rin_iffah


Betapa seringnya, kita para penempuh jalan dakwah yang mulia ini menjadi resah sendiri. Di banyak tempat, kita sering menyaksikan fenomena ketidaksabaran dalam menjalani dan melewati aral, onak dan duri dalam kisah kemuliaan dakwah ini. Suatu saat, kita mendengar dan menyaksikan para pemuda Islam melakukan penghancuran dan pengrusakan atas nama jihad. Di kali yang lain, kita melihat ketidaksabaran itu mewujud dalam berbagai vonis kesesatan dan pengkafiran yang begitu mudah terucapkan atau tertuliskan. Dan di waktu yang lain, ketergesaan itu diwujudkan dalam bentuk kepercayaan diri yang berlebihan untuk memasuki dunia politik praktis; seolah itu menjadi sebuah jaminan (satu-satunya jalan) untuk mewujudkan Islam dengan seluruh perangkat komprehensifnya.

...Sekadar mengingatkan, jalan dakwah ini adalah jalan yang sangat panjang. Para penempuhnya harus memiliki persediaan kesabaran yang berlimpah untuk melewati jejak-jejaknya. Harus ada azzam yang teguh layaknya para ulul azmi dari kalangan rasul. Kelak di ujung jalan usia kita menempuh jalan dakwah itu, mungkin kita berpulang pada Allah dengan 100 pengikut, 50, 20, 5, 1, atau tanpa pengikut sama sekali. Tidak masalah. Sebab di jalan ini, yang terpenting adalah sudahkah kita menyampaikannya. Ada yang ikut atau tidak semua itu di Tangan Allah Ta'ala.

Sebaliknya, seorang penempuh jalan dakwah harus terus menjaga keikhlasan hatinya, terutama dari penyakit ghurur. Jangan tertipu dengan ramainya khalayak pengikut yang terpesona dengan dakwah anda. Jika kelak Allah menakdirkan ada puluhan ribu, bahkan jutaan kaum Muslimin hadir dalam tabligh akbar anda, maka itu adalah saat yang tepat untuk beristighfar dan berlindung dari penyakit ghurur. Yah, karena itu akan mengekang hasrat ketergesaan anda untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya belum saatnya untuk dilakukan.

... Maka lagi-lagi, kita harus berhenti sejenak untuk merenungkan skala prioritas dakwah kita. Teringatlah kita pada ungkapan hikmah yang mengatakan: "Tegakkan Negara Islam dalam dirimu, niscaya ia akan tertegak di tanah airmu." Maka seluruh upaya dakwah saat ini berpusar pada penegakan 'negara Islam' dalam pribadi-pribadi muslimin. Melahirkan pribadi yang memiliki tauhid yang murni, tanpa noda syirik dan bid'ah, sesuai jejak as-Salaf as-Shalih. Melahirkan jiwa-jiwa yang merindukan perjumpaan dengan Allah. Dan perjalanan untuk itu, sungguh masih terlalu panjang untuk sebuah negeri berpenduduk lebih dari 200 jiwa ini...

Maka sekali lagi, jangan pernah tergesa-gesa....

sumber: Majalah al bashirah

Selengkapnya...

rin_iffah


Indonesia adalah surga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
Di sawah, petani merokok, di pabrik, pekerja merokok,di kantor pegawai merokok, di rese parlemen anggota DPR merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebinan, pemetik buah merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pekuburan, sebelum masuk kubur orang merokok

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kulaih, dosen merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.
Di angkot Kijang, penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk, orang bertanding merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyebrangan antar pulau, penumpang merokok, Di andong Yogya, kusirnya merokok,sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Di pasar orang merokok, di warung tegal pengunjung merokok, di restoran, di toko buku orang merokok, di kafe di diskotil para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
Bayangkan isteri-isteri kita yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
Ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok

Duduk kita di tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita di sebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakkan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekalipun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
Tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasibih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, Cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhinn, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, Ya ustadz. Wa yuharrimu’alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh makruhkna, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu mulai pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah ada 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.
Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, Cuma setingkat di bawah korban narkoba.

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negeri kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celanan, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Selengkapnya...

rin_iffah

Ada kala kita terlupa
Di saat sakit mendera raga, kecewa menyelimuti hati
Mendung yang terus menggelayut hari
Tak ada lisan yang memuji asmaNya
Yang ada hanyalah keluhan, rutukan,
Ocehan menantang takdir
“Allah melupakanku!!!” Allah tak adil padaku......
Duuh,,,, inilah kita
Bersyukur hanya di saat suka,
Dan kufur tatkala duka menghampiri.......
Ataupun sebaliknya....

Ah, mungkin aku dan kau tak jua tersadar,
Secuil ujian yang menyapa hari
Segores luka yang menyayat hati
Bahkan jika seluruh hidup kita dihujani kesedihan,
Diselimuti kenestapaan, dan terbalut kemelaratan
Demi Allah....
Tak sebanding dengan timbangan nikmat yang Allah titipkan ke atas diri kita
Tak sebanding dengan lautan kasih sayangNya yang tak bertepi....
Tak seujung kuku pun............

Andaikan Allah berkehendak
Mencabut satu di antara berjuta nikmatNya
Apalah daya kita.....
Akankah kita bisa menatap indahnya warna warni pelangi,
Mengagumi hamparan langit biru dengan arakan awan putih
Tanpa nikmat pandangan

Olehnya, Bahagia pun derita
Hanya bisa dinikmati oleh hambaNya yang mu’min
Bagi seorang mu’min
Sakitnya adalah obat....
Sehatnya adalah penguat
Ia yakin akan janji Allah
Dalam sabar menantang ujian
Ada dua kemudahan dibalik sebuah kesulitan
Begitulah Allah berpesan kepada mu’min

Berlipat syukurnya di saat bahagia,
Lisannya tak tanggung berucap :
“Alhamdulillaahilladzi bi ni’mati tathimu shaalihat...”

Ujian nestapa disikapi dengan penuh rasa syukur
dan kalimat itu tetap mengalun lembut.....
“Alhamdulillah, ala kulli hal...”

Karena mu’min jualah yang mampu merubah
mendung hati menjadi pelangi hari



Selengkapnya...

rin_iffah


Ternate, 04 Desember 2011 M
Pukul 11.00 a.m
Terik memanggang kota Ternate. Panas yang kian menyengat ini tak kunjung beranjak. Pemandangan yang kontras tampak di bagian barat. Kabut tebal menutupi hampir seluruh permukaan gunung Gamalama. Pagi menjelang siang itu, saya, sebagaimana penduduk yang lain melakukan aktivitas seperti biasa. Setiap ahad, jika tak ada jadwal jaga UGD, maka saya akan menghabiskan sisa hari di mushalla rumah sakit. Menghadiri ta’lim kemudian dilanjutkan dengan tarbiyah dan musyawarah.

Pukul 08.00 p.m
Ba’da shalat isya, penat mulai menjalar setelah seharian tenaga terkuras. Ingin rasanya bersegera merebahkan tubuh di atas kasur yang siap mengantar ke alam mimpi. Tapi rasa itu harus ditepis sejenak mengingat tumpukan tugas yang harus diselesaikan malam itu juga. Status resume pasien, tugas hafalan tarbiyah, proposal kegiatan daurah akhir tahun semuanya harus dituntaskan sebelum beranjak tidur. Sementara di luar kamar, hujan yang dinantikan sejak siang tadi pun turun. Rintiknya menyebar aroma khas kehidupan. Semoga hujan ini menjadi rahmat bagi semesta........ terselip doa di tengah gerimis yang mulai menderas.

Pukul 11.00 p.m
Mata ini sudah tak bisa dipaksa lagi bertahan.... saya pun tertidur hingga terlupa akan janji kepada seorang teman nun jauh di sana untuk menunggu telpon darinya... hujan kian lebat, dingin pun ikut merayap mendukung suasana untuk semakin lelap. Kami tak sadar bahwa hujan di malam itu turut menyertai petaka yang datang tiba-tiba tanpa tanda atau peringatan sebelumnya....
Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang di malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang merugi” (al a’raf 97-99)

Senin 5 Desember 2011 M
Pukul 03.00 a.m
Saya terjaga, masih ada tugas tersisa untuk membangunkan seisi rumah buat sahur. Di luar, hujan masih turun meski tak sederas semalam. Ada yang aneh subuh itu... bau belerang terhidu sangat menyengat.... saya mencoba membuka pintu dan beranjak ke teras belakang. Ah, ini dia sumbernya... seluruh lantai teras tertutup debu setebal lima senti. Saya belum menyadari jika semalam telah terjadi peristiwa yang membangunkan seisi kota Ternate. Saya bersegera ke teras depan, beberapa motor yang terparkir di depan rumah telah tertutup debu hingga tak berbentuk. Saya beranjak ke kamar, menghidupkan gadget mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Dari situs nya metro tv terpajang berita: “Gunung gamalama ternate meletus...” di kabar yang lain: “2000 penduduk ternate mengungsi”. Subhanallaah, saya bahkan tidak menyadari jika semalam tiap jiwa dicekam ketakutan, semalam jalanan tersesak penduduk yang mencari pertolongan. Suara berisik dari dalam rumah semalam pun tak mengganggu tidur saya.

Pukul 03.30
Di sujud panjang malam itu, saya meminta sebentuk kekuatan untuk semua penduduk Ternate. Betapapun musibah adalah bentuk kasih sayang Allah. Kadang ianya terasa ketika berwujud tamparan yang mendarat tepat di pipi kita. Tak setiap kebaikan harus semanis madu, kadang ia harus berwujud empedu, terkadang pahit tapi menyembuhkan. Tiba-tiba, bayangan akhwat memenuhi ruang pikir saya. Bergegas saya mengambil hp dan mencoba menghubungi mereka terutama yang tinggal di bagian utara. Tapi tak ada jawaban. “Rabb, lindungi mereka.........”

Pukul 09.00 a.m
Di luar hujan debu mulai mengganas, namun tak lama berselang, rintik hujan mendinginkan panasnya hawa. Bau belerang semakin menyengat, jalanan sepi dan kian mencekam. Tak ada seorang pun yang berani keluar rumah. Semua memilih menutup rapat pintu dan jendela menghindari kemungkinan terburuk dari erupsi gunung gamalama ini.

Pukul 10.00 a.m
Beberapa pesan masuk di inbox, sebagian dari teman-teman di sekitaran yang sempat tak membalas pesan semalam dan beberapa lainnya dari mereka yang berada di luar Ternate, menanyakan kabar saudara-saudaranya yang mengalami musibah di sini, tak lupa memberikan kekuatan dengan doa. Mereka, meskipun jauh tetap terasa begitu dekat. Ah, indahnya ukhuwah fillaah.

Pukul 14.00
Siang ini bertepatan dengan giliran saya untuk stand by di UGD. Baru saja tiba di UGD saya disambut oleh seorang pasien yang mengalami trauma listrik akibat lampu yang bergilir dipadamkan sejak dini hari sampai siang tadi. Syukurlah tak ada luka bakar meskipun kondisinya agak lemah. Selang tak berapa lama seorang pasien, laki-laki muda berusia dua puluhan tahun masuk UGD dengan mengamuk dan bicara meracau. Kejadian baru dialaminya semalam setelah mendengar kabar letusan gunung merapi. Trauma itu begitu mengguncang jiwanya sehingga psikisnya pun menjadi tak stabil. Disusul seorang gadis kecil ditemani ibunya, muntah-muntah hebat dari semalam setelah dibangunkan dengan paksa oleh kedua orang tuanya berlari menuju daerah kota untuk menyelamatkan diri dari ancaman keganasan gamalama. Mereka tinggal di perkampungan dekat kaki gunung gamalama, daerah yang paling mengalami dampak dari letusan semalam. Raut ketakutan tergambar jelas di wajahnya, dengan setengah berbisik dan hati-hati saya bertanya “dek, kenapa??” “saya takuut dok!!” gemetar sekujur tubuhnya menjawab. Melihat gadis ini tiba-tiba terlintas berbagai musibah yang terjadi di negeri ini beberapa tahun terakhir, apa yang dialami kami tak sebanding dengan trauma kehilangan yang dialami para bocah korban tsunami di Aceh ataupun Gempa bumi di Jogja. Bagaimanapun, bencana selalu menyisakan luka.....
“Rabb, kuatkan kami dan mereka...”


Pukul 04.00 p.m
Sebuah mobil sedan berplat merah berhenti tepat di depan UGD. Beberapa laki-laki berbadan tegap berpakaian safari rapi bergegas turun disusul seorang bapak tua berusia sekitar 50 an tahun menggenggam sebuah kantong plastik besar berwarna merah berisi setumpuk baju. Di sampingnya seorang laki-laki lain berpenampilan sederhana dengan celana jingkraknya yang basah hingga setinggi betis dan menggunakan sendal jepit, berusaha menenangkan bapak tua tadi. Beliau adalah wakil gubernur kami, bersama bapak yang menjadi korban letusan gunung gamalama. Mereka datang mencari seorang gadis kecil yang adalah anak dari bapak tua tadi. Mereka terpisah sejak semalam. Syukurlah anak perempuan itu tak lain adalah gadis yang sebelumnya masuk dengan muntah-muntah dan trauma akut pasca bencana.

Malamnya, ibu negara kami (isteri dari pak walikota) datang berkunjung ke UGD mencari tahu apakah masih ada korban yang kami rawat. Ada yang menarik dari kejadian tadi. Kami jarang bertemu dengan pemimpin kami jika tak ada momen-momen khusus, salah satunya hari ini. Meskipun demikian, tetap ada rasa kagum atas kesediaan mereka menghampiri kami. Saya Jadi teringat dengan kepemimpinan sahabat mulia Umar bin Khattab yang setiap malam meronda memeriksa kondisi rakyatnya. Yang memikul sendiri gandum untuk seorang ibu yang kesulitan mendiamkan tangis lapar anaknya. Atau seperti Ummu Kultsum binti Ali yang di tengah malam bekerja keras menolong kelahiran salah seorang warganya, sementara suami tercinta Umar Radiyallaahu anhu memasak roti dan menghangatkan susu sambil menghibur gelisah seorang calon ayah. Betapapun, mereka bukanlah sahabat nabi tapi kami tetap merindu sosok teladan itu.

Pukul 09.00 p.m
Saatnya pulang... Jalanan masih sepi, hujan tak lagi mengguyur tapi debu masih menghalangi jarak pandang. Berkendaraan seorang diri di situasi seperti ini tak mengurangi rasa khawatir. Setiba di rumah saya baru menyadari bahwa kondisi tubuh saya seperti pekerja galian pasir yang bermandikan debu galiannya sendiri.

09.45 p.m
Beberapa sms memenuhi inbox, pesan dengan isi yang sama cukup mengganggu hati, isinya tentang ramalan angka keramat 26 yang dikait-kaitkan dengan beberapa peristiwa bencana di waktu lampau yang terjadi di angka 26, yang ujung-ujungnya dihubungkan dengan QS ke 26 dan diminta dikirimkan ke 10 orang agar selamat. Duuh, Di saat ujian datang bukannya kita semakin mendekatkan diri kepadaNya dengan menguatkan keimanan, meneguhkan keyakinan kita akan kehendak Allah, tapi justru dikeruhkan dengan pesan yang justru mengandung kesyirikan. Beginikah cara kita saling mengingatkan di tengah musibah yang menimpa?
“setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam lauhul mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah” (QS Al Hadiid:22)
“Rabb, ampuni kebodohan kami....”


Selasa, 6 Desember 2011 M
Pukul 11.00 a.m
Di luar UGD debu berterbangan di tiup angin disertai hawa panas menyengat. Sementara di dalam ruang dokter terdengar diskusi hangat tentang kemungkinan terburuk jika cuaca panas bertahan beberapa hari ke depan. Infeksi saluran pernapasan akut kemungkinan akan menjadi langganan rumah sakit belum lagi persediaan masker yang menipis. Tapi yang menarik dari perbincangan siang itu adalah ketika ada yang mengatakan bahwa cuaca panas seperti ini bisa disiasati agar turun hujan dengan meminta bantuan ‘pawang hujan’. Ah, lagi-lagi musibah ini belum mampu menarik kita untuk kembali sepenuhnya kepadaNya. Padahal orang-orang musyrik terdahulu meskipun tetap dalam kemusyrikan mereka, ketika musibah menghampiri mereka kembali kepada fitrahnya, mentauhidkan Allah.
“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepadaNya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut:65)

Pukul 09.00 p.m
Sebuah pesan singkat lagi-lagi menghias layar Hp. Semenjak kejadian ini banyak pesan yang tak putus-putusnya. “Rin, dapet ga broadcast kalo akan terjadi ledakan gunung jam 22.00 nanti..?” tak tanggung-tanggung isi broadcastnya memakai kata yang terkesan sangat menakutkan ‘meledak’!!!. Sayangnya sumber broadcast tersebut tidak jelas dari mana sehingga hanya menimbulkan prasangka, menambah kekhawatiran berkepanjangan meskipun intinya mengajak kita untuk lebih waspada.

Rabu, 7 desember 2011 M
Pukul 06.30 a.m
Saat saya membuat tulisan ini, Ternate mulai pulih. Tak ada letusan, tidak pula kabut tebal yang menutup pandangan ke arah gunung Gamalama sebagaimana Senin dini hari kemarin. Pagi ini, dari balik jendela kamar, saya menatap keindahan gunung yang berdiri kokoh 1700 meter di atas permukaan laut itu dengan takjub. Meskipun diselimuti kabut tipis di puncaknya, namun tetap indah seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Gamalama, dengan sejuta pesonanya, juga adalah makhluk Allah. Dan hari ini, gamalama mengajarkan kepada kami lewat 'kejutan' kecilnya, bahwa ia pun tunduk di atas perintah Sang Maha Pencipta.
“Tidaklah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorangpun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.” (Al hajj:18)

“Robb... izinkan kami mengambil ibrah atas tiap kehendakMu....”


*Teruntuk saudari-saudariku yang tak henti mendoakan kami di sini, Jazaakunallaahu khairan
Selengkapnya...

rin_iffah

Salah satu kejadian menakjubkan di antara kejadian yang terjadi di semesta ini adalah proses tumbuh dan berkembangnya manusia. Dimana kita berasal dari sebuah sel telur yang dibuahi oleh satu sel sperma ‘terpilih’ menjadi triliunan sel yang menyusun detail struktur tubuh kita. Sel-sel ini memiliki dua puluh tiga pasang kromosom yang menyimpan DNA kita. DNA inilah yang memberikan kombinasi tak terbatas yang diwarisi dari ayah dan ibu. Hal ini menjelaskan mengapa setiap orang yang ada di muka bumi ini tak ada yang memiliki ciri yang sama persis. Jika mata coklat dan rambut hitam dari ibu dikombinasikan dengan mata biru dan rambut pirang dari ayah, maka ada kemungkinan empat kombinasi yang diwariskan kepada anak-anak mereka. Coba kita perluas skenario ini dengan dua puluh tiga kromosom yang ada di tubuh kita. Maka secara matematis maka akan terdapat sekitar dua pangkat dua puluh tiga atau sekitar 8,3 juta kombinasi, artinya, kemungkinan dua orang saudara kandung seibu seayah memiliki kombinasi gen yang sama persis sama adalah 1 berbanding 8 juta (tidak termasuk kembar identik).


Bayangkan jika ini diskenariokan pada dua orang yang kembar identik. Mereka mendapatkan DNA yang persis sama, tapi mengembangkan karakteristik yang mungkin berbeda selama pertumbuhannya; yang satu bisa mengidap alergi sementara yang lain tidak. Yang satu bisa mengembangkan sejenis penyakit sedang yang lain tidak. Yang satu bisa jago matematika sedang yang lain justru menyukai seni. Apa yang menyebabkan perbedaan-perbedaan ini? Sesuatu di dalam lingkungan mereka (kemungkinan sejak di dalam rahim) memengaruhi ekspresi gen-gen mereka dengan cara yang berbeda. Sesuatu itu bernama epigenetika. Dan hebatnya, seorang ibu hamil bisa berperan dalam menentukan ekspresi gen yang diinginkan atau tidak diinginkan pada anak yang dikandungnya.

Secara sederhana, setiap sel dalam tubuh manusia memiliki kurang lebih 2 meter DNA yang dikemas dalam sebuah inti sel yang sangat kecil dengan diameter hanya sekitar 5 mikrometer. DNA tersebut melingkar pada gelondong-gelondong protein yang disebut histon. Tidak semua DNA anda dapat diekspresikan atau digunakan untuk menciptakan protein di dalam setiap sel, bahkan kebanyakan dari gelondong DNA itu disimpan, bahkan ada yang tidak akan pernah terlihat atau terdengar lagi.

Mari kita bayangkan dari sudut pandang yang lebih mudah dipahami. Misalkan anda dan pasangan anda menikah, masing-masing membawa satu resep favorit keluarga. Misalnya anda menyumbangkan resep rendang sedangkan pasangan anda menyumbangkan resep nasi goreng spesial. Tapi sebenarnya bukan hanya dua resep yang anda berdua miliki, melainkan ratusan, bahkan ribuan (ini dalam tataran genom yang memiliki sekitar dua puluh sampai tiga puluh ribu gen). Beberapa resep ini tertulis di dalam kartu, beberapa di dalam buku, dan beberapa di tulis di atas potongan serbet. Jadi apa yang anda lakukan dengan resep opor ayam? Masukkan ke dalam laci dapur. Sekarang, anda bahkan kesulitan membolak balikkan resep-resep tadi, beberapa di antaranya mungkin tidak bisa anda akses, dan anda benar-benar tidak bisa menemukan resep yang anda inginkan kecuali anda menata resep-resep tadi. Misalnya dengan menempelkan post-it berwarna biru muda pada resep-resep yang anda ingin temukan dengan cepat. Anda menandai resep-resep favorit anda, sehingga anda dapat dengan cepat mencarinya, menemukannya, dan membuatnya beraksi.

Seperti itulah cara kerja epigenetika. Gen-gen tersebut mirip dengan resep. Baik ibu maupun ayah menyumbangkan satu salinan dari setiap resep yang akan digunakan oleh si bayi. Ayah dan ibu memiliki resep-resep yang sama (satu untuk warna mata, satu untuk warna rambut, satu untuk kecepatan tumbuhnya kuku jari, dan sebagainya), hanya saja versinya mungkin sedikit berbeda (mereka disebut alel). Contoh, gen-gen mata bisa cokelat, biru atau hitam. Untuk gen-gen seperti itu, anda hanya mengekspresikan gen dari ibu atau dari ayah anda, artinya hanya satu salinan yang aktif bukan keduanya.

Jadi, bagaimana sebuah sel menon aktifkan 24.999 gen yang tidak dia butuhkan dan mengekspresikan beberapa saja yang dibutuhkan? Setiap sel perlu mengetahui gen-gen mana yang sesuai untuknya dan mana dari gen-gen itu yang akan diekspresikan. Seperti laci dapur yang penuh dengan resep tadi, gen-gen itu sendiri tidak berguna kecuali ada sebuah cara untuk menemukan apa yang anda butuhkan saat anda membutuhkannya.

Salah satu contoh terbaik genetika adalah apa yang disebut dengan ‘pemrograman janin’. Ini bukan berarti anda mengajari anak anada menggunakan remote kontrol sebelum lahir, melainkan mengubah ekspresi genetik yang memengaruhi pertumbuhan dan fungsi plasenta. Di dalam rahim, jika anda memberi bayi anda lebih sedikit nutrisi, anda sedang memprogram bayi anda untuk mengharapkan sebuah lingkungan luar rahim yang serba kekurangan. Jadi, gen-gen yang menyebabkan janin berkembang sangat pesat secara metabolis, dinon aktifkan. Begitu si bayi lahir dan lingkungan luar rahim ternyata berkecukupan, si bayi akan menyimpan lebih banyak makanan yang dia peroleh dan menjadi gemuk, menyebabkan apa yang dikenal dengan fenotip (penampilan luar) yang subur. Menyimpan lebih banyak lemak berarti meningkatkan kemungkinan obesitas dan resiko penyakit jantung, diabetes, stroke, kanker dan osteoporosis saat dewasa. Nutrisi janin yang buruk mungkin juga secara permanen mempengaruhi struktur dan perkembangan organ-organ vital seperti otak. Dalam beberapa kasus, perubahan-perubahan epigenetika ini dapat diturunkan kepada generasi berikutnya.

Maka sekali lagi bahwa semua perubahan epigenetika yang dapat anda lakukan selama janin anda tumbuh bukan hanya mengubah cara gen-gen si anak diekspresikan. Perubahan-perubahan ini juga dapat diwariskan dari generasi-generasi setelah anda meninggal. Jadi tanggung jawab untuk menciptakan sebuah lingkungan yang sehat bagi anak-anak anda lebih besar dari yang anda kira.

Selamat menikmati detik-detik menjadi seorang ibu....

Sumber: Buku “Having a Baby”, mehmet C. Oz, M.D dan Michael F. Roizen, M.D
Selengkapnya...