rin_iffah

Teruntuk mbak P dan mbak2 P lainnya, ini adalah sepenggal kisah kami yang mungkin lebih kalian kenal sebagai manusia-manusia tak berperasaan yang menjadikan nyawa sebagai bahan uji coba. Ah, bukankah selama ini kalian mengenal kami hanya lewat kotak elektronik atau media massa lainnya, yang pendongengnya adalah mereka di luar golongan kami?!! Sebagaimana kata pepatah; tak kenal maka tak sayang, kebencian kalian kepada kami bisa jadi tumbuh dari benih keasingan terhadap diri kami. Maka kemarilah, mendekat.... akan kubagikan sepenggal kisah kami, agar kalian mudah mencintai kami.

Sebagian dari kami ketika memutuskan untuk kuliah di Fakultas Kedokteran adalah karena ingin memenuhi keinginan orang tua. Atau karena dianggap sebagai profesi turun temurun dari orang tua yang berprofesi sama. Masa-masa perkuliahan yang tiap pergantian semester berat terasa coba kami jalani. Ah, betapa tiap hari kami harus berkutat dengan buku-buku berbahasa latin yang masih sulit kami pahami artinya. Semua kami jalani awalnya karena ingin membanggakan orang tua. Seiring silih berganti waktu ketika kami memasuki dunia klinik atau yang lebih dikenal dengan internship dan menyandang gelar awal yang dengannya kami begitu bangga, sarjana kedokteran. Kamipun mulai mencintai profesi kami. Status kami berubah, dari mahasiswa yang dulunya menghabiskan waktu di kampus dengan berbagai aktivitas, menjadi seorang dokter muda yang harus terbiasa menggunakan jas putih dan siap dipanggil dokter. Tapi tahukah anda, saat itu sungguh kebanyakan dari kami ketika mulai melangkahkan kaki di rumah sakit, terbersit rasa khawatir. Langkahpun nyaris terhenti. Khawatir jika tak mampu menjawab pertanyaan pasien atau keluarga pasien tentang penyakitnya, ataupun khawatir tidak mampu melakukan tindakan yang menjadi kompetensi kami. Kekhawatiran seorang manusia biasa yang sadar akan kekurangan dirinya.

Dua tahun internship, kamipun mengalami seleksi alam. Sebagian dari kami terpaksa mundur perlahan tak tahan ditempa berbagai beban berat. Ada juga yang tertatih namun ada yang melaju dengan pesat. Tak ada yang salah, semuanya terpulang pada motivasi diri. Bagaimana tidak, di rumah sakit kami terpaksa harus merubah pola hidup kami. Dulunya kami bisa tidur 8 jam sehari di atas kasur empuk ditemani suasana nyaman kamar be-AC, harus tergantikan dengan jadwal tidur yang tak menentu di tempat dan kondisi apapun. Ah, bahkan terkadang kami tak dapat memicingkan mata sedikitpun karena cemas menanti pasien inpartu* yang menjerit kesakitan, pasien ICU yang harus di follow up per 15 menit, atau bahkan karena kalah bersaing mendapatkan sedikit ruang buat meluruskan raga dengan perawat atau residen jaga. Itupun keesokan harinya kami harus tetap bersemangat memulai hari yang panjang dan melelahkan ditemani setumpuk tugas yang entah kapan terselesaikan. Belum lagi tekanan mental yang kami dapatkan dari dosen, pegawai rumah sakit sampai pasien dan keluarganya.

Apakah semua kepedihan yang kami alami selama 6 tahun bahkan 10 tahun akan berakhir setelah kami berdiri di depan dekan mengikrarkan sumpah Hipocrates yang menjadi simbol status baru kami bukan lagi sebagai dokter muda tapi dokter yang sebenarnya???? Oho,,ooo. Ternyata gelar ini adalah langkah awal kami meniti perjuangan yang panjang dan melelahkan, dengan harapan perjuangan panjang ini bisa berakhir dengan istirahat kami di surgaNya.

Atas nama peningkatan standar seorang dokter. Kami harus mengikuti tes kompetensi demi sebuah STR. Tak pernah kami sesali, tapi muncul pertanyaan kenapa hanya kami??? Bukankah mereka yang dari fakultas lain juga butuh peningkatan standar??? Mereka yang (maaf....) tiap tahun lulusannya kebanyakan menjadi sarjana ‘pengangguran’ (sekali lagi maaf, tapi ada juga beberapa dari kami yang secara tidak sadar juga menjadi dokter pengangguran). Bukankah mereka lebih butuh akan itu dibanding kami??? Entahlah....

Pun ketika kami telah dinyatakan lulus tak semua orang bisa menerima bahwa kami telah dianggap kompeten sebagai seorang dokter. Sebagai bukti, banyak dari sejawat kami yang terpaksa mondar-mandir persidangan karena tertuduh melakukan tindakan malpraktik. Lucunya, mereka yang sering menuduh kami melakukan malpraktik adalah orang-orang yang sedikitpun tak pernah mengetahui tentang ilmu kedokteran, minimal tentang perjalanan sebuah penyakit, komplikasi tindakan bahkan tentang hirarki rumah sakit. Jangan-jangan suatu saat bayi yang diberi imunisasi BCG* kemudian timbul bisul ditempat suntikan menjadi lahan basah para LSM miskin ilmu untuk menuduh kami melakukan malpraktik. Istilah yang ternyata tak pernah tercantumkan dalam kitab perundang-undangan negeri ini. Teringat sindiran provokatif yang memerahkan kuping dan menyayat hati dari mereka yang anti-imunisasi. Program imunisasi dianggap sebagai program memperkaya dokter dan perusahan farmasi... sungguh, tuduhan tanpa bukti ilmiah yang menoreh luka. Kamipun tak dapat menuntut balik. Siapalah kami, manusia-manusia biasa yang kekuatannya hanya hati dan do’a.

Tak ada niat membela sejawat kami. Kami akan tetap mendukung pemerintah jika sebagian kecil dari kami yang telah terpedaya oleh nilai nominal sebuah mata uang terpaksa melakukan tindakan yang bertentangan dengan sumpahnya. Kami punya wadah buat menegur di komite medik, bukan media massa yang lebih sering memojokkan kami. Sering tuntutan yang kami peroleh sungguh diluar batas kemampuan kami, ganti rugi milyaran rupiah. Duuh, darimana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu??? Padahal sebagian dari kami rela menyebrangi samudera, membelah lautan, menyusuri bukit dan lembah, dihantam ombak bahkan sampai meninggal di tempat tugas demi misi kemanusiaan dan kamipun ikhlas ketika bayarannya hanya dengan seikat bayam, sekilo beras, ataupun sekedar ucapan terimakasih. Dan kami tidak menuntut lebih.... karena kami sadar balasan kami jauh lebih besar oleh Allah ketika kami ikhlas melakukan semua itu. Semuanya berawal dari kecintaan kami yang mendalam terhadap profesi kami, (meminjam kata-katanya mbak Meta;) bukankah mencintai kadang tak membutuhkan sebuah alasan? Kami mencintai profesi kami tanpa butuh sebuah alasan.

Bagi anda yang tak pernah mengenal kami langsung, tolong... jangan acungkan telunjuk di depan wajah kami ketika dengan terpaksa kami harus memberikan kabar buruk tentang keluarga anda yang tak mampu kami tolong. Kami hanyalah manusia biasa yang dengan niat berbuat semampu kami. Kami jauh lebih sedih ketika harus menyaksikan pasien kami meregang nyawa di depan mata. Kalau anda berani, acungkan telunjuk dihadapan Sang Penentu hidup dan mati. Karena kuasanya mendahului kemampuan kami.

Ah, ini sekedar penggalan kisah kami yang tlah terlupakan. Tak ada yang dilebih-lebihkan. Tak ada untungnya bagi kami. Sudah saatnya kami akhiri penat hari ini, mencoba bermimpi akan indahnya masa depan kami, meskipun itu hanya terjadi di negeri mimpi. Dengan harapan kalianlah yang membuat mimpi kami bersanding dengan mimpi indah kalian. Semoga.....
Ket :
Pasien Inpartu : Pasien hamil jelang melahirkan
BCG : jenis imunisasi untuk pencegahan penyakit TBC. tanda berhasilnya imunisasi ini jika terdapat bisul di tempat suntik yg setelah 4-minggu menjadi koreng
Share

Label: edit post
0 Responses

Posting Komentar