rin_iffah

Hari gini masih ada yang belum tahu apa Golongan darahnya? Seharusnya sudah tidak ada lagi. Apalagi bagi mereka yang sering melakukan donor darah. Pemeriksaan golongan darah penting saat kita ingin mendonorkan darah atau menerima darah dari orang lain ketika membutuhkan. Saat ini kita mengenal empat golongan darah; Tipe O, A, B dan AB. Masing-masing golongan punya dua jenis Rhesus, Rh+ dan Rh-. Penentuan darah ke dalam empat golongan ini didasarkan atas ada tidaknya antigen pada sel darah merah seseorang. Sedangkan penentuan darah ke dalam dua jenis Rhesus (+/-), berdasarkan ada tidaknya antigen-D pada sel darah merah. Golongan darah A hanya memiliki antigen A pada sel darah merah mereka. Golongan darah B hanya memiliki antigen-B pada sel darah mereka. Sedangkan Golongan darah AB memiliki antigen –A sekaligus antigen-B pada sel darah merah. Golongan darah O tidak memiliki antigen-A dan B pada sel darah merah, maka itu golongan ini sering juga disebut tipe 0 (nol). Mereka yang tidak memiliki antigen-D pada sel darah merahnya disebut Rhesus Negatif (Rh-), sedangkan yang memiliki disebut Rh+. Banyak yang bertanya apakah golongan darah seseorang bisa berubah? Jawabannya tidak bisa karena golongan darah ini terbentuk secara genetik semasa kita masih dalam rahim bunda.

Tujuan awal dan utama pengelompokkan darah ke dalam beberapa golongan adalah masalah kompatibilitas, kecocokan. Adakalanya kita butuh transfusi darah dari orang lain, pengelompokkan tadilah yang menentukan suatu transfusi dapat dilakukan atau tidak. Saat ini banyak penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki hubungan antara golongan darah dengan kesehatan kepribadian. Beberapa penelitian yang dilakukan saat ini mencari efek atau manfaat lain dari pengelompokkan golongan darah selain manfaat transfusi tadi. Dr. Peter D’Adamo meneliti korelasi antara golongan darah seseorang dengan kesehatan dan makanan, sehingga lahir teori diet golongan darah. Dengan meneliti kemampuan mengikat zat nutrisi dari masing-masing tipe darah, ditentukan makanan atau minuman apa saja yang berefek baik atau buruk. Peter d’Adamo meneliti hubungan antara nutrisi (diet) berdasarkan golongan darah sedangkan Furukawa T dan Masahiko Nomi meneliti kepribadian. Dari penelitian Furukawa Takeji dan Masahiko Nomi ingin diketahui sejauh mana korelasi antara golongan darah dengan kepribadian. Hasil penelitian mereka begitu popular di Jepang dan Korea. Sampai-sampai urusan pekerjaan, bahkan jodohpun dipengaruhi golongan darah.

Benar ataukah tidak? Berikut penjelasan tentang golongan darah tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jepang. Golongan darah A: terorganisasi, konsisten, jiwa kerja-sama tinggi, tapi selalu cemas (karena perfeksionis). Golongan darah B: santai, easy going, bebas, dan paling menikmati hidup. Golongan darah O: berjiwa besar, supel, tidak mau mengalah, alergi pada yang detail. Golongan darah AB: unik, suka hal aneh, banyak akal, berkepribadian ganda. Seseorang yang mempunyai golongan darah A karakternya perfeksionis, orang dengan golongan darah B cenderung mempunyai sifat individualis, golongan darah O berbakat memimpin, sedangkan pemilik golongan darah AB cenderung berkarakter rasional. Menurut penelitian di Jepang, tidak semua golongan darah bisa bekerja sama baiknya untuk semua bidang. Begitu juga golongan darah tertentu, tidak akan sebaik golongan darah lainnya bila bekerja di bidang tertentu. Ada orang dengan golongan darah tertentu menjadikannya jago bicara, bisa bekerja sama, dan sebagainya. "Beberapa perusahaan di Jepang memasukkan golongan darah tertentu sebagai syarat untuk melamar sebuah lowongan pekerjaan", ungkap Furukawa. Misalnya, pemilik golongan darah A adalah sekretaris, bagian administrasi, atau akuntan yang membutuhkan ketelitian, detail kecil, dan keteraturan. Pemilik golongan darah B cocok menjadi ilmuwan, seniman, atau petualang yang sesuai karakternya, yaitu individualis, pemikir, dan mencintai kebebasan. Untuk golongan darah O cocok di posisi pemimpin, pada umumnya, tentara, karena karakternya yang ambisius, terbuka dan kuat. Sedangkan untuk golongan darah AB sangat unik karena mempunyai gabungan tipe darah A dan B, seperti memiliki dua kepribadian. Pemilik golongan darah AB cocok menjadi penulis atau teknisi karena mempunyai juga karakter kritis, kreatif, sensitif, dan bisa mengerjakan banyak hal, tetapi cenderung pemilik golongan darah ini lebih tertutup daripada pemilik golongan darah lain.

Selain masalah pekerjaan, urusan jodoh pun sering dilihat dari golongan darah yang dimiliki. Pria dengan golongan darah B enggan dijadikan jodoh bagi perempuan karena karakternya yang individualis dan tidak mau terikat karena menyenangi kebebasan. Demikian juga dengan perempuan bergolongan darah AB enggan dipilih pria karena sikapnya yang berubah-ubah. Apa jadinya yah kalo pria dengan golongan darah B menikah dengan perempuan ber golongan darah AB di Jepang? Padahal yang harus diperhatikan mengenai golongan darah dalam memilih pasangan hidup lebih ditekankan pada rhesus dari tiap golongan darah. Wanita dengan rhesus negatif (Rh-) sangat dianjurkan menikah dengan pria dengan rhesus negatif pula. Ini dilakukan demi mencegah terjadi hemolytic disease newborn pada bayi jika wanita rhesus negatif menikah dengan pria rhesus positif (Rh+). Jika ibu (sang wanita) memiliki rhesus negatif sedangkan sang janin bayi ternyata rhesus positif, maka timbul suatu masalah. Tubuh ibu akan bereaksi alamiah merangsang sel darah merah yaitu zat antibody/antirhesus untuk melindungi diri dari benda asing. Siapa benda asing itu? Tidak lain adalah janin yang dikandungnya sendiri. Fenomena inilah yang memunculkan antirhesus, dengan penghancuran sel darah merah, atau dikenal dengan hemolytic. Salah satu dampak buruk akibat dari fenomena ini adalah kematian janin dalam rahim. Atau jika bayi terlahir hidup, ia akan memiliki hati bengkak, anemia, kuning (jaundice) atau gagal jantung.

Dari sisi psikologi, kepribadian atau karakter seseorang tentunya tidak mutlak seratus persen ditentukan oleh apa golongan darahnya. Banyak faktor lain yang turut berperan atas pembentukan kepribadian di luar apa golongan darah mereka, baik faktor internal maupun eksternal. Adapun kepribadian berdasarkan golongan darah ini kebanyakan sebatas kecenderungan saja. Wallahu a'lam

Dari berbagai sumber
Selengkapnya...

rin_iffah

“Tiga perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya.” [Silsilah Shahihah, no. 1802] 

IGD siang itu cukup lengang. Tak banyak pasien yang datang meminta pertolongan atas rasa sakit yang mereka derita. Saya hari itu mendapat ‘jatah’ jaga IGD mulai dari jam dua siang hingga jam sembilan malam. Karena keterbatasan jumlah dokter umum di rumah sakit, tiap shift jaga hanya digawangi oleh satu dokter dan tiga perawat, termasuk seorang bidan untuk menangani kasus persalinan normal yang tidak memungkinkan jika harus dipindahkan ke ruangan kebidanan. Untuk sebuah rumah sakit daerah yang menjadi pusat rujukan dengan jumlah kunjungan rata-rata per-hari 50-60 pasien, tentu jumlah petugas kesehatan tidaklah mencukupi. Meskipun demikian, kami tetap berusaha berbuat semampu daya demi kesembuhan pasien yang kami rawat. Namun ada hal yang perlu dicatat, bahwa seberapapun hebatnya kita dalam menangani pasien, seberapa banyaknya pengalaman kita dalam memberikan pengobatan. Yang menyembuhkan, yang memegang kendali nyawa seseorang hanyalah Allah. Sebagaimana yang saya alami hari itu.

Jelang sore, dua pasien beruntun masuk ke IGD. Setelah dianamnesis oleh perawat, saya kemudian mencoba menggali informasi tentang kedua pasien baru ini. Keduanya datang dalam kondisi tidak sadar. Yang satunya dengan tekanan darah yang sangat tinggi yang saya simpulkan sementara mengalami penurunan kesadaran akibat stroke hemorargik (tidak sadar akibat pecahnya pembuluh darah di otak). Sedang yang lainnya, setelah melakukan pemeriksaan kadar Gula Darah , didapati kadar GDSnya hanya 62 gr/dl jauh di bawah batas normal untuk seorang penderita diabetes. Maka penurunan kesadarannya itu bisa jadi karena intake gula yang minim dan kami sebut sebagai kondisi hipoglikemia. Saya pun mencoba memberikan penanganan sesuai prosedur standar kasus-kasus dimaksud. Pada keluarga pasien saya pastikan bahwa pada kebanyakan kasus pasien diabetes dengan kadar gula yang rendah, pemberian terapi Dekstrose 40% melalui intravena akan segera memperbaiki keadaan pasien dan biasanya kadar gula darahnya bisa segera kembali normal dalam waktu 15 menit sampai 30 menit, dan pasien akan kembali sadar. Mendengar penjelasan saya tersebut, keluarga si pasien akhirnya tenang. Setengah jam kemudian, saya meminta perawat jaga untuk kembali memeriksa kadar gula darah pasien tadi. Dan betapa kagetnya saya ketika mendapati hasil kadar gula darahnya meningkat tajam. Hasil yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya yaitu 483 gr/dl. Jauh dari prediksi yang seharusnya terjadi. Keadaan yang membuat pasien ini justru ‘tertidur’ semakin dalam. Padahal saya sangat yakin dengan terapi yang saya berikan. Tidak mungkin saya sampai bisa melakukan kesalahan pada kasus seperti ini. Saya kemudian  mencari penyebab lainnya, mungkinkah terjadi sepsis (infeksi sistemik melalui pembuluh darah) pada pasien ini, atau adakah penyakit lain yang memperberat kondisinya. Hasil laboratorium, pemeriksaan rekam jantung serta pemeriksaan penunjang lainnya coba saya teliti dan saya tidak mendapatkan penyebab lain selain penurunan kesadaran akibat kadar gula darah yang rendah (koma hipoglikemik) yang berubah statusnya menjadi penurunan kesadaran akibat kadar gula darah yang meningkat tinggi (koma hiperglikemik) karena terapi yang saya berikan??

Setelah kondisi agak tenang, saya mencoba kembali menilai kesalahan apa yang telah saya perbuat sehingga pasien ini tak mampu saya tolong. Ah Itu dia.... saya tersentak. Tersadar bahwa ada sebuah kesalahan (yang menurut saya cukup) fatal yang tanpa sengaja telah saya lakukan kepada pasien. Ini tentang sebuah rasa. Rasa yang membengkakkan hati tersebab merasa mampu dan mumpuni menolong pasien ini dengan mudah. Saya dengan begitu percaya diri (berpijak pada pengalaman menangani puluhan kasus serupa yang telah berhasil) memastikan kepada keluarga pasien bahwa setelah mendapatkan obat yang saya resepkan, maka pasien akan segera sadar kembali. Yang ada dibenak maupun hati saya saat itu bukan lagi mengandalkan pertolongan Allah sebagai satu-satunya penyembuh, tapi mengandalkan kemampuan saya sebagai seorang dokter (Astaghfirullah). Rasa itu, meskipun sepintas ternyata telah ‘mencederai’ pasien yang saya tangani.

Maka hari itu, saya merasa seperti di’tampar’ oleh pasien. Tamparan yang tak sekedar meninggalkan bekas memerah di pipi, tapi menusuk tajam, melukai hati. Duuh, saya telah menyandarkan hidup-mati yang merupakan hak Allah ke atas pundak saya selaku makhluk yang lemah. Saya pandangi lekat-lekat pasien yang masih terbaring tak sadarkan diri, kemudian saya alihkan pandangan kepada keluarga pasien ini yang dengan wajah cemas menanti orang yang mereka sayangi memberikan sinyal perbaikan walau hanya melalui erangan. Tapi ia masih saja tertidur... ada rasa sesal di hati atas kelalaian ini. Semoga saja, sesal ini bisa meninggalkan jejak perbaikan niat di tiap amal. Agar tak terselip ujub, agar kian tawadhu, agar amal tak menjadi debu... habis tak bersisa.

Kamar Jaga IGD, 5 Syawwal 1433 H *Kembali meraba hati*
Selengkapnya...

rin_iffah

Ada rindu di tiap pagi menyapa
Rindu hangat mentarinya, rindu sejuk embunnya 
Rindu dua raka’at pelempang rezki , pengawal hari 
Ada rindu di gerimis membasuh... 
Rindu tiap tetesnya, rindu aroma hidup yang menyertainya 
Rindu do’a mustajab di rintik derasnya 
Ada rindu di terik memanggang 
Rindu langit membiru, rindu arakan awan memutih 
Rindu rehat di termin pertama penghambaan, rindu lapar dahaga di puncak taat berpuasa 
Ada rindu di senja menghampiri 
Rindu lembayung jingganya, rindu lantunan zikir alamnya 
Rindu merdu suara muadzin tuk kembali menghamba padaNya 
Ada rindu di gelap yang menyelimut malam 
Rindu dinginnya, rindu bersepi, bermesra, mengadu, mengeluh padaNya 
Rindu seberkas cahaya fajar yang menanti di penghujung malam

Ada rindu untuk saudari seiman, 
Rindu suara, senyum manis, tawa renyah, marah, gelisah, semangat jihadnya 
Rindu menangis bersama di pinta paling tulus serta harapan paling tinggi untuk dienNya, 
rindu ukhuwah fillaah 
Ada rindu di titik terlemah kala asa tak bersambut nyata 
Rindu mendekap pahala juga janji surga atas ikhlas yang mengalahkan hawa 
Ada rindu di tepian sabar dan penantian tak berujung 
Rindu lelahnya, rindu ujian serta prasangkaan yang terselip di antaranya 
Rindu menghias diri, menempa jiwa untuk masa yang telah pasti adanya 

Di atas semuanya... Ada rindu yang kian membuncah, menyesak dada, 
mengalir bening yang tak kunjung reda 
Rindu berjumpa denganNya, rindu menatap wajahNya 
Rindu membersamai para perindu di firdausNya 



*Kutitip rindu ini untuk-mu lewat Sang Pemilik Rindu, semoga selalu dalam penjagaanNya*
Selengkapnya...

rin_iffah

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...” (At Tahriim 6) 

Ayat ini begitu berkesan di hati sejak pertama kali mendengarnya dengan seksama. Kesan pertama muncul saat tabligh akbar yang dibawakan oleh seorang Syaikh dari Arab Saudi yang saat itu berkunjung ke kampus kami sekitar tujuh tahun yang lalu, beliau terugugu, kehilangan kata ketika membacakan ayat ini yang diikuti dengan tangis serempak oleh peserta. Kesan yang lain saat ayat ini atau lebih tepatnya surat at Tahrim ini menjadi wasilah doa dari sang murabbiyah di majelis tarbiyah kala itu, agar saya bisa menjadi seorang thabiibah yang juga hafidzah, sebuah titik awal keinginan besar untuk menjaga ayat-ayat Al-qur’an. Bahkan saking berkesannya, sempat terpikirkan meminta kepada calon suami (suatu saat nanti) untuk mencukupkan maharnya dengan surah ini. 

Lupakan sejenak dan mari kita beranjak kepada topik yang ingin saya bahas. Da’wah keluarga terkadang menjadi prioritas yang kita letakkan pada nomor sekian di antara prioritas da’wah kita. Maka tidak heran banyak aktivis da’wah yang terkenal tangguh dan memiliki kontribusi besar di luar rumah namun tak mampu berbuat banyak atas pelanggaran syari’at yang terjadi di dalam rumahnya. Ia bisa berteriak lantang atas masalah yang menimpa kaum muslimin di negerinya bahkan di seluruh penjuru dunia, namun hanya bisa menangis perih tak mampu bersuara ketika mendapati adiknya masih belum menutup aurat dengan sempurna, kakaknya masih disibukkan dengan pacaran, dan orang tuanya masih tebelenggu oleh adat mistik yang kian menggerogoti akidah. Bahkan ia tak mampu berbuat banyak ketika pernikahan yang ia impikan justru disesaki oleh nilai-nilai jahili. Idealisme-nya terpasung hanya karena ia lupa untuk memprioritaskan berda’wah pada orang-orang terdekatnya, pada keluarganya.

Ada yang juga menarik disimak pada sebuah keluarga kecil yang suami isterinya adalah aktivis da’wah. Mereka bersatu karena niat mulia mendirikan keluarga yang tersemai benih-benih kebaikan, yang setiap nafas dalam kehidupan rumah tangganya dipenuhi ruh da’wah Ilallaah. Tapi apa yang didapati anak-anaknya dengan kondisi mereka, bisa jadi si kecil yang setiap hari membersamai abi-nya saat mengisi ta’lim, mendampingi ummi-nya dalam berbagai majelis syuraa, melakukan aktivitas sosial dan lain sebagainya justru mengeluh kepada teman sebayanya “Nanti kalau sudah besar, ga mau ah jadi kayak Abi sama Ummi. Sibuk terus... capek, ngurusin orang melulu...” Kalimat polos itu mengalir dengan ringan karena seringnya mereka menyeksamai aktivitas orang tuanya. Mereka melihat betapa orang tuanya kehabisan energi bahkan uring-uringan terhadap aktivitas da’wah yang mereka jalani. Mungkin abi dan umminya selalu menyemangati mereka dengan surga, tentang kecintaan kepada da’wah. Tapi mereka jauh lebih percaya terhadap tatapan orang tuanya, tutur kata, sorot mata dan sinar wajahnya yang seolah berkata “Nak, ummi tuh capek seharian, jangan bikin ummi marah ya..”

Tidak mudah memang menjadi orang tua. Tak semudah menyusun kalimat dalam visi pernikahan “Menjadikan rumah tangga sebagai lahan tumbuhnya generasi yang akan menegakkan panji Islam” atau tidakkah kita mendengar teguran Allah dalam KalamNya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisaa 9)

Persepsi kita tentang aktivitas da’wah yang kita jalani juga akan mempengaruhi ruh dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Maka tak heran jika seorang akhwat di’boikot’ oleh orang tuanya dari aktivitas da’wah dan tarbiyah karena nilai ujiannya yang anjlok atau tak bisa menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya, bertahun-tahun menjadi penghuni kampus dengan alasan sibuk dengan aktivitas da’wahnya. Ataukah seorang suami yang tidak mengizinkan isterinya menghadiri tarbiyah, mengikuti kegiatan da’wah karena tak mampu membereskan rumah dan anak-anaknya. Yang ketika bidadarinya itu terlalu sibuk di luar rumah justru membuat segalanya terbengkalai.

Saya begitu terkesan kepada sebagian akhwat semasa kuliah dulu yang walaupun amanahnya menggunung; pagi kuliah, siang tarbiyah, sore mengisi tarbiyah, malamnya harus mabit bermusyawarah tapi nilai-nya tak pernah di bawah A atau B dan wisuda pada waktu yang semestinya. Orang tua merekapun begitu mendukung, tak sungkan ketika diajak melihat secara langsung aktivitas da’wah anaknya dengan ikut menghadiri ta’lim, tabligh akbar dan kegiatan sejenisnya. Juga sebagian ummahat yang walaupun memiliki banyak anak, banyak amanah da’wah tetapi tetap mendapat izin dari suami-suami mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan syuraa. Suami mereka pun dengan setianya mengantar jemput tanpa merasa terbebani. Bahkan anak-anak mereka dengan bangganya berujar dengan lantang dan begitu tegasnya “Pokoknya pengen jadi kayak abi dan ummi kalo udah gede nanti!” Semua itu setelah mereka melihat semangat positif yang terpancar dari wajah abi dan umminya. Anak-anak itu benar-benar melihat ruh jihad yang menyala dan ghirah perjuangan yang terpancar dahsyat dari sorot mata abi dan umminya. Cahaya yang sebegitu kuatnya hingga merekapun melepas abi dan umminya dengan tatapan yang menyejukkan. Dan tatapan sang putra semakin menyalakan semangat di dada abi dan umminya. Semangat untuk menyelesaikan amanah-amanahnya dengan puncak ihsan. Semangat untuk semakin banyak berkontribusi bagi ummat. Semangat untuk segera kembali dan menemukan kembali penguat nyalanya di sorot mata dan mimik wajah sang mujahid kecil. Maka disitulah da’wahnya.....

Barometer keberhasilan da’wah kita tak sekedar terukur dari banyaknya kader da’wah yang mengikuti seruan kita, suksesnya kegiatan-kegiatan akbar dengan banyak peserta dan bertabur pujian. Tapi lebih dari itu, ketika rumah kita menjadi tempat yang paling nyaman di saat letih menyapa di sela-sela aktivitas da’wah yang menguras energi, yang ketika berada di luar kita selalu rindu akan suasananya yang dipenuhi lantunan ayat-ayat Allah bukan suara musik dan ribut televisi yang menyesakkan dada atau cacian serta umpatan yang menghiasi hari para penghuninya. Rumah yang kian mensurgakan peran kita sebagai mu’min sejati bukan yang menjerumuskan kita bersama penghuni lainnya ke dasar neraka. Juga (mengutip tulisan-nya ustad Salim A. Fillah) agar semangat memperbaiki negeri tidak berubah menjadi nafsu yang mengharuskan diri berkuasa, hingga lupa bahwa dari kamar tidur anak-anak, pemimpin sejati negeri ini 30 tahun mendatang sedang menanti bimbingan seorang ayah dan seorang ibunda.

Yah, karena sudah seharusnya da’wah kita berawal dari rumah. Meski tak mudah, tapi tak ada salahnya mencoba. Mari benahi. Allaahul muwaffiq.
Selengkapnya...

rin_iffah


Banyak yang mempertanyakan foto profil yang terpampang di salah satu sosial network saya. “Tu foto udah boleh diganti, sejak pertama kali nge-fb sampe skarang fotonya itu mulu, bosen ah !” tulis salah seorang teman “Kok fotonya cuman kursi kosong, gelap pula latarnya. Mana wajahnya?”. Belum lagi gambar seekor ulat yang numpang berpose di atas daun menambah deretan komentar bernada protes. “Fotonya menggambarkan sifatmu yang tertutup dan suka menyendiri, bisanya cerewet di blog doank” keluh yang lain. Sepintas jika diamati memang seperti itu adanya. Memajang foto diri?? sudah jelas tidak mungkin. Karena saya seorang muslimah yang tidak ingin memamerkan kecantikan (-sebenarnya sih ngaku-ngaku cantik- meskipun semua wanita memang cantik karena tidak mungkin ganteng) kepada begitu banyak orang yang berada di deretan frenlist. Pernah terlintas untuk mengganti dengan foto flowers atau yang full color, but it’s not me. Saya bukan penggemar bunga, dan tidak suka sesuatu yang “terlalu feminim” apalagi yang cerah ceria. Tapi ada juga teman-teman yang justru berpandangan sebaliknya. Walaupun hasil tes MMPI (tes psikologi buat menilai kondisi psikis seseorang) pas masih internship dulu, pun ketika seorang teman psikolog mencoba menilai kepribadian saya lewat tulisan tangan dan gambar yang saya buat pas lagi dalam masa diklat prajabatan memberikan kesimpulan yang sama, saya dikategorikan dalam makhluk ‘introvert’. 

Anyway, tulisan ini tidak ada hubungannya dengan siapa saya, tapi lebih kepada tipikal kita selaku manusia. Karakter khas atau kepribadian yang melekat kepada diri kita sering menjadi penilaian orang lain apakah seseorang bisa dikatakan orang ‘baik’ atau ‘tidak baik’ meskipun standar itu tetap relatif dan subyektif. 

Banyak versi serta teori-teori tentang kepribadian seseorang yang dipelajari oleh para pakar kepribadian. Mulai dari teori psikoanalisa hingga yang menyinggung sisi humanistik. Pernah dengar kepribadian ekstrovert dan introvert? Yup, dua jenis kepribadian ini pertama kali digagas oleh seorang pakar psikologi yakni Carl Gustav Jung. Menurut Jung, sikap ini biasanya sudah ditemukan semenjak kecil. Bisa saja dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan atau keyakinannya. Lanjutnya lagi, seseorang dengan kepribadian ekstrovert cenderung tertarik dengan dunia luar. Jiwa sosial mereka cukup tinggi dan lebih banyak berbuat daripada berpikir. Mereka lebih suka tantangan serta berani menempuh resiko besar sekalipun. Orang-orang ekstrovert suka diperhatikan dan bakalan melakukan berbagai cara agar mereka bisa mendapat perhatian dari orang lain. Yang lebih ekstrim, pada keadaan yang berlebihan, mereka akan mudah terserang histeria. Cara ini biasa dilakukan untu mencari perhatian biasanya juga dengan banyak bercerita yang terkadang mengaburkan sisi kebenaran dari cerita tersebut.

Kepribadian introvert justru sebaliknya. Mereka lebih memilih menarik diri dari lingkungan sosial. Kita mungkin akan temukan manusia jenis ini lebih banyak diam dibanding berbicara yang tidak penting. Itu karena mereka biasanya memikirkan apa yang harus dikatakan. Apakah pantas atau tidak, perlu atau tidak. Orang introvert juga suka memendam masalahnya sendiri, jarang ia mau berbagi masalah atau menceritakan kehidupan pribadinya kepada orang lain. Ia akan terbuka kecuali kepada orang-orang yang benar-benar dipercaya karena perasaan rendah dirinya, namun begitu ada orang yang dekat dengannya ia akan tetap setia sampai kapanpun. Self blaming-nya juga cukup tinggi sehingga gampang mengalami gangguan cemas, emosi dan depresi.

Islam sendiri memandang manusia tidak secara deterministik. Akan tetapi Islam memberikan kemuliaan kepada manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Manusia juga memiliki bentuk yang terbaik dari seluruh makhlukNya dan mempunyai kekuatan untuk merubah sendiri kondisi dirinya. Olehnya jenis kepribadian apapun dengan segala sisi negatif dan positifnya akan tampak baik ketika tercelup dalam satu warna yang sama yakni celupan warna Ilahi. “Celupan (warna) Allah, dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya daripada Allah? Dan hanya kepadaNyalah kami menyembah.” (Al Baqarah 138)

Islam tidak menghapus karakter yang tersifati ke atas pribadi pemeluknya yang tak bertentangan dengan akidah, tetapi Islam justru membingkainya menjadi karakter mulia yang menyejarah. Sebut saja para sahabat yang mewarnai perjalanan dakwah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar merupakan dua sosok yang begitu kontras. Abu Bakar adalah sahabat yang berbadan kurus, saking kurusnya sampai sarungnya selalu mengulur ke bawah sehingga beliau dikecualikan oleh Rasulullah dalam hadis tentang larangan isbal. Sedangkan Umar, beliau pernah membuat empat makmum jatuh terjengkang karena bersinnya saat memeriksa shaf shalat. Ada Usman bin Affan yang mewakili karakter pemalu, pemurah, dan penuh kelembutan. Malunya tak hanya pada manusia tapi juga kepada Allah. Ada juga sosok low profile seperti salah seorang sahabat di antara sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga yakni Sa’id ibn Zaid yang namanya jarang terekam sirah selain dalam kisah keislaman Umar dan kisah sengketa tanahnya dengan seorang wanita tua. Atau pernahkah kita mendengar nama Tsabit ibn Qais? Sang orator besar ini pernah mengurung dirinya berhari-hari dalam rumahnya ketika turun surah Al Hujurat ayat 2 yang berisi larangan meninggikan dan mengeraskan suara kepada Nabi. Ia mengira ayat itu ditujukan kepadanya karena pembawaannya yang sering bersuara tinggi dan keras melengking. Juga Khalid, pedang Allah yang senantiasa terhunus yang tiga belas kali ganti pedang di perang Mu’tah. Ada Hudzaifah sang pemegang rahasia Rasulullah. Intelijen yang lisannya tak bisa dipaksa berbicara meski oleh Umar sahabatnya. Ataukah sebagian saudari-saudari saya yang karakteristik mereka tergambar di postingan saya sebelumnya "Ketidaksempurnaanmu adalah penggerak keshalihanku"

Maka sekali lagi, Islam hadir bukan untuk merubah karakter yang tersifati ke atas masing-masing pribadi. Kehadirannya untuk menenggelamkan pemeluknya ke dalam celupan warna Ilahi. Celupan yang membuat warna-warni itu seindah pelangi.
Selengkapnya...