rin_iffah

Ada rindu di tiap pagi menyapa
Rindu hangat mentarinya, rindu sejuk embunnya 
Rindu dua raka’at pelempang rezki , pengawal hari 
Ada rindu di gerimis membasuh... 
Rindu tiap tetesnya, rindu aroma hidup yang menyertainya 
Rindu do’a mustajab di rintik derasnya 
Ada rindu di terik memanggang 
Rindu langit membiru, rindu arakan awan memutih 
Rindu rehat di termin pertama penghambaan, rindu lapar dahaga di puncak taat berpuasa 
Ada rindu di senja menghampiri 
Rindu lembayung jingganya, rindu lantunan zikir alamnya 
Rindu merdu suara muadzin tuk kembali menghamba padaNya 
Ada rindu di gelap yang menyelimut malam 
Rindu dinginnya, rindu bersepi, bermesra, mengadu, mengeluh padaNya 
Rindu seberkas cahaya fajar yang menanti di penghujung malam

Ada rindu untuk saudari seiman, 
Rindu suara, senyum manis, tawa renyah, marah, gelisah, semangat jihadnya 
Rindu menangis bersama di pinta paling tulus serta harapan paling tinggi untuk dienNya, 
rindu ukhuwah fillaah 
Ada rindu di titik terlemah kala asa tak bersambut nyata 
Rindu mendekap pahala juga janji surga atas ikhlas yang mengalahkan hawa 
Ada rindu di tepian sabar dan penantian tak berujung 
Rindu lelahnya, rindu ujian serta prasangkaan yang terselip di antaranya 
Rindu menghias diri, menempa jiwa untuk masa yang telah pasti adanya 

Di atas semuanya... Ada rindu yang kian membuncah, menyesak dada, 
mengalir bening yang tak kunjung reda 
Rindu berjumpa denganNya, rindu menatap wajahNya 
Rindu membersamai para perindu di firdausNya 



*Kutitip rindu ini untuk-mu lewat Sang Pemilik Rindu, semoga selalu dalam penjagaanNya*
Selengkapnya...

rin_iffah

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...” (At Tahriim 6) 

Ayat ini begitu berkesan di hati sejak pertama kali mendengarnya dengan seksama. Kesan pertama muncul saat tabligh akbar yang dibawakan oleh seorang Syaikh dari Arab Saudi yang saat itu berkunjung ke kampus kami sekitar tujuh tahun yang lalu, beliau terugugu, kehilangan kata ketika membacakan ayat ini yang diikuti dengan tangis serempak oleh peserta. Kesan yang lain saat ayat ini atau lebih tepatnya surat at Tahrim ini menjadi wasilah doa dari sang murabbiyah di majelis tarbiyah kala itu, agar saya bisa menjadi seorang thabiibah yang juga hafidzah, sebuah titik awal keinginan besar untuk menjaga ayat-ayat Al-qur’an. Bahkan saking berkesannya, sempat terpikirkan meminta kepada calon suami (suatu saat nanti) untuk mencukupkan maharnya dengan surah ini. 

Lupakan sejenak dan mari kita beranjak kepada topik yang ingin saya bahas. Da’wah keluarga terkadang menjadi prioritas yang kita letakkan pada nomor sekian di antara prioritas da’wah kita. Maka tidak heran banyak aktivis da’wah yang terkenal tangguh dan memiliki kontribusi besar di luar rumah namun tak mampu berbuat banyak atas pelanggaran syari’at yang terjadi di dalam rumahnya. Ia bisa berteriak lantang atas masalah yang menimpa kaum muslimin di negerinya bahkan di seluruh penjuru dunia, namun hanya bisa menangis perih tak mampu bersuara ketika mendapati adiknya masih belum menutup aurat dengan sempurna, kakaknya masih disibukkan dengan pacaran, dan orang tuanya masih tebelenggu oleh adat mistik yang kian menggerogoti akidah. Bahkan ia tak mampu berbuat banyak ketika pernikahan yang ia impikan justru disesaki oleh nilai-nilai jahili. Idealisme-nya terpasung hanya karena ia lupa untuk memprioritaskan berda’wah pada orang-orang terdekatnya, pada keluarganya.

Ada yang juga menarik disimak pada sebuah keluarga kecil yang suami isterinya adalah aktivis da’wah. Mereka bersatu karena niat mulia mendirikan keluarga yang tersemai benih-benih kebaikan, yang setiap nafas dalam kehidupan rumah tangganya dipenuhi ruh da’wah Ilallaah. Tapi apa yang didapati anak-anaknya dengan kondisi mereka, bisa jadi si kecil yang setiap hari membersamai abi-nya saat mengisi ta’lim, mendampingi ummi-nya dalam berbagai majelis syuraa, melakukan aktivitas sosial dan lain sebagainya justru mengeluh kepada teman sebayanya “Nanti kalau sudah besar, ga mau ah jadi kayak Abi sama Ummi. Sibuk terus... capek, ngurusin orang melulu...” Kalimat polos itu mengalir dengan ringan karena seringnya mereka menyeksamai aktivitas orang tuanya. Mereka melihat betapa orang tuanya kehabisan energi bahkan uring-uringan terhadap aktivitas da’wah yang mereka jalani. Mungkin abi dan umminya selalu menyemangati mereka dengan surga, tentang kecintaan kepada da’wah. Tapi mereka jauh lebih percaya terhadap tatapan orang tuanya, tutur kata, sorot mata dan sinar wajahnya yang seolah berkata “Nak, ummi tuh capek seharian, jangan bikin ummi marah ya..”

Tidak mudah memang menjadi orang tua. Tak semudah menyusun kalimat dalam visi pernikahan “Menjadikan rumah tangga sebagai lahan tumbuhnya generasi yang akan menegakkan panji Islam” atau tidakkah kita mendengar teguran Allah dalam KalamNya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisaa 9)

Persepsi kita tentang aktivitas da’wah yang kita jalani juga akan mempengaruhi ruh dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Maka tak heran jika seorang akhwat di’boikot’ oleh orang tuanya dari aktivitas da’wah dan tarbiyah karena nilai ujiannya yang anjlok atau tak bisa menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya, bertahun-tahun menjadi penghuni kampus dengan alasan sibuk dengan aktivitas da’wahnya. Ataukah seorang suami yang tidak mengizinkan isterinya menghadiri tarbiyah, mengikuti kegiatan da’wah karena tak mampu membereskan rumah dan anak-anaknya. Yang ketika bidadarinya itu terlalu sibuk di luar rumah justru membuat segalanya terbengkalai.

Saya begitu terkesan kepada sebagian akhwat semasa kuliah dulu yang walaupun amanahnya menggunung; pagi kuliah, siang tarbiyah, sore mengisi tarbiyah, malamnya harus mabit bermusyawarah tapi nilai-nya tak pernah di bawah A atau B dan wisuda pada waktu yang semestinya. Orang tua merekapun begitu mendukung, tak sungkan ketika diajak melihat secara langsung aktivitas da’wah anaknya dengan ikut menghadiri ta’lim, tabligh akbar dan kegiatan sejenisnya. Juga sebagian ummahat yang walaupun memiliki banyak anak, banyak amanah da’wah tetapi tetap mendapat izin dari suami-suami mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan syuraa. Suami mereka pun dengan setianya mengantar jemput tanpa merasa terbebani. Bahkan anak-anak mereka dengan bangganya berujar dengan lantang dan begitu tegasnya “Pokoknya pengen jadi kayak abi dan ummi kalo udah gede nanti!” Semua itu setelah mereka melihat semangat positif yang terpancar dari wajah abi dan umminya. Anak-anak itu benar-benar melihat ruh jihad yang menyala dan ghirah perjuangan yang terpancar dahsyat dari sorot mata abi dan umminya. Cahaya yang sebegitu kuatnya hingga merekapun melepas abi dan umminya dengan tatapan yang menyejukkan. Dan tatapan sang putra semakin menyalakan semangat di dada abi dan umminya. Semangat untuk menyelesaikan amanah-amanahnya dengan puncak ihsan. Semangat untuk semakin banyak berkontribusi bagi ummat. Semangat untuk segera kembali dan menemukan kembali penguat nyalanya di sorot mata dan mimik wajah sang mujahid kecil. Maka disitulah da’wahnya.....

Barometer keberhasilan da’wah kita tak sekedar terukur dari banyaknya kader da’wah yang mengikuti seruan kita, suksesnya kegiatan-kegiatan akbar dengan banyak peserta dan bertabur pujian. Tapi lebih dari itu, ketika rumah kita menjadi tempat yang paling nyaman di saat letih menyapa di sela-sela aktivitas da’wah yang menguras energi, yang ketika berada di luar kita selalu rindu akan suasananya yang dipenuhi lantunan ayat-ayat Allah bukan suara musik dan ribut televisi yang menyesakkan dada atau cacian serta umpatan yang menghiasi hari para penghuninya. Rumah yang kian mensurgakan peran kita sebagai mu’min sejati bukan yang menjerumuskan kita bersama penghuni lainnya ke dasar neraka. Juga (mengutip tulisan-nya ustad Salim A. Fillah) agar semangat memperbaiki negeri tidak berubah menjadi nafsu yang mengharuskan diri berkuasa, hingga lupa bahwa dari kamar tidur anak-anak, pemimpin sejati negeri ini 30 tahun mendatang sedang menanti bimbingan seorang ayah dan seorang ibunda.

Yah, karena sudah seharusnya da’wah kita berawal dari rumah. Meski tak mudah, tapi tak ada salahnya mencoba. Mari benahi. Allaahul muwaffiq.
Selengkapnya...

rin_iffah


Banyak yang mempertanyakan foto profil yang terpampang di salah satu sosial network saya. “Tu foto udah boleh diganti, sejak pertama kali nge-fb sampe skarang fotonya itu mulu, bosen ah !” tulis salah seorang teman “Kok fotonya cuman kursi kosong, gelap pula latarnya. Mana wajahnya?”. Belum lagi gambar seekor ulat yang numpang berpose di atas daun menambah deretan komentar bernada protes. “Fotonya menggambarkan sifatmu yang tertutup dan suka menyendiri, bisanya cerewet di blog doank” keluh yang lain. Sepintas jika diamati memang seperti itu adanya. Memajang foto diri?? sudah jelas tidak mungkin. Karena saya seorang muslimah yang tidak ingin memamerkan kecantikan (-sebenarnya sih ngaku-ngaku cantik- meskipun semua wanita memang cantik karena tidak mungkin ganteng) kepada begitu banyak orang yang berada di deretan frenlist. Pernah terlintas untuk mengganti dengan foto flowers atau yang full color, but it’s not me. Saya bukan penggemar bunga, dan tidak suka sesuatu yang “terlalu feminim” apalagi yang cerah ceria. Tapi ada juga teman-teman yang justru berpandangan sebaliknya. Walaupun hasil tes MMPI (tes psikologi buat menilai kondisi psikis seseorang) pas masih internship dulu, pun ketika seorang teman psikolog mencoba menilai kepribadian saya lewat tulisan tangan dan gambar yang saya buat pas lagi dalam masa diklat prajabatan memberikan kesimpulan yang sama, saya dikategorikan dalam makhluk ‘introvert’

Anyway, tulisan ini tidak ada hubungannya dengan siapa saya, tapi lebih kepada tipikal kita selaku manusia. Karakter khas atau kepribadian yang melekat kepada diri kita sering menjadi penilaian orang lain apakah seseorang bisa dikatakan orang ‘baik’ atau ‘tidak baik’ meskipun standar itu tetap relatif dan subyektif. 

Banyak versi serta teori-teori tentang kepribadian seseorang yang dipelajari oleh para pakar kepribadian. Mulai dari teori psikoanalisa hingga yang menyinggung sisi humanistik. Pernah dengar kepribadian ekstrovert dan introvert? Yup, dua jenis kepribadian ini pertama kali digagas oleh seorang pakar psikologi yakni Carl Gustav Jung. Menurut Jung, sikap ini biasanya sudah ditemukan semenjak kecil. Bisa saja dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan atau keyakinannya. Lanjutnya lagi, seseorang dengan kepribadian ekstrovert cenderung tertarik dengan dunia luar. Jiwa sosial mereka cukup tinggi dan lebih banyak berbuat daripada berpikir. Mereka lebih suka tantangan serta berani menempuh resiko besar sekalipun. Orang-orang ekstrovert suka diperhatikan dan bakalan melakukan berbagai cara agar mereka bisa mendapat perhatian dari orang lain. Yang lebih ekstrim, pada keadaan yang berlebihan, mereka akan mudah terserang histeria. Cara ini biasa dilakukan untu mencari perhatian biasanya juga dengan banyak bercerita yang terkadang mengaburkan sisi kebenaran dari cerita tersebut.

Kepribadian introvert justru sebaliknya. Mereka lebih memilih menarik diri dari lingkungan sosial. Kita mungkin akan temukan manusia jenis ini lebih banyak diam dibanding berbicara yang tidak penting. Itu karena mereka biasanya memikirkan apa yang harus dikatakan. Apakah pantas atau tidak, perlu atau tidak. Orang introvert juga suka memendam masalahnya sendiri, jarang ia mau berbagi masalah atau menceritakan kehidupan pribadinya kepada orang lain. Ia akan terbuka kecuali kepada orang-orang yang benar-benar dipercaya karena perasaan rendah dirinya, namun begitu ada orang yang dekat dengannya ia akan tetap setia sampai kapanpun. Self blaming-nya juga cukup tinggi sehingga gampang mengalami gangguan cemas, emosi dan depresi.

Islam sendiri memandang manusia tidak secara deterministik. Akan tetapi Islam memberikan kemuliaan kepada manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Manusia juga memiliki bentuk yang terbaik dari seluruh makhlukNya dan mempunyai kekuatan untuk merubah sendiri kondisi dirinya. Olehnya jenis kepribadian apapun dengan segala sisi negatif dan positifnya akan tampak baik ketika tercelup dalam satu warna yang sama yakni celupan warna Ilahi. “Celupan (warna) Allah, dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya daripada Allah? Dan hanya kepadaNyalah kami menyembah.” (Al Baqarah 138)

Islam tidak menghapus karakter yang tersifati ke atas pribadi pemeluknya yang tak bertentangan dengan akidah, tetapi Islam justru membingkainya menjadi karakter mulia yang menyejarah. Sebut saja para sahabat yang mewarnai perjalanan dakwah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar merupakan dua sosok yang begitu kontras. Abu Bakar adalah sahabat yang berbadan kurus, saking kurusnya sampai sarungnya selalu mengulur ke bawah sehingga beliau dikecualikan oleh Rasulullah dalam hadis tentang larangan isbal. Sedangkan Umar, beliau pernah membuat empat makmum jatuh terjengkang karena bersinnya saat memeriksa shaf shalat. Ada Usman bin Affan yang mewakili karakter pemalu, pemurah, dan penuh kelembutan. Malunya tak hanya pada manusia tapi juga kepada Allah. Ada juga sosok low profile seperti salah seorang sahabat di antara sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga yakni Sa’id ibn Zaid yang namanya jarang terekam sirah selain dalam kisah keislaman Umar dan kisah sengketa tanahnya dengan seorang wanita tua. Atau pernahkah kita mendengar nama Tsabit ibn Qais? Sang orator besar ini pernah mengurung dirinya berhari-hari dalam rumahnya ketika turun surah Al Hujurat ayat 2 yang berisi larangan meninggikan dan mengeraskan suara kepada Nabi. Ia mengira ayat itu ditujukan kepadanya karena pembawaannya yang sering bersuara tinggi dan keras melengking. Juga Khalid, pedang Allah yang senantiasa terhunus yang tiga belas kali ganti pedang di perang Mu’tah. Ada Hudzaifah sang pemegang rahasia Rasulullah. Intelijen yang lisannya tak bisa dipaksa berbicara meski oleh Umar sahabatnya. Ataukah sebagian saudari-saudari saya yang karakteristik mereka tergambar di postingan saya sebelumnya "Ketidaksempurnaanmu adalah penggerak keshalihanku"

Maka sekali lagi, Islam hadir bukan untuk merubah karakter yang tersifati ke atas masing-masing pribadi. Kehadirannya untuk menenggelamkan pemeluknya ke dalam celupan warna Ilahi. Celupan yang membuat warna-warni itu seindah pelangi.
Selengkapnya...

rin_iffah

Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga. 

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaknya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulang kali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu. 

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itupun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama. Maka ditulisnyalah surat itu memohon bertemu. Dan ia mendapat jawaban “Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya. “Maha suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, “Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.” Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. “Andai saja kau lihat aku”, katanya, “Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.” “Betapa inginnya aku”, kata si gadis, “Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.” Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. “Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. Dan penyesalan yang tak berkesudahan. Si gadis ikut tertunduk. “Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, “Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.” “Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. “Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertakwa.”

Kita cukupkan sampai di sini kisahnya. Mari kita dengar komentar Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan tentangnya. “Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. “Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketakwaan kepada Allah.” “Tapi”, kata beliau memberi catatan. “Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampur adukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syariat Allah.”

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu? “Kesalahan itu”, kata Syaikh Abdullah Nashih Ulwan memungkasi, “Telah terjadi sejak awal.” Apa itu? “Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.” Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi ini adalah da’wah dusta!

Maka berhati-hatilah terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.

Sumber : Buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A Fillah
Selengkapnya...

rin_iffah


Betapa seringnya, kita para penempuh jalan dakwah yang mulia ini menjadi resah sendiri. Di banyak tempat, kita sering menyaksikan fenomena ketidaksabaran dalam menjalani dan melewati aral, onak dan duri dalam kisah kemuliaan dakwah ini. Suatu saat, kita mendengar dan menyaksikan para pemuda Islam melakukan penghancuran dan pengrusakan atas nama jihad. Di kali yang lain, kita melihat ketidaksabaran itu mewujud dalam berbagai vonis kesesatan dan pengkafiran yang begitu mudah terucapkan atau tertuliskan. Dan di waktu yang lain, ketergesaan itu diwujudkan dalam bentuk kepercayaan diri yang berlebihan untuk memasuki dunia politik praktis; seolah itu menjadi sebuah jaminan (satu-satunya jalan) untuk mewujudkan Islam dengan seluruh perangkat komprehensifnya.

...Sekadar mengingatkan, jalan dakwah ini adalah jalan yang sangat panjang. Para penempuhnya harus memiliki persediaan kesabaran yang berlimpah untuk melewati jejak-jejaknya. Harus ada azzam yang teguh layaknya para ulul azmi dari kalangan rasul. Kelak di ujung jalan usia kita menempuh jalan dakwah itu, mungkin kita berpulang pada Allah dengan 100 pengikut, 50, 20, 5, 1, atau tanpa pengikut sama sekali. Tidak masalah. Sebab di jalan ini, yang terpenting adalah sudahkah kita menyampaikannya. Ada yang ikut atau tidak semua itu di Tangan Allah Ta'ala.

Sebaliknya, seorang penempuh jalan dakwah harus terus menjaga keikhlasan hatinya, terutama dari penyakit ghurur. Jangan tertipu dengan ramainya khalayak pengikut yang terpesona dengan dakwah anda. Jika kelak Allah menakdirkan ada puluhan ribu, bahkan jutaan kaum Muslimin hadir dalam tabligh akbar anda, maka itu adalah saat yang tepat untuk beristighfar dan berlindung dari penyakit ghurur. Yah, karena itu akan mengekang hasrat ketergesaan anda untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya belum saatnya untuk dilakukan.

... Maka lagi-lagi, kita harus berhenti sejenak untuk merenungkan skala prioritas dakwah kita. Teringatlah kita pada ungkapan hikmah yang mengatakan: "Tegakkan Negara Islam dalam dirimu, niscaya ia akan tertegak di tanah airmu." Maka seluruh upaya dakwah saat ini berpusar pada penegakan 'negara Islam' dalam pribadi-pribadi muslimin. Melahirkan pribadi yang memiliki tauhid yang murni, tanpa noda syirik dan bid'ah, sesuai jejak as-Salaf as-Shalih. Melahirkan jiwa-jiwa yang merindukan perjumpaan dengan Allah. Dan perjalanan untuk itu, sungguh masih terlalu panjang untuk sebuah negeri berpenduduk lebih dari 200 jiwa ini...

Maka sekali lagi, jangan pernah tergesa-gesa....

sumber: Majalah al bashirah

Selengkapnya...