Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
rin_iffah

Hal yang paling tidak menyenangkan -jika tidak mau dianggap menyebalkan- dari jaga malam IGD yaitu ketika menemukan pasien yang datang dini hari dengan keluhan sepele ataukah pasien dan keluarga yang menunjukkan sikap kurang bersahabat. Keadaan semacam ini yang paling sering menguji keikhlasan juga kesabaran seorang tenaga medis untuk tetap bersikap santun dalam melayani. Seperti seorang ibu malam itu yang datang ke IGD di saat jarum jam tepat berada di angka satu dini hari. “Sakit giginya sejak kapan?” Tanya saya dengan setengah mengantuk “Dari tadi sore dok, sakitnya sih sudah berkurang karena sudah minum obat penahan nyeri tapi saya tidak bisa tidur di rumah. Jadi boleh malam ini saya tidur di sini dok?” You’ve got to be kidding me! Datang ke IGD jam segini hanya karena tidak bisa tidur di rumah dan pengen tidur di IGD? Padahal di sini jauh lebih berisik dibanding jika ibu ini memilih istirahat di rumahnya. Saya hanya bisa mengeluh dalam hati dengan tetap berusaha menunjukkan senyum yang sebenarnya sedikit dipaksakan. Terkadang, kita memutuskan merawat inapkan pasien bukan atas indikasi medis, tapi lebih karena permintaan pasien atau terlanjur tidak tegaan saat melihat pasien dan keluarganya datang jauh-jauh ke IGD membawa bantal, guling, kasur juga kipas angin dan peralatan makan seolah hendak kemping di rumah sakit. Padahal belum tentu juga setelah diperiksa, dokter akan menganjurkan pasien untuk rawat inap.

Setelah selesai menangani pasien ini, saya menuju kamar jaga bermaksud hendak beristirahat meluruskan punggung sejenak, namun tak berapa lama masuk pasien lainnya. Kali ini seorang bapak tua datang dengan meronta kesakitan memegang perutnya sambil berdiri memeluk tiang infus di samping tempat tidur. Saat saya bertanya keluhannya, si bapak malah mengomel “Dokter tidak lihat kalo saya kesakitan kayak gini?? Aduuuh dokter tolong dong pasang infus atau kasih obat apa kek. Saya ini sudah kesakitan dan tidak bisa istirahat sejak tadi pagi?” “Lah, gimana saya mau ngasih penanganan kalo saya sendiri tidak diijinkan untuk memeriksa bapak” saya menimpali dengan sedikit kesal. Bukan apa-apa, tapi sangat sulit menjaga fisik dan pikiran bisa tetap jernih saat harus melayani pasien baru di jam segini. Setelah dibujuk keluarganya beberapa saat, akhirnya bapak ini pun menyerah juga. Dia terpaksa berbaring sambil gelisah menahan sakit. Ternyata rasa sakitnya disebabkan kandung kemihnya yang penuh, biasanya dialami oleh pasien dengan hipertrofi prostat atau penyumbatan lain di saluran kemih…. “Bapak harus dipasangin kateter karena yang bikin sakit perut ini akibat kandung kemih yang penuh” saya mencoba menjelaskan. “terserah dokter saja yang penting saya bisa tidur….” Jawabnya pasrah masih dengan erangan kesakitan. Benar saja, urin yang keluar lebih dari satu liter setelah kateter terpasang. Dan tidak sampai lima menit setelahnya, pasien ini sudah mendengkur hebat. Ah, Ada-ada saja nih bapak…..

Dan ternyata, kejadian tidak menyenangkan ini tak berakhir sampai di pasien hipertrofi prostat yang sudah tertidur pulas ini. Belum sampai setengah jam saya merebahkan diri di tempat tidur, azan subuh pun berkumandang. Dengan mata yang dipaksa bertahan saya menuju kamar mandi untuk bersiap melaksanakan shalat subuh. Tiba-tiba pintu kamar jaga diketuk seseorang. Ketukannya begitu keras. Dari dalam saya berusaha menjawab dengan setengah berteriak “tunggu sebentar!” namun suara ketukan semakin keras. Lebih mirip ditendang dari luar. Cara mengetuk yang tidak biasanya. Jika perawat, mereka akan mengetuk dengan sangat hati-hati, dan kalaupun tidak ada jawaban mereka tidak akan mengetuk berulang kali. Dengan wajah yang masih mengantuk, saya terpaksa keluar dari kamar untuk membukakan pintu dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Saat pintu dibuka, di depan saya berdiri seorang bapak berusia pertengahan empat puluhan dengan postur tinggi besar, barambut acak-acakan membelalakkan mata menatap saya tajam dengan air muka yang merah padam seolah-olah ingin menelan saya hidup-hidup. Telunjukknya diarahkan tepat di wajah saya sambil berteriak keras “Dokter macam apa ini!!! Ada pasien gawat kok malah asik tidur!! Saya laporkan dokter ke direktur rumah sakit, bila perlu ke gubernur dan akan saya masukkan dokter di M***t Pos” suasana IGD yang sepi membuat suaranya menggema menghantam tiap sudut ruangan menambah tegang keadaan. Ditodong seperti itu rasa kantuk hebat yang menyerang seketika hilang entah kemana…. “Maaf pak, boleh bicaranya agak sopan? Saya ini dari semalam belum istirahat, dan barusan juga saya mau sholat subuh. Kenapa tiba2 bapak datang, gedor2 pintu dan membentak saya seperti ini” saya menjawab dengan setenang mungkin. Berusaha menjaga intonasi suara agak tidak terbawa emosi. Nyali juga sebenarnya… terlintas dipikiran hal-hal menakutkan seperti di film-film thriller. Bagaimana jika tiba-tiba bapak ini melakukan tindak kekerasan. Mana suasana sepi “Halaaaaah sholat subuh…. Tidak penting itu yang namanya hablum minallaah…. Yang penting hablum minannaaas… Tuhan juga tahu. Masak ada pasien gawat dokternya malah tidur di kamar. Anak saya di depan sudah berdarah-darah dan belum dapat obat. Saya akan laporkan dokter. Saya ini kerja di pemerintahan!” ia masih membentak dengan intonasi suara yang semakin meninggi sambil kembali mengancam “Silahkan pak, laporkan saja saya ke atasan bapak atau siapapun. Bila perlu pasang nama saya di headline semua surat kabar yang ada di kota ini, Saya tidak takut!” Saya menantang tatapan matanya kemudian berlalu menuju ruang tindakan tempat pasien yang dimaksud berada. Pikirnya mungkin saya hanya seorang perempuan, bertubuh mungil pula sehingga dengan seenaknya dibentak dan diperlakukan kasar. Duuh, sekiranya tadi tangannya sempat menyentuh saya…. 

Di ruang tindakan sudah ada dua orang perawat yang sibuk melakukan penanganan awal kepada pasien ini. “Maaf dok, kami sudah hecting situasi untuk mengurangi perdarahan, sepertinya arteri radialisnya mengalami rupture” seorang perawat menjelaskan apa yang sedang dilakukan begitu melihat saya sudah berdiri di depan mereka. Saya pandangi anak remaja laki-laki yang terbaring dengan luka robek di pergelangan tangannya. Usianya sekitar tujuh belas tahun. “Kenapa tangannya bisa robek kayak gini?” Tanya saya “Saya pukul kaca dok” jawabnya sambil terisak “Kok bisa?” “Saya berkelahi…. sama bapak” “Kamu habis minum yah?” pertanyaan saya malah dijawab dengan tangisannya yang semakin kencang. Hadeuh, ternyata masalah rumah dibawa-bawa sampai ke IGD, pake adegan ‘sinetron’ pula bapak sama anak ini. Sayapun keluar dari ruang tindakan bermaksud menuliskan resep. Sementara si bapak aneh ini masih terus mengejar saya sambil meracau tidak jelas. Kok ada yah orang seperti ini. Sudah datang meminta pertolongan malah dianya yang ngamuk-ngamuk. Ngakunya intelek, kerja di pemerintahan tapi bersikap seperti preman. Jadi teringat sama orang-orang berdasi dengan penampilan rapi di ibu kota negara sana yang konon adalah wakil rakyat tapi bermental preman yang hobinya gontok-gontokkan, banting meja-lempar kursi dan dipertontonkan di hadapan rakyat. Seketika terlintas ide ‘jahil’  untuk bikin ‘kapok’ bapak ini, yang tindakan ini saya sesalkan kemudian. Yah, masih dengan perasaan emosi, saya meresepkan obat-obatan ber’merek’ yang ditebusnya dengan harga hampir mencapai satu juta rupiah padahal obat-obatan dalam sediaan generik harganya tak seberapa. Sejak saat itu, bapak ini tidak lagi menunjukkan batang hidungnya di IGD hingga anaknya dipindahkan ke kamar operasi untuk dilakukan tindakan lebih lanjut terhadap pembuluh darah di pergelangan tangannya yang nyaris putus. 

Pagi itu, sebelum keluar dari IGD menuju tempat parkir, seorang ibu datang menghampiri saya yang ternyata adalah ibu dari pasien ‘tragedi’ subuh tadi. Ia meminta maaf atas tindakan suaminya yang tidak beretika dan berterima kasih karena bersedia menangani anaknya sehingga nyawanya bisa diselamatkan. Saya hanya bisa tersenyum, yang terlintas di pikiran saya saat itu hanya kasur empuk dan si ngengemon; bantal doraemon kesayangan yang siap menemani saya menghabiskan sisa hari di kamar sepulang nanti. Sambil mengangguk pelan sayapun berlalu meninggalkan IGD juga semua rasa sesal yang sempat menyelimuti hati. Ah, bukankah melupakan hal-hal yang menyakitkan jauh lebih menenangkan…..
Selengkapnya...

rin_iffah

"Dan apabila bayi-bayi yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah ia dibunuh" (Qs. at-Takwiir [81]: 8-9) 

Tiba-tiba saya merasa familiar dengan wajah pasien yang satu ini. Mungkinkah karena pasien post SC yang pernah dirawat di bangsal? Ataukah saya pernah bertemu dengannya sebelumnya? senyumnya... tatapannya... siapa dia?

Saya baru tersentak begitu pasien ini berjalan meninggalkan poliklinik obgin. Subhanallah.... ibu ini pernah datang konsultasi ke saya sekitar sepuluh bulan yang lalu mengeluh mual muntah dan pusing. Saat saya menganjurkannya untuk diperiksa urin untuk mengetahui apakah keluhannya tersebut dikarenakan sedang hamil atau karena penyebab lain "Saya tidak mungkin hamil dok, saya kan lagi ikut KB spiral" ujarnya kala itu. Ketika selesai pemeriksaan dan saya sampaikan bahwa hasilnya positif ia pun menangis. Bukan karena perasaan haru akan memiliki anak lagi tapi karena ketakutannya yang lain. Kejadian hamil pada akseptor KB memang sangat mungkin, karena sampai saat ini belum ada satupun jenis KB yang tingkat pencegah kehamilannya mencapai 100%. "Saya malu dok dengan usia yang sudah kepala empat, mana anak saya yang terakhir sudah berusia 13 tahun. Apa kata orang-orang nanti?" tuturnya pelan "Dok, tolong saya dibikin mens lagi. Dikeluarkan saja dok" Pintanya dengan wajah memelas. Saya hanya bisa menarik napas panjang kemudian berujar "Saya minta maaf bu, tapi saya tidak bisa penuhi permintaan ibu. Saya sudah disumpah saat menyandang gelar sebagai dokter bahwa saya akan menjaga hidup seseorang mulai dari masa pembuahan. Selain itu bukankah anak adalah amanah yang Allah titipkan bagi siapa saja yang menurutNya sanggup untuk memikul amanah tersebut? " "Aduh dok kalau amanah yang lain saya mungkin masih bisa pikul, tapi amanah yang ini saya tidak sanggup dok, saya sudah capek hamil, belum lagi harus mengurus anak bayi. saya mohon bantu saya dok kali ini saja. Saya tidak siap hamil lagi" tangisnya mulai pecah. Duh, saya kasihan melihat ibu ini. Saya memang belum pernah merasakan sulitnya mengandung, sakitnya melahirkan ataupun repotnya mengurus anak, tapi saya juga tidak ingin melakukan tindakan yang mencederai profesi saya terlebih tanggung jawab saya di hadapan Allah. Satu hal yang terpikirkan saat itu, saya harus mampu meyakinkan ibu ini agar mau mempertahankan kehamilannya. "Bu, di luar sana banyak ibu-ibu lain yang sangat menginginkan untuk bisa hamil, berbagai cara mereka lakukan, tak sedikit uang mereka keluarkan tapi toh Allah tidak juga mengaruniakan mereka anak. Sedangkan ibu, dititipkan janin di rahim ibu dengan begitu mudahnya tapi ibu malah ingin mengeluarkannya. Sekiranya boleh, mungkin ibu-ibu yang kurang beruntung itu akan meminta agar janin yg ada di rahim ibu saat ini dipindahkan saja ke kandungan mereka. Apa ibu tidak takut sama Allah? Apa ibu tidak takut jika kelak di akhirat janin ini mempertanyakan atas alasan apa dia harus dibunuh?" Saya mencoba menjelaskan keinginan saya tanpa bermaksud memaksa. Semuanya kembali ke ibu ini karena dialah yang akan menjalani. "Tapi dok, saya dan suami tidak punya pekerjaan tetap. Dari mana kami akan memberikan makanan dan kebutuhan lainnya bagi anak ini nantinya" kilahnya lagi. "Setiap anak dilahirkan dengan rezekinya masing-masing. Asalkan ibu yakin akan hal itu. Siapa tahu anak ini nantinya yang akan menjadi jalan dimudahkannya rezeki bagi kedua orang tuanya. Boleh jadi anak ini kelak akan menjadi kebanggaan bagi kedua orang tuanya" saya tersenyum meyakinkan "Jadi dokter tidak mau bantu saya?" Tanyanya masih dengan wajah memelas. "Saya bisa bantu bu, saya akan bantu ibu untuk menjaga dan memastikan kalau janin yang ada di dalam kandungan ibu ini baik-baik saja. Saya akan resepkan vitamin untuk ibu. Saya harap kelak kita akan bertemu saat saya memeriksa ibu di ruang kebidanan setelah melahirkan. Satu hal lagi, jangan pernah lakukan tindakan-tindakan yang bisa mengancam nyawa ibu juga janin. Jika itu terjadi dan ibu sampe harus dirawat di rumah sakit, mudah-mudahan tidak ketemu saya karena pasti saya akan laporkan ibu ke polisi" saya menutup konsultasi sore itu dengan sedikit ancaman yang kemudian saya sesalkan kenapa saya harus mengeluarkan kata-kata seperti itu.

Dan hari ini, sepuluh bulan kemudian ibu itu benar-benar hadir di depan saya setelah operasi melahirkan anaknya yang sempat ingin digugurkannya. Saya berlari keluar dari ruangan periksa berusaha mengejar pasien saya ini berharap saya masih menjumpainya. Ingin rasanya saya memeluknya dan menyampaikan selamat atas keberanian serta kekuatan hatinya untuk tetap mempertahankan kehamilannya. Wajah itu... tatapan itu pernah mampir diingatan saya dengan sekelumit kesedihan dan kecemasan. Tapi tidak dengan apa yang saya lihat tadi.... wajah yang lebih bersinar, wajah kebahagiaan juga keikhlasan yang terpancar dari senyuman saat ia meminta saya untuk didoakan agar  selalu diberikan kesehatan. "Lukanya sudah kering dok, sudah 20 hari yang lalu. Tapi nyerinya masih tertinggal. Doakan supaya semuanya baik-baik saja yah dok" Ah, kenapa saya semudah itu melupakan wajah seseorang padahal bisa jadi ibu ini berharap saya bersikap lebih dari sekedar memberikan terapi dan nasihat seputar keadaan luka pasca operasinya. Maafkan saya bu, tapi saya tetap berharap bisa dipertemukan dengannya suatu hari nanti dalam kondisi yang lebih baik, Di acara pernikahan saya misalnya.... Upss, lupakan yang terakhir ini.....
Selengkapnya...

rin_iffah

Gemetar jemari kala harus menuliskan penggalan kisah ini. Adalah sebuah skenario indah yang Allah perlihatkan dengan cara mengutus bidadari-bidadari dunianya tepat di depan mata saya. Jika kemarin saya dipertemukan dengan seorang perempuan yang rela mempertahankan janin di kandungannya meski harus menelan pahitnya dikucilkan. Hari ini ada perempuan berhati mulia lainnya yang bertandang untuk kembali 'menampar' saya. Yah, agar saya dan kita semua bisa menyaksikan bahwa mereka ini ada. Agar saya dan kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah yang mungkin sebagian kita beranggapan bahwa cerita demikian hanya ada di sinetron atau roman picisan belaka.. Dan sungguh hanya keimananlah yang membuat mereka rela menjual kesenangan dunianya demi meraih ridha Allah semata.

Saya terdiam sejenak mendengar penuturan riang seorang ibu yang menemani pasien ibu hamil yang datang ke poliklinik tadi pagi "Janin yang ada di dalam kandungannya adalah anak suami saya juga, pantas kan dok jika saya cerewet sama kondisi kesehatannya" jleb.... saya tidak menyangka jika akan mendapat jawaban demikian atas pertanyaan saya sebelumnya. Padahal saya hanya ingin memastikan apakah yang mendampingi ibu hamil ini keluarganya ataukah hanya teman dekat. Dua orang yang sedang duduk berhadapan dengan saya ini adalah Isteri pertama dan kedua yang bahkan saya pun tak mengira mereka mampu saling menyayangi, menjaga layaknya saudara sedarah. "Kak A** ini madu saya dok, dia merelakan suaminya menikahi saya begitu tahu kalo suaminya jatuh cinta sama saya. Dan tak lama lagi akan hadir malaikat kecil yang semakin menguatkan ikatan cinta kami" Ibu hamil yg berusia sekitar 25 tahunan ini mencoba menjelaskan ketika melihat kebingungan yang sempat terlintas dari raut wajah saya. "Awalnya berat dok. Perempuan mana sih yg bersedia dimadu? Hati perempuan mana yg tak terluka begitu tahu kalau dirinya bukan satu-satunya di hati suaminya. Tapi saya sadar ketika suami saya menyukai seorang perempuan bukan berarti dia sudah tidak mencintai saya, tapi dia sedang jatuh cinta lagi. Saya tidak mau suami saya terjatuh dalam perbuatan dosa hanya karena harus memendam ataupun mengungkapkan perasaannya kepada perempuan yg bukan isterinya sedang masih ada jalan terbuka lebar yang ditawarkan oleh agama ini untuk mencegah perbuatan yang terlarang itu. Dan saya sampai pada keputusan merelakan suami untuk poligami. Bukankah berbagi itu indah dok?" Imbuhnya sambil tersenyum santun.

Cukup sampai di sini saya berani menuliskan potongan percakapan antara kami bertiga pagi tadi saat pasien yang lain mulai ramai berdatangan ke poliklinik. Saya tak sanggup melanjutkan potongan yang lain. Terlalu mendebarkan... Terlalu mengaduk-aduk perasaan saya sebagai seorang perempuan. Duuh, Perempuan macam apa ini yg membiarkan suaminya menikah lagi bahkan dengan seseorang yang secara fisik lebih baik darinya?? Perempuan macam apa ini yang rela berbagi dengan perempuan lain padahal dia masih bisa menempuh cara lain untuk menghindari sebuah kata yang paling ditakutkan para isteri... 'poligami'?? Allah.... bidadari yang kau kirimkan di pagi ini sungguh menjelaskan bahwa surgaMu memang ada....

*Poliklinik Obgin menjelang sepi*
Selengkapnya...

rin_iffah

Hari ini, kembali saya belajar dari pasien yang datang memeriksakan diri ke poliklinik obgin. Seorang ibu muda yang sedang hamil tua itu telah mengajarkan saya banyak hal. Tentang perjuangan, kesabaran, harapan dan kekuatan yang tak dimiliki oleh setiap perempuan jika berada pada kondisinya saat ini. Bagaimana tidak, ia harus melewati beratnya mengandung tanpa adanya sosok suami di sampingnya. ""Suami saya bukan sudah meninggal bukan pula saya diceraikan, tapi.... saya memang belum bersuami" Ujarnya pelan ketika saya memintanya memanggil suaminya untuk saya berikan penjelasan terkait kondisi kehamilannya.

Sepintas jika mendengar penuturan ibu ini apa yg terlintas di benak kita?? Rasa jijikkah karena ia belum bersuami tapi sudah hamil duluan? Atau memandangnya sebagai perempuan murahan karena telah hamil tanpa ikatan pernikahan? Paling tidak, kita mungkin akan merasa kasihan dg nasibnya yg malang. Tapi coba dengar penuturan ibu ini selanjutnya.... "Dok, saya memang telah melakukan perbuatan dosa besar yang menyisakan janin di rahim saya yg kini telah hampir memasuki usia sembilan bulan. Bahkan laki2 yang telah saya serahkan semua yang saya miliki termasuk hati pun meninggalkan saya tanpa sepatah kata. Tanpa perasaan bersalah. Tapi... salahkah jika saya ingin menebus semua dosa saya ini dengan tetap mempertahankan malaikat kecil yang Allah utus di dalam rahim saya ini?" Ya Allah... tiba2 terlintas di benak saya berbagai kasus aborsi yang marak terjadi dan beberapa di antaranya pernah saya rawat. Mereka ada yg belum berkeluarga yg malu menanggung aib karena hamil di luar nikah, namun tak sedikit yang sudah berumah tangga namun belum siap memiliki tambahan anak. Ah, perempuan di hadapan saya ini bahkan jauh lebih mulia hatinya dibanding mereka atau bahkan kita yang terlalu banyak berprasangka.... 

"Setiap kali saya merasakan tendangan2 kecil di perut, setiap itupula saya memiliki harapan untuk tetap bertahan. Biarlah setiap rasa sakit yg saya derita selama mengandung, setiap perih yg akan saya alami saat melahirkan nanti, setiap cemoohan orang2 atas kondisi saya yang hamil tanpa adanya suami, setiap luka hati yang telah ditorehkan ayah dari anak yg ada di rahim saya ini... semoga semua itu menjadi penebus kebodohan saya di masa lalu. Semoga dengannya Allah mau mengampuni saya" Lanjutnya sambil menunduk seakan menyesali perbuatan yg pernah dilakukannya. Duuuh, hampir saja saya menangis di depan perempuan ini jika tdk mengingat bahwa saya saat ini sedang menjalankan profesi sebagai seorang dokter. Belum sempat saya berkata2, perempuan tegar di hadapan saya ini melanjutkan kalimatnya "Doakan saya kuat dok, doakan agar saya bisa melewati setiap ujian ini tanpa harus mengeluh atas takdir yang telah Allah berikan kepada saya" Ia menatap mata saya seolah berusaha mencari kekuatan.

Pertahanan saya pun runtuh, saya Tak kuasa menahan haru... mata saya terasa panas oleh air mata yang berusaha saya bendung dari tadi. Bahkan rasa lapar dan bayangan mie ayam jamur spesial dengan siraman saus pedas yang sempat terlintas dipikiran sesaat sebelum pasien terakhir ini masukpun buyar seketika... Saya tak punya simpanan kata2 terbaik untuk ibu ini. Saya kemudian mengelus lembut perut perempuan kuat ini seraya berujar pelan "Semoga Allah menghadirkan sosok anak shaleh/shalehah dari rahim ini yang kelak akan menjadi cahaya bagi ibunya. Semoga dari rahim ini lahir anak berbakti yang akan menjadi tameng bagi ibunya dari api neraka. Semoga selalu dalam penjagaan Allah" 

*Masih dg perasaan haru saat kembali menuliskan kisah ini*
 Ternate, 14 Rabiul Awal 1436 H / 5 Januari 2015
Selengkapnya...

rin_iffah

“Dok pasien Tn S. yang di bed 4 tiba-tiba drop” lapor seorang perawat terburu-buru. Segera saya hentikan menulis beberapa status pasien baru dan menghampiri pasien dimaksud. Sudah banyak orang yang berkerumun. Hanya sebagian kecil anggota keluarga pasien sisanya pembesuk pasien lain yang masih tertahan di UGD. Saya coba memanggil nama pasien sambil memberikan sedikit rangsang nyeri, namun tak ada reaksi. Nadinya teraba lemah dan dalam, Tekanan darah sulit dievaluasi kecuali dengan perabaan. Sementara Infus belum berhasil terpasang. Saya langsung menginstruksikan kepada salah seorang perawat senior untuk mencoba mencari jalur intravena agar akses cairan bisa segera masuk. Dengan cekatan perawat tersebut menusukkan jarum infus ke lengan bawah pasien dan sruuut, kurang dari 30 detik infus berhasil terpasang. “Guyur dulu cairannya, sementara pasang monitor EKG, siapkan alat bagging dan adrenalin” “baik dok” ujar beberapa perawat yang membantu saya melakukan penangan pada pasien ini. Sementara di bed 3 seorang pasien yang lain berteriak-teriak kesakitan. “Dok, pasien di bed 3 sesak” teriak perawat yang sementara mengobservasi pasien yang lain. “Pasang dulu oksigen 3 liter” instruksi saya tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian dari pasien bed 4 “Maaf dok ada pasien baru dengan luka tusuk di bahu, pasien inpartu dan pasien anak dok” beruntun yang lainnya melapor. Saya melirik sejenak ke jam dinding. Jam 20.45. lima menit lagi harusnya saya sudah bersiap untuk pulang. Tapi dokter jaga untuk shift malam belum tiba. Kenapa rame-nya pas di saat jelang pergantian jaga. Saya tersadar dari lamunan dan buru-buru berujar “Kalo pasiennya stabil pasang infus dulu. Bentar saya liat.” 

Di bed 4 kesibukan masih berlangsung. Lima menit berlalu, namun belum ada respon dari pasien yang tiba-tiba kehilangan kesadaran. Layar monitor EKG menunjukkan garis lurus asistole, pasien mengalami henti jantung. “Siap RJP!” saya berbisik pelan kepada perawat yang berada tepat di samping. Dengan sigap seorang perawat wanita mengambil tempat di sisi kiri pasien dan langsung melakukan pijat jantung luar. Sementara yang lainnya memberikan napas buatan lewat bagging. Bergantian kami melakukan pijat jantung. Sepuluh menit, limabelas menit belum ada respon. Dan tiba-tiba layar monitor berubah menjadi Ventrikel Fibrilasi. “Siapkan DC Shock!” Di sekeliling semakin banyak orang yang menyaksikan apa yang sedang berlangsung, antara debar penasaran dan cemas akan keselamatan pasien ini. “Maaf pak, ibu tolong di luar dulu, biarkan kami bekerja dengan leluasa menangani pasien ini” ujar seorang perawat membuyarkan kerumunan orang-orang yang ada. Hampir saja saya lupa untuk menjelaskan ke keluarga pasien tentang apa yang terjadi. Sementara perawat melanjutkan tindakan saya mencoba untuk menjelaskan secara singkat dan jelas tentang kondisi pasien serta tindakan yang sedang kami lakukan. Keluarga pun telah pasrah dan menyerahkan semuanya sama Allah dan juga ikhtiar kami. Saya kembali untuk melakukan DC shock. Namun tak ada perkembangan yang berarti. Layar monitor kembali menunjukkan garis lurus asistole. Tanpa patah semangat pijat jantung tetap dilakukan. Melihat petugas yang sudah kehabisan tenaga, saya pun bertanya. “Sudah berapa lama sejak RJP dilakukan?” “kira-kira 45 menit dok” “Stop dulu dan evaluasi Nadi carotis." Perintah saya untuk mengehentikan tindakan “Negatif dok” saya pun memastikan dengan meraba arteri carotis pasien serta memeriksa pupil. Midriasis total, refleks cahaya negatif. Bagian tersulit dari hidup saya salah satunya adalah saat ini. Saat dimana saya harus menyampaikan kabar buruk seperti ini pada keluarga pasien. “Innalillaahi wa innailaihi raajiuun, waktu kematian pukul 21.35 WIT” Lirih saya pelan tak berharap yang lain mendengar apa yang saya ucapkan. Semua tertunduk lemas, saya melempar pandangan sejenak kepada keluarga pasien yang berdiri tak jauh dari tempat kami, hanya terdengar desahan. Tampak jelas isak yang tertahan. Pasien kedua yang harus saya saksikan meninggal di depan mata hari ini.

Satu jam sebelumnya. Seorang bapak datang mencari dokter jaga “ Maaf dok, saya mau konsultasi, bapak saya di rumah sudah terpasang kateter selama sepekan karena susah kencing, dan hari ini harusnya sudah dilepas tapi karena hari libur jadi saya ke UGD sekalian bertanya apakah bisa dilepas di UGD karena beliau merasa kesakitan. Biar nanti dikasih obat buat rawat jalan saja. Kontrolnya sekalian besok di poliklinik” Bapak itu mencoba menjelaskan dengan hati-hati “Ya udah, dibawa dulu pasiennya ke sini biar saya liat kondisinya yah” jelas saya singkat “Baik dok, terimakasih” bapak itu kemudian pamit pulang untuk menjemput pasien yang dimaksud. Setengah jam kemudian seorang bapak tua berusia sekitar 60 tahun dengan kateter yang masih terpasang datang ke UGD di antar keluarganya yang sebelumnya sudah konsultasi ke saya. Sepintas pasien ini kelihatan biasa-biasa saja. Tidak ada indikasi untuk rawat inap. Saya mendekat dan mulai bertanya “Maaf pak, gimana kabarnya” “baik dok” ujar bapak paruh baya ini dengan senyum lebar. “Ada keluhan lain selain sakit di tempat yang terpasang kateter?” lanjut saya bertanya “Tidak dok, Cuma tadi sempat menggigil kedinginan” jawabnya masih dengan senyuman. Tapi ada yang aneh yang sempat saya tangkap dari pasien ini (insting seorang dokter). Bicaranya sedikit terbata dengan nafas yang agak cepat. “Bapak ada riwayat Darah tinggi atau sakit gula?” sambil melakukan pemeriksaan fisik saya lanjut bertanya. “Hanya Hipertensi ringan, tapi pernah sebelumnya diperiksa dan kata dokter ada sedikit gangguan di jantung” Nah ini dia, pandangan saya terhenti pada kedua tungkai pasien; bengkak. Keluarga yang melihat mata saya tertuju kea rah tungkai buru-buru menyela. “kakinya bengkak semenjak di pasang kateter dok, mungkin karena pengaruh kateter” “Sepertinya tidak ada hubungan bu antara pasang kateter dengan bengkak di kaki” ujar saya meyakinkan. “Kemungkinan ini karena pengaruh gangguan jantung yang sempat diceritakan bapak tadi. Kondisi bapak juga kurang stabil karena agak sesak. Saran saya sebaiknya jangan dulu buru-buru dibawa pulang. Di opname saja dulu satu dua hari sambil melihat perkembangannya. Ada obat yang akan saya kasih untuk menurunkan tekanan darah sekaligus bengkak di kaki tapi efek sampingnya akan bikin bapak sering kencing. Jadi sebaiknya kateter ini jangan dulu dilepas. Kasihan juga bapak jika harus bolak balik kamar mandi dengan kondisi seperti ini. Kami juga akan melakukan pemeriksaan rekam jantung untuk memastikan kalo jantungnya baik-baik saja, jika bapak merasa sesaknya bertambah kami akan kasih bantuan oksigen” jelas saya panjang lebar. Dari raut wajahnya keluarga ni pasien keliatannya kurang setuju jika harus dirawat inap. Pikirnya mungkin keluhannnya hanya nyeri karena terpasang kateter tapi kok malah harus dirawat inap. Kesannya tidak nyambung. “Kalo bisa dikasih obat buat di rumah saja dok, biar dilepas saja kateternya. Bapak kelihatan baik-baik saja kok” Seorang keluarga pasien mencoba meyakinkan. “Saya tidak masalah pak, tapi saya sangat anjurkan untuk dirawat dulu. Karena keluhan sebenarnya bukan pada kateternya tapi sesaknya. Apalagi tadi bapak sudah mengeluh merasa kedinginan walopun hanya sesaat. Semua terserah pada keluarga.” Beberapa saat mereka terdiam dan saling berbisik pelan “Kami terserah dokter saja, kalo menurut dokter harus dirawat saya setuju.” Ujar seorang ibu yang ternyata anak kandung dari pasien. “Baik bu, kalo gitu saya buatkan resep dulu buat dipasang infus sambil menunggu hasil rekam jantungnya.” Saya pun mengakhiri debat kecil dengan keluarga pasien ini.

Dua jam kemudian, saya dan beberapa perawat yang baru saja mencoba memberikan pertolongan pada pasien di bed 4 terduduk lemas. Kami hanya bisa saling memandang dengan berbagai pertanyaan di benak yang sulit terlisankan. “Kok bisa ya dok, padahal bapaknya tadi kelihatan sehat dan kuat. Datang ke sini juga bukan karena keluhan apa-apa hanya mo lepas kateter” ujar seorang perawat wanita memecah kebisuan sesaat di ruang jaga. “Iya dok, saya khawatir jangan sampe keluarga pasien menyalahkan kita karena ngotot mau merawat pasien itu. Bisa-bisa gagal pasang infus dianggap sebagai penyebab kematian” imbuh yang lain. “Ini yang dinamakan Sudden Death, kematian tiba-tiba akibat serangan jantung pada pasien dengan riwayat keluhan jantung sebelumnya. Andaikan kita sempat merekam jantungnya sebelum berhenti mungkin kita bisa tahu detil penyebab kematiannya. Apa yang sudah kita lakukan tadi tidak ada yang keliru. Semuanya sudah sesuai prosedur penanganan pasien emergensi” Saya mencoba menghibur mereka, yang sebenarnya ditujukan buat diri sendiri. Bagaimanapun kematian tiba-tiba seperti ini selalu menyisakan tanya dan sesal di dada atas ketidakmampuan menyelamtkan nyawa pasien. “Hmmp.. sebenarnya Kateter yang mau dilepas hanya salah satu sebab pasien ini masuk ke UGD biar kita bisa mengambil pelajaran dari kematiannya. Seseorang yang awalnya kelihatan sehat tak ada yang menduga pada detik, menit atau jam berikutnya terbujur kaku tak bernyawa. Persis kayak pasien pertama yang meninggal tadi. Usianya terbilang masih belia, baru 20 tahun. Usia yang bagi kita masih punya banyak waktu untuk hidup. Bisa jadi kemarin dia masih tertawa bahagia bersama keluarga merayakan Idul adha, tapi siapa sangka hari ini dengan sebab kecelakaan motor, Ia harus mendahului orang-orang yang usianya jauh lebih tua darinya. Kematian senantiasa mengintai tiap yang bernyawa, siap atau tidak” Lanjut saya. “Oke, sudah waktunya untuk pulang. Nanti kalo dipersoalkan di pihak berwajib kita ke persidangan rame-rame ya!” Tutup saya setengah bercanda memecah keheningan yang sempat timbul. Belum lagi saya mengangkat kaki beranjak, tiba-tiba seorang perempuan paruh baya menghampiri kami dengan raut wajah yang kurang bersahabat “kenapa tidak ada dokter yang melihat anak saya, dari tadi kami menunggu tapi tidak diberikan penanganan apa-apa” teriak ibu ini sambil menatap tajam ke arah kami. Wah pasien yang mana lagi ini?? Sambil mengingat-ngingat pasien yang telah saya tangani. Bakalan panjang urusannya nih kalo diladenin. Belum lagi saya bersuara, tiba-tiba ada suara lain yang memotong “Maaf bu, pasiennya udah saya periksa dan saya juga udah buatin resep, tapi dari tadi saya mencari-cari keluarga pasien yang bertanggung jawab buat menebus obat tapi tidak ada siapa-siapa, ibu ga bisa donk langsung marah-marah kayak gitu, apalagi ibu bisa lihat sendiri gimana kondisi UGD sekarang. Ada beberapa pasien gawat yang harus kami tangani, jadi tolong pengertiannya.” Syukurlah, saya terselamatkan. Ternyata dokter opie (yang terkenal super cuek dan blak-blakan) yang malam itu bertugas jaga sudah ada dari tadi dan sudah menangani beberapa pasien baru yang masuknya berbarengan dengan pasien gawat yang sementara saya tangani. Ada pelajaran penting juga dari kejadian barusan, bahwa pasien beserta keluarganya selalu ingin dipahami, mereka tak pernah mau tahu, tak pernah peduli seberapa sibuknya seorang dokter atau perawat, seberapa cape’nya, sebanyak apa masalah pribadinya. Maka memberikan pelayanan sebaik dan semaksimal mungkin harus diprioritaskan.

Di perjalanan pulang ke rumah, wajah dua pasien yang meninggal tadi kembali terlintas. Bagaimana mereka melewati detik-detik sekarat di depan mata. Berbagai gejolak rasa menyesak dada. Rabb, Ampuni mereka, Rahmati dan Maafkan khilaf yang pernah mereka perbuat. Sungguh kami pun sedang berjalan menuju ke sana, berjalan menuju detik-detik kami harus mengehentikan semua ambisi dunia. Semoga saat tiba di detik itu, kami pun siap menghadapinya.
Selengkapnya...

rin_iffah

Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga. 

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaknya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulang kali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu. 

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itupun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama. Maka ditulisnyalah surat itu memohon bertemu. Dan ia mendapat jawaban “Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya. “Maha suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, “Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.” Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. “Andai saja kau lihat aku”, katanya, “Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.” “Betapa inginnya aku”, kata si gadis, “Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.” Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. “Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. Dan penyesalan yang tak berkesudahan. Si gadis ikut tertunduk. “Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, “Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.” “Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. “Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertakwa.”

Kita cukupkan sampai di sini kisahnya. Mari kita dengar komentar Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan tentangnya. “Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. “Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketakwaan kepada Allah.” “Tapi”, kata beliau memberi catatan. “Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampur adukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syariat Allah.”

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu? “Kesalahan itu”, kata Syaikh Abdullah Nashih Ulwan memungkasi, “Telah terjadi sejak awal.” Apa itu? “Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.” Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi ini adalah da’wah dusta!

Maka berhati-hatilah terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.

Sumber : Buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A Fillah
Selengkapnya...

rin_iffah

Adalah kebiasaan para bangsawan jahiliyah Madinah dengan membuat serta menempatkan patung di bagian tertentu di dalam rumah mereka agar setiap saat mereka dapat menyembah dan mengambil berkah darinya. Itupula yang diperbuat Amr bin Jamuh, salah seorang pemimpin sepuh Madinah, kepala suku Bani Salamah yang sangat dihormati.

Sebuah patung indah, terukir dari kayu khusus dan berbalut sutera lembut nan mahal terpajang di sudut rumah orang tua ini. Amr bin Jamuh begitu menghormati tuhannya yang diberi nama manat. Jelang pagi dan sore, ia melakukan perawatan khusus untuk manat. Dibersihkan dan diminyaki dengan wangi-wangian mahal yang hanya sanggup dibeli oleh golongan bangsawan.

Ketika fajar Islam memasuki Madinah, usianya sudah mencapai 60 tahun. Namun saat itu hatinya belum tergerak untuk memeluk islam. Bahkan ia sangat mencemaskan kalau-kalau keluarganya pun terpengaruh dengan ajakan duta Islam di Madinah, Mushab bin Umair. Ia tidak mengetahui jika kedua anak remajanya telah mengikuti langkah sahabat mereka Mu’adz bin Jabal dalam menyeru panggilan Allah dan Rasulnya.

Pemuda Mu’adz bin Jabal resah melihat kebiasaan Amr bin Jamuh yang berlebihan terhadap patungnya manat. Akhirnya ia mengajak kedua anak Amr untuk meruntuhkan keyakinan ayah mereka terhadap sembahannya yang tidak memberi manfaat apa-apa. Bentuk da’wah yang lain yang kelak terukir indah dalam lembaran sejarah. Bukan dengan kata-kata apalagi dengan mengangkat senjata, tapi cukup dengan perbuatan yang menyentuh sisi kemanusiaan seorang makhluk Allah.

Setelah berunding, ketiga pemuda ini pun melakukan misinya. Ketika malam semakin larut dan orang-orang mulai terlelap dalam mimpi, mereka mengendap-endap dan menyusup ke dalam rumah amr untuk mengambil patung manat dan membuangnya ke dalam lubang kotoran manusia. Begitu hati-hatinya aksi mereka sehingga tak ada seorangpun yang mengetahuinya. Keesokan harinya, seperti kebiasaannya pada hari-hari sebelumnya, amr bin jamuh ingin melakukan ritual ibadahnya kepada manat, namun betapa terkejutnya ia melihat berhala yang begitu dicintainya tak berada di tempat. Ia pun bergegas mencari berhalanya itu dan akhirnya ia temukan di tempat pembuangan kotoran. Kemarahan pun melingkupinya ketika melihat kondisi tuhannya yang tergeletak tak berdaya "celakalah orang yang menganiaya tuhan kami," kata 'Amr bin Jamuh mengutuk.. Diambilnya patung manat dan dibersihkan serta diberikan wangi-wangian dan ditempatkan kembali seperti sedia kala. Ia kemudian berujar ”Hai Manat! Demi Allah! Kalau aku tahu orang yang menganiayamu, sungguh akan aku hukum dia"

Melihat sikap amr yang tetap memuja patungnya, Mu’adz bin Jabal beserta ke dua putra amr semakin bersemangat untuk mencari cara agar ia mendapat hidayah. Mereka pun terus melakukan aksi yang sama. Dan setiap pagi amr bin jamuh dengan kesabarannya selalu memandikan dan membersihkan patungnya setiap kali ia jumpai di lubang kotoran. Akhirnya, pada suatu pagi hilanglah kesabarannya. Ia pun membekali tuhannya itu dengan sebilah pedang yang disematkan di leher patung Manat seraya berkata, “ Wahai Manat, jika kamu memang hebat tentu bisa menjaga dirimu dari aniaya orang lain!”

Melihat apa yang dilakukan amr, mu’adz dan kawan-kawannya merasa mendapat celah dari seorang amr bin jamuh. Mereka semakin yakin akan mampu menyadarkan amr dari kekeliruannya selama ini. Maka malam itu, ketika orang tua itu sudah tidur, Mu'adz dan kawan-kawan segera pula beraksi. Pedang yang tergantung di leher Manat mereka ambil. Patung Manat mereka ikat menjadi satu dengan bangkai anjing, kemudian mereka lemparkan ke lubang kotoran, pagi-pagi 'Amr bin Jamuh mencari-cari patung pujaanya. Didapatinya patung itu tengkurap, bersatu dengan bangkai anjing dalam comberan bergelimang kotoran. Kata 'Amr bin Jamuh, "Seandainya engkau benar-benar tuhan, tentu engkau tidak sudi diikat bersama bangkai anjing di dalam comberan bergelimang kotoran seperti itu..."

Akhirnya ia pun tersadar. Bergegas membersihkan diri, memakai wangi-wangian kemudian menemui rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Tak lama ia mencicipi manisnya iman dilingkup perjuangannya bersama rasulullah. Di saat perang uhud, sahabat Amr bin Jamuh meraih syahidnya. Ia penuhi seruan Allah dan RosulNya meskipun di usia senja dengan raga yang tak lagi sempurna. Yah, beliau saat itu pincang sebelah kakinya. Namun semangat juangnya tak padam tak kalah dengan semangat Mu’adz bin Jabal dan kedua putranya ketika membantunya meraih cahaya hidayah. Ia jemput surga dengan semua pengorbanan terbaiknya. Di uhud, ia raih keridhoan Robbul izzati.
Selengkapnya...