpah untuk melewati jejak-jejaknya. Harus ada azzam yang teguh layaknya para ulul azmi dari kalangan rasul. Kelak di ujung jalan usia kita menempuh jalan dakwah itu, mungkin kita berpulang pada Allah dengan 100 pengikut, 50, 20, 5, 1, atau tanpa pengikut sama sekali. Tidak masalah. Sebab di jalan ini, yang terpenting adalah sudahkah kita menyampaikannya. Ada yang ikut atau tidak semua itu di Tangan Allah Ta'ala.

Sebaliknya, seorang penempuh jalan dakwah harus terus menjaga keikhlasan hatinya, terutama dari penyakit ghurur. Jangan tertipu dengan ramainya khalayak pengikut yang terpesona dengan dakwah anda. Jika kelak Allah menakdirkan ada puluhan ribu, bahkan jutaan kaum Muslimin hadir dalam tabligh akbar anda, maka itu adalah saat yang tepat untuk beristighfar dan berlindung dari penyakit ghurur. Yah, karena itu akan mengekang hasrat ketergesaan anda untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya belum saatnya untuk dilakukan.

... Maka lagi-lagi, kita harus berhenti sejenak untuk merenungkan skala prioritas dakwah kita. Teringatlah kita pada ungkapan hikmah yang mengatakan: "Tegakkan Negara Islam dalam dirimu, niscaya ia akan tertegak di tanah airmu." Maka seluruh upaya dakwah saat ini berpusar pada penegakan 'negara Islam' dalam pribadi-pribadi muslimin. Melahirkan pribadi yang memiliki tauhid yang murni, tanpa noda syirik dan bid'ah, sesuai jejak as-Salaf as-Shalih. Melahirkan jiwa-jiwa yang merindukan perjumpaan dengan Allah. Dan perjalanan untuk itu, sungguh masih terlalu panjang untuk sebuah negeri berpenduduk lebih dari 200 jiwa ini...

Maka sekali lagi, jangan pernah tergesa-gesa....

sumber: Majalah al bashirah

Selengkapnya...

rin_iffah


Masih dari buku Inspiring Words for Writers nya Ustadz Mohammad fauzil Adhim, kita lanjutkan kata-kata inspirasinya, check this out:

1. Sesungguhnya di antara bayan (untaian kata) adalah sihir (HR. Bukhari)

2. Kata-kata tidak bermakna. Manusialah yang memberi makna. Tetapi kata dapat mengubah jiwa manusia. Dan sesungguhnya, pada jiwa yang berubah, terletak perubahan yang niscaya bagi dunia dan kehidupan. Karenanya, hidupkanlah jiwamu setiap kali mengalirkan kata sehingga tiap goresan pena akan memiliki ruh

3. Cermatlah memilih kata karena ia dapat mengubah kegembiraan menjadi genangan air mata, atau menghapus kesedihan menjadi senyuman bahagia

4. Berawal dari kata, peristiwa besar bisa terjadi. Berawal dari kata, perubahan-perubahan mengejutkan bisa mengguncang hati. Berawal dari kata pula, seorang yang keras bisa lunak hatinya. Sebaliknya, orang baik-baik bisa berubah menjadi orang yang rusak karena mendengar, mencerna atau membaca tulisan yang merusak hati dan pikiran

5. Negara Yahudi Raya yang bernama Israel barangkali tidak akan pernah ada seandainya seorang Benyamin Se’eb alias Theodore Herzl tidak menulis sebuah buku tipis bertajuk Der Judenstaat (the Jevist State). Bersama karya fiksinya yang berjudul Altneuland (Old New Land), buku ini menginspirasi jutaan orang Yahudi untuk bergerak mendirikan negara Israel dengan merampas hak-hak orang Palestina. Hari ini, ketika hampir seluruh hajat hidup kita dikuasai oleh Yahudi, masihkah engkau sibuk bergenit-genit menulis hanya untuk mendapat tepuk tangan? Sudah saatnya menulis untuk perubahan!!!

6. Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban. Karenanya, perhatikanlah bagaimana ujung penamu bergerak

7. Sesungguhnya pengetahuan melahirkan keteraturan berbahasa, sedangkan kuatnya tujuan membangkitkan ketajaman kata

8. Bukan kecerdasan yang membuat seorang penulis menjadi besar. Kehausan pada ilmulah yang membuat setiap goresan pena menjadi penuh makna

9. Kalau tidak yakin dengan apa yang engkau tulis, bagaimana mungkin engkau menggerakkan orang yang membaca untuk bertindak?

10. Aku tidak melihat mata pisau yang lebih tajam melebihi goresan pena seorang penulis. Maka perhatikanlah ke arah mana ujung penamu membawa gejolak perubahan

11. Sebuah goresan pena tajamnya bisa melebihi seribu pedang

12. Kata-kata bijak membuat dunia terasa luas

13. Menulis bukanlah bermain kata-kata. Susunan kalimat yang indah bisa sangat membosankan kalau tidak memiliki makna yang kuat

14. Kata itu pedang. Lincahnya menggunakan karena biasa, runcingnya ujung karena terasah, tajamnya ayunan di setiap sisi karena ilmu dan hidupnya jiwa

15. Orang bilang kata ‘engkau’ lebih kasar dibanding ‘anda’. ‘aku’ terkesan sombong. Sementara kata ‘saya’ dianggap lebih netral. Tetapi benarkah demikian? Tidak. Sangat tergantung pada bagaimana merangkainya dengan kata-kata lain. Buku saya yang alhamdulillah mendapat sambutan luar biasa dari pembaca, judulnya Kupinang Engkau dengan Hamdalah. Apa yang terjadi jika saya ganti dengan “Saya Pinang Anda Dengan Hamdalah?” Kesan mesra, romantis dan penuh rindu, hilang seketika. Apalagi kalau diganti menjadi “Saya Meminang Saudara Dengan Ucapan Alhamdulillahi Rabbil Alamin”. Kesannya persis rapat dinas pejabat pemerintah.

16. Ambillah beberapa judul buku dan cobalah ganti satu atau dua kata yang dipakai dengan kata-kata yang semakna. Sesudah itu, rasakan bedanya. Ambillah beberapa kalimat di media massa, sesudah itu utak-atik kalimatnya dengan tetap menjaga maknanya. Dan.... rasakan bedanya. Buatlah beberapa kalimat ringkas. Tiap-tiap kalimat, ubah dalam beberapa versi. Temukan kekuatan masing-masing.

17. Baca karya besar yang berpengaruh dan tuliskan kembali seperti gaya penulis tersebut. Ulangi dan ulangi lagi. Bacalah karya penulis yang sama, dan sekali lagi menulislah dengan gayanya. Sesudah itu, ambillah karya besar lainnya dan lakukan proses yang sama.

18. Tuliskan kata-kata milikmu dan rasakanlah! Tajamkan penamu dan runcingkan ujungnya. Dan hitunglah kekuatan setiap kata yang engkau goreskan. Lihat beda tiap-tiap kata disebabkan cara menempatkannya maupun tingkat rasanya.

Masih bersambung, insyaAllah
Selengkapnya...

rin_iffah


Di keping mata uang perjuangan Islam, Muhajirin dan Anshar mencetak peran agung di masing-masing sisinya. Masing-masing sisi mata uang itu ditempa dengan palu godam kesulitan, kenestapaan, rasa sakit dan air mata, lalu dikilapkan dengan kerelaan dan cinta.

Terperangah kota Qadisiyah menyaksikan pasukan Muhajirin dan Anshar menyebrangi sungai yang membatasi mereka dengan kamp pasukan Persia. Bangsa Arab yang tak mengenal air ini menjadi begitu berani, saling bergandeng tangan, berangkulan membelah Eufrat yang deras.
Cerita belum usai, ada yang lebih membuat terperangah. Rombongan besar itu tiba-tiba berhenti di tengah arus yang ganas dan semuanya membungkuk meraba-raba dalam riak. “Kantong airku! Kantong airku jatuh!”, seru salah satu anggota pasukan kaum muslimin yang kantong airnya jatuh. Hal itu membuat puluhan ribu tangan seketika mengaduk-aduk Eufrat untuk mencarinya.

Panglima Persia dan pasukannya yang sedang dag dig dug menanti di seberang dengan pedang terhunus tercekat tenggorokannya. “Hanya karena sebuah kantong air semua pasukan mengaduk-aduk sungai raksasa? Lalu bagaiman kalau salah satu dari mereka terbunuh oleh kita?”, serunya.

Ya, mereka tak pernah akan mengerti tentang ukhuwwah sebelum merasainya. Jika pedang menebas salah satu dari pasukan muslimin, yang kena pedang tak akan berteriak karena ia hanya merasakan cubitan yang mengantarnya menuju keridhaan Rabbnya. Yang justru akan berteriak adalah saudara seiman yang ada di sampingnya! “aaah!”, melengking teriakannya, “....saudaraku, engkau mendahuluiku ke surga! Engkau mendahuluiku ke surga!”

Subhanallaah!!! Persaudaraan macam apa ini, yang membagi dua apa yang dimilikinya untuk saudara seimannya sebagaimana yang ditunjukkan Sa’d ibn Ar Rabi’ kepada saudara muhajirinnya Abdurrahman bin Auf “Saudaraku, sesungguhnya aku termasuk orang berharta di Madinah ini. Aku memiliki dua buah kebun yang luas. Di antara keduanya pilihlah yang kau suka, dan ambillah untukmu. Aku juga memiliki dua rumah yang nyaman, pilihlah mana yang kau suka, tinggallah di sana. Dan aku memiliki dua orang isteri yang cantik-cantik. Lihatlah dan pilihlah salah satu diantaranya, pasti akan kuceraikan lalu kunikahkan denganmu.”
Apa gerangan yang terjadi dengan persaudaraan ini, yang mengantarkan tiga mujahid menemui Robbnya di akhir kisah Yarmuk dalam keadaan tidak meminum seteguk pun air karena mengutamakan saudaranya yang lain.

Persaudaraan itu begitu indah, namun tentu tak lepas dari ujian. Salah satu kronik menegangkan antara Muhajirin dan Anshar adalah ketika tiba masa pengangkatan khalifah setelah Rasulullah. Orang-orang Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah menyepakati pengangkatan Sa’ad ibn ‘Ubadah, pemimpin anshar yang sedang terbaring demam menggigil di pojok balai.

Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah kemudian datang ke Saqifah. Dengan fasih Abu Bakar menenangkan Anshar yang sedang di bakar ghirah. “Kami (Muhajirin) adalah para amir, dan kalian (Anshar) adalah para Wazir... maka bai’atlah Umar atau orang kepercayaan ummat ini, Abu Ubaidah!”
Umar mengepalkan tangan dan gemeretak giginya karena malu, sedang Abu Ubaidah menunduk berkeringat dingin tak mampu mengangkat kepalanya. “justru engkau yang akan kami bai’at...” kata Umar kemudian sambil menggenggam sangan sahabatnya itu.

Satu saja yang melatari kronik bersejarah ini, motif tanggung jawab kelangsungan dakwah dan kepemimpinan kaum muslimin. Anshar, penghuni kota sebelum kedatangan Muhajirin layak untuk menanggung amanah itu, tapi keutamaan Muhajirin dalam tempaan dan manajemen lebih diperlukan bagi kemashlahatan. Subhanallaah, orang-orang mulia yang bersaudara ini bisa berselisih, tapi motifnya mulia, dan berakhir juga dengan kemuliaan.

“Orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam di antara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka jannah yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.” (at Taubah 100)

(Disadur dari Buku Saksikan bahwa aku seorang muslim; Dua Bendera, Salim A Fillah dengan beberapa tambahan dan perubahan)
Selengkapnya...

rin_iffah

New lesson today: that's everyoNe _whoever they are_ they could teach us something that we never think before.

Belajar bisa saja dilakukan kapanpun dimanapun dan kepada siapapun. Itulah yang aku alami hari ini. aku belajar tentang ketulusan menerima dari para mahasiswa yang dengan polosnya memanggilku ‘ibu’ (hiks... i’m not yet too old to called me ‘ibu’) padahal kepada mereka aku pastikan bahwa proses degenerasi adalah kondisi normal yang terjadi suatu saat nanti ketika Allah menakdirkan usia kita memasuki senja. Berubannya helai demi helai rambut, mengeriputnya wajah serta mulai membungkuknya punggung. Hanya ada dua pilihan, menerima kondisi tua atau silahkan mati muda. Bukan... bukan karena aku tak siap menjadi tua, tapi hanya ingin berbagi pinta untuk bisa lebih dekat dengan mereka tanpa ada pemisah, sehingga keikhlasan itu bisa mereka dapatkan dengan aliran ilmu yang semakin menancap kuat di pikiran dan tiap detail ruang hati mereka. (i hope they will know that, one day... may be)

Aku juga belajar kepada para mutarobbiyahku (they are my students also @ Poltekkes). Yang di penghujung dhuha tadi meneror-ku untuk segera mengisi tarbiyah di tengah kesibukan mengurus pasien di ruang perawatan (subhanallaah, semangat mereka tlah menyulutku untuk semakin berbuat untuk dien ini). Mutarobbiyahku yang selalu siap dengan serbuan pertanyaan di awal, pertengahan dan akhir jumpa. Dan hari ini, ketika aku sedang memberikan taujih, terdengar suara lain di luar majelis yang mengagetkanku dan tentunya mutarobbiyahku. Pertanyaan itu muncul dari seorang jama’ah sholat zuhur yang tanpa sengaja mencuri dengar perbincangan kami. “maaf, bagaimana kalo saya mengucapkan selamat siang kepada orang non muslim apakah dibolehkan, karena hampir separuh keluarga saya adalah non-muslim....” tanpa berdosa dan penuh antusias ia memotong penjelasanku tentang hadis 9 dalam kitabul Jamii. Diskusi pun mengalir begitu indah. Seorang wanita yang belum menutup auratnya dengan sempurna, yang tak sempat kutanyakan namanya ini telah mengajarkanku untuk tak sekedar menshalihkan diri. Karena di luar sana bahkan di lingkungan terdekat denganku, lingkungan kerjaku, masih banyak yang belum paham akan dien ini.

Dan baginya kudoakan agar ia mendapatkan kebaikan majelis sebagaimana yang telah diterangkan oleh Rasulullah
shallallaahu alaihi wa sallaam: “.... seorang malaikat berkata, “Robbi, di majelis itu ada orang yang bukan dari golongan mereka, hanya bertepatan ada keperluan maka ia datang ke majelis itu”. Allah berfirman, “Mereka adalah ahli majelis yang tidak akan kecewa siapapun yang duduk membersamainya!” (Muttafaaqun alaih, dari Abu Hurairah)

Akupun belajar kepada pasien-pasienku dan keluarganya. Belajar untuk tak mengeluh dengan berbagai rintihan penderitaan yang mereka alami. Dengan serbuan pertanyaan dari keluarga pasien tentang kondisi ayah, saudara, atau anak mereka yang terbaring lemah tak berdaya. Mereka adalah ujian kesabaran terbesar yang kumiliki. karena mereka dengan segenap ketidak tahuannya hanya mencoba mencari bantuan di saat rasa sakit itu tak mampu lagi mereka kendalikan.

Dan hari ini aku pun belajar sesuatu yang tak kuduga sebelumnya. Belajar untuk tak lagi mengakrabi sesuatu yang tak pantas untuk diakrabi. Belajar untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya.... kata-kata dari seorang bapak berbadan tegap yang meminta rujukan untuk keluarganya yang sementara dirawat di rumah sakit begitu mengejutkanku “senyumnya dokter manis ya.....” astaghfirullaah, maafkan aku calon suamiku (ups, jangan-jangan dia yang akan Allah takdirkan untuk ku_dimanapun ia berada saat ini_ juga sedang menikmati sesuatu yang bukan haknya)....... sampai di sini i’m speechless. Really....

Maka sudah sepantasnya kita selalu belajar, di tiap tarikan dan hembusan nafas, di sisa usia yang semakin menua.......

Selengkapnya...

rin_iffah


Apa jadinya jika para penggerak dakwah menjalankan kereta dakwah ini dengan keterpaksaan. Berat hatinya, lemah langkahnya. Amalan dipandangnya sebagai beban padahal diwaktu yang sama ia masih mengaku sebagai aktivis dakwah. Kepada mereka kita katakan, “bukankah dakwah tidak pernah memaksa anda untuk bergabung.”

Satu catatan besar penyebab dakwah tidak berkah, karena para pengususngnya beramal dengan terpaksa. Ini adalah perkara yang tidak pernah ada pembenarannya dalam usia panjang dakwah. Dahulu, bahkan seorang Abu Dzar al-Ghifari radhiyallaahu anhu memaksakan diri untuk beramal, meskipun ia tahu kelemahannya. Dengan segenap keberanian, dihampirinya pembesar Quraisy, diserukannya pernyataan keimanan. Satu pernyataan, satu amal, yang bahkan oleh orang-orang yang lebih kuat darinya tidak terfikir untuk dilakukan. Tidak cukup sampai disitu, ketika ia menderita akibat dampak amalnya, ia kembali melakukan hal yang sama. Meskipun untuk itu, ia kembali harus pingsan dan sekujur tubuhnya lebam berdarah. Dari situlah kita belajar tentang totalitas amal dan perjuangan, bahkan kemampuan yang terbatas tetap mampu menyumbang produktivitas dalam dakwah ketika amal tersebut dihampiri dengan segenap keikhlasan dan kebanggaan. Siar abu Dzar menanamkan kekhawatiran dalam hati pembesar musyrik, bahwa Islam semakin kuat dan mereka akan semakin tidak berdaya menghadapinya.

Realita dakwah masih menggambarkan kenyataan keterpaksaan aktivis dalam mengusung amal. Masih sering terdengar ungkapan-ungkapannya dalam interaksi dakwah. “afwan deh.... ada yang lain ga”, “yah... kok saya sih, terus yang lain ngapain dong”, “ ya udah deh... tapi ga jamin optimal ya....”

Banyak hal yang perlu dievaluasi dari sikap dan karakter aktivis seperti ini. Secara umum adalah kelemahan dalam memahami dakwah. Ini secara langsung menjadi indikator orientasi, ittijah yang belum benar. Ketika dakwah diusung masih untuk tujuan lain, maka sangat mungkin komitmen yang mengiringinya parsial. Komitmen amal masih sangat bergantung kepentingan dan tujuan lain. Semakin kecil kepentingan lain yang diharapkannya, semakin kecil komitmen amalnya.

Kader dakwah yang lemah akan mudah terjerat dan merasa wajar memiliki standar ganda dalam hal tujuan. “Bukankah hidup kita di dunia, maka wajarlah kiranya mencukupkan kehidupan dunia kita selain dakwah”. Demikian mereka berargumentasi. Mereka kemudian menimbang dan menakar amal untuk kepentingan baru tersebut. Semakin jauh dari pemenuhan kepentingannya, semakin sedikitlah semangatnya dalam beramal.

Rusaknya orientasi berdampak pada rusaknya amal yang lain. Hal pertama yang paling mendasar adalah rusaknya niat. Amal jadi berpamrih. Akibatnya pengorbanan yang banyak dalam beramal dibayar Allah dengan sia-sia. Seperti indahnya warna-warni balon, namun kosong dan tak berisi apa-apa.

Sisi lain dari keterpaksaan beramal adalah mengebiri potensi diri. Kader produktif menilai setiap amal baru yang dahadapinya adalah peluang meningkatkan kualitas dan standar profesionalitas dirinya. Untuk itu ia masuk ke dalam sebuah amal dengan segenap potensi yang dimilikinya. Cara berfikirnya adalah merancang target terbaik yang mungkin dihasilkannya. Ia segera merancang ragam alternatif yang dikuasainya untuk menyelesaikan amanah amal dakwah. Lalu kita melihat hasilnya sangat produktif.

Bandingkanlah dengan kader dakwah yang masuk ke dalam amal dengan keterpaksaan. Ia langsung membangun tembok penghalang antara kreatifitas dirinya dengan amal yang ditawarkan. Ia memandang amal sebagai beban. Terhadap beban, tentu saja setiap kita berfikir untuk menghindarinya. Jika cara seperti ini yang dimiliki, maka akankah amal tersebut diselesaikan dengan maksimal.

Bertahan dengan keterpaksaan dalam menyelesaikan amal, hanyalah mengijinkan erosi produktifitas berlangsung dalam diri kita. Jika hal tersebut terus berlangsung, maka secara sadar kita mengijinkan diri kita menjadi tidak produktif.

Lebih jauh, Allah tidak akan memandang keluh kesahnya, Allah tidak akan memandang pengorbanannya, Allah juga tidak mengganjar prestasi amalnya. Kesat hatinya laksana api yang membakar tumpukan amal. Habis tak bersisa kecuali debu yang tak bernilai. Aktivis seperti ini dalam amal jama’i, adalah aktivis yang mengurangi bobot keberkahan dakwah. Ia datang dengan kelemahannya, kemudian menjalankan amal dengan keluh kesahnya serta menjadi sebab lemahnya barisan dakwah.

Perlulah kiranya kita serukan, jika kita termasuk bagian dari aktivis lemah ini, segeralah tetapkan pilihan. Hidup dan bahagialah dengan dakwah, atau silahkan menjauh dari dakwah. Karena, dakwah ini tidak akan pernah kekurangan pengusungnya.

Sesungguhnya kenikmatan bersama dakwah adalah karena kepastian jalannya dan kejelasan tujuannya. Dua hal inilah yang dikejar oleh manusia dengan membanting tulang dan menghabiskan usianya. Banyak orang yang tahu tujuan hidup tapi ragu dengan jalannya. Banyak orang yang berhadapan dengan jalan yang menurut mereka jalan kebaikan, tapi ragu dengan kebenaran tujuannya.

Lalu kita hari ini, insyaAllah berhadapan dengan jalan dan tujuan hidup yang baik. Lalu apakah yang membuat kita lemah dan menjadi tidak optimal. Ingatlah, sesungguhnya jalan dakwah juga merupakan bagian dari nikmat Allah. Terhadap nikmat kita hanya punya dua sikap; bahagia dan bersyukur atasnya, maka Allah limpahkan tambahannya. Atau kita kufur dengan nikmat tersebut, maka Allah cabut ia dari diri kita. Yang jelas bagi kita, para pengusung dakwah, cukuplah dakwah dan berkahnya sebagai kebahagiaan hidup ini. Tidak perlu lagi yang lainnya. Wallaahu a’lam.
Selengkapnya...

rin_iffah

Sejarah peradaban telah mencatat bahwa Islam hadir dengan mengangkat tinggi derajat wanita di tengah kabut yang menutupi keterbelakangan dan kebodohan perlakuan para filsuf dan masyarakat Yunani, peradaban barbar Romawi, Persia, bangsa Arab, bahkan Yahudi dan Nasrani terhadap wanita. Dalam pandangan Bangsa Yunani, wanita tak lebih dari kotoran syaitan yang tidak memiliki hak sama sekali. sedang Romawi merendahkan wanita dengan menganggap bahwa wanita hanyalah seonggok benda mati tanpa ruh. Begitupula dengan bangsa Arab yang sampai mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup ketika masih kecil. “Dan apabila salah seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuannya, hitam padamlah mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan, ataukah ia harus menguburkannya di dalam tanah hidup-hidup? Ketahuilah...! alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu!” (An Nahl 58-59)

Dan hari ini, pemikiran jahiliyah itu kembali mencuat. Pemikiran jahiliyah tidak lagi terdefinisikan sebagai keterbelakangan dan kebodohan karena lemahnya pengetahuan. Jahiliyah hari ini, hadir dengan wajah yang lebih tertata dengan baik, bersembunyi di balik wajah buram para intelektual yang mengusung nilai feminisme, liberalisme serta pluralisme. Di negeri ini para pejuang feminisme sebagian berwujud intelektual muslim berjilbab, para ilmuwan di kampus-kampus Islami yang hadir bak pahlawan kesiangan. Dengan alasan membela tokoh yang dianggap sebagai penggagas emansipasi, RA Kartini. Mereka berkicau dengan lantangnya mencoba untuk memangkas nilai-nilai kesantunan dan kelembutan seorang wanita. Padahal kartini sendiri membantah pengakuan mereka dalam surat yang beliau tulis jelang akhir hayatnya
“sudah lewat masanya.. tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, yang tiada taranya. Maafkan kami. tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang baik dan indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”(surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902)

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."

Bahkan kartini terinspirasi firman Allah " ... mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)...” (QS Al Baqarah [2]: 257) yang kelak dikenal dalam kumpulan surat-suratnya berjudul habis gelap terbitlah terang.

Kartini, diakhir hayatnya sadar bahwa Eropa bukanlah negara yang patut ditiru oleh kaumnya. Eropa sebagai kiblat kebebasan berekspresi telah menggiring para wanita pada distrorsi perilaku yang bermartabat serta keluhuran budi. Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah pembenaran perilaku tak berbudaya atas nama emansipasi? Alhasil, lahirlah ide-ide ‘merusak’ dari para penggaggas serta orang-orang yang menyebut mereka sebagai pejuang emansipasi. Mereka mencoba merancukan pemikiran serta mengotori pemuliaan Islam terhadap wanita. Mereka menganggap agama adalah doktrin kaku yang memasung hak-hak wanita. Dengan ‘kelancangan’-nya kepada Allah, mereka berani membuat-buat aturan sendiri, menyamakan pembagian waris, membolehkan wanita menjadi imam sholat jama’ah dengan makmum laki-laki, melucuti jilbab para muslimah dengan alasan tak relevan dengan globalitas masa.
Mereka bahkan pernah menggugat sebuah hadis dari Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam : “tiada yang aku lihat kekurangan dalam akal dan agama yang meruntuhkan kekokohan akal orang yang cerdik, seperti kekurangan yang dimiliki salah seorang di antara kalian”. Lalu seorang wanita yang beliau ajak bicara bertanya, ‘apa maksudnya kurang dalam akal dan agama?’ beliaupun bersabda, ‘kekurangan dalam akal adalah bahwa persaksian dua orang wanita setara dengan persaksian seorang laki-laki. Adapun kekurangan agamanya adalah, salah seorang dari kalian tidak berpuasa di beberapa hari dalam bulan Ramadhan, dan dia tidak mendirikan sholat pada beberapa waktu sholat.” (HR. Abu Dawud)

Padahal kekurangan agama dimaksud adalah kekurangan dari segi kuantitas. Dimana wanita setiap bulan mengalami haid yang jelas menyebabkannya kurangnya kuantitas puasa dan sholat. Bukan dari segi kualitas. Karena bisa kita temukan para wanita muslimah dengan kualitas ibadah yang tak kalah dengan laki-laki. Dan bagi mereka ada janji kesetaraan oleh Allah dalam kalamNya :
“Sungguh, laki-laki dan perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Alla, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab:35)

Kepada mereka yang sibuk menggugat hadis rasulullah di atas, cukuplah kita katakan bahwa hadis tersebut ditujukan kepada para mukminah seperti Aisyah radhiyallaahu anha yang menghafal ribuan hadis dari Rasulullah serta menjadi rujukan ilmu para sahabat Radhiyallaahu anhuma. Ah, untuk hal ini pun mereka tak masuk kategori.

Inilah kondisi jahiliah yang merasuki pemikiran mereka. Padahal Islam hadir menemui para wanita di bilik-bilik mereka. Mengajarkan mereka nilai sebuah kesetaraan sejati. Laki-laki dan perempuan memang berbeda dalam beberapa aspek. Tapi mereka justru setara dalam berbagai aspek. Porsi berbeda dalam beberapa aspek bukanlah menunjukan sebuah ketakadilan. Bukankah pengertian adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan bukan membagi rata sesuatu untuk dua hal yang berbeda. Maka kita dapatkan wanita adalah makhluk yang dibekali dengan kelembutan. Karena ia dipersiapkan untuk membelai anak-anaknya, menjaga dengan anugrah kasih sayang yang tersemat pada sosok lembutnya. Sedangkan laki-laki dikaruniai karakter keras dan kuat karena ia dipersiapkan menjadi pelindung bagi rumah tangganya. Mereka hadir dengan karakteristik yang berbeda bukan untuk disetarakan, tetapi untuk saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan hadir bukan untuk saling merendahkan posisi, justru mereka hadir sebagai belahan yang tak terpisahkan.
kesetaraan yang sebenarnya sudah berabad-abad silam dijelaskan dengan begitu gamblangnya oleh Allah dan Rosulnya.
Bahkan wanita adalah pemimpin di dalam rumah suaminya :
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya... seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah tangga suaminya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya....” (HR al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An Nasa’i)

Masing-masing, laki-laki dan perempuan adalah pemimpin yang pada tiap kepemimpinannya Allah takar kemampuan. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.

Dan bagi wanita beriman, terhadap ketetapan Allah atas mereka, kita ikrarkan dengan sepenuh kesadaran, Kami ridho dengan pembagian ini. Karena semua adalah kemuliaan di sisi Allah. Semulia pesan yang terukir indah dalam al-qur’an

“Dan janganlah kalian merasa iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian di antara kalian atas sebagian yang lain. Bagi para laki-laki terdapat bahagian dari apa yang mereka kerjakan, dan bagi para wanita pun terdapat bahagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” (an Nisaa’ 32)
Selengkapnya...

rin_iffah

Cara perhitungan masa subur dengan menggunakan siklus haid dikenal dengan istilah pantang berkala yang biasanya digunakan sebagai salah satu metode kontrasepsi. Prinsip dari pantang berkala ialah tidak melakukan persetubuhan pada masa subur isteri. Penentuan masa subur ini digunakan tiga patokan yaitu :

1. Masa ovulasi, terjadi 14 ± 2 hari sebelum haid yang akan datang
2. Sperma dapat membuahi dalam 48 jam setelah ejakulasi
3. Ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi.
Jadi, jika kita ingin mencegah terjadinya kehamilan maka tidak boleh melakukan hubungan intim sekurang-kurangnya 3 hari (27 jam), yaitu 48 jam sebelum ovulasi dan 24 jam sesudah ovulasi terjadi.

Cara ini kelihatannya mudah, namun pada kenyataannya sulit untuk menentukan masa ovulasi yang tepat oleh karena hanya sebagian kecil wanita yang memiliki siklus haid teratur. Banyak diantaranya yang memiliki variasi dalam siklus haid terutama pada wanita pasca melahirkan dan mejelang menopause.

Adapun cara menentukan masa aman ini yaitu pertama dengan mengetahui lama siklus haid minimal 6 bulan (6 siklus) namun ada yang mengatakan boleh 3 bulan (3 siklus). Tentukan lama siklus haid terpendek dan terpanjang. Kemudian siklus haid terpendek dikurangi 18 hari, dan siklus haid terpanjang dikurangi 11 hari. Dua angka yang diperoleh merupakan range masa subur. Dalam jangka waktu subur tersebut harus pantang berhubungan intim, sedang diluarnya merupakan masa aman. Atau bisa dilihat dengan rumus berikut :

Hari pertama masa subur = Jumlah hari terpendek – 18

Hari terakhir masa subur = Jumlah hari terpanjang - 11

Sebagai contoh, jika seorang wanita mempunyai siklus haid yang bervariasi dari 28 sampai 36 hari, maka perhitungannya ialah 28-18 = 10, dan 36-11 = 25. Pada contoh ini, kehamilan dapat terjadi pada hari ke-10 hingga hari ke- 25 dari siklus haid. Sedang masa aman ialah pada hari ke- 1-9 siklus haid, dan hari ke 26 sampai hari 9 sesudah haid yang akan datang. Umumnya, makin teratur daur haid seorang wanita, makin kecil tingkat kegagalan cara ini.

Adapun cara lain untuk menentukan masa aman ialah dengan suhu basal badan. Menjelang ovulasi suhu basal badan akan turun. Kurang lebih 24 jam sesudah ovulasi suhu basal badan akan naik lagi sampai lebih tinggi daripada suhu sebelum ovulasi. Fenomena ini dapat digunakan untuk menentukan saat ovulasi. Suhu basal badan dicatat dengan teliti setiap hari. Suhu basal badan ini adalah suhu yang diukur di waktu pagi segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas apa-apa.

Penggunaan suhu basal badan dapat meninggikan daya guna pantang berkala. Hanya saja pada beberapa keadaan seperti infeksi, ketegangan, dan waktu tidur tidak teratur dapat pula meninggikan suhu basal badan. Karena itu dianjurkan agar jangan melakukan hubungan intim sampai terlihat suhu tetap tinggi 3 pagi berturut-turut.

Menggunakan sistem kalender perlu kerjasama yang baik antara suami istri karena metode ini butuh kemauan dan disiplin pasangan dalam menjalankannya. Masa berpantang yang cukup lama akan mengakibatkan pasangan tidak bisa menanti sehingga melakukan hubungan pada waktu masih berpantang.

Sumber : Buku Teks Ilmu Kebidanan YBP-SP Jakarta, 2002
Selengkapnya...

rin_iffah


Bismillah... risalah ini terluapkan di tengah kerinduan mengenang sosok-sosok yang dahulu pernah membersamai diri di tiap derap perbaikan, di saat kuat maupun lemah.
Ketika anda bersua dengan mereka dalam lingkaran di sudut-sudut masjid, penuh kekhusyu’an, ketundukan, terhanyut dalam tiap lantunan ayat yang mengalun lembut menggetarkan serta melembabkan hati-hati mereka. Maka Janganlah dulu terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah jelmaan malaikat berjasad manusia, selalu suci dan tak pernah terjatuh dalam dosa.

Perhatikanlah mereka lebih dekat. Di sana ada akhwat berkaca mata yang ternyata agak perfeksionis. Mudah tersulut emosi ketika membiarkannya sedikit menunggu. Kemarahannya bisa terlampiaskan dengan kata-kata, memukul tembok atau justru diam seribu basa. Dan aku pernah merasakan luapan emosinya yang begitu lama. Yah, aku pernah didiamkan ber hari-hari dengan alasan yang aku tak pernah tahu. Tapi sungguh, dibalik sosok ‘keras’nya, ia pernah menangis di saat melihat dakwah di fakultasnya berjalan di tempat. Tangan kreatifnya pernah menghasilkan sebuah majalah mungil yang tak pernah terlupa sepanjang sejarah perjuangan dakwah di kampusnya. Bahkan dibalik sifatnya itu tersimpan sisi kelembutan seorang murobbiyah.... melihatnya, aku terbayang sosok sahabat Rasulullah yang mulia, Umar bin Khattab radhiyallaahu anhu.


Anda tak akan pernah membayangkan bagaimana ia mampu mengakrabi sosok lemah lembut yang ada di sampingnya. Akhwat berjilbab coklat berkulit sawo matang yang tengah tertunduk khusyuk menilai kedalaman dirinya. Ia lebih banyak diam, berbicara seperlunya. Sering sakit-sakitan menjadikan fisiknya begitu lemah, tapi tidak dengan semangat juangnya. Kadang ia bisa jauh lebih kuat menahan kantuk dalam musyawarah yang menyita waktu tidurnya di malam hari. Ia begitu menikmati tiap detik begadang syar’i yang dijalaninya. Sosok lemah itu begitu panjang ketika sujud, suaranya yang merdu menjadikannya selalu diminta menjadi imam ketika sholat berjama’ah.

Sekarang, lemparkan pandangan anda lebih jauh lagi. Apakah anda melihat akhwat berjilbab hitam berkacamata dengan frame hitam agak tebal yang perawakannya jauh lebih besar dibanding akhwat yang lain??? Suaranya agak besar, terkadang menggelegar, sebesar harapannya mengembangkan dakwah di fakultasnya. Sosok tangguh yang tergambar lewat fisiknya ternyata dikarunia kepolosan di tiap harapan dan keinginannya.

Di sana ada juga sosok yang tak bisa diam, keras kepala, ada yang begitu jujur mengekspresikan tiap rasa yang dialaminya yang tanpa sengaja rasa itu mampu melukai sesosok makhluk yang hatinya begitu rapuh, mudah terbawa perasaan ketika tersakiti dalam sebuah musyawarah pun dalam interaksi amal jama’i. Ada sosok pemalu yang di tiap kali jumpa tak ada kata yang bisa dinikmati dari lisannya, ia justru lebih banyak bergerak, berbuat di saat yang lain mulai terkulai lemah. Anda juga akan menjumpai sosok yang penuh semangat sepanjang hari, yang dengan mudahnya ia tularkan semangat itu kepada orang-orang disekitarnya.

Sosok-sosok yang secara inderawi terlihat begitu anggun, begitu tangguh, adalah juga manusia biasa yang tetap berbalut karakter khusus. Hijrahnya tak serta merta menjadikan mereka memiliki karakter yang sama yang sering tergambarkan oleh mata awam sebagai seorang akhwat dengan kesempurnaan ke’akhwatan’nya. Maka jangan pula anda melempar vonis bahwa mereka hanyalah sosok penuh dosa yang tak pantas diqudwah. Justru karakter ini terbingkai indah setelah hijrah dibawah naungan al-qur’an dan sunnah, dalam wujud yang lebih mulia, dalam dakwah dan tarbiyah.

Mereka, manusia-manusia biasa yang istiqomah dengan potensi kebaikan yang dimilikinya. Karakter khas masing-masing tak menjadikan mereka semakin terjarakkan, tetapi kecenderungan-kecenderungan yang berbeda itu menjadikan dakwah mereka penuh warna. Ada kalanya mereka lepas dalam canda, saling berbagi dalam tawa, bebas tanpa beban. Terkadang mereka bisa begitu serius dalam tiap majelis syuro. Mereka pun sering menangis bersama, mengingatkan tentang beratnya amanah, dosa, dan neraka. Di majelis kebersamaan mereka, atau di sela rehat sesaat, pun dalam lintasan perjumpaan yang singkat, mereka tetap saling mengingatkan, selalu berucap kepada sesama : “saudariku... mari sejenak kita beriman”.

Mereka, sosok-sosok tak sempurna yang tlah menjadi penggerak keshalihan, penyulut cahaya perbaikan. Mereka, yang dengan ketaksempurnaan serta segala sifat kemanusiaannya mencoba berbuat untuk diin ini. Ada sederet kata yang tak pernah mereka ucapkan kepada penerus setelahnya, tapi ketahuilah mereka tetap bersuara dalam diam, ingin berpesan dalam tiap gerak amal bahwa sungguh saat ini dan kapanpun tetaplah melihat sisi kemanusiaan mereka tanpa harus menghinakan, telusuri tiap semangat mereka tanpa sanjungan berlebihan. Merekapun kadang mengalami titik jenuh di saat berjuang, ada fragmen dimana mereka sedikit menjauh... dan ketika saat itu tiba mendekatlah, rangkul mereka dalam indahnya kebersamaan. Karena ketika anda memutuskan untuk berjuang bersama mereka, maka andapun telah siap untuk menelisik dan menikmati detail ketidaksempurnaan mereka setiap waktu.

Ketahuilah, islam memuliakan semua posisi, semua potensi.... Jikalau tak memungkinkan menjadi karang yang kokoh di tengah lautan, menjadi rumput nan lembut di tengah padang yang tak tergoyahkan dihempas angin pun tetap agung nilainya. Maka demi Allah, tidak ada halangan menjadi mulia dengan alasan tak sempurna serta potensi yang tak tersalurkan. Karena ketaksempurnaan-mu adalah penggerak keshalihan diriku, dirinya dan tiap jiwa yang merindukan cahaya surga. Wallaahul musta’an...

Selengkapnya...