rin_iffah


Peserta Jelajah Pusaka Ternate saat menyimak penjelasan dari Ka Maulana di Sigi Lamo
Tak banyak dari penduduk Ternate yang tahu bahwa Goheba (burung laut berkepala dua) yang menjadi lambang kesultanan Ternate pertama kali dijadikan lambang resmi kesultanan oleh Sultan Ternate ke-48; Sultan Mudaffar Sjah. Tak banyak yang memperhatikan dengan teliti bahwa di samping kiri kadaton Sultan Ternate, terdapat runtuhan bebatuan yang adalah bekas benteng kecil serupa pos penjagaan yang dibangun Belanda demi mengawasi gerak-gerik kadaton. Tak banyak pula yang menduga, sesiapa yang bediri tepat di depan Ngara Lamo (gerbang utama menuju kadaton sultan Ternate yang bangunannya saat ini dimanfaatkan sebagai sekretariat festival legu gam) maka dijumpai satu garis lurus ke arah Sigi Lamo (masjid sultan) yang artinya bahwa dahulu jalan utama yang sebenarnya adalah ketika kita berjalan lurus dari arah Ngara Lamo menuju Sigi Lamo sebelum akhirnya jalan tersebut diubah arahnya dengan pertimbangan tertentu. Dan tak banyak yang begitu memperhatikan, sekiranya kita melepas pandang dari Sunyie Lamo (lapangan salero) ke arah kadaton, maka akan tampak arsitektur kadaton menyerupai sosok manusia sedang bertafakur sembari duduk bersila menghadap ke arah dodoku ali yang menjadi tempat terbaik terbitnya mentari pagi (sebagian besar menafsirkan bahwa kadaton sultan ternate menyerupai singa yang sedang duduk). Sosok manusia ini juga bermakna filosofis bagi penduduk Ternate. “Salah satu tradisi orang Ternate ketika selesai shalat subuh maka pintu rumah di buka lebar dan kita akan mendengar lantunan ayat-ayat al qur’an dibacakan oleh penghuni rumah sebagai bentuk zikir kepada Alah. Bukankah nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menganjuran kepada ummatnya untuk tidak tidur setelah shalat subuh hingga terbit matahari? Demikian pula syariat tersebut mengakar, menjadi tradisi yang dijalankan turun temurun oleh penduduk Ternate hingga saat ini” Terang Ka Maulana Ibrahim dari Ternate Heritage Society kepada peserta Ternate Heritage Trail saat langkah-langkah kecil mereka ayunkan perlahan menapaki ibu kota Kesultanan Ternate; Soa Sio ahad kemarin.

Ternate Heritage Trail atau Jelajah Pusaka Ternate adalah salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh Ternate Heritage Society (THS) dengan maksud untuk memperkenalkan kembali pusaka/warisan budaya Ternate kepada masyarakat terutama generasi muda melalui kegiatan jalan kaki sambil mengenal sejarah dan kondisi terkini pusaka Ternate. Jelajah Pusaka Ternate kali ini dimulai dengan menikmati suasana matahari terbit dari Dodoku Mari (saat ini dikenal sebagai dodoku ali), menyusuri Sunyie Lamo dan Sunyie Ici , menyaksikan eksistensi kesultanan Ternate lewat kadaton yang dibangun sejak abad ke-18, merekam jejak-jejak islam di Ternate lewat Sigi Lamo (masjid sultan) yang menyatu indah dengan tradisi dan budaya masyarakat Ternate meski tradisi dan budaya ini masih menjadi perihal tabu untuk dibagikan secara luas kepada masyarakat Ternate di luar kesultanan. Peserta jelajah juga menyempatkan diri mengunjungi salah satu Kadato Ici yang pernah menjadi tempat tinggal seorang ilmuwan penulis surat fenomenal ‘Letter from Ternate’ dan penemu burung bidadari Halmahera; Alfred Russel Wallace.

Di akhir kegiatan jelajah, peserta yang berasal dari berbagai disiplin ilmu ini dikumpulkan di Sunyie Lamo. Oleh ka Maulana, para peserta diminta untuk menghadapkan wajah sejenak ke barat, ke arah kadaton sultan Ternate yang berdiri kokoh di atas bukit yang dikenal dengan sebutan Kaimaja dengan gunung Gamalama sebagai latar yang sebagian besar penduduk meyakini bahwa kadaton sultan Ternate adalah perwujudan dari titisan kayangan di bumi. “Kadaton Sultan Ternate adalah simbol keberadaan dan kejayaan Islam masa lalu di Ternate. Bahkan sejarah mencatat puncak kejayaan Islam Ternate berada pada masa kepemimpinan Sultan Baabullah yang terkenal dengan julukan penguasa 72 pulau. Penerapan syariat Islam oleh kesultanan juga terlihat dari prasasti tulisan arab melayu yang terukir indah di pintu balkon kadaton; 'Gedung ini adalah tempat orang-orang tertinggi dan termulia yaitu tempat bersemayam sultan-sultan yang digelarkan di atas pundaknya beliau-beliau itu sirajul quluub cahaya hati. Sultan-sultan Islam yang digelarkan menurut adat istiadat Iskandar Dzulkarnain keturunan sultan-sultan yang adil bahkan shaleh yaitu sultan Muhammad Ali ibn Sultan Sirajurrahman beserta menteri-menterinya dan semua orang besar bermusyawarah mencari suatu tempat yang layaknya untuk mendirikan Kedaton sebagai tanda kenang-kenangan bagi keturunan beliau yang menjadi Sultan pada akhir zaman...'” Tutup ka Maulana yang diikuti tatapan penuh perhatian dari seluruh peserta. Jelajah pusaka yang berlangsung sekitar 4 jam ini berakhir dengan menikmati sepiring nasi kuning dan pecel pisang khas Ternate di sebuah warung makan sederhana di pertigaan Sunyie Lamo. Peserta mengaku banyak mendapatkan ilmu dari jelajah pusaka kali ini. Bahkan mereka tak sabar menanti kegiatan jelajah pusaka berikutnya.
Selengkapnya...

rin_iffah

Suasana dodoku mari di hari ke-21 ramadan pagi tadi setelah sepekan Ternate diguyur hujan
Kapal ramadan; demikian ibu kami menamainya. Menjadikannya dongeng jelang pejam setiap kali ramadan kian dekat menghampiri dan beberapa hari sebelum ramadan beranjak pergi. Setiap hari, adik bungsu kami dengan sangat antusias mengajak mama dan papa menuju pelabuhan menanti kedatangan kapal ramadan ini. Kapal yang konon datang dengan banyak perbekalan, dan akan pulang membawa amalan-amalan kami selama ramadan. Maka di setiap sepuluh hari terakhir ramadan, mama dan papa akan selalu menyemangati kami untuk memperbanyak amalan agar kapal-kapal ramadan ini bisa terisi muatan yang banyak sebelum ia bertolak meninggalkan dermaga di akhir ramadan. Karena menurut cerita mama kala itu, setelah pergi, kitapun belum pasti akan bisa dikunjungi kembali oleh kapal ramadan.

Ketika dewasa barulah kami pahami, kapal ramadan ini hanyalah perumpamaan yang dibuat oleh kedua orang tua kami demi memotivasi anak-anaknya dalam beribadah di bulan ramadan. (Semoga Allah merahmati keduanya) Selengkapnya...

rin_iffah

Momen kebersamaan kami dengan papa di idul fitri setahun yang lalu

Menjelang Fajar di 15 Ramadan 1437 H/20 Juni 2016 M

Di waktu sahur kemarin, sayup-sayup tilawah al-qur'an mu masih setia membangunkan kami sebagaimana hari-hari sebelumnya. Langkah kecilmu menuju tempat wudhu, lirih istighfar yang terlantun tiada henti dari lisanmu, adalah warna tersendiri yang menghiasi rumah ini. Rumah sederahana yang dipenuhi oleh cahaya ibadah yang rutin engkau hidupkan di tiap pergantian hari.

Tapi... kebiasaan yang harusnya berulang di waktu sahur hari ini tak lagi kami temui. Engkau masih saja terbaring kaku di tempat tidur dengan senyum yang masih tersungging indah di wajahmu. Senyuman yang ketika sahabat serta karib kerabat yang menjengukmu untuk terakhir kalinya dikala memandang wajahmu hanya bisa ikut tersenyum dan menangis bersamaan. Tersenyum melihatmu yang seolah tuntas kerinduan hendak berjumpa Rabbmu, dan menangis karena kehilangan sosok tawadhumu juga menangis akan diri-diri kami yang entah akankah sanggup mengakhiri hidup di dunia yang fana ini dalam keadaan ridha dan diridhai, sedang begitu banyak cacat dalam tiap amalan kami.

Engkau masih saja tertidur. Engkau masih enggan terjaga. Panggilan sayangmu kepada kami saat mengajak kami bersujud kepadaNya tak lagi kami dengar. Tak ada yang menyangka jika tidurmu kali ini jauh lebih panjang dibanding sebelumnya. Tak ada yang menyangka jika jelang berbuka kemarin ucapan "tinggal tiga menit" adalah kata-kata terakhirmu. Tiga menit menjelang berbuka dan tiga menit jelang engkau bertemu Rabbmu. Yah, tak ada dari kami bahkan siapapun yang bisa menduga, yang bisa mengetahui dengan pasti kapan malaikat maut datang menghampiri.

Innalillahi wa innailahi rajiuun... Selamat jalan papa... Kami bersaksi engkau adalah orang baik. Engkau meninggal dalam waktu dan kondisi terbaik, insyaAllah... Akan tiba masanya kami pun menyusulmu. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di jannahNya. Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa'afihi, wa'fu anhu...


*Di atas kesedihan mendalam tersebab kehilangan sosok teladan yang sangat kami sayangi
Selengkapnya...

rin_iffah


Ternate, 14 Ramadan 1437 H/19 Juni 2016 M

Senja mulai merekah, mentari perlahan beranjak menuju peraduan sedang gelap telah bersiap meneruskan titah Sang Penguasa alam, menjaga bumi agar tetap berada dalam keseimbangan. Sementara penduduk bumi yang beriman berada dalam penantian akan kumandang azan maghrib yang mengantarkan mereka pada kegembiraan yang tersebut oleh baginda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya sebagai satu di antara dua kegembiraan yang dimiliki oleh setiap mukmin yang berpuasa; kegembiraan ketika seteguk air dan sebutir kurma mengalahkan segala nikmat yang ada di dunia yakni kegembiraan saat berbuka puasa dan kegembiraan saat berjumpa dengan Allah di akhirat kelak.

Setiap mu’min petang itu, tenggelam dalam rapal doa yang khusyuk menanti saat berbuka. Saat di mana segala macam doa kebaikan yang naik ke langit lewat lisan-lisan orang berpuasa takkan ada penghalang menuju ArsyNya. Tak terkecuali kami di senja itu pun sedang bersiap menanti saat berbuka puasa di sebuah rumah sederhana. Seperti biasa, ibu, adik, kakak dan isterinya telah duduk manis di meja makan dengan hidangan buka puasa yang tersaji di atasnya, sementara papa yang terbiasa berbuka dengan seteguk air sebelum ke masjid karena terlampau khawatir tak mendapatkan shaf pertama, telah tersaji pula sepiring pisang goreng kesukaan beliau, 3 butir kurma serta segelas air putih di atas meja di ruang tamu untuk memudahkan papa bisa bersegera ke masjid melalui pintu depan begitu azan bergema sesaat setelah berbuka. Saya yang baru saja mandi setelah sore itu bersepeda, memilih berada di ruang tamu menemani papa dan keponakan yang sedang asik bermain. Padahal biasanya saya lebih memilih berkumpul bersama yang lain di meja makan. Papa di sore itu sebagaimana hari-hari yang lalu, sebelum ke masjid beliau sudah berada dalam kondisi fisik yang terbaik; berwudhu, menggunakan gamis kesukaan berwarna coklat susu, peci putih yang selalu tersemat di kepala dan tak lupa harum wewangian yang terhidu dari tubuhnya. Satu hal yang membuat saya salut sama papa adalah waktunya tak pernah terisi oleh hal yang sia-sia. Jika tak sedang membaca al-qur’an atau tidur, lisan beliau selalu basah dengan kalimat-kalimat dalam rangka mengingat Allah. Momen berkumpul bersama keluargapun lebih dimanfaatkan papa dengan memberikan nasihat kepada kami. Meskipun sore itu, Fatih; keponakan saya menggoda papa dengan tingkahnya yang lucu, papa hanya menanggapi dengan tersenyum sembari lisannya tak luput dari zikir kepada Allah. Sesuatu yang sangat sulit saya amalkan di kehidupan saya saat ini.

Pukul 18.36 WIT jelang berbuka di hari ke 14 Ramadan…
Papa menoleh ke saya sembari berujar dengan senyumnya yang khas “3 menit lagi yah!” saya hanya menanggapinya dengan anggukan kepala dan membalas senyumnya. Kebiasaan papa di setiap jelang berbuka adalah mengingatkan kami akan waktu berbuka puasa yang tersisa beberapa menit lagi. Tak lama setelah berkata demikian, sepintas saya melihat papa bersandar di sofa sambil menarik napas, sementara Fatih tertawa menatap kakeknya dalam kondisi demikian. Awalnya saya menduga bahwa papa hanya menggoda Fatih, tapi berikutnya saya merasa ada yang aneh dari ekspresi yang ditunjukkan papa. Saya mendekati papa, menatap wajahnya lekat-lekat yang tampak kesakitan. Saya memanggil beliau sambil meminta untuk tetap beristighfar. Tak ada sesiapa di ruang tamu, hanya saya, papa dan Fatih. Entah kenapa tiba-tiba jantung saya berdebar tak karuan, meskipun papa dalam kondisi sehat sebelumnya, sebagai seorang dokter terlebih sebagai seorang anak perempuan satu-satunya yang dekat dengan papa, firasat saya teramat kuat bahwa saat itu adalah saat di mana papa sedang dijenguk malaikat rahmah (insyaAllah), saat di mana telah ditampakkan seluruh amal perbuatan papa semasa di dunia, saat dimana malaikat maut perlahan mengeluarkan ruh papa dari jasadnya. Meskipun singkat, hati saya teriris, merintih melihat papa yang kesakitan menahan pedihnya kematian; Dan setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian……

Saya tersadar dari kondisi sebelumnya yang hanya bisa terpaku menatap papa. Bergegas saya memanggil mama dan yang lainnya di ruang makan. Melihat kondisi papa, kakak laki-laki saya dan isterinya yang juga adalah seorang perawat, berusaha melakukan pertolongan pertama kepada papa, sedang adik saya berlari keluar memacu motornya mencari mobil untuk membawa papa ke rumah sakit. Saat papa dibaringkan, napasnya mulai terdengar lemah, kakak saya masih sibuk melakukan resusitasi jantung paru. Ibu, hanya bisa mematung, terdiam menatap papa dalam kondisi demikian dengan air mata yang terus mengalir tak henti-hentinya. Saya yang berada tepat di kepala papa berusaha membantu papa dengan talqin, saya bisikkan kalimat ‘Laa ilaha illallaah’ berulang kali tepat di telinga papa. Tak lama adik saya tiba dan meminta papa segera dibawah ke IGD. Meskipun saya sadar saya adalah seorang dokter, seharusnya saya berusaha melakukan tindakan pertolongan terbaik buat papa, menyelamatkan nyawa papa, tapi naluri saya sebagai seorang anak membuat saya meminta kepada mama, kakak dan adik saya untuk tak perlu membawa papa ke rumah sakit. Saya tidak ingin detik-detik berharga papa dalam menjalani sakarat dilewati di perjalanan. Sayapun meminta kakak dan adik untuk sama-sama memindahkan papa ke tempat tidur di kamar saya.

Dan pukul 18.39 WIT memasuki hari ke 15 ramadan, di tempat tidur itulah, setelah satu tarikan napas panjang yang teramat lemah,diikuti kumandang azan yang bersahutan dari beberapa masjid sekitar, tepat di saat orang-orang beriman di wilayah kami berbuka puasa, ruh papapun keluar menuju illiyiin, menuju lapis langit ke tujuh tempat bersemayam ruh orang-orang beriman (InsyaAllah). Beliau dipanggil menujunya masih dalam keadaan berpuasa. Ibu yang tak siap melihat kepergian papa yang begitu tiba-tiba sempat berucap sambil terisak “mengapa tidak menunggu berbuka puasa dulu?” saya berusaha menguatkan ibu kala itu, meminta beliau beristighfar karena seakan-akan tidak menerima ketetapan Allah kemudian sayapun berujar lirih “Papa tadi masih Allah takdirkan sahur bersama kita di dunia, tapi semoga papa saat ini telah berbuka bersama para malaikatNya yang mulia…”

Innalillaahi wa innailahi raajiuun…. Setiap kita akan diwafatkan sebagaimana kebiasaan kita; demikian perkataan para salaf. Dan hari ini, saya, ibu dan saudara-saudara saya sendiri menjadi saksinya. Papa yang tak pernah meninggalkan puasa sunnah senin-kamis, yaumul bidh serta puasa-puasa sunnah lainnya. Papa yang selalu menjaga wudhunya… papa yang tak pernah kering lisannya dari berdzikir kepada Allah, hari ini dipanggil dalam kondisi sebagaimana kesehariannya. Semoga dengannya Allah menjadikan akhir beliau adalah akhir yang baik (husnul khatimah), insyaAllah. Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa afihi, wa’fu anhu.
Selengkapnya...

rin_iffah




"Waktu makan sahur tersisa satu menit." Demikian pengumuman yang disampaikan lewat radio maupun masjid dekat rumah. Dan satu menit setelah itu terdengarlah bunyi sirine tanda waktu imsak tiba. Pada kondisi tersebut, seluruh aktivitas makan minum pun dihentikan meskipun azan subuh masih akan berkumandang sepuluh hingga lima belas menit kemudian. Kebiasaan ini sudah berlangsung entah sejak kapan di Ternate bahkan mungkin hampir merata di seluruh Indonesia. Karena semenjak pertama kali kami mulai belajar berpuasa, bunyi sirine yang cukup menakutkan bagi mereka yang belum sempat sahur di belasan menit sebelum subuh ini sudah lazim terdengar. Sayangnya... menahan diri dari makan sahur (imsak) seperti ini (sependek pemahaman kami) malah tidak sesuai dengan tuntunan syariat meskipun (konon) tujuannya baik; untuk lebih berhati-hati. Padahal jelas dalam al qur'an disebutkan “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (Al Baqarah: 187)

Fajar yang dimaksud adalah fajar shadiq penanda masuknya waktu subuh yang saat ini lebih kita ketahui lewat kumandang azan subuh. Nabi pun sangat menganjurkan ummatnya untuk mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Namun dalil tersebut tidak serta merta menjadikan kita bermalas-malasan untuk bersahur. Karena ada sebagian dari kita yang malah masih dengan tenangnya bersantap sahur di saat azan subuh telah dikumandangkan lalu berdalih belum terbit fajar atau azan subuhnya terlalu cepat dari waktu terbit fajar. Olehnya, meng-ilmui perkara terkait penyempurna ibadah shaum juga adalah bagian dari kebutuhan masing-masing diri agar tak sampai keliru dalam beramal. -CMIIW-

Semoga Allah memberikan taufikNya kepada kita dalam bergiat menjalankan ibadah di hari-hari ramadan yang semakin bergulir cepat
Selengkapnya...

rin_iffah

Kadaton Ternate

Ternate sebagai salah satu kota pusaka Indonesia, selain menawarkan keindahan alam berupa laut, pantai dan danau sebagai tempat rekreasi atau wisata, juga memiliki banyak destinasi sejarah yang sayang jika dilewatkan saat anda berkesempatan berkunjung ke sini. Sebagai kota kecil yang kelilingnya hanya seluas 42 KM, Ternate memiliki banyak benteng peninggalan Portugis maupun Belanda. Ada yang bangunannya masih tegak berdiri, sebagian lainnya hanya berupa reruntuhan. Benteng Nostra Senora Del Rosario atau yang dikenal oleh penduduk Ternate sebagai benteng Kastela misalnya, adalah salah satu Benteng peninggalan Portugis yang memiliki nilai historis yang tinggi. Di benteng inilah Sultan Khairun; ayahanda Sultan Baabullah di bunuh secara keji yang sekaligus menjadi titik puncak perlawanan rakyat mengusir Portugis dari bumi Ternate. Kejadian ini direfleksikan dalam sebuah tarian bernama tari Soya-Soya. Anda juga bisa bertandang ke kadaton Sultan Ternate (Istana/Tempat Tinggal Sultan), Sigi lamo (Masjid Sultan) ataupun Dodoku Ali (Jembatan tempat menerima tamu kesultanan) yang ke tiga area ini berada di tempat yang berdekatan. Namun pada kesempatan kali ini, saya akan mengajak anda untuk mengunjungi Desa Foramadiahi; pusat pemerintahan pertama kerajaan Ternate sebelum dipindahkan ke Kadaton Ternate yang sekarang. Di tempat ini juga Terdapat makam Sultan Baabullah.

Kelurahan Foramadiahi; pusat kerajaan pertama Ternate

Terik mulai memanggang ketika kami menapak jalanan menanjak menuju sebuah tempat yang dikeramatkan penduduk sekitar yang konon adalah makam Sultan Baabullah di Foramadiahi. Melintasi kembali tempat ini layaknya merekam jejak perjalanan bersama rombongan ‘tur wisata sejarah’ saat masih duduk di bangku SMP belasan tahun silam. Bukan waktu yang singkat untuk menikmati wajah baru desa yang kini telah menjadi salah satu Kelurahan di kecamatan Pulau Ternate. Memilih menggunakan sepeda motor ke tempat yang berada di lereng gunung Gamalama ini rupanya menjadi pilihan yang tepat jika tak ingin separuh perjalanan yang lumayan sulit tak bisa diselesaikan karena kehabisan tenaga. Setelah memarkir kendaraan di rumah salah satu warga, perjalanan dimulai dengan menaklukkan seratus satu anak tangga untuk bisa sampai ke titik awal menuju makam. Begitu tiba di anak tangga ke seratus satu maka lelah akibat tanjakan terbayarkan dengan pemandangan indah di bawah sana. Selain rumah penduduk dengan pagar yang dicat senada, mata kita juga akan dimanjakan dengan hamparan laut biru dengan pulau Tidore, Mare, Moti dan Makian yang berjejer rapi membentuk setengah frame di sisi kirinya. Memandang Foramadiahi dari ketinggian seperti ini mengantarkan kami ke masa-masa di mana pemerintahan pertama pulau Ternate bermula. Di tempat inilah dipercaya sebagai tempat bermukimnya Kolano (raja) pertama sebelum akhirnya pemerintahan dipindahkan ke Kota baru di kawasan Soa-Sio. Maka bertandang ke Foramadiahi ibarat mengunjungi rumah tua yang telah ditinggal pemiliknya. Jangan bayangkan kami akan jumpai reruntuhan bangunan bekas istana raja, bahkan warga sekitar pun tak pernah peka bahwa di tanah merekalah asal mula kerajaan Ternate berdiri hingga berubah wujud menjadi kesultanan dan tetap ada sampai saat ini.

Sesaat melepas penat, perjalanan menuju makam pun dilanjutkan. Berbekal informasi dari warga, kami menyusuri jalanan setapak yang sudah dibeton jauh berbeda dengan kondisi jalanan belasan tahun lalu yang masih berupa tanah basah khas daerah pegunungan. Melintasi jalanan yang terkadang menanjak juga sesekali menurun tajam ini membuat perjalanan seolah tak menemukan ujungnya. Bersyukur karena pandangan masih bisa berkarib dengan deretan pohon Cengkeh dan Pala yang dahan kokohnya menjulang di samping kiri kanan menjadi terapi cuma-cuma bagi paru-paru dan pikiran yang mulai kekurangan oksigen. Dedaunan menguning dan sebagian telah kering berterbangan memenuhi jalanan yang kami lalui menambah syahdu suasana serta menghantarkan aroma khas bumi rempah-rempah. Pantas saja jika bangsa Eropa saling berebut mendatangi surganya rempah di jaziratul Mulk ini. Di perjalanan, kami sempat berpapasan dengan seorang wanita paruh baya yang membawa keranjang terbuat dari anyaman rotan dipunggungnya. Masyarakat Ternate menyebutnya saloi. Berkebun dengan membawa saloi di punggung (cahi saloi) merupakan pemandangan yang sudah sangat jarang dijumpai di Ternate.
Seorang Ibu yang sedang ke kebun sambil 'Cahi Soloi'
Akhirnya, tepat saat adzan Dzuhur berkumandang, kamipun tiba di kawasan pemakaman. Sebuah pendopo beratap hijau dengan pintu gerbang bertuliskan ‘Makam Sultan Baabullah’ menyambut kedatangan kami. Bayangan jika makam ini akan ramai pengunjung di hari libur seperti ini terpatahkan sudah. Tak ada sesiapa di sana, sepi menggelayut menggantung bersama sebuah pohon tua yang akarnya menancap kuat ke tanah seolah ingin melindungi makam di sampingnya. Ia masih setia dengan rimbun dedaunannya dan masih seperti itu sejak pertama kali kami menginjakkan kaki di tempat ini. Selain itu, kami juga menjumpai bapak tua penjaga makam yang sepuluh tahun terakhir turut menjadi saksi segala bentuk perubahan yang terjadi di tempat ini.
Makam Sultan Baabullah

Abaikan sejenak tentang simpang siur sejarah kebenaran pemilik makam. Yang pasti, kisah heroik dibalik sosok yang dipercaya sebagai pemilik makam keramat ini patut dicatat dengan tinta emas sejarah perlawanan rakyat Ternate terhadap penjajah. Sang penguasa 72 pulau ini begitu ditakuti oleh musuh-musuhnya juga disegani oleh kerajaan-kerajaan lain yang ada di Nusantara. Sultan Baabullah adalah sang inspirator dalam melawan kolonialisme Eropa. Begitu luasnya daerah kekuasaan di bawah kepemimpinannya, sehingga banyak yang menyebutkan bahwa Ternate pada masa Sultan Baabullah adalah miniatur Negara Islam pertama di Nusantara. Maka ketika mangkatnya di tanggal 18 Ramadhan 991 H atau 25 Mei 1583 di usianya yang ke 53 tahun duka dodora menyelimuti bumi Ternate. Meskipun sampai detik ini tempat kematiannya masih menjadi misteri yang belum terpecahkan sejarah, Sultan Baabullah tetaplah pahlawan bagi rakyat Ternate.

Foramadiahi dan Makam Sultan Baabullah adalah perpaduan sejarah dan legenda berbumbu mitos yang terperangkap di atas perbukitan lereng gunung gamalama, menjadikan dua situs bersejarah ini semakin terisolir, kian asing terindera tertutupi oleh pesatnya pembangunan. Rumah tua foramadiahi kini hanya sekedar perkampungan biasa layaknya perkampungan lain yang ada di Ternate. Tak ada lagi yang istimewa buatnya. Seistimewa ketika ia menjadi rumah pertama bagi pemerintahan Ternate, Ratusan tahun silam.
Selengkapnya...

rin_iffah


"Pergilah kemanapun kau suka. Singgahlah ke tempat terindah yang dimiliki semesta maka engkau akan dapatkan bahwa aku adalah satu-satunya surga yang kau punya"


Rumah adalah tempat di mana hati kita selalu terpaut padanya. Kenyamanan, ketenangan, kebahagiaan yang hadir di dalamnya membuat kita selalu rindu untuk pulang. Maka tak heran jika ada yang menyebut 'Rumahku Surgaku'. Bagi saya, Ternate adalah sebuah rumah tua, rumah terindah beratap langit biru dan arakan awan putih ditopang gunung Gamalama sebagai pasak, pantai indah serta bentangan laut biru menjadi alasnya. Rumah ini telah ada sejak ratusan tahun silam. Berbagai peradaban lahir di tempat ini. Mulai dari pertama kali kepala rumah tangganya bergelar kolano (raja) hingga berganti menjadi Sultan ketika Islam mulai menjadi agama yang dipeluk oleh penghuninya. Ia pun  menjadi saksi perjuangan melawan kolonialisme di bumi nusantara. Di sini pula saya dilahirkan, menghabiskan masa kanak-kanak yang indah di sepanjang pesisir pantai.... membuat rumah pasir, memancing ikan, bermain perahu ataupun berlomba dengan lipatan-lipatan ombak, saling berkejaran menuju bibir pantai. Saban hari sayapun tak alpa mengikuti paman pergi ke hutan memanen hasil kebun berupa pala dan cengkeh; rempah terbaik di tanah para raja yang usianya sebaya dengan usia rumah ini sejak pertama kali dibangun. Di rumah tua ini saya melewati masa remaja dan kemudian tumbuh dewasa meski ada jeda di mana saya harus pergi sementara sambil menahan rindu yang teramat sangat terhadap kampung halaman, berhijrah menuntut ilmu dan akhirnya kembali mengabdi di tanah leluhur tercinta.

Di sini... di rumah ini, begitu banyak peristiwa silih berganti melintas di depan mata. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Kadang tawa bahagia menyelimuti, pun tangis duka tak luput menghampiri. Seiring berjalan waktu perubahan demi perubahanpun terjadi. Rumah yang dulunya penuh tradisi dengan nilai2 kesantunan mulai terkikis. Kakak tak lagi menghargai adik-adiknya pun sang adik tak paham bagaimana harus bersikap terhadap kakak-kakaknya. Entah karena alasan perbaikan, rumah tua ini pun dipermak, dipoles sana sini, diberi hiasan yang justru membuat ia semakin kehilangan ruhnya. Beton-beton kokoh dibangun di sepanjang pesisir menggantikan pantai berpasir indah dan rimbunan tanaman bakau tempat kami menghabiskan hari semasa kecil. Hutan yang dulunya lebat berubah menjadi bangunan-bangunan baru tanpa mempedulikan daerah resapan air. Wajarlah jika kekhawatiran ini mulai hadir.

Suatu hari nanti, ketika saya pergi dari sini kemudian kembali lagi dalam waktu lama, akankah saya dan penghuni rumah lainnya masih bisa saling mengenali? Sementara di tempat yang samapun kami serupa orang asing yang lahir dari rahim berbeda. Apatah lagi jika terpisah jarak dan waktu sekian lamanya. Lebih jauh lagi, kelak ketika itu terjadi.... akankah rumah tua yang saya bangga-banggakan ini, tempat saya menyulam berbagai kenangan indah masih menjadi tempat yang nyaman yang akan selalu mengetuk-ngetuk kerinduan di hati saya untuk kembali pulang? Semoga......
Selengkapnya...

rin_iffah

Saat musim ombak, menyebrangi lautan dengan jenis transportasi apapun menjadi hal yang paling menakutkan (bagi saya). Apalah daya Maluku Utara yang terdiri dari begitu banyak pulau dengan luas lautan mencapai 76% dari total luas wilayahnya ini membuat pilihan untuk menggunakan angkutan penyebrangan laut sulit untuk dihindari ketika hendak bepergian menuju tempat tertentu di luar Ternate. Sebagaimana kami hari itu selepas memberikan pelatihan yang diselenggarakan oleh BKKBN, setelah menempuh perjalanan darat dua jam lebih dari Weda (Halmahera Tengah) ke Sofifi (Ibu Kota Provinsi Maluku Utara) untuk bisa kembali ke Ternate, kami terlebih dahulu harus melintasi lautan. Pilihannya hanya dua, menggunakan kapal Feri atau Speed Boat. Sore itu kami tak seberuntung penumpang lainnya yang masih sempat menyebrang dengan Feri. Terlalu lama di perjalanan dan sempat berhenti sebentar di beberapa titik untuk mengambil foto (salah satunya foto matahari terbenam ini) membuat kami terlambat mengejar Feri jam setengah tujuh. "Ferinya nanti tiba di Sofifi jam 8 malam dan akan berangkat ke Ternate jam 5 Subuh besok. Jika buru-buru bisa naik speed boat saja, tapi dengan kondisi lautan yang berombak dan menyebrang di malam hari seperti ini cukup beresiko. Bisa saja di perjalanan speed boat nya menabrak batang pohon atau kayu yang mengapung di sepanjang perairan...." seorang petugas pelabuhan memberikan penjelasan panjang lebar ketika kami bertanya tentang jadwal penyebrangan Feri sore itu.

Nyali juga setelah mendengar penuturan bapak tersebut. Sempat terlintas berbagai kecelakaan speed boat saat melintasi lautan menuju Ternate. Terakhir adalah kecelakaan yang menimpa sebuah keluarga ketika mereka di pagi buta menyebrang dari Sofifi ke Ternate demi mengejar penerbangan pagi menuju Surabaya. Tak ada satupun di antara penumpang yang selamat kala itu. Jasad beserta uang puluhan juta yang dibawa serta tenggelam bersama speed boat. Sempat pula terfikirkan, bagaimana nasib penduduk di sini yang menderita penyakit akut dan butuh penanganan segera sementara mereka harus menyebrangi lautan untuk bisa sampai ke Rumah Sakit Daerah dengan fasilitas yang jauh lebih memadai dibandingkan puskesmas perawatan di ibu kota provinsi ini; Sofifi. Beruntung jika penyakit yang mereka derita dialami saat lautan teduh sehingga menyebrangi lautan tak menjadi kendala yang berarti, tapi bagaimana jika mereka harus mencari pertolongan di kala lautan tak bersahabat ataupun harus dirujuk saat malam hari dengan penerangan ala kadarnya. Apakah mereka tak punya hak yang sama dengan penduduk lainnya yang berada dekat dengan fasilitas kesehatan?

Kondisi Maluku Utara yang terdiri atas gugusan pulau menyebabkan jalur transportasi antara satu daerah ke daerah lainnya cukup sulit dilalui. Hal ini berdampak pula pada kondisi ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat setempat. Semakin berada jauh dari kota maka semakin terbelakang pula daerah tersebut. Sistem rujukan gugus pulau yang didengung-dengungkan menjadi program andalan pemerintah daerah pun seakan mati langkah. Rumah Sakit-Rumah Sakit di tiap kabupaten tak dibekali dengan sumber daya yang mumpuni untuk menjalankan program tersebut. Walhasil pasien yang berada di daerah sangat terpencil pun lebih memilih untuk dirujuk ke RSUD Chasan Boesoirie di Ternate dibandingkan ke RSUD Kabupaten terdekat. Maka mengaktifkan Rumah Sakit Umum Daerah di Sofifi sebagai pusat pemerintahan provinsi Maluku Utara sekaligus menjadi tempat startegis di daerah lintas Halmahera yang juga adalah daratan terluas akan sangat membantu dalam mempersingkat alur rujukan pasien yang selama ini terlalu banyak menghabiskan waktu juga biaya. Semoga saja RSUD Sofifi ini segera beroperasi sehingga bisa menjadi solusi perbaikan sistem kesehatan di Maluku Utara meskipun sangat mungkin banyak kekurangan yang akan dijumpai di awalnya.
Selengkapnya...

rin_iffah



Danau Tolire dengan Latar Gunung Gamalama
Foto oleh : mexes_screamo

Alkisah, tersebutlah sebuah kampung bernama Tolire yang dipimpin oleh seorang mahimo atau fanyira (Ketua Adat). Mahimo ini mempunyai seorang anak gadis yang konon tersohor kecantikannya di seantero kampung. Bunga desa yang mulai terlihat kuncup keindahannya ini menjadi bahan perbincangan para pemuda kampung. Tak sedikit orang tua yang berharap bisa meminang si gadis untuk dijadikan menantu. Penduduk Tolire hidup damai berdampingan, saling bergotong royong dalam kerukunan. Berkah langit dan bumi tercurah siang dan malam. Hasil bumi di tempat ini terberkahi. Perkebunan pala, cengkeh dan kelapa silih berganti menghasilkan buah dengan panen yang melimpah. Hingga suatu ketika, mendung menggantung di langit Tolire. Tanpa sebab yang jelas, beberapa penduduk menderita penyakit aneh yang menakutkan, menular dan menjadi wabah yang sangat mematikan. Tolire kian mencekam. Para pemangku adat kebingungan. Penyakit yang tak pernah mereka derita sebelumnya ini bagaimanapun caranya harus disingkirkan. Maka bersepakatlah mereka untuk menyingkirkan penyakit yang dianggap berasal dari roh-roh jahat. Gangguan roh jahat tersebut sudah sepantasnya dihalau dengan ritual Salai Jin (Ritual memanggil Jin) dan tarian Cakalele.

Tibalah waktunya menjalankan ritual mengusir marabahaya dari kampung Tolire. Semua penduduk dikumpulkan di tanah lapang. Anak-anak, perempuan, hingga manula memenuhi undangan. Sedang para lelaki dipersiapkan untuk menjalani ritual salai jin dan tarian cakalele. Alunan musik yang berasal dari tabuhan tifa menggema memecah malam mengantarkan para penari beraksi. Dua malam berturut-turut ritual tersebut dijalankan. Tibalah pada malam ketiga. Setiap lelaki dewasa telah bersiap memulai ritual sebagaimana yang telah mereka lakukan pada malam-malam sebelumnya. Jelang ritual, terlebih dahulu mereka meminum saguer; minuman tradisional yang membuat siapapun yang meminumnya akan mabuk dan tak terkontrol setiap perilakunya. Tujuan minum saguer tak lain untuk menambah semangat dalam membawakan salai jin dan tarian cakalele. Malam semakin larut. Para penari semakin liar tariannya tersebab reaksi saguer yang mulai menguasai badan. Tak terkecuali sang pemimpin adat yang ikut dalam ritual tersebut. Ritual yang awalnya bertujuan menghilangkan musibah justru berbuah petaka. Masih di bawah pengaruh minuman saguer, pemimpin adat Tolire melakukan perbuatan yang mendatangkan kutukan semesta. Anak gadis satu-satunya yang ia miliki, yang ia jaga mahkotanya agar tak gugur sebelum waktunya justru menjadi ‘mangsa’nya. Minuman keras membuatnya menzinahi putrinya sendiri nyaris hingga subuh menghampiri. Sementara penduduk lainnya tak menyadari peristiwa tersebut.

Menjelang fajar, seorang perempuan yang tak turut dalam ritual malam itu karena sedang menyapih anaknya mendengar kokok ayam menyerupai suara seorang manusia yang berteriak menyebut kata-kata tertentu. Dirapatkan pendengarannya, mencoba menangkap kalimat apa yang tertangkap indera pendengarnya dari kokok ayam jantan tersebut. Lamat-lamat ia mendengar seruan “Tolire Gam Jaha” (Kampung Tolire akan tenggelam). Kalimat itu berulang diserukan hingga si perempuan pun menyadari bahwa ini adalah petanda alam yang mengabarkan kampungnya dalam ancaman besar. Ia pun berlari mendekati kerumunan penduduk yang sebagian besar sudah tak sadarkan diri. Disampaikannya kabar yang baru saja dia dengarkan kepada mahimo sebagai petanda buruk. Awalnya mahimo menafsirkan hal itu sebagai bagian dari terkabulnya permintaan mereka lewat ritual yang telah diadakan selama tiga malam berturut-turut. Namun kemudian ia tersadar ketika mengetahui ia baru saja melakukan perbuatan terlarang dengan anaknya sendiri. Belum juga pulih kesadarannya, Terdengar suara gemuruh dari arah barat. Entah darimana datangnya, tiba-tiba angin kencang mengepung kampung Tolire. Tanah di sekitar mereka bergetar hebat kemudian amblas bersama sebagian penduduk yang masih tak sadarkan diri karena pengaruh minuman keras. Penduduk lainnya yang sudah terjaga berusaha menyelamatkan diri dari bencana yang datang tanpa disangka-sangka. Pemimpin adat juga berada dalam kerumunan penduduk yang berhamburan mencari pertolongan. Sayangnya, nyawa mahimo tak terselamatkan. Ia ikut tenggelam bersama kampung Tolire beserta isinya. Anak gadis mahimo berhasil menyelamatkan diri dari kampungnya. Namun ketika ia hampir mencapai bibir pantai tanah di sekitarnya ambruk. Sang gadispun tenggelam. 

Danau Tolire dengan latar pulau Hiri
Foto oleh : mexes_screamo

Konon kampung Tolire yang hilang pada peristiwa tersebut berwujud sebuah danau besar yang sangat dalam yang dikenal sebagai danau Tolire. Sedangkan tanah tempat tenggelamnya anak gadis mahimo berubah menjadi sebuah danau yang lebih kecil dan berbatasan dengan pantai membentuk muara. Danau ini kemudian oleh penduduk Ternate disebut sebagai ‘Tolire Kecil’.

Danau Tolire vie dari pesawat


Danau Tolire Kecil
Foto oleh : mexes_screamo


*Catatan : Danau Tolire menurut data sejarah terbentuk akibat gempa tektonik yang disertai letusan hebat Gunung Gamalama pada tahun 1775 dan menelan korban hingga 2000an orang dari 3000an penduduk Ternate kala itu.

Selengkapnya...

rin_iffah


Pernahkah anda berhadapan dengan seseorang yg di sepuluh menit sebelumnya masih tersenyum ramah, bercanda seolah tak ada apa-apa tapi di detik berikutnya terbujur kaku tak bernyawa? Ataukah tetiba ada yg datang mengarahkan telunjuk tepat di depan wajah anda sambil menuduh anda adalah penyebab kematian anggota keluarganya? Pernahkah anda menyaksikan duka dan bahagia berlangsung di waktu bersamaan? Ketika ada seorang ayah yang sulit mengapresiasikan perasaannya antara sedih kehilangan isteri tercinta yang telah berdarah-darah, berjuang menyelamatkan sang buah hati penyejuk mata ataukah harus bergembira menyambut kehadiran malaikat kecil yang tangis pertamanya mengiringi kepergian sang bunda selama-lamanya. Kami pernah, bahkan telah menjadi bagian dari warna-warni hidup kami.

Di sini, di Rumah Sakit Umum Daerah Chasan Boesoirie Ternate, semua peristiwa itu terpampang jelas di hadapan kami. Meskipun pekerjaan sebagai tenaga medis bukanlah pekerjaan utama penduduk Ternate, namun Rumah Sakit Umum Daerah Chasan Boesoirie menjadi tempat yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Tidak saja di Ternate, tapi juga di Provinsi Maluku Utara. Sudah banyak drama kehidupan, suka pun duka yang kami lewati di sini. Detik-detik kematian yang senantiasa mengintip dari balik pintu Instalasi Gawat Darurat dan berjalan menyusuri lorong-lorong yang ada di bangsal perawatan membuat kami tak lagi merasa takut menyaksikan momen-momen yang bagi kebanyakan orang adalah peristiwa yang sangat menakutan. Kamipun harus merelakan sebagian waktu berkumpul bersama keluarga untuk dihabiskan menemani pasien. Lantas apakah semua itu membuat kami menyesal karena memilih bekerja di sini? Tidak sama sekali... Pekerjaan ini justru membuat kami lebih banyak bersyukur atas nikmat kesehatan yang masih teranugerahi di saat ada sebagian orang terbujur tak berdaya di atas tempat tidur karena penyakit yang mereka derita. Seiring bergulir waktu, kami semakin mencintai profesi ini meski tak ada alasan yang tepat untuk itu. Ketika banyak mata awam melihat hal-hal yang terkesan tidak menyenangkan yang kami alami sebagai resiko profesi, seorang sahabat justru menganggap semua resiko tersebut adalah bagian dari amal profesi. Maka apapun pekerjaan yang kita jalani saat ini, Niatkan semuanya untuk beribadah agar setiap tatapan, sentuhan, senyuman, kata-kata yang terlisankan bisa bernilai ibadah di sisiNya...
Selengkapnya...

rin_iffah

Tiba juga saatnya berbicara tentang makanan. Tema paling ‘menakutkan’ di antara sepuluh tema lainnya yang ada di 30 Hari Kotaku Bercerita. Bukan karena di kota saya tidak tersedia makanan yang menggoda selera, akan tetapi menulis tentang kuliner bisa membuat perut saya ikut-ikutan meronta minta diisi. Pada kesempatan kali ini saya cukup memperkenalkan dua jenis makanan khas Ternate yang jika berkunjung ke sini wajib hukumnya untuk dicicipi. Yang pertama kami menyebutnya Makanan Kobong dan yang kedua Makanan Adat.


Entah sejak kapan kami mulai menggunakan istilah makanan kobong. Mungkin dulunya jenis makanan ini sering dibawa saat berkebun atau makanan hasil kebun penduduk Ternate. Makanan kobong menjadi makanan yang paling digemari di kota kami. Sudah menjadi kebiasaan di sini, setiap hari Jum'at hampir setiap rumah penduduk disiapkan makanan kobong sebagai hidangan makan siang. Bagi kami, hari Jumat adalah hari yang istimewa sehingga makanan yang disiapkan di tiap rumahpun harus yang istimewa salah satunya makanan kobong. Namun anda tidak perlu khawatir jika hanya punya kesempatan berada di Ternate selain pada hari Jum'at karena saat ini, makanan kobong sudah tersedia di banyak rumah makan dan bisa didapatkan setiap hari. Beberapa rumah makan sederhana yang berjejer sepanjang pasar Gamalama (salah satu pasar tradisional di Ternate) menyediakan makanan kobong sebagai menu andalannya. Di sini, kita bisa menikmati makanan kobong sambil memandang ke arah laut lepas dan pulau Halmahera. Harganya lumayan murah, cukup dengan 25 sampai 50 ribu rupiah kita bisa makan sepuasnya. Makanan Kobong sepaketnya terdiri dari Popeda/Pupeda; Sagu yang dimasak dengan cara disiram air mendidih sampai mengental dan kenyal. Disajikan di atas piring yang telah dituang kuah asam pidis (kuah ikan yang ditumis dengan berbagai rempah) atau kuah soru (kuah bening berisi ikan tore atau ikan yang sudah dikeringkan). Popeda juga menjadi kuliner khas beberapa daerah di Timur Indonesia seperti Ambon dan Papua. Yang membedakannya adalah cara penyajian dan cara makan. Selain popeda, di atas meja juga tersaji beberapa macam olahan ikan diantaranya; ikan bakar, ikan fufu (ikan tuna yang diasap) dan Gohu (Olahan ikan mentah yang dibuat dari ikan tuna segar dipadukan dengan perasan air lemon, bawang merah, cabe rawit, disiram minyak panas dan ulekan kacang goreng). Beraneka sayur; sayur garu (tumisan daun singkong dan jantung pisang atau bunga pepaya), kohu-kohu (sayuran mentah yang biasanya dijadikan lalap seperti kacang panjang, terong, timun, kecipir dan lainnya), berbagai jenis dabu-dabu (sambal); Dabu-dabu tumis, Dabu-dabu manta/mentah, dabu-dabu kacang, Dabu-dabu kelapa. Dan tidak ketinggalan pisang dan kasbi/singkong yang direbus menggunakan santan. Cara menikmati makanan kobong yaitu dengan menggunakan tangan. Boleh juga memakai sendok dan garpu tapi cara makan demikian tidak lazim bagi kami. Kata orang Ternate makanan ini rasanya ‘Saki Foloi’ (Enak pake banget)

Salah satu rumah makan yang menyediakan makanan kobong.
Foto: http://ternateheritage.com
Paket makanan kobong.
Terdiri dari popeda, beberapa jenis ikan dan sayuran serta dabu-dabu (sambal)

Jenis makanan berikutnya yang patut dicoba adalah Makanan Adat. Untuk makanan yang satu ini anda harus menunggu waktu yang tepat agar bisa menikmatinya karena tidak disajikan setiap hari dan belum ada rumah makan di Ternate yang menyediakan menu makanan adat. Sesuai namanya, makanan adat hanya disajikan pada acara-acara adat seperti acara pernikahan adat Ternate, Acara Syukuran ataupun Tahlilan. Makanan adat pada umumnya disajikan di atas meja panjang yang sudah dialasi kain putih dan baru bisa dinikmati setelah dibacakan zikir dan doa. Bagi masyarakat Ternate, makanan adat memiliki simbol atau nilai filosofis tertentu. Makanan adat terdiri dari* :

1. Jaha (Pali-Pali); Nasi yang dimasak di bambu atau dibungkus dengan daun sagu yang panjangnya empat puluh sentimeter dan garis tengah tiga sentimeter sebanyak sepuluh potong. Dirakit dan diletakkan di atas piring yang dibuat menyerupai perahu bermakna Armada Laut Kerajaan Ternate yang siap tempur

2. Dada (Kukusan); Nasi kuning yang dibuat mengerucut melambangkan Gunung (Kerajaan) Ternate dengan kekuasaan yang tegak dan berwibawa

3. Ikan dan Terong goreng melambangkan kehidupan lelaki dan wanita atau laut dan darat (Heku dan Cim)

4. Gulai Ikan melambangkan kekayaan laut yang melimpah

5. Bubur Kacang melambangkan hasil pertanian yang melimpah

6. Serikaya; terbuat dari telur ayam, gula, santan kelapa, dan satu daun pandan melambangkan budi pekerti masyarakat adat Ternate beserta pemimpinnya

7. Boboto; Ikan dalam adonan santan dan telur dibungkus daun pisang berbentuk segi enam dengan panjang kurang lebih empat sentimeter sebanyak empat buah yang melambangkan empat penunjang (Fala Raha). Satu piring boboto disajikan untuk empat orang tidak boleh lebih atau kurang dengan pengertian kekuasaan tertinggi berada pada empat kekuatan besar atau Gam Raha.

Makanan Adat disajikan pada Acara Adat Ternate.
Foto dari http://ternateheritage.com

Demikian makanan adat dalam filosofis masyarakat Ternate. Sebentuk pemikiran yang dituangkan dalam beraneka jenis makanan hasil bumi yang ada di Ternate. Jika ke Ternate, sayang jika anda melewatkan kedua jenis makanan ini. Selamat makan.....


Selengkapnya...

rin_iffah



Pagi tadi saat sedang visit pasien di kamar bersalin, seorang ibu muda dengan agak terkejut memanggil nama saya ketika saya berjalan menghampiri dan mulai menanyakan keadaannya. "Rin yah?" Sayapun tak kalah terkejutnya. Sesaat saya menatap pasien pasca melahirkan ini dan mencoba mengumpulkan rangkaian puzzle wajah siapapun yang pernah berinteraksi dengan saya. Sayangnya kali ini saya gagal. Kepingan puzzle itu tetap saja berhamburan memenuhi seisi pikiran. Ah, kelemahan saya sedari dulu yaitu tidak pandai mencocokkan wajah dan nama seseorang, sekalipun belum berapa lama bersua. Melihat raut wajah saya yang kebingungan ibu ini melanjutkan ucapannya "Rin sudah lupa sama saya? Saya Fa****, teman SD dulu." Saya menarik napas lega, paling tidak masih ada pembenaran bahwa kemungkinan 'lupa' yang saya alami saat ini tersebab jarak pertemuan yang sudah sekian tahun tak terjalin 😆 Saya mencoba mencairkan suasana dengan 'pura-pura' terkejut bahagia seolah telah puluhan tahun kehilangan seorang sahabat lama dan baru dipertemukan kembali di tempat yang tak pernah kami sangka. Nyatanya saya benar-benar lupa siapa dia? Apakah kami pernah sekelas atau bahkan sebangku kala SD? Selanjutnya, dia menceritakan banyak hal, mengajak saya kembali bernostalgia ke masa-masa dimana kami hanyalah sekumpulan bocah ingusan yang menghabiskan hari-hari dengan bermain.

Sebagaimana biasanya, ada hal yang tak luput saya tanyakan kepada para ibu di ruang kebidanan saat memeriksa perkembangan kondisi mereka setelah melahirkan. Pertanyaan serupa saya ajukan pula kepada teman masa kecil saya ini. "Ini anak yang ke berapa?" Tanya saya sembari mengusap lembut pipi si bayi mungil yang perlahan menekuk dahinya dan semakin mendekat ke dalam dekapan sang ibu. "Ini anak ke lima." jawabnya sumringah dengan pendar bahagia terpancar jelas di matanya. Desiiiigh.... Saya terdiam sebentar. Saya tahu di detik dan menit berikutnya bidan-bidan di samping kiri kanan saya akan mengeluarkan kalimat candaan yang sama setiap kali saya jumpai ibu-ibu muda berusia awal dua puluhan yang sudah dua atau tiga kali melahirkan. "Wah dokter, ada yg 'so kamuka tuh'." Saya menanggapi dengan suara pelan, "Menikah dan punya anak itu bukan soal perlombaan siapa duluan dan siapa belakangan kan? Bukan untuk saling membanggakan bahwa saya sudah bersuami dengan punya sekian anak. Bukankah hal terpenting dari semua itu adalah menyiapkan diri dan ketika waktu itu tiba tidak ada lagi kata-kata 'belum siap' apalagi sampai terucap kata-kata penyesalan?"

Suara tangisan bayi di kamar bersalin yang silih berganti menutupi tiap kalimat 'bertuah' yang saya sampaikan barusan. Tak mengapa jika mereka tidak mendengarnya, toh kalimat-kalimat yang terucap lirih tadi adalah monolog yang tertuju buat diri sendiri. Tiba-tiba  terlintas wajah seorang kawan di ujung sana yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri. Di setiap nasihat yang terlontar dari lisannya selalu diiringi dengan ucapan 'Notes to MySelf'. Apa kabar dia yang saat ini sedang menikmati kebahagiaannya? Tak tahukah bahwa saya di sini sedang menanti untuk diajak berbagi kebahagiaan yang sama?!

*Kamar Bersalin, Mei 2015 ~Penggalan cerita tak jelas dengan sedikit 'flight of Idea'~
Selengkapnya...

rin_iffah


Pemandangan Matahari Terbit dari Pasar Syariah

Pagi baru saja terbit bersama hangat mentari yang perlahan muncul dari celah pohon bakau tua di area timbunan pantai menyapu wajah sekumpulan ibu-ibu yang sedang sibuk mengatur dagangannya. Mulai dari ikan yang baru dibawa pulang para nelayan setelah semalaman di lautan, sayur-sayuran segar, beraneka macam buah hingga keperluan hidup sehari-hari lainnya. Dagangan mereka tertata rapi meski belum tampak ada pembeli yang menghampiri. Pagi ini saya akan mengajak anda untuk mengunjungi sebuah pasar baru yang berada di selatan kota Ternate.

Pasar Syariah tampak depan
Jika selama ini kita hanya akrab dengan perbankan syariah ataupun asuransi syariah, maka di Ternate ada yang namanya Pasar Syariah. Yah, pasar syariah ini adalah pasar tradisional yang baru saja diresmikan oleh pemerintah kota Ternate. Terletak di kelurahan Sasa, pasar Syariah secara fisik terlihat seperti pasar-pasar lainnya yang menjual kebutuhan masyarakat sehari-hari. Yang menjadikannya berbeda dari pasar konvensional atau modern yang ada di Ternate, adalah pengelolaannya termasuk praktik jual belinya yang sepenuhnya menerapkan aturan Islam. Begitu pula barang yang diperjual belikan juga hanya komoditas yang halal mengingat mayoritas penduduk Ternate beragama Islam. Namun pasar Syariah ini tidak hanya diperuntukkan bagi penduduk Muslim saja, tetapi juga bagi penduduk beragama lain yang ingin berjualan atau berbelanja di sini dengan syarat menerapkan sistem jual beli sesuai aturan Islam misalnya tidak boleh menjual barang dengan keuntungan beberapa kali lipat atau juga tidak melakukan penipuan saat melakukan transaksi jual beli. Ada tim khusus bentukan pemerintah kota yang akan memantau perkembangan transaksi yang dijalankan di pasar syariah sehingga masyarakat tak lagi khawatir akan praktek curang ataupun riba sebagaimana yang ada di pasar-pasar pada umumnya.



Aktivitas Jual beli di Pasar Syariah

Walaupun tak seramai pasar Gamalama atau pasar Inpres yang telah lebih dulu dibangun, pasar Syariah ini tetap beroperasi sejak jam 6 pagi sampai jam 8 malam. Kita juga bisa berbelanja sambil menyaksikan matahari terbit karena pasar syariah ini berada di pinggir pantai dengan pemandangan yang langsung berhadapan ke arah timur dengan pulau Maitara dan Tidore sebagai bingkainya. Jika cuaca sedang cerah, kita bisa melihat Pulau Mare, Moti dan Makian dari kejauhan. Sebuah pemandangang yang akan membuat kita selalu ingin kembali, tak sekedar berbelanja tetapi juga untuk menyaksikan sebagian tanda kebesaran Sang Pencipta di alam semesta.
Selengkapnya...

rin_iffah

Fort Oranje tampak depan

Sebagai kota kecil yang kelilingnya hanya sekitar 42 kilometer, Ternate memiliki jumlah Benteng peninggalan Portugis maupun Belanda yang cukup banyak. Tercatat ada delapan benteng yang masih bertahan, yaitu Tolukko, Kalamata, Kastela, Oranje, Kota Janji, Bebe, Kota Naka, dan Takome. Sebagian hanya tersisa puing-puing yang tak lagi berbentuk layaknya benteng pada umumnya. Namun dalam catatan Belanda setidaknya ada 12 benteng di Ternate, termasuk sebuah benteng dari kayu, yaitu Benteng Kalafusa meski jejaknya tak lagi ditemukan. Pemerintah setempat, dalam upaya menjaga kelestarian benteng-benteng yang memiliki nilai sejarah, dibuatlah revitalisasi benteng yang ada di kota Ternate, salah satunya adalah Fort Oranje. Benteng yang empat abad lalu sempat menjadi titik tersibuk di pulau Ternate ini telah ditata kembali menjadi ruang terbuka publik di pusat kota dengan sebuah taman luas di depan benteng yang di cat berwarna jingga terang, kontras dengan bangunan yang berada di sekelilingnya. Fort Oranje awalnya dikenal sebagai benteng Malayo/Melayu peninggalan Portugis yang berada diperkampungan melayu. Saat Belanda datang  ke Ternate, Sultan Ternate menghadiahkan tanah di kawasan reruntuhan  Benteng Malayo kepada Belanda untuk didirikan benteng yang kemudian dijadikan markas besar VOC di Hindia Belanda sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia
Kanal buatan di taman Fort Oranje

Salah satu bastion fort oranje dengan meriam dan view lanskap kota Ternate

Saat ini, fort Oranje menjadi tempat nongkrong baru bagi penduduk Ternate yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga atau kerabat. Setiap pagi maupun petang, tempat ini tak pernah sepi pengunjung. Sayangnya, sejak diresmikan pada Mei 2015 kemarin taman beserta benteng Oranje belum sepenuhnya dikelola dengan baik oleh pemerintah kota. Museum rempah yang diharapkan menjadi tempat belajar sejarah keemasan Ternate sebagai pusat perdagangan rempah-rempah di masa lalu masih berupa bangunan tak berpenghuni yang terkesan baru . Tak ada aktivitas berarti yang ada di museum ini. Bahkan mungkin pengunjung yang datang ke fort Oranje pun tak mengenali bangunan museum rempah tersebut karena tak ada peta atau petunjuk arah yang jelas. Kebanyakan warga lebih memilih duduk di taman depan benteng atau naik ke atas bastion hanya sekedar berfoto dengan latar pemandangan sekitar.

Suasana taman Fort Oranje di suatu sore

Anak muda yang sedang bermain sepak bola di depan museum rempah dalam area benteng

Fort Oranje masih terus dalam pembenahan. Selaku warga Ternate, kami berharap Fort Oranje tak sekedar menjadi perabot tua yang dihias ala kadarnya hanya untuk menyegarkan mata tapi lebih dari itu ada nilai-nilai sejarah maupun budaya yang bisa kami dapatkan setiap kali berkunjung ke tempat ini. Mungkin akan segera tiba waktu itu. Semoga saja.
Selengkapnya...

rin_iffah


Refleksi Gunung Gamalama

Siapapun yang pernah berkunjung ke Ternate akan sepakat bahwa kota di pulau kecil ini menyimpan begitu banyak pesona bahkan sudah terasa ketika masih berada di angkasa. Cobalah untuk melepas pandang sejenak ke luar jendela pesawat di saat pramugari mengumumkan bahwa tak lama lagi pesawat akan mendarat di bandara Sultan Babullah Ternate. Sebuah gunung berdiri  kokoh dengan ketinggian 1715 meter di atas permukaan laut beserta beberapa pulau berjejer rapi di sekitarnya akan menyambut kedatangan anda. Gamalama, gunung yang namanya tersemat pada salah seorang artis ibu kota ini adalah sebuah gunung vulkanik aktif yang di kakinya terdapat kehidupan yang sudah berlangsung sejak awal abad ke 13. Sebuah kota pesisir yang dulunya bernama Pulau Gapi dan kini lebih dikenal sebagai kota Ternate.

Kota-Pulau Ternate dibingkai Pulau Tidore, Maitara dan Hiri
Gamalama dilihat dari jendela pesawat


Tak banyak yang mengenal Ternate, pun di peta Indonesia ia hanya berupa noktah kecil di wilayah Maluku Utara. Lewat project 30 hari kotaku bercerita yang diadakan oleh akun twitter @poscinta , saya akan mengajak anda untuk mengenal lebih dekat salah satu kota pusaka yang ada di Indonesia ini. Maka bersiaplah untuk jatuh hati sebagaimana teman saya yang ketika pertama kali menginjakkan kakinya di sini ia menyebut Ternate sebagai surga tersembunyi di Timur Indonesia. Pantaslah jika keindahan Ternate dan pulau sekitarnya terekam dalam lembar uang seribu rupiah. 

Pemandangan dari Ternate dalam lembar uang seribu rupiah

Selamat datang di Ternate, Selamat menikmati pesona kota tua di kaki gunung Gamalama…
Selengkapnya...

rin_iffah

Hal yang paling tidak menyenangkan -jika tidak mau dianggap menyebalkan- dari jaga malam IGD yaitu ketika menemukan pasien yang datang dini hari dengan keluhan sepele ataukah pasien dan keluarga yang menunjukkan sikap kurang bersahabat. Keadaan semacam ini yang paling sering menguji keikhlasan juga kesabaran seorang tenaga medis untuk tetap bersikap santun dalam melayani. Seperti seorang ibu malam itu yang datang ke IGD di saat jarum jam tepat berada di angka satu dini hari. “Sakit giginya sejak kapan?” Tanya saya dengan setengah mengantuk “Dari tadi sore dok, sakitnya sih sudah berkurang karena sudah minum obat penahan nyeri tapi saya tidak bisa tidur di rumah. Jadi boleh malam ini saya tidur di sini dok?” You’ve got to be kidding me! Datang ke IGD jam segini hanya karena tidak bisa tidur di rumah dan pengen tidur di IGD? Padahal di sini jauh lebih berisik dibanding jika ibu ini memilih istirahat di rumahnya. Saya hanya bisa mengeluh dalam hati dengan tetap berusaha menunjukkan senyum yang sebenarnya sedikit dipaksakan. Terkadang, kita memutuskan merawat inapkan pasien bukan atas indikasi medis, tapi lebih karena permintaan pasien atau terlanjur tidak tegaan saat melihat pasien dan keluarganya datang jauh-jauh ke IGD membawa bantal, guling, kasur juga kipas angin dan peralatan makan seolah hendak kemping di rumah sakit. Padahal belum tentu juga setelah diperiksa, dokter akan menganjurkan pasien untuk rawat inap.

Setelah selesai menangani pasien ini, saya menuju kamar jaga bermaksud hendak beristirahat meluruskan punggung sejenak, namun tak berapa lama masuk pasien lainnya. Kali ini seorang bapak tua datang dengan meronta kesakitan memegang perutnya sambil berdiri memeluk tiang infus di samping tempat tidur. Saat saya bertanya keluhannya, si bapak malah mengomel “Dokter tidak lihat kalo saya kesakitan kayak gini?? Aduuuh dokter tolong dong pasang infus atau kasih obat apa kek. Saya ini sudah kesakitan dan tidak bisa istirahat sejak tadi pagi?” “Lah, gimana saya mau ngasih penanganan kalo saya sendiri tidak diijinkan untuk memeriksa bapak” saya menimpali dengan sedikit kesal. Bukan apa-apa, tapi sangat sulit menjaga fisik dan pikiran bisa tetap jernih saat harus melayani pasien baru di jam segini. Setelah dibujuk keluarganya beberapa saat, akhirnya bapak ini pun menyerah juga. Dia terpaksa berbaring sambil gelisah menahan sakit. Ternyata rasa sakitnya disebabkan kandung kemihnya yang penuh, biasanya dialami oleh pasien dengan hipertrofi prostat atau penyumbatan lain di saluran kemih…. “Bapak harus dipasangin kateter karena yang bikin sakit perut ini akibat kandung kemih yang penuh” saya mencoba menjelaskan. “terserah dokter saja yang penting saya bisa tidur….” Jawabnya pasrah masih dengan erangan kesakitan. Benar saja, urin yang keluar lebih dari satu liter setelah kateter terpasang. Dan tidak sampai lima menit setelahnya, pasien ini sudah mendengkur hebat. Ah, Ada-ada saja nih bapak…..

Dan ternyata, kejadian tidak menyenangkan ini tak berakhir sampai di pasien hipertrofi prostat yang sudah tertidur pulas ini. Belum sampai setengah jam saya merebahkan diri di tempat tidur, azan subuh pun berkumandang. Dengan mata yang dipaksa bertahan saya menuju kamar mandi untuk bersiap melaksanakan shalat subuh. Tiba-tiba pintu kamar jaga diketuk seseorang. Ketukannya begitu keras. Dari dalam saya berusaha menjawab dengan setengah berteriak “tunggu sebentar!” namun suara ketukan semakin keras. Lebih mirip ditendang dari luar. Cara mengetuk yang tidak biasanya. Jika perawat, mereka akan mengetuk dengan sangat hati-hati, dan kalaupun tidak ada jawaban mereka tidak akan mengetuk berulang kali. Dengan wajah yang masih mengantuk, saya terpaksa keluar dari kamar untuk membukakan pintu dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Saat pintu dibuka, di depan saya berdiri seorang bapak berusia pertengahan empat puluhan dengan postur tinggi besar, barambut acak-acakan membelalakkan mata menatap saya tajam dengan air muka yang merah padam seolah-olah ingin menelan saya hidup-hidup. Telunjukknya diarahkan tepat di wajah saya sambil berteriak keras “Dokter macam apa ini!!! Ada pasien gawat kok malah asik tidur!! Saya laporkan dokter ke direktur rumah sakit, bila perlu ke gubernur dan akan saya masukkan dokter di M***t Pos” suasana IGD yang sepi membuat suaranya menggema menghantam tiap sudut ruangan menambah tegang keadaan. Ditodong seperti itu rasa kantuk hebat yang menyerang seketika hilang entah kemana…. “Maaf pak, boleh bicaranya agak sopan? Saya ini dari semalam belum istirahat, dan barusan juga saya mau sholat subuh. Kenapa tiba2 bapak datang, gedor2 pintu dan membentak saya seperti ini” saya menjawab dengan setenang mungkin. Berusaha menjaga intonasi suara agak tidak terbawa emosi. Nyali juga sebenarnya… terlintas dipikiran hal-hal menakutkan seperti di film-film thriller. Bagaimana jika tiba-tiba bapak ini melakukan tindak kekerasan. Mana suasana sepi “Halaaaaah sholat subuh…. Tidak penting itu yang namanya hablum minallaah…. Yang penting hablum minannaaas… Tuhan juga tahu. Masak ada pasien gawat dokternya malah tidur di kamar. Anak saya di depan sudah berdarah-darah dan belum dapat obat. Saya akan laporkan dokter. Saya ini kerja di pemerintahan!” ia masih membentak dengan intonasi suara yang semakin meninggi sambil kembali mengancam “Silahkan pak, laporkan saja saya ke atasan bapak atau siapapun. Bila perlu pasang nama saya di headline semua surat kabar yang ada di kota ini, Saya tidak takut!” Saya menantang tatapan matanya kemudian berlalu menuju ruang tindakan tempat pasien yang dimaksud berada. Pikirnya mungkin saya hanya seorang perempuan, bertubuh mungil pula sehingga dengan seenaknya dibentak dan diperlakukan kasar. Duuh, sekiranya tadi tangannya sempat menyentuh saya…. 

Di ruang tindakan sudah ada dua orang perawat yang sibuk melakukan penanganan awal kepada pasien ini. “Maaf dok, kami sudah hecting situasi untuk mengurangi perdarahan, sepertinya arteri radialisnya mengalami rupture” seorang perawat menjelaskan apa yang sedang dilakukan begitu melihat saya sudah berdiri di depan mereka. Saya pandangi anak remaja laki-laki yang terbaring dengan luka robek di pergelangan tangannya. Usianya sekitar tujuh belas tahun. “Kenapa tangannya bisa robek kayak gini?” Tanya saya “Saya pukul kaca dok” jawabnya sambil terisak “Kok bisa?” “Saya berkelahi…. sama bapak” “Kamu habis minum yah?” pertanyaan saya malah dijawab dengan tangisannya yang semakin kencang. Hadeuh, ternyata masalah rumah dibawa-bawa sampai ke IGD, pake adegan ‘sinetron’ pula bapak sama anak ini. Sayapun keluar dari ruang tindakan bermaksud menuliskan resep. Sementara si bapak aneh ini masih terus mengejar saya sambil meracau tidak jelas. Kok ada yah orang seperti ini. Sudah datang meminta pertolongan malah dianya yang ngamuk-ngamuk. Ngakunya intelek, kerja di pemerintahan tapi bersikap seperti preman. Jadi teringat sama orang-orang berdasi dengan penampilan rapi di ibu kota negara sana yang konon adalah wakil rakyat tapi bermental preman yang hobinya gontok-gontokkan, banting meja-lempar kursi dan dipertontonkan di hadapan rakyat. Seketika terlintas ide ‘jahil’  untuk bikin ‘kapok’ bapak ini, yang tindakan ini saya sesalkan kemudian. Yah, masih dengan perasaan emosi, saya meresepkan obat-obatan ber’merek’ yang ditebusnya dengan harga hampir mencapai satu juta rupiah padahal obat-obatan dalam sediaan generik harganya tak seberapa. Sejak saat itu, bapak ini tidak lagi menunjukkan batang hidungnya di IGD hingga anaknya dipindahkan ke kamar operasi untuk dilakukan tindakan lebih lanjut terhadap pembuluh darah di pergelangan tangannya yang nyaris putus. 

Pagi itu, sebelum keluar dari IGD menuju tempat parkir, seorang ibu datang menghampiri saya yang ternyata adalah ibu dari pasien ‘tragedi’ subuh tadi. Ia meminta maaf atas tindakan suaminya yang tidak beretika dan berterima kasih karena bersedia menangani anaknya sehingga nyawanya bisa diselamatkan. Saya hanya bisa tersenyum, yang terlintas di pikiran saya saat itu hanya kasur empuk dan si ngengemon; bantal doraemon kesayangan yang siap menemani saya menghabiskan sisa hari di kamar sepulang nanti. Sambil mengangguk pelan sayapun berlalu meninggalkan IGD juga semua rasa sesal yang sempat menyelimuti hati. Ah, bukankah melupakan hal-hal yang menyakitkan jauh lebih menenangkan…..
Selengkapnya...

rin_iffah

"Dan apabila bayi-bayi yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah ia dibunuh" (Qs. at-Takwiir [81]: 8-9) 

Tiba-tiba saya merasa familiar dengan wajah pasien yang satu ini. Mungkinkah karena pasien post SC yang pernah dirawat di bangsal? Ataukah saya pernah bertemu dengannya sebelumnya? senyumnya... tatapannya... siapa dia?

Saya baru tersentak begitu pasien ini berjalan meninggalkan poliklinik obgin. Subhanallah.... ibu ini pernah datang konsultasi ke saya sekitar sepuluh bulan yang lalu mengeluh mual muntah dan pusing. Saat saya menganjurkannya untuk diperiksa urin untuk mengetahui apakah keluhannya tersebut dikarenakan sedang hamil atau karena penyebab lain "Saya tidak mungkin hamil dok, saya kan lagi ikut KB spiral" ujarnya kala itu. Ketika selesai pemeriksaan dan saya sampaikan bahwa hasilnya positif ia pun menangis. Bukan karena perasaan haru akan memiliki anak lagi tapi karena ketakutannya yang lain. Kejadian hamil pada akseptor KB memang sangat mungkin, karena sampai saat ini belum ada satupun jenis KB yang tingkat pencegah kehamilannya mencapai 100%. "Saya malu dok dengan usia yang sudah kepala empat, mana anak saya yang terakhir sudah berusia 13 tahun. Apa kata orang-orang nanti?" tuturnya pelan "Dok, tolong saya dibikin mens lagi. Dikeluarkan saja dok" Pintanya dengan wajah memelas. Saya hanya bisa menarik napas panjang kemudian berujar "Saya minta maaf bu, tapi saya tidak bisa penuhi permintaan ibu. Saya sudah disumpah saat menyandang gelar sebagai dokter bahwa saya akan menjaga hidup seseorang mulai dari masa pembuahan. Selain itu bukankah anak adalah amanah yang Allah titipkan bagi siapa saja yang menurutNya sanggup untuk memikul amanah tersebut? " "Aduh dok kalau amanah yang lain saya mungkin masih bisa pikul, tapi amanah yang ini saya tidak sanggup dok, saya sudah capek hamil, belum lagi harus mengurus anak bayi. saya mohon bantu saya dok kali ini saja. Saya tidak siap hamil lagi" tangisnya mulai pecah. Duh, saya kasihan melihat ibu ini. Saya memang belum pernah merasakan sulitnya mengandung, sakitnya melahirkan ataupun repotnya mengurus anak, tapi saya juga tidak ingin melakukan tindakan yang mencederai profesi saya terlebih tanggung jawab saya di hadapan Allah. Satu hal yang terpikirkan saat itu, saya harus mampu meyakinkan ibu ini agar mau mempertahankan kehamilannya. "Bu, di luar sana banyak ibu-ibu lain yang sangat menginginkan untuk bisa hamil, berbagai cara mereka lakukan, tak sedikit uang mereka keluarkan tapi toh Allah tidak juga mengaruniakan mereka anak. Sedangkan ibu, dititipkan janin di rahim ibu dengan begitu mudahnya tapi ibu malah ingin mengeluarkannya. Sekiranya boleh, mungkin ibu-ibu yang kurang beruntung itu akan meminta agar janin yg ada di rahim ibu saat ini dipindahkan saja ke kandungan mereka. Apa ibu tidak takut sama Allah? Apa ibu tidak takut jika kelak di akhirat janin ini mempertanyakan atas alasan apa dia harus dibunuh?" Saya mencoba menjelaskan keinginan saya tanpa bermaksud memaksa. Semuanya kembali ke ibu ini karena dialah yang akan menjalani. "Tapi dok, saya dan suami tidak punya pekerjaan tetap. Dari mana kami akan memberikan makanan dan kebutuhan lainnya bagi anak ini nantinya" kilahnya lagi. "Setiap anak dilahirkan dengan rezekinya masing-masing. Asalkan ibu yakin akan hal itu. Siapa tahu anak ini nantinya yang akan menjadi jalan dimudahkannya rezeki bagi kedua orang tuanya. Boleh jadi anak ini kelak akan menjadi kebanggaan bagi kedua orang tuanya" saya tersenyum meyakinkan "Jadi dokter tidak mau bantu saya?" Tanyanya masih dengan wajah memelas. "Saya bisa bantu bu, saya akan bantu ibu untuk menjaga dan memastikan kalau janin yang ada di dalam kandungan ibu ini baik-baik saja. Saya akan resepkan vitamin untuk ibu. Saya harap kelak kita akan bertemu saat saya memeriksa ibu di ruang kebidanan setelah melahirkan. Satu hal lagi, jangan pernah lakukan tindakan-tindakan yang bisa mengancam nyawa ibu juga janin. Jika itu terjadi dan ibu sampe harus dirawat di rumah sakit, mudah-mudahan tidak ketemu saya karena pasti saya akan laporkan ibu ke polisi" saya menutup konsultasi sore itu dengan sedikit ancaman yang kemudian saya sesalkan kenapa saya harus mengeluarkan kata-kata seperti itu.

Dan hari ini, sepuluh bulan kemudian ibu itu benar-benar hadir di depan saya setelah operasi melahirkan anaknya yang sempat ingin digugurkannya. Saya berlari keluar dari ruangan periksa berusaha mengejar pasien saya ini berharap saya masih menjumpainya. Ingin rasanya saya memeluknya dan menyampaikan selamat atas keberanian serta kekuatan hatinya untuk tetap mempertahankan kehamilannya. Wajah itu... tatapan itu pernah mampir diingatan saya dengan sekelumit kesedihan dan kecemasan. Tapi tidak dengan apa yang saya lihat tadi.... wajah yang lebih bersinar, wajah kebahagiaan juga keikhlasan yang terpancar dari senyuman saat ia meminta saya untuk didoakan agar  selalu diberikan kesehatan. "Lukanya sudah kering dok, sudah 20 hari yang lalu. Tapi nyerinya masih tertinggal. Doakan supaya semuanya baik-baik saja yah dok" Ah, kenapa saya semudah itu melupakan wajah seseorang padahal bisa jadi ibu ini berharap saya bersikap lebih dari sekedar memberikan terapi dan nasihat seputar keadaan luka pasca operasinya. Maafkan saya bu, tapi saya tetap berharap bisa dipertemukan dengannya suatu hari nanti dalam kondisi yang lebih baik, Di acara pernikahan saya misalnya.... Upss, lupakan yang terakhir ini.....
Selengkapnya...