rin_iffah

Beberapa pekan terakhir, ghirah untuk kembali tarbiyah muncul dalam hati. Keinginan untuk kembali mereguk nikmatnya ilmu dari sumber yang murni begitu membuncah… harapan bersua dengan saudari-saudari yang senantiasa mengingatkan kepada Allah tak tertahankan. Dulu alasan kesibukan klinik-lah yang menjadi dasar berdirinya tembok yang memisahkan kami… dan kata ‘futur’pun sempat tersandang menjadi gelar yang tersamarkan oleh sulukiyah. Ah, saya bersyukur saat itu ketika berusaha istiqamah dengan sunnah yang satu ini di saat banyaknya sunnah-sunnah yang terabaikan karena dunia…. Bahkan ada beberapa saudari yang berguguran terlepas dari tangkai keimanan sebelum daunnya menguning meninggalkan buah yang bermanfaat…

Saya tak tahu apakah ini yang disebut dengan cobaan ketika kita berusaha kembali ke jalanNya??? Ataukah ini justru suatu petunjuk jalan kebenaran. Entahlah… yang pasti semburat kebimbangan itu mulai mencuat ketika setetes embun harapan mulai melembabkan qalbu. Berawal dari pesan yang dikirimkan via fb oleh seorang teman yang saat ini Alhamdulillah iltizam di atas manhaj salafus shalih, membaca judulnya saja saya sudah cukup tercengang. Saya terpaku sesaat, antara kaget, geram, kecewa bercampur aduk… siapa yang tidak kaget dengan tulisan yang begitu menyudutkan ormas yang menjadi wasilah saya berislam dengan benar. Berbagai tuduhan yang wallaahu a’lam apakah bisa dijadikan dalih kebenarannya. Inti dari pesan yang cukup panjang hasil bantahan terhadap rekaman ceramah salah satu ustaz dari ormas WI ini (semoga Allah menyayangi beliau dan memberikan pahala terhadap beberapa fitnah yang ditujukan kepadanya) yaitu tentang kesalahan WI yang membenarkan muwazanah, terjatuh dalam bid’ah dengan beramal jama’i, tanzhim, dan …. Ta..r…bi…ya..h. Mereka tidak menolak tarbiyah, marhalah dan tanzhim secara mutlak, tapi tidak seperti yang dijalankan oleh WI yang katanya bersifat sirriyah!!!. gelar sururiyyah dan hizbiyyah pun disandangkan kepada WI. Saya mencoba mengarahkan kursor ke link yang menjadi sumber pesan ini diambil. Dan muncullah sebuah situs bermanhaj salaf yang membahas masalah terkait…saya hanya bisa tersenyum miris menyaksikan tulisan-tulisan yang lebih bersifat tuduhan kepada saudara mereka sesama ahlusSunnah. Mempersoalkan permasalahan yang terbuka lahan untuk berijtihad di dalamnya (itu yang saya pahami dengan keterbatasan ilmu yang ada). Perhatikan petikan kalimat berikut yang mereka tuduhkan kepada WI : Majelis-majelis tarbiyah yang diadakan oleh para hizbiyyun amat mengundang pertanyaan dan kecurigaan, sebab agama ini jelas, dan untuk semua orang. Tapi kenapa agama ini disembunyikan?! Bukankah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat malah bersemangat menyebarkannya. Cara dakwah sirriyah seperti ini di tengah kaum muslimin adalah cara dakwah yang menyelisihi Sunnah. Subhanallah, pantaskah seorang yang bersandar pada dakwah salafiyyun melandaskan pernyataannya pada Zhan semata.

Beberapa waktu, saya mencoba melupakan syubhat ini. Kepingan ghirah untuk tarbiyah yang masih tersisa coba saya pungut dan satukan kembali. Saya mencoba menghubungi kakak senior saya, murobbiyah saya ketika masih di marhalah ta’rif sekaligus koordinator di departemen yang sama ketika pertama kali saya diajak untuk mendakwahkan ilmu saya. Saat itu saya ingin menerima ajakannya yang beberapa waktu sempat tidak saya gubris, ajakan untuk kembali tarbiyah dan ikut di liqo’nya saat ini. Beberapa sms yang saya kirim tidak pernah dibalas, sampai suatu waktu kami dipertemukan di fakultas dan sayapun kembali menanyakan kepadanya tentang niat saya untuk kembali tarbiyah; ‘afwan kak, sudah sampai dimana materi tarbiyah ta? Kalo belum jauh saya gabung saja ke liqo’ ta’ ujarku penuh semangat waktu itu. Awalnya ia tidak mengindahkan kata-kata saya dan mengalihkan pembicaraan, namun karena dengan sedikit paksaan akhirnya diapun berkata “Afwan dek, saya sudah tidak tarbiyah lagi…” saya berpikir maksudnya dia sudah pindah ke liqo lain tapi beberapa detik kemudian ia menimpali seakan ingin membantah lintasan pikiran saya barusan, “saya sekarang sudah tidak tarbiyah, saya lebih milih untuk ikut ta’lim saja” saya cuma mengangguk tanda pemakluman. Mungkin karena kesibukannya di klinik sehingga menyebabkannya lebih memilih untuk mengikuti ta’lim, saya pernah dan sering diajak olehnya menghadiri kajian hadis di poltek. Belum lagi saya melanjutkan pertanyaan ia kembali berujar “ tarbiyah itu kan tidak ada tuntunannya dari Rasulullah, yang ada cuma ta’lim. Saya sekarang ta’lim di salafi, saya ikut lho daurah salafiyyah yang kemarin di masjid raya, kalau kamu mau nanti saya kasih rekaman daurahnya” dezigh!!!! Wajah saya tidak bisa menyembunyikan kekagetan yang luar biasa ini. Saya senang bakalan dikasih rekaman daurah apalagi ilmunya berasal dari orang-orang yang iltizam terhadap sunnah. Tapi bukan… bukan itu yang membuat saya terhentak, perkataannya tentang tarbiyah lah yang membuat saya bengong beberapa saat…. Tak ada tuntunan???bid’ah kah??? Trus ta’lim di salafi???? Bukankah beberapa bulan yang lalu ketika saya menyebut mereka yang memilih ta’lim daripada tarbiyah sebagai salafi di hadapannya namun ia membantah sembari berujar “ kita juga seorang salafiyyun dek “ Lantas apa maksud semua ini dengan mengatakan ta’lim di salafi, bagaimana dengan tarbiyah di WI apakah itu membantah bahwa lembaga ini juga bermanhaj salaf???

Subhanallah… kebimbangan itu kembali menggores hati. Ibarat luka basah yang dituang cuka, perih… sangat perih. Niat yang sudah saya hunjamkan kembali ‘ternoda’. Walhasil, jemari saya kembali enggan menekan no telpon koordinator marhalah takwiniyah (afwan ummi) Saya urungkan sesaat. Bekas-bekas tanya masih bergelayut menghantui benak. Harapan penghiburan lewat kitab-kitab aqidah ulama salaf yang saya lahap tak jua tercapai. Saya coba menepis sikap kritis yang telah lama bersemayam dan menyatu dalam diri dengan sejumput tanya di hati… “ah, adalah perkara sia-sia mempertanyakan hal-hal yang lebih patut diurus oleh para fuqaha”. Toh semua itu tak mampu meredam ingin yang begitu membara.

Akhirnya, Saya mencoba mencari pembenaran tentang apa yang telah saya jalani selama ini, tapi yang saya dapatkan justru bantahan-bantahan telak. Duuh, Saya hanyalah seorang thullab yang mencoba belajar adDien dari sumber yang shahih, apalah daya saya jika hujjah yang mereka gunakan tersebut berasal dari ulama-ulama ahlussunnah. Saya hanya bagian dari jama’ah yang mencoba taat terhadap pemimpin. Apakah ini bisa dikatakan ta’asshub? Saya hanya ingin menjaga keimanan saya lewat tarbiyah, apakah ini bisa dikatakan bid’ah? Saya ingin menularkan ilmu shahih ini kepada saudari-saudari saya lewat amal jama’I dan tanzhim, apakah ini juga suatu perbuatan bid’ah?? Yah memang, niat yang baik tidak cukup menjadikan suatu ibadah diterima oleh Allah butuh cara yang benar yaitu ittiba’ Rasulullah. Sungguh saya tidak ingin terjatuh dalam perbuatan bid’ah, perbuatan yang ditentang keras oleh Rasulullah yang pelakunya dikatakan sesat dan tempatnya di neraka, tapi saya juga tidak bisa serta merta ‘memvonis’ mereka keluar dari manhaj salaf, karena beberapa syubhat yang dihembuskan oleh saudara-saudara yang begitu menentang keras segala pelaku bid’ah ini tak berdasar. Jauuh….. sangat jauh panggang dari apinya. Tapi ada juga beberapa yang tak bisa saya pungkiri hal itu ada pada jamaah WI.

Tiba-tiba saya jadi teringat pelajaran hadist dari kitabul jami’ yang pernah saya dapatkan ketika masih di marhalah tamhidiyah, tentang anjuran meminta fatwa pada hati. Mudah-mudahan kabut yang menggulung menutup hati oleh maksiat bisa perlahan tersibak sehingga nurani ini bisa menjadi pelataran tanya akan syak yang menimpa, layaknya Utsman radhiallahu anhu yang dengan kekuatan nuraninya mampu melihat jejak-jejak maksiat di pancaran retina sahabatnya.

“Ya Allah mudahkan hati dan jasad ini untuk mendekatkan diri dengan sesuatu yang Engkau fardhukan dan mudahkan pula untuk mendekatkan diri kepadaMu dengan amalan yang Engkau sunnahkan agar kami dapat meraih cintaMU, cinta yang berwujud terjaganya indrawi untuk selalu ta’at kepadaMU”

Share

Label: edit post
0 Responses

Posting Komentar