rin_iffah

Berikut beberapa tips menu sehat ala Rasulullah selama berpuasa. yuk amalkan, selain sehat juga berpahala karena menghidupkan sunnah.....

  • Berniatlah puasa (Wajib untuk puasa di bulan Ramadahan agar berniat sebelum masuk waktu subuh). Niat puasa akan memprogram hormon-hormon dan sel-sel tubuh kita untuk membantu proses puasa dan detoksifikasi (pembuangan racun dari tubuh), meski kita lalai makan sahur atau hanya sempat sahur dengan air putih.
  • Sahurlah dengan makanan berindeks glisemik rendah dan makanan lainnya yang kaya vitamin-mineral untuk menjaga vitalitas tubuh. Makanan yang mengandung indeks glisemik rendah mampu bertahan lebih lama dalam saluran pencernaan sehingga perasaan subjektif lapar makin berkurang. Selain itu, makanan yang indeks glisemiknya rendah melepas gula ke dalam peredaran darah secara bertahap. Berbeda dengan makanan berindeks glisemik tinggi, begitu masuk ke dalam saluran pencernaan langsung diserap namun kurang memberi pasokan energi untuk bertahan sehari. Contoh makanan berindeks glisemik rendah adalah singkong, ketela, kentang, nasi, nasi jagung, umbi-umbian, beras merah, bulgur dan oats. Sedangkan makanan berindeks glisemik tinggi antara lain roti, bubur dan mie instan.
  • Bersahurlah lebih akhir, saat mendekat waktu fajar, sehinga cadangan energi dari sahur cukup sampai berbuka. Selain itu mengakhirkan makan sahur merupakan bagian dari sunnah Rasulullah. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallaahu anhu dari Zaid bin Tsabit Radhiallaahu anhu bahwasanya dia pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam. Setelah keduanya selesai makan sahur, nabi shallallaahu alaihi wasallam berangkat menunaikan shalat. (HR Bukhari dan Muslim)
  • Perbanyak minum air putih saat sahur maupun buka.
  • Agar kian menyehatkan diri serta lebih maksimal memperoleh manfaat puasa, jangan lupa menu sehat Rasulullah saat sahur maupun buka seperti kurma, madu dan susu.
  • Jangan langsung berbuka dengan makanan berat (nasi), karena memerlukan waktu pencernaan yang lama dan membebani pencernaan. Jika mendahulukan makanan seperti ini justru sel-sel kian lapar meski diri merasa kenyang. Secara tidak langsung justru menyiksa tubuh. Berbukalah dengan makanan yang ringan dan manis seperti kurma (ini yang terbaik), buah maupun kue. Setelah shalat barulah menyantap makanan berat. Insya Allah manfaatnya lebih maksimal.
  • Hindari pula berbuka dengan minum es apalagi soft drink. Minuman yang satu ini dapat menahan lapar (memberi sugesti kenyang) sehingga asupan nutrisi kurang maksimal ketika tiba waktu makan.
Sumber : Hidup Sehat ala Rasulullah, Egha Zainur Ramadhani, Pro U Media

Selengkapnya...

rin_iffah

"Telah datang kepadamu bulan Ramadlan, bulan yang diberkahi. Allah SWT telah mewajibkan puasa kepadamu didalamnya; pada bulan ini dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta para setan dibelenggu, dan pada bulan ini terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak dapat memperoleh kebaikannya maka ia tidak memperoleh apa-apa" (HR. Imam Ahmad dan Nasa'i).


Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana diwajibkan bagi setiap ummat Islam untuk berpuasa. Puasa merupakan salah satu ibadah di antara ibadah-ibadah lain yang bisa dijalankan di bulan Ramadhan. Selain itu banyak keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan di banding bulan-bulan lainnya, dan termasuk keistimewaan bagi orang yang berpuasa di dalamnya. Di antaranya yaitu :

  • Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi.
  • Para malaikat memohonkan ampunan bagi orang yang berpuasa hingga berbuka.
  • Setiap hari bulan Ramadhan Allah menghiasi Surga-Nya seraya berkata: “Hampir tiba saatnya para hamba-hambaku yang shalih melepaskan segala beban dan gangguan serta segera menuju engkau (Surga)!”
  • Setan dibelenggu.
  • Dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka.
  • Di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
  • Akan diberi pengampunan bagi orang yang berpuasa pada malam terakhir bulan Ramadhan.
  • Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari Neraka pada setiap malam bulan Ramadhan.

Salah satu hikmah dari puasa yang bisa dirasakan langsung bagi yang menjalankannya yaitu sehubungan dengan kesehatan. Karena secara umum, puasa merupakan saat yang tepat untuk mengistirahatkan diri. Berikut sekilas bukti tentang keutamaan puasa ditinjau dari segi kesehatan :

Saat puasa, kita tidak makan dan minum selama kurang lebih 14 jam. Saat ini merupakan saat yang tepat buat mengistirahatkan organ pencernaan. Lalu apa hubungannya dengan kesehatan???. Menurut ahli terapi nutrisi, Andang Gunawan A.D.N., N.D, tubuh kita memiliki irama aktivitas biologis selama 24 jam. Aktivitas ini berlangsung secara sistematis tanpa henti. Siklus ini terbagi dalam tiga fase :

Pukul 04.00-12.00 : Pembuangan (pembuangan sampah makanan)

Pukul 12.00-20.00 : Pencernaan (pemrosesan zat-zat makanan)

Pukul 20.00-04.00 : Penyerapan (pengambilan sari-sari makanan)

Fakta menunjukkan bahwa lama makanan tinggal di usus dalam proses pencernaan adalah 14 jam. Selama setahun, organ yang satu ini bekerja terus menerus oleh karena jeda waktu ketika kita makan tidak selama itu. Jika dimisalkan sarapan pukul 06.00, kemudian makan siang pukul 13.00, jeda keduanya hanya 7 jam, masih separuh dari waktu transit makanan. Jadi, saat makanan pagi belum sempat terbuang, sudah masuk makan siang. Begitu seterusnya sepanjang hari, sepanjang tahun. Sehingga organ pencernaan kita jarang beristirahat dan juga siklus di atas akan berantakan sehingga kita akan mudah menderita penyakit.

Ternyata, istirahat ini tidak saja dibutuhkan oleh organ pencernaan, tetapi juga oleh organ lain termasuk otak . proses perbaikan tubuh dan otak termasuk molekul memori terjadi saat tubuh beristirahat, terutama saat tahap ’deep sleep’. Deep sleep atau yang kita kenal sebagai tidur nyenyak ini menurut penelitian dr. Ebrahim Kazim dengan menggunakan EEG (perekam gelombang otak) didapatkan bahwa pada saat puasa keadaan ’deep sleep’ ini lebih mudah tercapai yang berefek pada perbaikan tubuh dan otak, termasuk molekul memori lebih maksimal.

Efek lainnya selama berpuasa, kadar magnesium (salah satu mineral penting bagi tubuh) meningkat. Magnesium ini memiliki efek cardio-protective sehingga puasa akan membuat jantung kita lebih ’awet’.

Puasa juga terkenal tidak hanya di kalangan muslim, tetapi juga di kalangan non-muslim. Puasa dijadikan sebagai program penurunan berat badan. Hal ini sesuai dengan penjelasan dr. Madarina Julia, Sp.A, MPH bahwa saat puasa terjadi penurunan kadar gula darah dan pelepasan Growth hormon. Saat terjadi pelepasan growth hormon ini lemak viseral yang kebanyakan tertimbun di perut akan terbakar sehingga perut menjadi langsing.

Seseorang yang terbiasa berpuasa, akan memudahkannya untuk beradaptasi dengan perbedaan waktu. Dimana dia akan terhindar dari kondisi yang dikenal dengan istilah jet lag, suatu sindrom berupa rasa tidak nyaman pada pencernaan, pikiran, kelelahan, disertai gangguan tidur akibat bepergian melintasi zona waktu yang berbeda. Hal ini karena pada saat puasa adaptasi hormon menjadi cepat sehingga irama sirkadia telah terbiasa untuk beradaptasi dengan waktu adaptasi minimal. Normalnya, seseorang yang bepergian dengan perbedaan waktu satu jam maka dia memerlukan waktu satu hari untuk menyesuaikan diri dan menghilangkan jet lag. Sedang, bagi yang terbiasa puasa bisa beradaptasi jauh lebih cepat.

Itulah di antara keutamaan berpuasa, salah satunya puasa dari tinjauan kesehatan. Dan jelang ramadhan, semoga kita telah mempersiapkan bekal untuk bertarung meraih gelar takwa di bulan penuh berkah ini.

Abu Said Al-Khudri radhiallaahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : ” Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari saja karena Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sumber :
  1. Meneladani Shaum Rasulullah, Syaikh Salim bin ’Ied al-Hilali, Syaikh ’Ali Hasan ’Ali Abdul Hamid
  2. Hidup Sehat Ala Rasulullah, Egha Zainur Ramadhani, Pro U Media
Selengkapnya...

rin_iffah


Sebuah sms masuk ke inbox ku : “dok bisa minta obat flu yang ‘maut’ ?” aku hanya tersenyum, beberapa saat kemudian membalas sms tersebut : “obat flu yg paling maut; banyak minum air putih n istirahat yang cukup” dugaanku tidak meleset, selang beberapa detik sms balasan masuk : “sudah dok, tapi masih belum sembuh nih” tanpa berpikir lama aku membalas sms nya: “tunggu sampe seminggu, kalo belum sembuh baru ta kasih obat”.


Beberapa bulan sebelumnya, di tempat praktek : “masak anak saya cuma dikasih obat penurun panas dok, kalo bisa resepkan antibiotik yang paling bagus. Biasanya kalo berobat ke dokter _____________ dikasih antibiotik plus 3 macam obat lain, dan begitu diminum besoknya langsung sembuh” protes seorang ibu ketika mengetahui anaknya yang semalaman panas tinggi hanya ku resepkan satu macam obat yang itupun kalau mau bisa dibeli bebas di apotek.

Di sebuah tempat praktek, sebut saja dr. G, ketika menggantikan praktek salah seorang dokter senior yang tiap malam rata-rata kunjungan pasiennya di atas 30 orang dengan jam praktek berkisar 3-4 jam mengeluhkan rewelnya pasien yang ia periksa disaat ia tidak memberikan obat, ataupun obat tertentu yang dirasa tidak perlu diberikan, bahkan ketika obat tersebut adalah obat generik yang relatif murah ia justru diprotes sama pasien “maaf dok, biasanya saya dikasih obat harganya di atas seratus ribu, saya jadi ragu apakah saya bisa sembuh dengan dua macam obat generik ini”. Nih pasien entah semakin cerdas atau justru semakin tersesat... keluh dokter G dalam hati. Ingin sekali ia menjelaskan panjang lebar kepada pasien alasan ia memberikan obat murah meriah tersebut, tetapi begitu ia melihat arlojinya sudah menunjukkan pukul 9 malam sedang di luar pasien masih berjubel terpaksa diurungkan niatnya, mengalah.... dan kemudian menulis kembali resep sejumlah obat ‘bermerk’. Pasien pun keluar dengan senyum lebar dan perasaan puas.

Kejadian-kejadian seperti di atas bukanlah hal baru yang dialami oleh dokter ketika berhadapan dengan pasien. Ada hal menarik yang patut dicermati terkait hubungan dokter-pasien ini. Asumsi hampir sebagian besar masyarakat khususnya di Indonesia, begitu sakit segera ke dokter dan wajib hukumnya pulang dengan sekantong obat-obatan. Semakin mahal suatu obat maka semakin manjur pula obat tersebut. Itulah mengapa ketika kutegaskan kepada para mahasiswa untuk tidak ke dokter dan tidak perlu mengkonsumsi obat-obatan jika panas atau batuk baru 3 hari, mereka hanya melongo bingung setengah terheran bahkan sempat ada mahasiswa yang bertanya “kok bisa-bisanya dokter tidak menganjurkan pasien minum obat??”

Saat ini telah merebak pemahaman yang keliru pada kebanyakan masyarakat kita tentang konsep sehat-sakit serta perlunya berobat ke dokter. Hal ini biasa muncul karena kondisi panik serta tidak tega ketika melihat anak sakit, atau tidak sabar dengan sedikit penderitaan yang dialami saat terserang penyakit atau juga kuatnya keyakinan bahwa semua penyakit membutuhkan obat. Oleh karenanya menurut WHO ‘faktor pasien’ juga menjadi salah satu penyebab terjadinya Irrational Use of Medicine (IRUM). Menurut WHO, lebih dari 50% obat yang beredar di dunia (baik melalui peresepan maupun yang dijual bebas) telah digunakan dengan tidak semestinya. Nah, ketika kesalahan berpikir pasien dengan ‘memaksa’ dokter untuk meresepkan obat yang tidak perlu, justru kita akan semakin menambah presentase di atas.

Pertanyaannya apakah wajib hukumnya ketika ke dokter harus mendapatkan obat? Dalam bukunya Smart Patient, dokter Agnes menyebutkan bahwa ada dua alasan utama mengapa paradigma ‘ke dokter= dapat obat’ dikatakan tidak tepat.

Alasan pertama, obat sejatinya seperti pisau bermata dua. Bila digunakan dengan tepat dan baik, obat tersebut bisa menjadi kawan. Tapi bila tidak, ia bisa menjadi lawan atau racun dalam tubuh kita. Misalnya saja ketika kita membeli obat anti-nyeri yang bebas di jual di apotek, di kemasan obat tersebut telah tertera efek samping, jika diminum terlalu sering bisa menyebabkan perdarahan lambung dan gangguan liver. Artinya, setiap obat, sesederhana apapun ia; memiliki efek samping yang bisa berbahaya bagi tubuh kita. Namun tidak serta merta berarti kita tidak perlu minum obat ketika sakit. Ada penyakit tertentu seperti TBC yang justru tertolong penyebarannya yang sangat menular dengan mengkonsumsi antibiotik, obat-obat anestesi sangat dibutuhkan untuk menghilangkan nyeri pada saat operasi, ataukah penyakit kronis tertentu yang membutuhkan terapi obat-obatan.

Alasan kedua mengapa paradigma ‘ke dokter = dapat obat’ tidak tepat. Mungkin kita sudah sering mendengar bahwa tidak semua penyakit membutuhkan obat. Tidak ada istilah ‘a pill for every ill’ (sebutir pil untuk setiap penyakit). Kenapa? Karena dari beragam jenis penyakit, ada penyakit yang memang bisa sembuh sendiri melalui sistem pertahanan tubuh kita tanpa perlu obat. Penyakit yang disebabkan oleh virus salah satunya. Penyakit pada otot dan sendi, kegemukan, stres serta beberapa penyakit lain juga tidak memerlukan obat-obatan. Dokter biasanya hanya menyarankan untuk olahraga, membiasakan pola hidup dan makan sehat. Pemberian obat-obatan semestinya mempertimbangkan untung dan rugi. Jadi kalau memang tidak perlu dan hanya menimbulkan efek samping, buat apa minum obat???

Selain faktor pasien yang menyebabkan timbulnya penggunaan obat yang irasional, sistem praktik kedokteran di negara kita juga menjadi faktor lain. Dokter Nadesul dalam artikelnya pernah menulis bahwa di dunia ini tidak ada dokter yang dalam seharinya memeriksa ratusan pasien seperti di Indonesia. “meski dengan undang-undang kedokteran baru, jumlah klinik tempat praktik sudah mulai dibatasi, tapi kalau jumlah pasien yang diperbolehkan diperiksa masih melebihi kemampuan fisik, mental, maupun rasa sosial sang dokter, tetap saja bakal berdampak buruk pada pasien,” tulis dokter Nadesul.

Mari kita bandingkan praktik kedokteran kita dengan negara luar. Tak perlu jauh-jauh, di Singapura seorang dokter praktik dibatasi jumlah pasien nya dengan jam konsultasi rata-rata 30 menit sampai 1 jam dan hebatnya para dokter ini digaji oleh pemerintah dengan sangat layak. Dokter tidak terburu-buru melakukan pemeriksaan sehingga kemungkinan pemberian obat yang tidak rasional jauh lebih rendah, pasien pun merasa dihargai, serta puas berkonsultasi tentang penyakit yang diderita.

Di negeri tercinta ini, saking membludaknya pasien di tempat praktik, seorang dokter bahkan sudah tidak sempat memeriksa pasien dengan teliti, diagnosa penyakit yang sering tidak sempat disampaikan ke pasien, bahkan sampai penggunaan obat yang irasional sangat rentan terjadi. Masih dalam tulisan yang sama dokter Nadesul juga menyebutkan kemungkinan dokter yang melakukan tindakan seperti itu. “Di semua negara, jumlah pasien yang boleh diperiksa dalam sehari dibatasi oleh undang-undang. Itu dimungkinkan karena sistem kesehatan di negara maju dokter digaji penuh oleh pemerintah untuk bisa hidup memadai hanya dengan berpraktik di satu institusi. Dokter kita harus cari tambahan sendiri dan praktik sore hari, sebab gajinya tak memadai untuk standar profesinya. Dokter kita rela menjadi kutu loncat dari klinik ke klinik lain agar banyak meraih sabetan tambahan.”

Rasa khawatir kehilangan pasien juga menjadi faktor lain seorang dokter rela mengkombinasikan berbagai jenis obat yang tidak perlu. Akhirnya dokter meresepkan sejumlah obat yang dikenal dengan ‘obat dewa’. Beberapa jenis antibiotik, ditambah antihistamin, kortikosteroid dan vitamin menjadi senjata terampuh dari dokter yang seperti ini. Yang justru hanya akan semakin melemahkan sistem pertahanan tubuh seseorang.

Sudah saatnya kita merubah paradigma yang salah selama ini tentang dokter, pasien dan obat. Seharusnya, ketika ke dokter yang perlu kita ketahui adalah sebetulnya kita sakit apa serta cara penanganan terbaik seperti apa. Tidak mengapa kita menjadi pasien yang ‘cerewet’ karena sudah menjadi hak seorang pasien untuk bertanya sejelas mungkin tentang penyakitnya dan menjadi kewajiban seorang dokter untuk menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya. Maka ketika ke Dokter tak selamanya harus pulang membawa setumpuk obat. Dan tak perlu kecewa jika kita tidak diberikan obat saat ke dokter. Bukankah ketika kita bisa berdiskusi dengan dokter dan membawa pulang ilmu, sesungguhnya hal itupun sangat berharga???

Mari menjadi pasien cerdas. Pasien cerdas adalah pasien yang proaktif, mengetahui hak dan kewajibannya, berani bicara, bertanya, berkomunikasi efektif, mau belajar, memahami bahwa dokter bukanlah dewa yang tahu segalanya dan harus memberikan obat, mau membangun kemitraan secara aktif dengan dokter, berperan aktif dalam urusan kesehatan, berhati-hati serta teliti sebelum membeli dan meminum obat-obatan, serta bersedia menerima keputusan dan konsekuensi yang telah diputuskan.

Pasien cerdas justru sangat dibutuhkan oleh seorang dokter. Karena pasien yang cerdas dapat membuat para dokter bekerja dengan lebih baik dan profesional. Pasien cerdas dapat menjadi pengingat dan pengontrol kerja dokter, sehingga terjalin kerja sama dengan pasien untuk memutuskan terapi terbaik serta mengurangi kesalahan yang tak perlu. Bagaimanapun, dokter juga manusia yang tak luput dari salah dan lupa. Wallaahul musta’an.
Selengkapnya...

rin_iffah












Tubuh manusia terdiri atas sekitar seratus ribu miliar sel (100.000.000.000.000). bagaikan batu bata pada rumah, sel adalah bahan bangunan yang membentuk tubuh. Sebagian besar sel, seperti sel kulit atau sel otot masing-masing mengandung 46 kromosom. Kromosom adalah unsur utama dalam penentuan jenis kelamin. Dua dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia diketahui sebagai kromosom kelamin. Dua kromosom ini disebut "XY" pada pria, dan "XX" pada wanita. Penamaan ini didasarkan pada bentuk kromosom tersebut yang menyerupai bentuk huruf-huruf ini. Kromosom Y membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kewanitaan.

Pembentukan seorang manusia baru berawal dari penggabungan silang salah satu dari kromosom ini, yang pada pria dan wanita ada dalam keadaan berpasangan. Pada wanita, kedua bagian sel kelamin, yang membelah menjadi dua selama peristiwa ovulasi, membawa kromosom X. Sebaliknya, sel kelamin seorang pria menghasilkan dua sel sperma yang berbeda, satu berisi kromosom X, dan yang lainnya berisi kromosom Y. Jika satu sel telur berkromosom X dari wanita ini bergabung dengan sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin pria. Begitupula jika sperma membawa kromosom X maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin perempuan.

Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita. Tak satu pun informasi ini dapat diketahui hingga ditemukannya ilmu genetika pada abad ke-20. Bahkan di banyak masyarakat, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh pihak wanita. Inilah mengapa kaum wanita dipersalahkan ketika mereka melahirkan bayi perempuan.

Namun, tiga belas abad sebelum penemuan gen manusia, Al Qur'an telah mengungkapkan informasi yang menghapuskan keyakinan takhayul ini, dan menyatakan bahwa wanita bukanlah penentu jenis kelamin bayi, akan tetapi air mani dari pria.

"Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan." (Al Qur'an 53 : 45-46)

Kromosom Y membawa sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X berisi sifat-sifat kewanitaan. Di dalam sel telur ibu hanya dijumpai kromosom X, yang menentukan sifat-sifat kewanitaan. Di dalam air mani ayah, terdapat sperma-sperma yang berisi kromosom X atau kromosom Y saja. Jadi, jenis kelamin bayi bergantung pada jenis kromosom kelamin pada sperma yang membuahi sel telur, apakah X atau Y. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, penentu jenis kelamin bayi adalah air mani, yang berasal dari ayah. Pengetahuan tentang hal ini, yang tak mungkin dapat diketahui di masa Al Qur'an diturunkan, adalah bukti akan kenyataan bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah.

Sumber :
Keajaiban al-qur’an, Harun Yahya
book ‘Why Is yawning Contagious’; Francesca Gould
Selengkapnya...

rin_iffah

“Kalo bukan anestesi, insyaAllah aku mau ngambil spesialis jantung pas ada kesempatan lanjut belajar....” ujarku kepada beberapa teman sejawat yang saat itu nimbrung dalam obrolan ringan tentang keinginan melanjutkan pendidikan spesialis. “ hmmp... dek, saat ini kamu mungkin masih berpikir idealis dengan beberapa mimpi yang ingin kamu capai. Usia mu juga masih muda.... tapi ada satu hal yang harus kamu sadari bahwa kita yang ada di sini adalah seorang perempuan yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Artinya bahwa kelak ada tanggung jawab lain yang harus kita penuhi selain tanggung jawab profesi... bukankah nanti kita akan mempunyai suami serta anak-anak yang manis dan lucu?!!...” timpal dokter yuli tanpa menoleh ke arahku. Sejak tadi ia serius membuat kreasi sulaman bunga-bunga kecil di atas sebuah jilbab mungil berwarna kuning gading. Aku hanya terdiam, sesekali mengiringi ucapannya dengan senyuman yang agak kupaksakan, dalam hati aku berujar “skak mat”.

“Makanya kenapa aku ga mau ngambil bagian besar. Aku udah pernah ngerasain, gimana anakku manggil baby sitternya dengan sebutan ‘mama’. Sedang aku dipanggil ‘tante’. Sakit banget...” dokter berambut pendek dengan kaca mata minus yang berada di samping ku mencoba menguatkan apa yang disampaikan dokter yuli barusan. “tuh kan, lagian apa sih yang sebenarnya kita cari sebagai seorang dokter?? Menjalani hidup sederhana di tengah keluarga yang harmonis, melalui hari-hari dengan melihat anak-anak tumbuh di tengah kasih sayang kedua orang tuanya adalah hal yang sangat membanggakan. Meskipun hanya dengan aktivitas pagi di rumah sakit kemudian siangnya sudah kembali ke rumah, berkumpul bersama keluarga kecil, membersihkan serta sesekali mengatur ulang perabotan di rumah sendiri menjadi hal yang tampaknya sangat menyenangkan. Kalo saya dikasih kesempatan buat lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, saya justru lebih memilih sekolah hanya sekedar untuk gelar perbaikan status yang belajarnya hanya sekali sebulan, bukan untuk mencari uang karena itu bukan tanggung jawab saya, dan memang karena saya bukan kepala keluarga...” kali ini dokter yuli begitu antusias menyampaikan pendapatnya. “tapi kan, ga semua orang ngambil spesialis karena tujuan prestise semata, ada sebagian orang yang justru mendapatkan kepuasan batin ketika dihadapkan dengan begitu banyak kesulitan dalam menyelesaikan sebuah kasus rumit, atau misalnya ketika ia mampu menyembuhkan pasien karena ilmunya yang mumpuni... atau karena memang senang memiliki liku hidup yang penuh warna” sela ku tak kalah bersemangat, tak ingin mimpiku di anggap tak ada artinya oleh mereka. “iya dek, wajar-wajar aja kamu punya mimpi seperti itu, dan semua terserah pada pilihanmu, karena tiap orang punya hak untuk memilih dan siap menerima konsekuensi dari tiap pilihan yang dibuatnya. Tapi coba bayangkan, disaat kamu lagi istirahat bersama suami tercinta tiba-tiba ada panggilan dari rumah sakit karena mendadak ada operasi. Gimana perasaan suami mu saat itu, dan gimana seharusnya kamu memposisikan diri sebagai seorang dokter anestesi tapi di sisi lain sebagai seorang isteri dari suami mu yang saat itu berbaring tepat di sampingmu...., katanya siih, agak susah lho seorang isteri melepaskan pelukan suaminya.... menurut dokter yang udah nikah nih, gimana???” kali ini dokter yuli mencoba mencari pembenaran dari seorang dokter yang jauh lebih senior sambil sesekali melempar senyum ke arahku yang jelas kelihatan salah tingkah.

“satu hal yang membuat kita menjadi dokter yang berbeda adalah karena kita seorang perempuan. Sulit dipungkiri, ketika sudah berkeluarga tiap detil mimpi, cita-cita, harapan tentang perjalanan panjang karir kedokteran kita berubah seiring dengan makin dewasanya kita menghadapi kenyataan hidup berumah tangga. Belum lagi, kita harus mengantongi izin suami untuk tiap keputusan yang akan kita ambi meskipun keputusan sepenuhnya ada di tangan kita...” dokter yang saat ini menjabat sebagai kepala IGD ini bertutur dengan bahasanya yang lembut, mencoba menyentuh sisi terdalam hatiku. Aku hanya bisa tertunduk dalam seolah-olah menjadi pesakit di antara mereka.
“waah, kayaknya rin udah mulai berubah nih, ga mau ngambil anestesi atau jantung lagi ya....” canda dokter yet yang dari tadi menyimak pembicaraan kami. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang entah ditafsirkan sebagai apa????

Subuh ini, ketika membuka inbox, aku mendapat sebuah pesan dari seorang teman (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang lebih banyak)... isi pesannya :
Kutipan dibawah ini adalah catatan Ainun Habibie pada buku Setengah Abad B J Habibie, yg dikutip ulang dari buku Habibie&Ainun :

“ Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir ; buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan kepada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orangtua kehilangan anak, dengan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan hidup pas-pasan."

(Dan ini menjadi bukti bahwa sebagian besar perempuan, berprofesi dokter sekalipun tetap menganggap dirinya punya kelemahan dan kelebihan sekaligus menjadikannya beda dengan laki-laki, bukan untuk dibeda-bedakan apatah lagi disejajarkan dalam semua aspek sebagaimana isu gender yang begitu keras berhembus dan menampar wajah perempuan-perempuan Indonesia yang perlahan mulai kehilangan jati dirinya). Wallaahul musta’an....

@ IGD di sela obrolan ringan sembari membunuh waktu yang mulai merangkak menapaki angka jam 2 siang (20/05/11).... thanks all untuk inspirasi siang-nya.

Selengkapnya...