rin_iffah


Sebuah sms masuk ke inbox ku : “dok bisa minta obat flu yang ‘maut’ ?” aku hanya tersenyum, beberapa saat kemudian membalas sms tersebut : “obat flu yg paling maut; banyak minum air putih n istirahat yang cukup” dugaanku tidak meleset, selang beberapa detik sms balasan masuk : “sudah dok, tapi masih belum sembuh nih” tanpa berpikir lama aku membalas sms nya: “tunggu sampe seminggu, kalo belum sembuh baru ta kasih obat”.


Beberapa bulan sebelumnya, di tempat praktek : “masak anak saya cuma dikasih obat penurun panas dok, kalo bisa resepkan antibiotik yang paling bagus. Biasanya kalo berobat ke dokter _____________ dikasih antibiotik plus 3 macam obat lain, dan begitu diminum besoknya langsung sembuh” protes seorang ibu ketika mengetahui anaknya yang semalaman panas tinggi hanya ku resepkan satu macam obat yang itupun kalau mau bisa dibeli bebas di apotek.

Di sebuah tempat praktek, sebut saja dr. G, ketika menggantikan praktek salah seorang dokter senior yang tiap malam rata-rata kunjungan pasiennya di atas 30 orang dengan jam praktek berkisar 3-4 jam mengeluhkan rewelnya pasien yang ia periksa disaat ia tidak memberikan obat, ataupun obat tertentu yang dirasa tidak perlu diberikan, bahkan ketika obat tersebut adalah obat generik yang relatif murah ia justru diprotes sama pasien “maaf dok, biasanya saya dikasih obat harganya di atas seratus ribu, saya jadi ragu apakah saya bisa sembuh dengan dua macam obat generik ini”. Nih pasien entah semakin cerdas atau justru semakin tersesat... keluh dokter G dalam hati. Ingin sekali ia menjelaskan panjang lebar kepada pasien alasan ia memberikan obat murah meriah tersebut, tetapi begitu ia melihat arlojinya sudah menunjukkan pukul 9 malam sedang di luar pasien masih berjubel terpaksa diurungkan niatnya, mengalah.... dan kemudian menulis kembali resep sejumlah obat ‘bermerk’. Pasien pun keluar dengan senyum lebar dan perasaan puas.

Kejadian-kejadian seperti di atas bukanlah hal baru yang dialami oleh dokter ketika berhadapan dengan pasien. Ada hal menarik yang patut dicermati terkait hubungan dokter-pasien ini. Asumsi hampir sebagian besar masyarakat khususnya di Indonesia, begitu sakit segera ke dokter dan wajib hukumnya pulang dengan sekantong obat-obatan. Semakin mahal suatu obat maka semakin manjur pula obat tersebut. Itulah mengapa ketika kutegaskan kepada para mahasiswa untuk tidak ke dokter dan tidak perlu mengkonsumsi obat-obatan jika panas atau batuk baru 3 hari, mereka hanya melongo bingung setengah terheran bahkan sempat ada mahasiswa yang bertanya “kok bisa-bisanya dokter tidak menganjurkan pasien minum obat??”

Saat ini telah merebak pemahaman yang keliru pada kebanyakan masyarakat kita tentang konsep sehat-sakit serta perlunya berobat ke dokter. Hal ini biasa muncul karena kondisi panik serta tidak tega ketika melihat anak sakit, atau tidak sabar dengan sedikit penderitaan yang dialami saat terserang penyakit atau juga kuatnya keyakinan bahwa semua penyakit membutuhkan obat. Oleh karenanya menurut WHO ‘faktor pasien’ juga menjadi salah satu penyebab terjadinya Irrational Use of Medicine (IRUM). Menurut WHO, lebih dari 50% obat yang beredar di dunia (baik melalui peresepan maupun yang dijual bebas) telah digunakan dengan tidak semestinya. Nah, ketika kesalahan berpikir pasien dengan ‘memaksa’ dokter untuk meresepkan obat yang tidak perlu, justru kita akan semakin menambah presentase di atas.

Pertanyaannya apakah wajib hukumnya ketika ke dokter harus mendapatkan obat? Dalam bukunya Smart Patient, dokter Agnes menyebutkan bahwa ada dua alasan utama mengapa paradigma ‘ke dokter= dapat obat’ dikatakan tidak tepat.

Alasan pertama, obat sejatinya seperti pisau bermata dua. Bila digunakan dengan tepat dan baik, obat tersebut bisa menjadi kawan. Tapi bila tidak, ia bisa menjadi lawan atau racun dalam tubuh kita. Misalnya saja ketika kita membeli obat anti-nyeri yang bebas di jual di apotek, di kemasan obat tersebut telah tertera efek samping, jika diminum terlalu sering bisa menyebabkan perdarahan lambung dan gangguan liver. Artinya, setiap obat, sesederhana apapun ia; memiliki efek samping yang bisa berbahaya bagi tubuh kita. Namun tidak serta merta berarti kita tidak perlu minum obat ketika sakit. Ada penyakit tertentu seperti TBC yang justru tertolong penyebarannya yang sangat menular dengan mengkonsumsi antibiotik, obat-obat anestesi sangat dibutuhkan untuk menghilangkan nyeri pada saat operasi, ataukah penyakit kronis tertentu yang membutuhkan terapi obat-obatan.

Alasan kedua mengapa paradigma ‘ke dokter = dapat obat’ tidak tepat. Mungkin kita sudah sering mendengar bahwa tidak semua penyakit membutuhkan obat. Tidak ada istilah ‘a pill for every ill’ (sebutir pil untuk setiap penyakit). Kenapa? Karena dari beragam jenis penyakit, ada penyakit yang memang bisa sembuh sendiri melalui sistem pertahanan tubuh kita tanpa perlu obat. Penyakit yang disebabkan oleh virus salah satunya. Penyakit pada otot dan sendi, kegemukan, stres serta beberapa penyakit lain juga tidak memerlukan obat-obatan. Dokter biasanya hanya menyarankan untuk olahraga, membiasakan pola hidup dan makan sehat. Pemberian obat-obatan semestinya mempertimbangkan untung dan rugi. Jadi kalau memang tidak perlu dan hanya menimbulkan efek samping, buat apa minum obat???

Selain faktor pasien yang menyebabkan timbulnya penggunaan obat yang irasional, sistem praktik kedokteran di negara kita juga menjadi faktor lain. Dokter Nadesul dalam artikelnya pernah menulis bahwa di dunia ini tidak ada dokter yang dalam seharinya memeriksa ratusan pasien seperti di Indonesia. “meski dengan undang-undang kedokteran baru, jumlah klinik tempat praktik sudah mulai dibatasi, tapi kalau jumlah pasien yang diperbolehkan diperiksa masih melebihi kemampuan fisik, mental, maupun rasa sosial sang dokter, tetap saja bakal berdampak buruk pada pasien,” tulis dokter Nadesul.

Mari kita bandingkan praktik kedokteran kita dengan negara luar. Tak perlu jauh-jauh, di Singapura seorang dokter praktik dibatasi jumlah pasien nya dengan jam konsultasi rata-rata 30 menit sampai 1 jam dan hebatnya para dokter ini digaji oleh pemerintah dengan sangat layak. Dokter tidak terburu-buru melakukan pemeriksaan sehingga kemungkinan pemberian obat yang tidak rasional jauh lebih rendah, pasien pun merasa dihargai, serta puas berkonsultasi tentang penyakit yang diderita.

Di negeri tercinta ini, saking membludaknya pasien di tempat praktik, seorang dokter bahkan sudah tidak sempat memeriksa pasien dengan teliti, diagnosa penyakit yang sering tidak sempat disampaikan ke pasien, bahkan sampai penggunaan obat yang irasional sangat rentan terjadi. Masih dalam tulisan yang sama dokter Nadesul juga menyebutkan kemungkinan dokter yang melakukan tindakan seperti itu. “Di semua negara, jumlah pasien yang boleh diperiksa dalam sehari dibatasi oleh undang-undang. Itu dimungkinkan karena sistem kesehatan di negara maju dokter digaji penuh oleh pemerintah untuk bisa hidup memadai hanya dengan berpraktik di satu institusi. Dokter kita harus cari tambahan sendiri dan praktik sore hari, sebab gajinya tak memadai untuk standar profesinya. Dokter kita rela menjadi kutu loncat dari klinik ke klinik lain agar banyak meraih sabetan tambahan.”

Rasa khawatir kehilangan pasien juga menjadi faktor lain seorang dokter rela mengkombinasikan berbagai jenis obat yang tidak perlu. Akhirnya dokter meresepkan sejumlah obat yang dikenal dengan ‘obat dewa’. Beberapa jenis antibiotik, ditambah antihistamin, kortikosteroid dan vitamin menjadi senjata terampuh dari dokter yang seperti ini. Yang justru hanya akan semakin melemahkan sistem pertahanan tubuh seseorang.

Sudah saatnya kita merubah paradigma yang salah selama ini tentang dokter, pasien dan obat. Seharusnya, ketika ke dokter yang perlu kita ketahui adalah sebetulnya kita sakit apa serta cara penanganan terbaik seperti apa. Tidak mengapa kita menjadi pasien yang ‘cerewet’ karena sudah menjadi hak seorang pasien untuk bertanya sejelas mungkin tentang penyakitnya dan menjadi kewajiban seorang dokter untuk menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya. Maka ketika ke Dokter tak selamanya harus pulang membawa setumpuk obat. Dan tak perlu kecewa jika kita tidak diberikan obat saat ke dokter. Bukankah ketika kita bisa berdiskusi dengan dokter dan membawa pulang ilmu, sesungguhnya hal itupun sangat berharga???

Mari menjadi pasien cerdas. Pasien cerdas adalah pasien yang proaktif, mengetahui hak dan kewajibannya, berani bicara, bertanya, berkomunikasi efektif, mau belajar, memahami bahwa dokter bukanlah dewa yang tahu segalanya dan harus memberikan obat, mau membangun kemitraan secara aktif dengan dokter, berperan aktif dalam urusan kesehatan, berhati-hati serta teliti sebelum membeli dan meminum obat-obatan, serta bersedia menerima keputusan dan konsekuensi yang telah diputuskan.

Pasien cerdas justru sangat dibutuhkan oleh seorang dokter. Karena pasien yang cerdas dapat membuat para dokter bekerja dengan lebih baik dan profesional. Pasien cerdas dapat menjadi pengingat dan pengontrol kerja dokter, sehingga terjalin kerja sama dengan pasien untuk memutuskan terapi terbaik serta mengurangi kesalahan yang tak perlu. Bagaimanapun, dokter juga manusia yang tak luput dari salah dan lupa. Wallaahul musta’an.
Selengkapnya...

rin_iffah












Tubuh manusia terdiri atas sekitar seratus ribu miliar sel (100.000.000.000.000). bagaikan batu bata pada rumah, sel adalah bahan bangunan yang membentuk tubuh. Sebagian besar sel, seperti sel kulit atau sel otot masing-masing mengandung 46 kromosom. Kromosom adalah unsur utama dalam penentuan jenis kelamin. Dua dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia diketahui sebagai kromosom kelamin. Dua kromosom ini disebut "XY" pada pria, dan "XX" pada wanita. Penamaan ini didasarkan pada bentuk kromosom tersebut yang menyerupai bentuk huruf-huruf ini. Kromosom Y membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kewanitaan.

Pembentukan seorang manusia baru berawal dari penggabungan silang salah satu dari kromosom ini, yang pada pria dan wanita ada dalam keadaan berpasangan. Pada wanita, kedua bagian sel kelamin, yang membelah menjadi dua selama peristiwa ovulasi, membawa kromosom X. Sebaliknya, sel kelamin seorang pria menghasilkan dua sel sperma yang berbeda, satu berisi kromosom X, dan yang lainnya berisi kromosom Y. Jika satu sel telur berkromosom X dari wanita ini bergabung dengan sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin pria. Begitupula jika sperma membawa kromosom X maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin perempuan.

Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita. Tak satu pun informasi ini dapat diketahui hingga ditemukannya ilmu genetika pada abad ke-20. Bahkan di banyak masyarakat, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh pihak wanita. Inilah mengapa kaum wanita dipersalahkan ketika mereka melahirkan bayi perempuan.

Namun, tiga belas abad sebelum penemuan gen manusia, Al Qur'an telah mengungkapkan informasi yang menghapuskan keyakinan takhayul ini, dan menyatakan bahwa wanita bukanlah penentu jenis kelamin bayi, akan tetapi air mani dari pria.

"Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan." (Al Qur'an 53 : 45-46)

Kromosom Y membawa sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X berisi sifat-sifat kewanitaan. Di dalam sel telur ibu hanya dijumpai kromosom X, yang menentukan sifat-sifat kewanitaan. Di dalam air mani ayah, terdapat sperma-sperma yang berisi kromosom X atau kromosom Y saja. Jadi, jenis kelamin bayi bergantung pada jenis kromosom kelamin pada sperma yang membuahi sel telur, apakah X atau Y. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, penentu jenis kelamin bayi adalah air mani, yang berasal dari ayah. Pengetahuan tentang hal ini, yang tak mungkin dapat diketahui di masa Al Qur'an diturunkan, adalah bukti akan kenyataan bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah.

Sumber :
Keajaiban al-qur’an, Harun Yahya
book ‘Why Is yawning Contagious’; Francesca Gould
Selengkapnya...

rin_iffah

“Kalo bukan anestesi, insyaAllah aku mau ngambil spesialis jantung pas ada kesempatan lanjut belajar....” ujarku kepada beberapa teman sejawat yang saat itu nimbrung dalam obrolan ringan tentang keinginan melanjutkan pendidikan spesialis. “ hmmp... dek, saat ini kamu mungkin masih berpikir idealis dengan beberapa mimpi yang ingin kamu capai. Usia mu juga masih muda.... tapi ada satu hal yang harus kamu sadari bahwa kita yang ada di sini adalah seorang perempuan yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Artinya bahwa kelak ada tanggung jawab lain yang harus kita penuhi selain tanggung jawab profesi... bukankah nanti kita akan mempunyai suami serta anak-anak yang manis dan lucu?!!...” timpal dokter yuli tanpa menoleh ke arahku. Sejak tadi ia serius membuat kreasi sulaman bunga-bunga kecil di atas sebuah jilbab mungil berwarna kuning gading. Aku hanya terdiam, sesekali mengiringi ucapannya dengan senyuman yang agak kupaksakan, dalam hati aku berujar “skak mat”.

“Makanya kenapa aku ga mau ngambil bagian besar. Aku udah pernah ngerasain, gimana anakku manggil baby sitternya dengan sebutan ‘mama’. Sedang aku dipanggil ‘tante’. Sakit banget...” dokter berambut pendek dengan kaca mata minus yang berada di samping ku mencoba menguatkan apa yang disampaikan dokter yuli barusan. “tuh kan, lagian apa sih yang sebenarnya kita cari sebagai seorang dokter?? Menjalani hidup sederhana di tengah keluarga yang harmonis, melalui hari-hari dengan melihat anak-anak tumbuh di tengah kasih sayang kedua orang tuanya adalah hal yang sangat membanggakan. Meskipun hanya dengan aktivitas pagi di rumah sakit kemudian siangnya sudah kembali ke rumah, berkumpul bersama keluarga kecil, membersihkan serta sesekali mengatur ulang perabotan di rumah sendiri menjadi hal yang tampaknya sangat menyenangkan. Kalo saya dikasih kesempatan buat lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, saya justru lebih memilih sekolah hanya sekedar untuk gelar perbaikan status yang belajarnya hanya sekali sebulan, bukan untuk mencari uang karena itu bukan tanggung jawab saya, dan memang karena saya bukan kepala keluarga...” kali ini dokter yuli begitu antusias menyampaikan pendapatnya. “tapi kan, ga semua orang ngambil spesialis karena tujuan prestise semata, ada sebagian orang yang justru mendapatkan kepuasan batin ketika dihadapkan dengan begitu banyak kesulitan dalam menyelesaikan sebuah kasus rumit, atau misalnya ketika ia mampu menyembuhkan pasien karena ilmunya yang mumpuni... atau karena memang senang memiliki liku hidup yang penuh warna” sela ku tak kalah bersemangat, tak ingin mimpiku di anggap tak ada artinya oleh mereka. “iya dek, wajar-wajar aja kamu punya mimpi seperti itu, dan semua terserah pada pilihanmu, karena tiap orang punya hak untuk memilih dan siap menerima konsekuensi dari tiap pilihan yang dibuatnya. Tapi coba bayangkan, disaat kamu lagi istirahat bersama suami tercinta tiba-tiba ada panggilan dari rumah sakit karena mendadak ada operasi. Gimana perasaan suami mu saat itu, dan gimana seharusnya kamu memposisikan diri sebagai seorang dokter anestesi tapi di sisi lain sebagai seorang isteri dari suami mu yang saat itu berbaring tepat di sampingmu...., katanya siih, agak susah lho seorang isteri melepaskan pelukan suaminya.... menurut dokter yang udah nikah nih, gimana???” kali ini dokter yuli mencoba mencari pembenaran dari seorang dokter yang jauh lebih senior sambil sesekali melempar senyum ke arahku yang jelas kelihatan salah tingkah.

“satu hal yang membuat kita menjadi dokter yang berbeda adalah karena kita seorang perempuan. Sulit dipungkiri, ketika sudah berkeluarga tiap detil mimpi, cita-cita, harapan tentang perjalanan panjang karir kedokteran kita berubah seiring dengan makin dewasanya kita menghadapi kenyataan hidup berumah tangga. Belum lagi, kita harus mengantongi izin suami untuk tiap keputusan yang akan kita ambi meskipun keputusan sepenuhnya ada di tangan kita...” dokter yang saat ini menjabat sebagai kepala IGD ini bertutur dengan bahasanya yang lembut, mencoba menyentuh sisi terdalam hatiku. Aku hanya bisa tertunduk dalam seolah-olah menjadi pesakit di antara mereka.
“waah, kayaknya rin udah mulai berubah nih, ga mau ngambil anestesi atau jantung lagi ya....” canda dokter yet yang dari tadi menyimak pembicaraan kami. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang entah ditafsirkan sebagai apa????

Subuh ini, ketika membuka inbox, aku mendapat sebuah pesan dari seorang teman (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang lebih banyak)... isi pesannya :
Kutipan dibawah ini adalah catatan Ainun Habibie pada buku Setengah Abad B J Habibie, yg dikutip ulang dari buku Habibie&Ainun :

“ Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir ; buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan kepada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orangtua kehilangan anak, dengan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan hidup pas-pasan."

(Dan ini menjadi bukti bahwa sebagian besar perempuan, berprofesi dokter sekalipun tetap menganggap dirinya punya kelemahan dan kelebihan sekaligus menjadikannya beda dengan laki-laki, bukan untuk dibeda-bedakan apatah lagi disejajarkan dalam semua aspek sebagaimana isu gender yang begitu keras berhembus dan menampar wajah perempuan-perempuan Indonesia yang perlahan mulai kehilangan jati dirinya). Wallaahul musta’an....

@ IGD di sela obrolan ringan sembari membunuh waktu yang mulai merangkak menapaki angka jam 2 siang (20/05/11).... thanks all untuk inspirasi siang-nya.

Selengkapnya...

rin_iffah

Pembuluh darah adalah pipa yang membawa darah sepanjang tubuh dan meliputi arteri, vena dan kapiler. Diperkirakan terdapat lebih dari 97.000 kilometer pembuluh darah dalam tubuh anak kecil, dan sekitar 161.000 kilometer dalam tubuh orang dewasa. Keliling bumi di khatulistiwa adalah 40.000 kilometer. Jadi, jika direntangkan seluruhnya, pembuluh darah orang dewasa akan mengitari bumi sebanyak empat kali!!!


Sebagian besar pembuluh darah di dalam tubuh manusia merupakan pembuluh kapiler mikroskopik yang tebalnya sekitar seperseratus milimeter. Setetes darah berisi jutaan sel darah merah, dan pembuluh kapiler ini begitu kecil sehingga sel darah merah hanya bisa melewatinya satu demi satu. Sekitar 40 miliar kapiler membentuk bagian terbesar dari pembuluh darah orang dewasa.

Source: book ‘Why Is yawning Contagious’; Francesca Gould
Selengkapnya...

rin_iffah


Di keping mata uang perjuangan Islam, Muhajirin dan Anshar mencetak peran agung di masing-masing sisinya. Masing-masing sisi mata uang itu ditempa dengan palu godam kesulitan, kenestapaan, rasa sakit dan air mata, lalu dikilapkan dengan kerelaan dan cinta.

Terperangah kota Qadisiyah menyaksikan pasukan Muhajirin dan Anshar menyebrangi sungai yang membatasi mereka dengan kamp pasukan Persia. Bangsa Arab yang tak mengenal air ini menjadi begitu berani, saling bergandeng tangan, berangkulan membelah Eufrat yang deras.
Cerita belum usai, ada yang lebih membuat terperangah. Rombongan besar itu tiba-tiba berhenti di tengah arus yang ganas dan semuanya membungkuk meraba-raba dalam riak. “Kantong airku! Kantong airku jatuh!”, seru salah satu anggota pasukan kaum muslimin yang kantong airnya jatuh. Hal itu membuat puluhan ribu tangan seketika mengaduk-aduk Eufrat untuk mencarinya.

Panglima Persia dan pasukannya yang sedang dag dig dug menanti di seberang dengan pedang terhunus tercekat tenggorokannya. “Hanya karena sebuah kantong air semua pasukan mengaduk-aduk sungai raksasa? Lalu bagaiman kalau salah satu dari mereka terbunuh oleh kita?”, serunya.

Ya, mereka tak pernah akan mengerti tentang ukhuwwah sebelum merasainya. Jika pedang menebas salah satu dari pasukan muslimin, yang kena pedang tak akan berteriak karena ia hanya merasakan cubitan yang mengantarnya menuju keridhaan Rabbnya. Yang justru akan berteriak adalah saudara seiman yang ada di sampingnya! “aaah!”, melengking teriakannya, “....saudaraku, engkau mendahuluiku ke surga! Engkau mendahuluiku ke surga!”

Subhanallaah!!! Persaudaraan macam apa ini, yang membagi dua apa yang dimilikinya untuk saudara seimannya sebagaimana yang ditunjukkan Sa’d ibn Ar Rabi’ kepada saudara muhajirinnya Abdurrahman bin Auf “Saudaraku, sesungguhnya aku termasuk orang berharta di Madinah ini. Aku memiliki dua buah kebun yang luas. Di antara keduanya pilihlah yang kau suka, dan ambillah untukmu. Aku juga memiliki dua rumah yang nyaman, pilihlah mana yang kau suka, tinggallah di sana. Dan aku memiliki dua orang isteri yang cantik-cantik. Lihatlah dan pilihlah salah satu diantaranya, pasti akan kuceraikan lalu kunikahkan denganmu.”
Apa gerangan yang terjadi dengan persaudaraan ini, yang mengantarkan tiga mujahid menemui Robbnya di akhir kisah Yarmuk dalam keadaan tidak meminum seteguk pun air karena mengutamakan saudaranya yang lain.

Persaudaraan itu begitu indah, namun tentu tak lepas dari ujian. Salah satu kronik menegangkan antara Muhajirin dan Anshar adalah ketika tiba masa pengangkatan khalifah setelah Rasulullah. Orang-orang Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah menyepakati pengangkatan Sa’ad ibn ‘Ubadah, pemimpin anshar yang sedang terbaring demam menggigil di pojok balai.

Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah kemudian datang ke Saqifah. Dengan fasih Abu Bakar menenangkan Anshar yang sedang di bakar ghirah. “Kami (Muhajirin) adalah para amir, dan kalian (Anshar) adalah para Wazir... maka bai’atlah Umar atau orang kepercayaan ummat ini, Abu Ubaidah!”
Umar mengepalkan tangan dan gemeretak giginya karena malu, sedang Abu Ubaidah menunduk berkeringat dingin tak mampu mengangkat kepalanya. “justru engkau yang akan kami bai’at...” kata Umar kemudian sambil menggenggam sangan sahabatnya itu.

Satu saja yang melatari kronik bersejarah ini, motif tanggung jawab kelangsungan dakwah dan kepemimpinan kaum muslimin. Anshar, penghuni kota sebelum kedatangan Muhajirin layak untuk menanggung amanah itu, tapi keutamaan Muhajirin dalam tempaan dan manajemen lebih diperlukan bagi kemashlahatan. Subhanallaah, orang-orang mulia yang bersaudara ini bisa berselisih, tapi motifnya mulia, dan berakhir juga dengan kemuliaan.

“Orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam di antara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka jannah yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.” (at Taubah 100)

(Disadur dari Buku Saksikan bahwa aku seorang muslim; Dua Bendera, Salim A Fillah dengan beberapa tambahan dan perubahan)
Selengkapnya...