rin_iffah


Banyak yang mempertanyakan foto profil yang terpampang di salah satu sosial network saya. “Tu foto udah boleh diganti, sejak pertama kali nge-fb sampe skarang fotonya itu mulu, bosen ah !” tulis salah seorang teman “Kok fotonya cuman kursi kosong, gelap pula latarnya. Mana wajahnya?”. Belum lagi gambar seekor ulat yang numpang berpose di atas daun menambah deretan komentar bernada protes. “Fotonya menggambarkan sifatmu yang tertutup dan suka menyendiri, bisanya cerewet di blog doank” keluh yang lain. Sepintas jika diamati memang seperti itu adanya. Memajang foto diri?? sudah jelas tidak mungkin. Karena saya seorang muslimah yang tidak ingin memamerkan kecantikan (-sebenarnya sih ngaku-ngaku cantik- meskipun semua wanita memang cantik karena tidak mungkin ganteng) kepada begitu banyak orang yang berada di deretan frenlist. Pernah terlintas untuk mengganti dengan foto flowers atau yang full color, but it’s not me. Saya bukan penggemar bunga, dan tidak suka sesuatu yang “terlalu feminim” apalagi yang cerah ceria. Tapi ada juga teman-teman yang justru berpandangan sebaliknya. Walaupun hasil tes MMPI (tes psikologi buat menilai kondisi psikis seseorang) pas masih internship dulu, pun ketika seorang teman psikolog mencoba menilai kepribadian saya lewat tulisan tangan dan gambar yang saya buat pas lagi dalam masa diklat prajabatan memberikan kesimpulan yang sama, saya dikategorikan dalam makhluk ‘introvert’

Anyway, tulisan ini tidak ada hubungannya dengan siapa saya, tapi lebih kepada tipikal kita selaku manusia. Karakter khas atau kepribadian yang melekat kepada diri kita sering menjadi penilaian orang lain apakah seseorang bisa dikatakan orang ‘baik’ atau ‘tidak baik’ meskipun standar itu tetap relatif dan subyektif. 

Banyak versi serta teori-teori tentang kepribadian seseorang yang dipelajari oleh para pakar kepribadian. Mulai dari teori psikoanalisa hingga yang menyinggung sisi humanistik. Pernah dengar kepribadian ekstrovert dan introvert? Yup, dua jenis kepribadian ini pertama kali digagas oleh seorang pakar psikologi yakni Carl Gustav Jung. Menurut Jung, sikap ini biasanya sudah ditemukan semenjak kecil. Bisa saja dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan atau keyakinannya. Lanjutnya lagi, seseorang dengan kepribadian ekstrovert cenderung tertarik dengan dunia luar. Jiwa sosial mereka cukup tinggi dan lebih banyak berbuat daripada berpikir. Mereka lebih suka tantangan serta berani menempuh resiko besar sekalipun. Orang-orang ekstrovert suka diperhatikan dan bakalan melakukan berbagai cara agar mereka bisa mendapat perhatian dari orang lain. Yang lebih ekstrim, pada keadaan yang berlebihan, mereka akan mudah terserang histeria. Cara ini biasa dilakukan untu mencari perhatian biasanya juga dengan banyak bercerita yang terkadang mengaburkan sisi kebenaran dari cerita tersebut.

Kepribadian introvert justru sebaliknya. Mereka lebih memilih menarik diri dari lingkungan sosial. Kita mungkin akan temukan manusia jenis ini lebih banyak diam dibanding berbicara yang tidak penting. Itu karena mereka biasanya memikirkan apa yang harus dikatakan. Apakah pantas atau tidak, perlu atau tidak. Orang introvert juga suka memendam masalahnya sendiri, jarang ia mau berbagi masalah atau menceritakan kehidupan pribadinya kepada orang lain. Ia akan terbuka kecuali kepada orang-orang yang benar-benar dipercaya karena perasaan rendah dirinya, namun begitu ada orang yang dekat dengannya ia akan tetap setia sampai kapanpun. Self blaming-nya juga cukup tinggi sehingga gampang mengalami gangguan cemas, emosi dan depresi.

Islam sendiri memandang manusia tidak secara deterministik. Akan tetapi Islam memberikan kemuliaan kepada manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Manusia juga memiliki bentuk yang terbaik dari seluruh makhlukNya dan mempunyai kekuatan untuk merubah sendiri kondisi dirinya. Olehnya jenis kepribadian apapun dengan segala sisi negatif dan positifnya akan tampak baik ketika tercelup dalam satu warna yang sama yakni celupan warna Ilahi. “Celupan (warna) Allah, dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya daripada Allah? Dan hanya kepadaNyalah kami menyembah.” (Al Baqarah 138)

Islam tidak menghapus karakter yang tersifati ke atas pribadi pemeluknya yang tak bertentangan dengan akidah, tetapi Islam justru membingkainya menjadi karakter mulia yang menyejarah. Sebut saja para sahabat yang mewarnai perjalanan dakwah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar merupakan dua sosok yang begitu kontras. Abu Bakar adalah sahabat yang berbadan kurus, saking kurusnya sampai sarungnya selalu mengulur ke bawah sehingga beliau dikecualikan oleh Rasulullah dalam hadis tentang larangan isbal. Sedangkan Umar, beliau pernah membuat empat makmum jatuh terjengkang karena bersinnya saat memeriksa shaf shalat. Ada Usman bin Affan yang mewakili karakter pemalu, pemurah, dan penuh kelembutan. Malunya tak hanya pada manusia tapi juga kepada Allah. Ada juga sosok low profile seperti salah seorang sahabat di antara sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga yakni Sa’id ibn Zaid yang namanya jarang terekam sirah selain dalam kisah keislaman Umar dan kisah sengketa tanahnya dengan seorang wanita tua. Atau pernahkah kita mendengar nama Tsabit ibn Qais? Sang orator besar ini pernah mengurung dirinya berhari-hari dalam rumahnya ketika turun surah Al Hujurat ayat 2 yang berisi larangan meninggikan dan mengeraskan suara kepada Nabi. Ia mengira ayat itu ditujukan kepadanya karena pembawaannya yang sering bersuara tinggi dan keras melengking. Juga Khalid, pedang Allah yang senantiasa terhunus yang tiga belas kali ganti pedang di perang Mu’tah. Ada Hudzaifah sang pemegang rahasia Rasulullah. Intelijen yang lisannya tak bisa dipaksa berbicara meski oleh Umar sahabatnya. Ataukah sebagian saudari-saudari saya yang karakteristik mereka tergambar di postingan saya sebelumnya "Ketidaksempurnaanmu adalah penggerak keshalihanku"

Maka sekali lagi, Islam hadir bukan untuk merubah karakter yang tersifati ke atas masing-masing pribadi. Kehadirannya untuk menenggelamkan pemeluknya ke dalam celupan warna Ilahi. Celupan yang membuat warna-warni itu seindah pelangi.
Selengkapnya...

rin_iffah

Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga. 

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaknya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulang kali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu. 

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itupun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama. Maka ditulisnyalah surat itu memohon bertemu. Dan ia mendapat jawaban “Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya. “Maha suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, “Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.” Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. “Andai saja kau lihat aku”, katanya, “Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.” “Betapa inginnya aku”, kata si gadis, “Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.” Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. “Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. Dan penyesalan yang tak berkesudahan. Si gadis ikut tertunduk. “Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, “Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.” “Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. “Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertakwa.”

Kita cukupkan sampai di sini kisahnya. Mari kita dengar komentar Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan tentangnya. “Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. “Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketakwaan kepada Allah.” “Tapi”, kata beliau memberi catatan. “Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampur adukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syariat Allah.”

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu? “Kesalahan itu”, kata Syaikh Abdullah Nashih Ulwan memungkasi, “Telah terjadi sejak awal.” Apa itu? “Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.” Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi ini adalah da’wah dusta!

Maka berhati-hatilah terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.

Sumber : Buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A Fillah
Selengkapnya...